
Zahra benar benar masih bingung dengan tujuan Santoso yang tiba tiba datang kerumahnya. Zahra takut semua itu akan menjadi fitnah yang tentu akan membuat hubungan-nya dan Faza tidak baik baik saja. Apa lagi Faza juga sudah tau bahwa diam diam dulu Santoso menyukai Zahra. Zahra bahkan sudah menceritakan semuanya pada Faza.
“Jadi dia itu sebenarnya mantan bos kamu dulu?” Tanya Nadia sambil memotong motong buah dimeja makan.
“Iya kak..”
“Terus darimana dia tau alamat rumah ini? Atau dia memang udah biasa datang kesini?”
Zahra menghela napas. Zahra sendiri tidak tau dan tidak bisa menebak darimana Santoso tau alamat rumahnya dan Faza.
“Aku juga nggak tau kak.”
“Ini kalau tante Sinta tau bisa panjang Ra ngomelnya. Apa lagi sekarang Faza lagi nggak dirumah.” Ujar Nadia.
“Ya itu yang aku takutin kak.. Apa lagi mamah kan kalau ngomong suka nggak ada batas. Takutnya kak Aries dengar nanti ikut emosi juga.”
Nadia menghela napas dan mengangguk paham. Nadia juga pernah hampir bertengkar dengan Sinta karna membela Zahra.
“Ya sudahlah nggak usah terlalu dipikirin. Yang penting kan Faza percaya sama kamu Ra.. Kakak yakin Faza nggak bakal begitu saja percaya sama mamahnya asal kamu bisa jelasin dengan baik dan sejelas jelasnya.”
“Iya sih kak...”
“Ya udah mending sekarang kamu makan buah. Kakak udah potongin buat kamu..” Senyum Nadia sambil menyodorkan sepiring buah mangga pada Zahra.
“Makasih ya kak...”
“Iyah sama sama.. Ya udah bentar kakak panggil Arka dulu yah...”
“Iyah kak...”
Nadia kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Zahra sendiri dimeja makan untuk memanggil Arka yang sedang bermain sendiri diruang keluarga.
Zahra menghela napas. Zahra merasa bersyukur karna meskipun dirinya tidak lagi memiliki kedua orang tua namun dirinya mempunyai Aries dan Nadia yang menyayanginya dengan tulus.
__ADS_1
Zahra tersenyum menatap sepiring buah mangga yang sudah dipotongi oleh Nadia. Nadia benar benar sangat perhatian dan tulus padanya.
Zahra meraih garpu dan menusukan garpu tersebut pada sepotong buah mangga yang dipiring didepan-nya. Zahra melahap sepotong buah mangga tersebut kemudian tersenyum. Rasanya sangat manis.
----------
“Aku kesana sekarang yah? Kamu masih dikantor kan?” Tanya Loly lewat sambungan telepon pada Fadly.
Mona yang berada didepan-nya hanya bisa menghela napas. Sejak dekat dengan Fadly Loly memang sering mengabaikan pekerjaan-nya. Hal itu tentu saja membuat Mona kewalahan selaku sang sekretaris. Mona bahkan harus sering bolak balik kerumah Loly karna Loly yang sering memintanya mengantarkan berkas yang harus dia baca. Tentu saja karna Loly yang selalu sibuk dengan Fadly sehingga sering lupa dengan tugasnya sebagai seorang pemimpin diperusahaan.
“Mona, saya langsung pergi yah.. Kaya biasa, nanti kamu anterin aja semua berkas berkas ini. Aku akan kerjain semuanya dirumah.”
“Tapi..”
“Mona saya buru buru...” Potong Loly kemudian segera bangkit dan meraih tasnya kemudian berlalu tanpa mau mendengar apa yang ingin Mona katakan padanya.
Mona berdecak pelan. Mona benar benar tidak mengerti dengan perubahan mendadak Loly.
“Apa mungkin semua ini karna pak Fadly?” Mona bertanya tanya dengan lirih.
Tidak ingin berprasangka buruk pada Fadly, Mona pun memilih untuk membereskan berkas berkas yang berserakan dimeja Loly kemudian keluar dari ruang kerja Loly dan kembali fokus dengan pekerjaan-nya sendiri.
Sedangkan Loly, diparkiran depan perusahaan, Loly buru buru masuk kedalam mobil merahnya. Loly tidak ingin terlambat datang menemui Fadly yang sudah menunggunya.
Dengan kecepatan maximal Loly mengendarai mobilnya. Loly bahkan hampir menyerempet seorang pengendara sepeda motor karna terlalu buru buru. Dipikiran-nya hanya ada Fadly setiap saat. Loly bahkan tidak sadar dengan kondisi perusahaan-nya sekarang.
Dalam waktu singkat mobil Loly sampai didepan perusahaan tempat Fadly bekerja. Loly menghela napas merasa sangat lega karna akhirnya sampai lebih awal dari waktu yang disepakati dengan Fadly.
Loly tersenyum begitu melihat Fadly keluar dari perusahaan. Loly kemudian segera keluar dari mobilnya dan melangkah cepat menghampiri Fadly.
“Hay...” Sapa Loly begitu sampai didepan Fadly.
Fadly tampak terkejut kemudian melihat jam tangan-nya. Fadly tidak menyangka Loly bisa begitu cepat sampai dari perusahaan-nya padahal jarak dari perusahaan Loly ke perusahaan tempat Fadly bekerja lumayan jauh. Apa lagi diwaktu waktu makan siang seperti sekarang pasti sangat rawan macet karna jalanan yang begitu ramai oleh kendaraan. Baik kendaraan beroda empat maupun dua.
__ADS_1
Fadly menatap Loly yang tersenyum manis padanya. Fadly benar benar tidak menyangka Loly seantusias itu hanya karna mereka berdua janji makan siang bersama.
“Kamu tidak sampai satu jam perjalanan kesini?” Tanya Fadly menatap bingung pada Loly.
“Eemm.. Aku hanya menempuh setengah waktu biasanya aku kesini.” Senyum Loly manis.
Fadly diam sesaat kemudian menganggukan kepalanya mengerti. Fadly yakin Loly pasti mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh sehingga bisa sampai begitu cepat diperusahaan-nya.
“Oke.. Jadi kita mau makan dimana?” Tanya Fadly kemudian.
“Eemm.. Terserah kamu aja.” Jawab Loly.
Fadly mengangkat kedua alis sambil mengedikkan kedua bahunya.
“Ya sudah.. Kamu ikut mobil aku aja.”
“Oke..” Angguk Loly antusias.
Fadly tersenyum menatap Loly. Fadly yakin Loly pasti sudah benar benar terpedaya olehnya. Itu akan membuat rencana Fadly semakin sukses dalam menghancurkan Loly. Tapi untuk sekarang Fadly merasa semuanya belum saatnya. Loly harus benar benar hancur menurut Fadly.
“Kenapa?” Tanya Loly merasa gugup karna terus ditatap oleh Fadly.
“Enggak papa. Kamu cantik.” Jawab Fadly membuat wajah Loly memanas.
Fadly kemudian meraih tangan Loly, menggandengnya dan melangkah menuju mobilnya. Fadly juga membukakan pintu mobil untuk Loly supaya Loly semakin merasa terbang untuk kemudian akan Fadly jatuhkan dengan sangat kejam.
-----------
Dikamar hotelnya Faza terus merenung didepan tembok kaca yang menyuguhkan pemandangan malam yang begitu ramai oleh kerlipan lampu dinegara maju itu. Sudah satu minggu namun pekerjaan-nya belum juga selesai. Faza bahkan hampir tidak punya waktu untuk menyentuh ponselnya sehingga dua hari ini sama sekali tidak bisa menghubungi Zahra. Faza juga tidak menyadari saat Zahra menghubunginya karna Faza sengaja meng-silentnya.
Faza menghela napas. Pria itu melirik ponselnya yang berada diatas nakas samping tempat tidurnya. Faza melangkah mendekati nakas kemudian meraih benda pipih itu.
Faza tersenyum saat menghidupkan ponselnya. Wallpaper Zahra yang begitu cantik dengan perut besarnya.
__ADS_1
Sekarang Faza sedang merasa sangat bersalah karna diam diam sudah mengagumi wanita lain tanpa Zahra ketahui. Faza ingin jujur pada Zahra, namun Faza takut kejujuran-nya akan membuat Zahra terluka. Sedang rasa kagumnya pada Siska sampai saat ini belum juga hilang.
“Maafin aku sayang.. Aku tidak bermaksud melukai kamu...”