
“Kamu kenapa sih mas? Kok sejak pulang dari rumah mamah sama papah kamu jadi diam terus. Diajak makan juga nggak mau.”
Zahra menatap Faza sendu. Wanita itu tidak tau kenapa suaminya tiba tiba menjadi diam terus dan tampak murung setelah pulang dari rumah kedua orang tuanya.
Zahra tau sesuatu pasti terjadi disana. Tapi biasanya meskipun begitu Faza selalu terlihat tenang dan menceritakan semua padanya.
“Zahra...” Panggil Faza menatap Zahra dengan ekspresi nelangsa.
“Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” Tanya Faza kemudian.
Zahra diam dan hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya. Zahra berdiri didepan Faza yang berdiri menjulang didepan-nya. Saat ini mereka sedang berada balkon kamar.
“Fahri sudah bobo?” Tanya Faza lagi sebelum melanjutkan ke pertanyaan yang sesungguhnya.
“Sudah mas. Dia anteng banget hari ini.” Senyum Zahra menjawabnya.
“Syukurlah.. Dia memang anak yang sangat pengertian.”
Zahra mengangguk setuju. Fahri memang terkadang rewel, namun balita itu juga sangat pengertian.
“Zahra.. Apa kamu pernah merasakan sakit hati karena kak Aries?”
Zahra mengeryit bingung. Zahra tidak tau kenapa tiba tiba Faza menanyakan tentang hal itu. Tapi jika di ingat ingat Zahra sekalipun tidak pernah merasakan apa yang Faza tanyakan. Aries tidak pernah menyakiti hatinya. Aries selalu menjaganya dengan penuh kasih sayang meskipun terkadang galak padanya.
Zahra menggelengkan pelan kepalanya menjawab pertanyaan Faza. Tatapan-nya terus mengarah pada Faza yang menghela napas kasar setelah melihatnya menggelengkan kepala.
“Ternyata meskipun aku lebih beruntung dari kamu dari segi materi, tapi aku jelas lebih telak kalah dari kamu tentang kasih sayang dan cinta. Padahal aku masih memiliki kedua orang tua. Sedangkan kamu, kamu besar hanya dengan kak Aries.”
Zahra menghela napas dengan ekspresi sendunya. Jika sudah seperti ini Zahra tidak tau harus berkata apa pada Faza. Zahra takut jika ucapan-nya salah dan menyakiti Faza tanpa sengaja.
“Kenapa kamu diam?” Tanya Faza pelan.
Zahra menundukkan kepalanya menatap sepasang kaki suaminya yang mengenakan sandal rumahan. Zahra tidak pernah tau apa yang Faza rasakan sebelum kenal dengan-nya. Selain karena Faza yang tidak pernah menceritakan apapun padanya tentang kehidupan keluarganya, Zahra juga selalu beranggapan bahwa Faza memang jauh lebih beruntung atas segalanya dari dirinya.
__ADS_1
“Aku nggak tau maksud pertanyaan kamu mas. Tapi satu yang aku tau dari setiap apa yang Tuhan berikan pada hamba hambanya.”
Jeda sejenak. Zahra memejamkan kedua matanya sebelum akhirnya mendongak kembali menatap Faza yang masih menunggu apa yang akan Zahra katakan.
“Mas.. Aku kehilangan kedua orang tuaku dari aku kecil. Tuhan mengambilnya dengan cara yang cukup menyakitkan buat aku juga buat kak Aries. Tapi aku yakin Tuhan memberikan ujian itu karena Tuhan tau aku dan kak Aries bisa menghadapi semua ini bersama. Dan mungkin begitu juga dengan kamu. Terlepas dari segala ketidak tahuan tentang kehidupan kamu dengan keluarga dulu.” Jelas Zahra.
Faza tersenyum kecil mendengar apa yang Zahra katakan.
“Mungkin kamu benar. Tuhan mengujiku karena aku mampu menghadapi semua ujian-nya.”
Zahra ikut tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Zahra sama sekali tidak ingin mengulik tentang apapun yang ada dimasa lalu Faza dengan keluarganya. Bagi Zahra yang terpenting sekarang dirinya akan mencoba berusaha menjadi yang terbaik untuk Faza.
“Sayang...”
Faza meraih kedua tangan Zahra dan menggenggamnya dengan lembut. Pria itu menatap wajah cantik istrinya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Kamu tau nggak, sejak pertama kali aku ketemu sama kamu aku itu udah yakin kamu adalah cinta sejati aku..”
Zahra tertawa pelan mendengar apa yang Faza katakan. Rasanya sangat lucu mendengar ucapan manis yang keluar dari bibir suaminya itu.
“Oke, maaf maaf. Lanjutkan mas.”
“Hhhh.. Males lah. Kamu aja tadi ngetawain aku..” Hela napas Faza menatap Zahra kesal.
“Dih, gitu aja ngambek.” Sindir Zahra masih dengan sisa tawanya.
Faza hanya diam saja dengan memalingkan wajahnya. Sebenarnya pria itu tidak benar benar merajuk. Faza hanya ingin tau bagaimana usaha istrinya jika dirinya sedang merajuk seperti sekarang.
Faza melepaskan kedua tangan Zahra dari genggaman-nya kemudian memasukan kedua tangan-nya sendiri kedalam saku celana pendek warna coklat gelap yang dikenakan-nya.
“Dih beneran ngambek nih..? Masa sih udah jadi papah masih kaya ABG. Dikit dikit ngambek. Cuma diketawain aja ngambek.”
Faza masih tetap memalingkan wajahnya enggan menatap Zahra yang berada di depan-nya.
__ADS_1
“Emangnya kamu nggak malu sama Fahri? Nanti diketawain juga gimana sama Fahri?”
Faza tetap diam dan bertahan memalingkan wajahnya dari Zahra.
Melihat itu Zahra pun berdecak merasa kesal pada suaminya yang sama sekali tidak merespon apa yang diucapkan olehnya.
“Ya udah deh kalau gitu, aku tidur aja.” Sungut Zahra kesal.
Ketika Zahra memutar tubuhnya hendak berlalu dari balkon meninggalkan Faza, dengan sigap Faza langsung menahan-nya dengan memeluk Zahra dari belakang.
Zahra langsung diam dan mengurungkan niatnya masuk kembali kedalam kamar ketika merasakan pelukan hangat Faza diperutnya.
“Kok jadi kamu yang ngambek sih sayang?” Tanya Faza pelan.
Zahra tetap diam. Dari dulu Zahra sangat tidak suka jika di diamkan. Apa lagi jika yang mendiamkan dan memalingkan muka adalah Faza, orang yang sangat Zahra cintai selain sang kakak, Aries.
“Biasanya kalau suami lagi ngambek itu disayang sayang. Dipeluk terus dicium. Bukan malah balas ngambek begini..” Kata Faza lagi.
Zahra mengerucutkan bibirnya. Zahra tidak biasa membujuk karena dari dulu dirinya lah yang sering ngambek dan marah bahkan salah paham pada Faza.
Setelah yakin Zahra tidak akan meninggalkan-nya masuk kedalam kamar, Faza pun melepaskan pelukan-nya. Faza kemudian memutar pelan tubuh Zahra.
Faza menyentuh dagu Zahra dan mendongakkan-nya dengan lembut agar Zahra balas menatapnya.
“Aku nggak tau harus bagaimana mengungkapkan rasa syukur aku pada Tuhan karena telah menjadikan kamu sebagai takdir terindah dalam hidup aku. Bahkan jika memang kebersamaan kita selama ini hanya mimpi, aku akan memilih untuk tidur selamanya dan menikmati mimpi indah ini bersama kamu Zahra.”
Perlahan seulas senyum terukir dibibir merah alami Zahra. Zahra benar benar merasa sangat tersentuh dengan ucapan romantis suaminya kali ini.
Faza kembali meraih kedua tangan Zahra menggenggamnya kemudian mengangkatnya dan mencium punggung tangan Zahra bersamaan.
“Selamanya aku ingin menikmati semua ini sama kamu sayang. Sampai rambut kita memutih, kita tua bersama, bahkan sampai Tuhan akan kembali menyatukan kita ditempat terindahnya.”
Kali ini Zahra mengakui bahwa ucapan suaminya sangatlah romantis.
__ADS_1
“I Love you Aulia Zahra.” Ungkap Faza kemudian.