
Detik berganti menit, menit berganti jam, Jam berganti hari hingga hari berganti bulan. Hubungan Faza dan Zahra sering mengalami pasang surut. Namun keduanya tetap bisa menghadapinya meski akan ada sedikit drama yang berakhir tanpa ritual minta maaf.
“Ya Tuhan... Kenapa sih dibilangin hampir tiap hari nggak ngerti ngerti..” Keluh Zahra ketika mendapati handuk sedikit basah tergeletak diatas tempat tidur.
Dengan perasaan dongkol Zahra meraih handuk tersebut kemudian membawanya keluar untuk dia jemur dibelakang.
Ketika hendak menjemur handuk tersebut, Zahra berpapasan dengan Faza.
“Mas..”
“Hem...”
“Bisa nggak sih mas tuh ngerti. Dengerin apa yang aku bilang..” Kesal Zahra.
Faza mengeryit tampak bingung. Faza merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
“Ini.. Kamu taruh handuk bekas kamu mandi diatas kasur.” Zahra mengangkat handuk tersebut dan menunjukan pada Faza.
“Oh maaf.. Aku lupa sayang..” Ujar Faza dengan entengnya.
“Lupa tapi setiap hari.” Sungut Zahra.
“Ya ya maaf.. Nggak bakal diulangi lagi deh.. Udah dong jangan marah marah sayang.. Nanti cantiknya ilang loh..”
“Tau ah. Bosen maaf nggak jelas.” Ketus Zahra kemudian melanjutkan niatnya untuk menjemur handuk berwarna abu abu milik suaminya.
Faza menghela napas. Faza memang sering kali sembarangan menaruh handuk yang berujung kemarahan Zahra.
Ketika Zahra hendak melewatinya setelah menjemur handuk itu, Faza meraih lengan Zahra menahan agar istrinya tidak melewatinya begitu saja.
“Sayang..” Panggilnya lembut.
“Apasih?! Aku mau nyuci baju, nyuci piring, belum lagi nyapu.”
Faza tersenyum. Istrinya memang sangat gila rapi dan bersih.
“Kita makan malam diluar yuk nanti.” Ajak Faza berusaha meredam amarah Zahra.
“Males.” Balas Zahra enggan.
Faza berdecak. Zahra memang sedikit susah dibujuk jika sudah marah.
“Ayolah sayang.. Please.. Aku bantuin cuci baju deh.”
__ADS_1
“Nggak usah.” Tolak Zahra malas.
“Aku yang cuci piring sama nyapu deh..”
Zahra menghela napas kemudian menoleh menatap suaminya yang siang ini berhasil membuat moodnya turun drastis.
“Aku bilang nggak usah. Ngerti nggak sih? Aku udah capek kerjain ini itu. Aku ingin istirahat mas..”
Faza menatap tepat pada kedua mata istrinya. Zahra memang dari pagi sampai siang sibuk mengerjakan ini itu tanpa sedikitpun meminta bantuan padanya. Faza juga tau istrinya capek mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Tapi niatnya mengajak Zahra makan malam diluar baik. Zahra ingin membuat hati istri tercintanya senang setelah seharian mengerjakan ini itu sendiri.
“Makanya aku bantuin biar kamu nggak capek sendirian.”
“Biasanya juga aku kerjain sendiri kok.”
“Itu kan biasanya. Kan aku dirumah sekarang Zahra. Aku bantuin kamu biar cepat ngerjain-nya.”
Zahra memutar jengah kedua bola matanya.
“Terserah kamu saja.” Balas Zahra akhirnya.
“Gituh dong.. Ya udah mending sekarang kamu istirahat. Semuanya biar aku yang kerjain.”
“Apa?”
Faza merangkul mesra kedua bahu Zahra kemudian mendorongnya pelan untuk melangkah lebih dulu menuju kamar mereka.
Setelah mengantar Zahra masuk kekamar. Faza mulai mengerjakan satu persatu pekerjaan rumah yang belum selesai. Faza memasukan semua baju baju kotor ke mesin cuci kemudian menyapu seluruh sudut rumah. Terakhir Faza mencuci piring yang memang sudah menumpuk didapur. Semua itu Faza kerjakan dengan penuh semangat.
“Huh, capek juga ternyata. Pantes Zahra marah marah terus sama aku..” Gumam Faza menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
Faza mengusap peluh yang membasahi keningnya. Pria itu merasa sangat kelelahan setelah mengerjakan apa yang biasa dikerjakan sendiri oleh Zahra.
Tanpa sepengetahuan Faza, Zahra diam diam terus mengawasi Faza. Zahra tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang meski semua tugasnya di handle oleh Faza. Zahra juga merasa kasihan melihat Faza yang tampak kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah yang mungkin memang tidak pernah Faza lakukan selama tinggal bersama kedua orang tuanya.
“Makasih ya mas kamu udah mau bantuin aku.. Maaf aku marah marah terus sama kamu..” Gumam Zahra kemudian masuk kembali kedalam kamar untuk pura pura tertidur.
Menjelang malam, Faza benar benar mengajak Zahra keluar. Pria itu bahkan memberikan bunga pada Zahra sebelum mereka berangkat untuk makan malam.
“Mas, aku kok nggak asing sama bunga ini ya?” Tanya Zahra saat dalam perjalanan menuju tempat mereka berdua akan makan malam berdua.
“Hehe.. Iya deh iya.. Aku dapet metik dari depan rumah ibu kontrakan itu. Tapi aku minta kok nggak nyolong.” Tawa Faza.
“Yee.. Dasar. Nggak modal kamu mas.”
__ADS_1
“Eh aku udah modal loh.. Ya meskipun bermodal rasa malu yang aku tahan saat meminta izin memetiknya. Sempat dilarang tau yang. Tapi pas aku bilang kamu lagi ngidam pengin bunga itu langsung dibolehin sama ibunya.”
Zahra tertawa mendengar penjelasan suaminya. Yang Zahra tau Faza adalah sosok yang pemalu jika pada orang lain apa lagi jika harus meminta.
“Ya deh.. Makasih yah.. Bunganya bagus.”
“Iya dong bagus. Mahal itu kata ibunya.”
“Mahal juga kamu nggak beli.” Canda Zahra membuat Faza tertawa.
Tidak lama kemudian motor Faza sampai tepat didepan restoran yang mereka tuju. Zahra turun dari boncengan Faza dengan ekspresi aneh.
“Yuk masuk.” Ajak Faza setelah turun dari motor gedenya.
“Tunggu, kenapa kita kesini?” Tanya Zahra dengan kedua mata menyipit menatap Faza.
“Loh emangnya kenapa kalau kesini? Disini makanan-nya enak enak loh sayang.”
Zahra berdecak. Restoran itu adalah restoran tempat Faza dan Anita makan malam bersama rekan kerja Faza yang lain. Dan begitu motor Faza berhenti didepan Restoran tersebut Zahra kembali mengingat rasa kesalnya karna Faza yang begitu dekat dengan Anita.
“Sayang... Hey, kenapa malah bengong sih?”
Zahra mencebikkan bibirnya.
“Aku nggak mau makan disini. Kita cari tempat lain saja.”
“Loh, kenapa memangnya?” Tanya Faza kebingungan.
“Pokonya aku nggak mau makan disini.”
Faza menghela napas pelan. Tidak ingin membuat istrinya marah Faza pun menganggukan kepalanya.
“Oke, kita cari tempat lain.” Senyum Faza mencoba untuk sabar dan mengalah.
Faza kembali naik keatas motornya diikuti Zahra yang langsung naik keboncengan-nya.
Faza menarik napas dan menghembuskan-nya pelan sebelum kembali menghidupkan mesin motornya dan berlalu dengan kecepatan sedang membawa Zahra ketempat yang lain.
Faza kembali menghentikan motornya ketika sampai didepan Restoran khas jepang. Faza berharap kali ini istrinya tidak menolak untuk makan ditempat tersebut.
“Kalau disini mau?” Tanya Faza ketika Zahra turun dari boncengan-nya.
Zahra menganggukan kepala dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya setuju untuk makan malam direstoran khas jepang itu.
__ADS_1
Faza tersenyum lega. Pria itu kemudian turun dari motornya dan merangkul mesra pinggang Zahra mengajaknya masuk kedalam restoran untuk segera mengisi perutnya yang sudah keroncongan itu.