
Pukul 12 malam tepat Faza sampai dirumahnya dengan menaiki taksi online. Faza langsung masuk dan mendapati mbak Lasmi didapur yang baru selesai menonton TV.
“Mbak..”
“Eh tuan.. Selamat malam tuan...”
Mbak Lasmi terperanjat kaget melihat kehadiran Faza yang begitu tiba tiba namun bisa langsung menguasai dirinya.
“Ya malam... Udah pada tidur semua?” Tanya Faza pelan.
“Setau saya sudah tuan.. Soalnya tadi jam delapan baru pada pulang dari jalan jalan.” Jawab mbak Lasmi.
“Begitu ya?”
“Tuan mau saya buatkan teh atau kopi?” Tanya mbak Lasmi menawarkan.
“Tidak mbak. Makasih. Saya mau langsung istirahat saja.” Senyum Faza kemudian berlalu dari dapur meninggalkan mbak Lasmi yang mengusap usap dadanya karna keterkejutan-nya.
Sementara Faza, pria itu berlari menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumahnya. Faza sudah sangat ingin bertemu dengan Zahra, memeluk dan menciumnya melepaskan rasa rindu yang membelenggunya selama lebih dari 10 hari ini.
Saat sampai dikamarnya Faza langsung membersihkan diri kemudian mengganti bajunya sebelum mendekat pada Zahra yang sudah tampak terlelap dengan tenang diatas tempat tidur.
Faza tersenyum. Tanpa sadar air matanya menetes. Hampir saja Faza melakukan kesalahan yang bisa saja membuat hubungan-nya dengan Zahra berantakan.
Pelan pelan Faza naik keatas ranjang. Faza tidak mau gerakan-nya membuat Zahra terusik dari tidur lelapnya.
Senyum Faza mengembang ketika menatap wajah damai istrinya. Dengan sangat lembut Faza menyingkap selimut yang menutupi perut Zahra.
Faza tersenyum semakin lebar. Dengan sangat lembut dan hati hati Faza membelai lembut perut Zahra.
“Maafin papah ya nak..” Batin Faza sambil mengusap usap perut Zahra.
Usapan lembut Faza membuat Zahra mengeryit dalam tidurnya. Apa lagi posisinya yang miring ke kiri membuatnya Zahra bisa dengan mudah mencium aroma sabun yang menguar dari tubuh Faza yang baru selesai membersihkan dirinya.
Dengan kedua mata masih terpejam Zahra merasakan detak jantungnya berdetak begitu cepat. Zahra perlahan membuka kedua matanya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Zahra ketika mendapati Faza yang sedang duduk menghadapnya. Pria itu sudah mengenakan kaos putih polos lengan pendek dengan celana piyama panjang warna coklat gelap.
“Mas...”
Suara lirih Zahra membuat perhatian Zahra teralihkan. Faza tersenyum kemudian segera mencium kening Zahra lama.
“Apa aku mengganggu tidur kamu sayang?” Tanya Faza lembut.
Zahra masih diam terpaku dengan posisi berbaring miring menghadap Faza yang duduk bersila didepan-nya. Zahra bahkan menganggap dirinya sedang bermimpi karna terlalu merindukan suaminya.
“Hey... Kenapa bengong hem?”
Faza menoel ujung hidung Zahra membuat Zahra tersentak. Sentuhan Faza begitu terasa nyata diujung kulit hidungnya.
“Mas kamu...”
“Aku pulang sayang...” Bisik Faza kemudian mencium bibir Zahra lembut.
Sentuhan bibir Faza membuat Zahra kembali terperanjat. Zahra yakin sekarang bahwa kehadiran Faza bukan mimpi. Faza benar benar ada didepan-nya. Faza menciumnya begitu mesra dan lembut.
“Aku...”
Zahra tidak mampu mengatakan apapun sekarang. Zahra benar benar sangat terharu karna akhirnya Faza pulang dan kembali berada di sisinya.
Faza tersenyum. Dengan lembut Faza mencium ujung hidung Zahra.
“Jangan menangis sayang.. Aku disini. Aku kembali dan aku pulang untuk kamu..”
Faza tidak sedang berbohong. Faza meninggalkan pekerjaan-nya yang belum selesai karna tidak mau perasaan-nya terlalu dalam pada Sinta. Namun sebelum pulang Faza sudah lebih dulu menghubungi Mahendra. Dan beruntungnya Mahendra tidak keberatan.
“Aku kangen banget sama kamu mas...” Ungkap Zahra dengan bibir bergetar serta suara serak dan lirih.
“Aku juga.. I LOVE YOU.” Balas Faza berbisik.
Zahra menangis terisak. Faza yang tidak tega langsung memeluknya dengan lembut. Faza tau Zahra tidak berbohong. Tentu saja karna Zahra yang sering protes dan selalu menanyakan kapan dirinya pulang.
__ADS_1
“Tidur lagi yah...”
Zahra melepaskan diri dari pelukan Faza. Wanita yang sedang hamil tua itu menggelengkan kepalanya menolak apa yang Faza katakan.
“Aku udah nggak ngantuk. Aku mau sama kamu..” Katanya manja.
Faza tertawa pelan mendengarnya. Faza kembali mencium bibir Zahra. Dan kali ini Zahra membalasnya. Zahra mengimbangi ciuman lembut Faza hingga akhirnya mereka melakukan apa yang memang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan suami istri yang melepaskan rasa rindu setelah terpisah oleh jarak yang cukup jauh.
Cukup lama mereka melakukan-nya. Faza menyentuh Zahra dengan sangat penuh kelembutan juga cinta. Namun ketika hampir mencapai kenikmatan bersama tiba tiba Faza teringat akan kesalahan-nya. Kesalahan yang hampir saja membuatnya hancur sendiri.
“Kenapa mas?” Tanya Zahra dengan napas terengah engah.
Faza menatap tepat pada kedua mata Zahra. Saat itu juga hatinya kembali yakin. Pilihan hatinya adalah Zahra. Wanita yang Faza yakini adalah jodoh terbaik yang tuhan kirimkan padanya.
Faza mungkin akan mengatakan semuanya dengan jujur. Tapi tidak sekarang. Faza akan mengatakan-nya nanti. Faza menunggu waktu yang tepat agar Faza juga bisa menata hatinya dan melupakan sosok Siska yang Faza anggap hanya kerikil kecil yang mencoba menggoyahkan jalan lurusnya.
“Sayang...” Faza membungkukan tubuhnya mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra yang ada dibawahnya.
“Rasanya aku tidak ingin berhenti..” Bisiknya pada Zahra.
Zahra tersenyum. Zahra sangat merindukan sentuhan lembut suaminya. Zahra juga merasakan tidak ingin cepat cepat menyudahi permainan-nya bersama Faza.
“Tidak papakan kalau besok kita bangun sedikit siang hem?” Tanya Faza sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda istri tercintanya.
“Tentu saja tidak apa apa. Kak Aries dan kak Nadia pasti akan maklum mas..”
“Sayangnya mereka belum tau tentang kepulanganku..”
Zahra mengeryit mendengarnya. Ketika hendak bertanya kembali tiba tiba Faza kembali menyambar bibirnya. Faza juga kembali bergerak dengan lembut membuat apa yang ingin Zahra tanyakan hilang seketika dari pemikiran-nya.
Mereka kembali memadu cinta ditengah keheningan malam dengan cahaya temaram yang membuat aktivitas mereka semakin romantis juga panas.
Malam ini Zahra benar benar sangat bahagia karna suaminya sudah kembali disisinya. Zahra yakin dirinya tidak akan merasa kesepian lagi karna hari harinya akan kembali dia jalani bersama Faza. Yah.. Meskipun memang mereka tidak bisa selalu bersama karna Faza yang sibuk bekerja saat siang dan akan pulang malam.
Untuk Faza, pria itu akhirnya menyadari kesalahan-nya mengagumi Siska. Faza sudah bertekad untuk membuang jauh jauh rasa yang salah itu pada Siska. Karna pada dasarnya Faza jauh lebih takut kehilangan Zahra yang sangat Faza cintai. Zahra yang bahkan Faza nikahi dengan penuh tekad menggebu gebu tanpa memikirkan amarah kedua orang tuanya yang Faza bohongi.
__ADS_1