PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 264


__ADS_3

Sampai subuh Fahri baru kembali memejamkan kedua matanya. Hal itu membuat Faza dan Zahra akhirnya tidak bisa kembali tertidur mengingat malam sudah berganti pagi.


“Ngantuk nggak sayang?” Tanya Zahra pada Faza setelah meletakan tubuh Fahri di ranjang bayinya.


“Hem sedikit sayang.. Tapi mungkin secangkir kopi bisa membuat aku tetap segar sampai dibandara nanti.” Jawab Faza tersenyum lembut.


Zahra menghela napas. Tidak hanya Faza, Zahra juga sebenarnya merasakan kantuk. Kedua matanya terasa sangat berat juga panas.


“Kalau kamu ngantuk kamu tidur aja.. nggak usah nganterin aku sampai depan.” Ujar Faza membelai sayang kepala Zahra.


Zahra menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak ingin tidur mengingat waktu pagi sudah tiba. Tapi Zahra mempunyai rencana akan beristirahat nanti siang saja saat Fahri tidur siang.


“Nggak papa mas.. Aku bisa istirahat nanti siang sekalian menemani Fahri bobo siang..” Senyum Zahra.


Faza menganggukan kepalanya mengerti.


“Ya udah kalau begitu aku mandi dulu ya..”


Zahra hanya menganggukan kepalanya. Ketika Faza hendak melangkah menuju kamar mandi, suara ketukan pintu membuatnya urung melangkah. Faza mengeryit kemudian menatap pada Zahra yang juga menatapnya bingung.


Tidak biasanya mbak Lasmi mengetuk pintu kamar mereka diwaktu subuh.


“Emm.. Biar aku yang buka sayang..”


“Ya mas...”


Zahra tetap berdiri ditempatnya saat Faza melangkah menuju pintu dan membukanya.


Begitu pintu dibuka, Faza juga Zahra terkejut melihat Akbar yang berdiri dengan piyama tidur didepan pintu. Akbar juga tersenyum begitu manis pada Faza juga Zahra.


“Apa papah mengganggu?” Tanyanya melihat kediaman putra juga menantunya.


“Oh enggak, enggak pah. Ini aku juga udah mau siap siap.” Jawab Faza.


“Apa cucu papah sudah bangun?” Tanya Akbar kemudian.


“Fahri baru aja tidur lagi pah.. Dari semalam dia bermain.”

__ADS_1


Akbar mengeryit. Rasanya aneh jika ada bayi berusia dua bulan bisa bermain. Tapi mengingat itu adalah cucunya Akbar pun menganggukan kepalanya percaya.


“Ya sudah, papah tunggu kamu dibawah yah..”


“Hem ya pah.. Aku akan segera turun.”


“Oke...”


Akbar kemudian berlalu dari depan pintu kamar Faza dan Zahra. Pria itu melangkah pelan menuju tangga kemudian menuruninya pelan menuju lantai satu rumah itu.


Sedangkan Faza dan Zahra, mereka berdua kebingungan karena tiba tiba Akbar sudah ada dirumahnya. Padahal pagi ini juga Faza berniat menyusul pria itu. Faza bahkan sudah mengundur semua pertemuan-nya dengan para Client hari ini.


“Apa itu artinya kamu tidak perlu ke Amerika mas?” Tanya Zahra pelan.


“Ya.. Sepertinya apa yang kita pikirkan tentang papah sedikit meleset kali ini.” Jawab Faza menelan ludah.


Meski sekarang Akbar ada dirumahnya, Faza sangat yakin itu tidak menjamin masalah kedua orang tuanya sudah terselesaikan.


“Aku temuin papah dulu ya..” Ujar Faza kemudian.


Zahra menghela napas pelan. Zahra tau semuanya tidak mudah. Tapi Zahra yakin dibalik kesulitan itu pasti banyak jalan keluar untuk mereka lalui bersama.


Di lantai bawah tepatnya diruang tengah Akbar duduk dengan secangkir kopi panas buatan mbak Lasmi diatas meja didepan sofa yang didudukinya.


Pria itu sedang menunggu Faza yang mengatakan akan menemuinya tadi.


“Pah...”


Akbar menoleh dan tersenyum mendapati Faza yang baru saja masuk keruang tengah dan sedang melangkah mendekat padanya.


“Papah kapan pulang?” Tanya Faza langsung.


Akbar tersenyum dan menundukan kepalanya sebentar. Akbar yakin Faza dan Fadly pasti tau perihal kepergian-nya ke Amerika.


“Papah dari bandara langsung kesini. Papah sampe tengah malam dan pak satpam yang membukakan pintu.”


Faza diam. Faza memilih mendengarkan apa yang ingin kembali dikatakan oleh sang papah.

__ADS_1


“Papah pergi ke Amerika untuk mengunjungi makam nenek kamu Za.. Rasanya sudah lama sekali papah tidak kesana. Kamu tau sendiri kan mamah kamu tidak pernah mau diajak kesana..”


Faza memejamkan kedua matanya. Pemikiran-nya tidak sampai kesitu. Padahal dulu juga Faza dan Fadly sering diajak oleh Akbar kesana untuk berziarah ke makam neneknya yang tidak lain adalah ibu kandung Akbar.


“Papah hanya mencari ketenangan dengan mencurahkan segala keluh kesah hati papah pada nenek kalian. Mungkin memang tidak ada saran. Tapi semua itu berhasil membuat papah tenang.” Lanjut Akbar.


“Kamu juga pasti mengerti bagaimana posisi papah. Papah sangat mencintai mamah.. Tapi papah juga manusia biasa. Papah juga nggak bisa terus terusan mengalah pada mamah kamu..”


Faza mengangguk pelan. Faza paham dengan posisi papahnya. Faza sendiri juga merasakan bagaimana mamahnya yang begitu keras kepala dan tidak mau mendengarkan ucapan orang lain. Mamahnya yang selalu merasa paling benar.


“Ya pah.. Aku mengerti. Maaf kalau hubungan papah dan mamah renggang karena aku.. Tapi aku merasa pilihan aku sudah benar pah.. Aku bahagia dengan pilihan aku sekarang..” Lirih Faza.


Akbar tertawa pelan. Pria itu mengangguk anggukan kepalanya. Akbar menyadari putranya sudah dewasa. Maka dari itu Akbar berusaha untuk menghargai pilihan Faza. Karena Akbar juga menyadari bahwa Zahra adalah istri juga menantu yang baik.


Zahra wanita yang baik dan Akbar tidak heran jika putranya begitu kukuh untuk tetap bersama meskipun Sinta selalu menentangnya.


“Faza.. Tugas utama kamu sekarang adalah seorang suami. Istri kamu perempuan yang baik. Papah akui itu. Selama pilihan kamu tidak membuat kamu durhaka pada mamah itu bukan kesalahan. Jadi pertahankan apa yang memang membuat kamu bahagia. Tentang mamah.. Kamu tidak perlu memusingkan-nya. Karena papah sendiri juga tidak akan lagi memaksa mamah kamu untuk mengikuti apa yang papah mau. Begitu juga sebaliknya.”


Faza mengeryit.


“Apa maksud papah?” Tanya Faza mulai khawatir.


Akbar tertawa pelan.


“Tidak ada maksud apa apa nak. Papah hanya ingin melakukan apa yang memang seharusnya papah lakukan.”


Faza menggelengkan kepalanya. Posisi papahnya memang tidak mudah. Tapi Faza tidak ingin kedua orang tuanya sampai berpisah.


“Papah nggak berniat buat ninggalin mamah kan?” Tanya Faza yang tidak bisa menahan rasa penasaran bercampur khawatirnya.


Akbar menghela napas. Akbar sendiri tidak tau sampai kapan dirinya bisa bertahan dengan sikap Sinta yang selalu seenaknya sendiri. Tapi Akbar juga tidak mungkin meninggalkan wanita yang sudah mendampinginya selama hampir 30 tahun itu. Wanita yang meskipun keras kepala tapi juga mau menemaninya dalam keadaan susah.


“Papah mencintai mamah nak. Kamu tidak perlu berpikir terlalu panjang.” Senyum Abar menatap Faza.


Faza mengangguk mengerti. Faza percaya papahnya sangat mencintai mamahnya. Buktinya Akbar bahkan terus bertahan meskipun Sinta sering kali tidak menghargainya.


“Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi memikirkan restu mamah untuk Zahra.. Yang terpenting adalah kamu menjadi kepala keluarga yang baik juga anak yang terus berbakti pada mamah kamu. Tentang tuntutan mamah, kamu lupakan saja. Kamu berhak mempertahankan apa yang memang membuat kamu bahagia Faza.”

__ADS_1


__ADS_2