
Loly menatap pantulan dirinya didepan cermin. Sejak tadi bibirnya tidak bisa untuk tidak tersenyum. Tentu saja setelah apa yang Fadly lakukan padanya tadi. Fadly menciumnya. Dan itu adalah ciuman pertamanya. Fadly mengambil ciuman pertamanya.
Mengingat sentuhan lembut bibir panas Fadly membuat wajah Loly memerah. Fadly menciumnya dengan sangat lembut tadi.
“Ya Tuhan... Apa aku salah kalau aku bahagia dengan apa yang baru saja terjadi?”
Loly berkata lirih. Loly bukan wanita yang buta tentang pengetahuan agama dan norma. Berciuman bukanlah hal yang baik untuk pasangan yang belum benar benar sah secara agama maupun negara.
“Tapi tadi romantis banget ya Tuhan...”
Loly merasa malu sendiri. Apa lagi mengingat dirinya yang sangat bodoh dengan tidak menolak dan malah menikmati ciuman Fadly. Itu benar benar sangat konyol menurutnya. Saking malunya Loly sampai tidak berani menatap lagi bayangan-nya dicermin. Loly menutup wajahnya menggunakan kedua tangan-nya.
Deringan ponsel membuat Loly langsung menurunkan kedua tangan dari wajahnya. Loly mengeryit menatap ponselnya yang berdering. Seingatnya Loly sudah memblokir nomor Fadly.
Ya, Loly berpikir bahwa yang menelepon-nya sekarang adalah Fadly.
“Eh, tapi kan belum tentu dia..” Gumam Loly kemudian.
Loly bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ranjang. Loly meraih ponsel miliknya dan tersenyum ketika mendapati kontak sang mommy.
“Oh mommy.. Kirain dia..” Loly kembali senyum senyum sendiri. Loly benar benar tidak bisa melupakan sedikitpun ciuman pertamanya itu.
“Halo mom...” Sapa Loly begitu mengangkat telepon dari mommy nya.
“Ya sayang.. Kamu belum tidur?”
“Eh emm.. Ini Loly udah mau tidur kok mom.. Cuma karena mommy telepon. Kan sayang kalau nggak aku angkat. Dan Loly sangat merindukan mommy juga daddy..”
Mendengar itu mommy Loly tertawa. Wanita itu semakin merasa merindukan anak semata wayangnya itu sekarang.
“Ah ya Loly, kamu tidak dekat dekat lagi dengan Fadly kan?”
Pertanyaan mommy nya membuat Loly refleks langsung menyentuh bibirnya. Loly menelan ludah. Loly sudah melakukan apa yang mommy dan daddy nya inginkan yaitu menjauh dan menghindar dari Fadly. Namun entah apa yang membuat pria itu tiba tiba berbalik mengejarnya bahkan sampai berani memeluk dan menciumnya.
“Emm.. Tentu saja tidak mom.. Mommy nggak perlu khawatir.” Jawab Loly dengan kedua mata terpejam.
Sebenarnya Loly tidak ingin berbohong. Tapi jujur juga tidak mungkin. Loly tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Loly juga tidak ingin kedua orang tuanya sampai mengatakan sesuatu yang tidak baik pada Fadly.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu. Mommy sama daddy nggak mau kalau sampai kamu dipermainkan sama dia nak.. Apa yang sudah dia lakukan itu benar benar tidak baik. Dia membuat kamu lalai dengan tanggung jawab kamu. Itu jelas bukan ciri laki laki yang baik.”
Loly menelan ludah. Perasaan bersalah langsung merayapi hatinya. Loly benar benar tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Tapi Loly juga tidak bisa membohongi dirinya juga hatinya. Loly masih mencintai Fadly.
“Ya mom..” Angguk Loly pelan.
“Kamu membuat mommy ingin pulang sekarang juga nak.. Ya sudah lebih baik sekarang kamu istirahat yah.. Jaga kesehatan selalu. Mungkin mommy juga daddy akan pulang dalam waktu dekat.”
Loly tersenyum mendengarnya. Kepulangan kedua orang tuanya adalah saat saat yang selalu dinantikan oleh Loly.
“Oke mom.. Kabari Loly lagi kalau mommy mau pulang. Loly akan jemput mommy sama Daddy dibandara..”
“Oke oke.. Itu gampang sayang.” Saut Mommy Loly.
“Ya sudah Loly istirahat ya mom..”
“Ya sayang...”
Loly menghela napas setelah panggilan itu berakhir. Loly tidak tau harus bagaimana sekarang. Fadly berbalik mengejarnya, tapi kedua orang tuanya justru melarangnya untuk kembali dekat dengan Fadly. Dan hatinya, hatinya tidak bisa bohong. Meskipun merasa risih dan sedikit terganggu dengan apa yang Fadly lakukan, tapi dalam hati kecil Loly yang paling dalam Loly merasa bahagia karena Loly merasa cintanya pada Fadly perlahan mulai terbalas.
“Tuhan... Aku harus bagaimana sekarang?” Lirih Loly memejamkan kedua matanya berharap mendapatkan petunjuk dari Tuhan.
-------------
“Aku nginep disini ya kak?”
Faza menatap jengkel pada Fadly yang sedang asik menyantap spaghetti buatan mbak Lasmi. Pria itu benar benar dibuat kesal oleh Fadly yang tiba tiba datang dan menggedor gedor pintu kamarnya. Untung saja istri dan anaknya sudah benar benar terlelap sehingga keduanya sama sekali tidak terusik dengan apa yang Fadly lakukan.
“Nggak. Kamu pulang.”
Fadly mendelik mendengar jawaban ketus Faza. Fadly tau dirinya sangat mengganggu karena datang saat malam larut. Fadly juga merasa sudah merepotkan karena meminta disiapkan makanan saat mbak Lasmi bahkan sudah beristirahat.
“Ayolah kak.. Aku nggak mungkin pulang tengah malam begini. Mamah pasti bakal menginterogasi aku. Kakak tau kan aku paling nggak bisa bohong sama mamah.”
Faza menyipitkan kedua matanya. Faza sedang sangat sensitif karena merasa terganggu sekarang. Dan dengan entengnya Fadly mengatakan dirinya tidak bisa berbohong pada mamah mereka. Tentu saja Faza yang sedang sensitif merasa tersindir. Faza memang banyak berbohong pada mamahnya dulu.
“Kamu menyindirku?” Tanya Faza menatap Fadly tajam.
__ADS_1
“Eh eh kok mukanya begitu kak.. Enggak begitu maksudnya.. Cuma ya kan nggak mungkin aku bilang jujur sama mamah aku darimana kan? Kakak kan juga pernah mengalami itu dulu. Dan jangan lupa aku yang selalu membela dan menutupi apa yang kakak lakukan.” Jawab Fadly sedikit gelagapan. Fadly tentu tidak mau membuat Faza marah.
Faza menatap Fadly penuh rasa curiga. Faza yakin Fadly pasti baru saja melakukan sesuatu yang mungkin dilarang oleh mamahnya.
“Oke.. Nggak masalah kamu nginep disini. Tapi dengan satu syarat.” Ujar Faza menatap Fadly dengan senyuman miringnya.
Fadly mengeryit.
“Syarat? Syarat apa?”
Faza melipat kedua tangan-nya didepan dada. Pria itu menyenderkan punggungnya di senderan kursi dimeja makan dengan santai.
“Kamu harus jawab jujur pertanyaan kakak.” Jawab Faza.
Fadly menghela napas. Perasaan-nya mulai tidak enak.
“Kamu darimana sebenarnya? dan apa yang baru saja kamu lakukan sampai sampai kamu nggak berani pulang kerumah?” Tanya Faza menatap Fadly tenang.
Fadly berdecak. Fadly meraih segelas air putih kemudian menenggaknya sampai habis tak tersisa.
Fadly tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur dan terbuka pada kakaknya. Fadly yakin Faza bisa menjaga rahasia. Fadly juga yakin Faza akan bisa membantunya memberi saran untuk mendapatkan hati Loly kembali.
“Oke.. Aku akan jujur.”
Faza tersenyum. Faza tidak sabar mendengar apa yang akan Fadly katakan selanjutnya.
“Aku baru dari rumah Loly kak.. Dan aku.. Aku bahkan menciumnya.”
Kedua mata Faza mendelik mendengarnya. Selama berpacaran dengan Zahra saja Faza tidak berani mencium Zahra. Tapi Fadly, dia berani mencium Loly.
“Apa?!”
Fadly langsung merasa kikuk bahkan sampai salah tingkah. Fadly tau apa yang dilakukan-nya dengan mencium Loly salah. Tapi Fadly benar benar tidak bisa menahan dirinya. Bibir Loly begitu sangat menggoda.
“Aku tau aku salah. Makanya aku nggak berani pulang. Ayolah.. Kakak bantu aku dan tolong jangan sampai mamah papah tau kalau aku mencium Loly. Mereka pasti akan sangat marah dan menganggap aku tidak menghormati perempuan. Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahi Loly. Dan aku akan mengakui kesalahanku tapi tidak untuk sekarang. Setidaknya nanti sampai Loly menjadi milik aku kak..”
Faza melongo. Bagaimana mungkin perkara mencium saja sampai bertanggung jawab menikahi? sedang Faza sendiri tau dari Zahra bahwa Loly sudah tidak mau lagi bertemu dengan Fadly. Zahra bahkan sudah diceritai semuanya oleh Loly tentang perbuatan Fadly pada Loly.
__ADS_1