PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 54


__ADS_3

Faza mencari Zahra kesetiap sudut rumah bahkan sampai keteras samping rumah. Decakan pelan keluar dari bibirnya saat Faza tidak juga menemukan Zahra dimana mana.


“Zahra kemana ya? Masa dia pulang sih..”


Faza menghela napas. Kemungkinan Zahra pulang lebih dulu darinya memang bisa saja terjadi mengingat bagaimana sikap mamahnya saat dimeja makan tadi.


Faza berkacak pinggang tampak berpikir sampai akhirnya Faza baru menyadari bahwa ada satu tempat yang belum Faza cek dirumahnya.


Senyum Faza kemudian mengembang. Faza yakin sekarang bahwa Zahra ada ditempat yang memang sangat jarang Faza datangi sejak dulu.


Dengan langkah mantap Faza berlalu dari teras samping rumah menuju dapur. Istrinya adalah wanita yang sangat rajin dan mencintai kebersihan. Dan Faza yakin Zahra pasti sedang berada didapur membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan untuk makan malam bersama tadi.


Benar saja, ketika Faza sampai didapur terlihat istri tercintanya yang sedang mengelap piring yang sepertinya baru saja selesai dia cuci.


Namun, disana tidak hanya ada Zahra saja. Tapi juga ada bibi yang sedang mengelap meja pantri.


Faza melambaikan tangan pada bibi mencoba menarik perhatian wanita tua itu. Setelah bibi menatapnya, Faza memberi isyarat dengan tangan dan matanya agar bibi meninggalkan Zahra bersamanya. Bibi yang tau segera menganggukan kepala dan berjalan mengendap endap berlalu dari dapur tanpa disadari oleh Zahra.


Setelah bibi berlalu, Faza mendekat pelan pada Zahra dan berdiri tepat dibelakang Zahra.


“Bi.. Yang mamah dan papah suka itu apa sih? Misalnya kaya makanan atau mungkin hobi.. Saya sedikit kepo pengin tau.”


Faza tersenyum mendengarnya. Faza yakin Zahra pasti bukan hanya sekedar basa basi menanyakan itu pada bibi. Zahra pasti sedang mencari tau agar bisa menggunakan cara itu untuk meluluhkan hati kedua mertuanya.


“Kan tadi bibi lihat sendiri mamah kayanya masih kurang respect sama saya.. Yah.. Saya ingin sedikit berusaha bi. Kan katanya nggak akan ada usaha yang mengkhianati hasil. Kalaupun memang hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan, paling tidak kan saya sudah mencoba untuk berusaha.”


Faza benar benar tersentuh mendengarnya. Zahra ingin mendapat restu dari kedua orang tuanya sampai berniat mengusahakan cara untuk keduanya agar mau menatapnya.


“Bi.. Kok diem?”


Zahra mrngeryit karna tidak kunjung mendapat respon dari bibi. Penasaran, Zahra pun membalikan tubuhnya karna memang pekerjaan-nya mengelap piring sudah selesai.


“Mas..”


Zahra terkejut karna mendapati Faza yang ada didepan-nya sekarang. Bukan lagi bibi.

__ADS_1


Faza tersenyum. Kedua tangan-nya meraih kedua tangan Zahra menggenggamnya dengan lembut kemudian mengangkatnya dan mencium lembut kedua punggung tangan Zahra bergantian.


“Kita pulang sekarang yah?”


Zahra diam tidak mengiyakan ajakan pulang suaminya. Zahra tidak mengerti kenapa tiba tiba suaminya mengajaknya pulang. Padahal Zahra pikir Faza akan mengajaknya untuk menginap barang semalam disana.


“Aku tau kamu nggak akan nyaman disini Zahra. Jangan memaksakan diri kalau memang kamu nggak bisa.”


Zahra masih tetap diam. Zahra tidak pernah memaksakan diri. Zahra hanya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan sikap mamah mertuanya.


“Zahra.. Ada sesuatu yang belum kamu tau tentang aku dan Loly.”


Alis Zahra terangkat satu. Ucapan Faza membuat dugaan dugaan buruk mulai bersarang dikepala cantiknya.


“Tapi aku nggak akan menceritakan-nya disini. Kita pulang sekarang dan aku akan menceritakan-nya dirumah nanti.”


“Ya mas..”


Faza melepaskan satu tangan Zahra dari genggaman-nya. Ketika hendak melangkah, Faza diam mendapati Sinta berada di ambang pintu masuk dapur.


Zahra menelan ludahnya melihat mamah mertuanya berdiri dengan angkuh disana. Zahra yakin, mamah mertuanya pasti akan menahan Faza.


“Loly sudah mau pulang Faza.” Katanya memberitahu.


Faza berdecak pelan. Sudah bisa Faza tebak apa maksud dari ucapan mamahnya itu.


“Kami juga sudah mau pulang mah. Sudah malam juga.” Balas Faza berusaha untuk tetap tenang meskipun ubun ubun-nya sudah terasa mendidih sekarang.


“Pulang? Kenapa tidak menginap saja?”


Zahra sedikit terkejut. Sinta secara tidak langsung menawarkan untuk mereka menginap. Sesuatu yang sebenarnya memang tidak terlintas dipikiran Zahra sedikitpun.


“Sekarang lebih baik kamu anterin Loly pulang Faza. Loly mengeluhkan sakit ditangan-nya dan tidak bisa menyetir sendiri. Supirnya sedang tidak bisa menjemput karna sudah pulang kerumah dan istirahat.”


Faza menyipitkan kedua matanya. Mamahnya bisa memaklumi seorang supir istirahat tapi tidak dengan dirinya yang malah disuruh untuk mengantar Loly.

__ADS_1


“Mah aku juga capek loh mah seharian kerja terus langsung kesini. Ini juga sudah waktunya aku istirahat. Mamah bisa maklum supir keluarga Loly istirahat sekarang. Bahkan enggak mau ganggu. Tapi kenapa nggak bisa memaklumi dan mengerti aku yang adalah anak mamah..”


Zahra merasakan genggaman tangan Faza semakin mengerat. Dari situ Zahra bisa mengerti bahwa suaminya sedang menahan amarah sekarang.


“Faza.. Mamah minta tolong sama kamu baik baik loh.. Memangnya kamu mau Loly kenapa napa dijalan. Ini sudah malam.” Sinta menatap Faza dengan tatapan tidak menyangka karna putranya dengan begitu tegas berani membantahnya.


“Mah tapi...”


“Mas...”


Ucapan Faza menggantung saat Zahra menyelanya. Zahra tidak ingin suaminya terus berdebat dengan mamahnya. Sinta pasti akan semakin menyalahkan-nya jika Faza menolak keinginan-nya untuk mengantar Loly. Sinta pasti akan menuduh Zahra sebagai pengaruh buruk bagi Faza.


“Anterin aja dulu mas. Enggak apa apa kok.” Lirih Zahra menahan sakit dihatinya.


“Enggak Zahra. Aku nggak mau. Lebih baik kita pulang sekarang.”


“Mas...” Zahra membalas genggaman tangan Faza dengan erat. Zahra mencoba meluluhkan kerasnya hati suaminya itu demi kebaikan hubungan-nya dimata Sinta.


“Aku percaya sama kamu mas. Jangan membuat mamah kamu marah. Tidak baik.”


Faza menghela napas. Faza tau bagaimana Loly yang sebenarnya. Itu juga yang menjadi faktor utama Faza menolak perjodohan itu selain karna sangat mencintai Zahra.


“Tuh.. Istri kamu aja nggak papa kok Za.. Kenapa sih nggak mau bantuin mamah?”


Faza menatap kembali pada mamahnya. Sinta selalu saja melakukan apa apa semaunya. Sinta selalu menganggap keputusan-nya adalah yang terbaik untuk semua orang.


“Lagian juga masih ada yang ingin mamah bicarakan sama kamu Faza. Menginap saja dulu kalian berdua disini.” Senyum Sinta menatap bergantian pada Faza dan Zahra.


Faza menatap Zahra yang juga menatapnya. Meskipun Zahra tersenyum tapi Faza tau bagaimana perasaan istrinya sekarang. Karna sejatinya tidak ada seorang istri yang mau melihat suaminya dekat dekat dengan wanita lain. Dan Faza paham hal itu.


“Baik kalau begitu. Tapi kamu harus ikut aku. Kita antar Loly pulang sama sama. Ayo..”


Faza menuntun Zahra dan melangkah berlalu melewati Sinta begitu saja. Protesan Sinta tidak Faza gubris dan tetap melangkah dengan menarik lembut tangan Zahra.


Faza mengantar Loly pulang menggunakan mobil Loly dengan Zahra yang ikut serta disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2