
Saat makan malam berlangsung Fadly merasakan suasana yang sedikit tidak menyenangkan dimeja makan menurutnya. Dimana sang mamah terus saja bersikap begitu manis pada Loly. Sedangkan kakaknya Faza tampak sangat malas malasan menyantap makan malamnya disamping Zahra.
“Mas mau nambah lagi sayur asemnya? Ini aku yang masak loh...”
Zahra berusaha menghibur hati suaminya yang kembali dikuasai amarah melihat kekompakan mamahnya dan Loly.
“Jadi sayur asemnya kamu yang buat? Pantes enak banget. Aku mau nambah lagi ah nanti.” Timpal Fadly yang membuat Faza mendelik.
“Enggak boleh. Sayang ambilkan sayur asemnya dan taruh disini. Aku akan menghabiskan-nya nanti.” Ujar Faza yang tidak mau jika Fadly sampai tidak menyisakan masakan Zahra untuknya.
Sinta dan Loly yang melihat itu memutar jengah kedua bola matanya. Sedangkan Fadly, dia tertawa karna berhasil meledek sang kakak yang memang dari dulu selalu sensitif jika sudah berkaitan dengan Zahra.
Seperti sebelumnya, selesai makan malam Zahra membantu bibi membereskan meja makan. Keduanya tampak tertawa dan bercanda tanpa menyadari ada Faza yang sedang memperhatikan dalam diam.
“Kenapa kak?” Tanya Fadly yang muncul dari teras samping dan mendapati kakaknya yang sedang diam dan terus menatap Zahra dan bibi.
“Aku cuma lagi bingung aja sama mamah..”
Fadly mengeryit bingung.
“Bingung? Memangnya kenapa dengan mamah?”
“Kamu bisa lihatkan perbedaan Zahra dan Loly? Memangnya apa kelebihan Loly sampai mamah bisa begitu sangat menyukainya? Dia nggak bisa ngapa ngapain kan?”
Fadly tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sekarang Fadly tau penyebab kediaman kakak nya.
“Sebenarnya sih Loly dan Zahra itu punya kelebihan dan kekurangan masing masing kak. Tapi semua tergantung pada siapa yang menatap mereka berdua.”
Faza menoleh pada Fadly, menatapnya dengan kening mengeryit.
“Maksud kamu?”
“Kak, kita tau bagaimana seorang Zahra. Dia bukan perempuan yang lemah. Kalau hanya seorang Loly saja itu tidak cukup untuk menumbangkan Zahra. Jadi kakak nggak perlu khawatir. Kakak hanya cukup percaya saja sama Zahra. Semuanya akan baik baik saja. Aku jamin itu.”
Faza diam. Zahra memang bukan perempuan yang gampang ditindas. Meskipun memang Zahra terlihat lemah tapi sebenarnya Zahra adalah perempuan yang keras lagi pemberani. Contohnya saat mengerjai Anita dengan menyamar menjadi waitrees direstoran saat Faza dan Atasan serta staf yang lain-nya sedang makan malam bersama.
“Zahra.”
Suara Loly berhasil mengalihkan perhatian Faza dari lamunan-nya. Faza menatap kembali pada Zahra yang sudah berdiri berhadapan dengan Loly.
“Oke kak, kita bisa lihat sekarang.” Senyum Fadly memperhatikan Zahra dan Loly yang sedang berhadapan.
“Aku haus banget. Bisa tidak ambilkan aku air dingin Zahra?”
Zahra mengeryit mendengar perintah Loly. Zahra menghela napas kemudian kembali melanjutkan mengelap meja makan.
“Kamu nggak buta kan Loly? Dispenser ada disebelah kiri meja ini. Aku bukan pembantu yang bisa kamu suruh suruh.”
__ADS_1
Loly mendelik mendengar apa yang Zahra katakan.
“Kamu berani menolak perintahku Zahra?!”
Zahra menoleh kembali menatap Loly yang berdiri dengan melipat kedua tangan-nya begitu angkuh dan sombong.
“Memangnya kamu siapa sampai aku harus menuruti kemauan kamu?” Tanya Zahra dengan begitu berani.
Loly menyipitkan kedua matanya menatap penuh amarah pada Zahra yang begitu berani padanya.
“Aku bisa adukan kamu pada tante Sinta Zahra. Kamu jangan macam macam.”
Zahra tertawa mendengarnya.
“Loly Loly.. Kamu pikir kamu bisa menindasku semau kamu? Kamu salah kalau kamu berpikir seperti itu. Aku nggak takut sama kamu. Aku juga nggak takut meskipun kamu mengadukan aku sama mamah.”
“Kamu menantangku Zahra?”
“Kalau iya kenapa? Kamu takut?” Tanya balik Zahra tanpa sedikitpun merasa gentar.
Loly mengepalkan kedua tangan-nya. Pandangan-nya pada Zahra salah. Loly pikir dirinya bisa memperlakukan Zahra sebisa yang dia mau. Tapi nyatanya Zahra berani melawan bahkan menantangnya.
“Oke, kita lihat saja.”
Loly meraih vas bunga yang berada ditengah meja kemudian membantingnya.
Namun, bukan Zahra namanya jika kehilangan akal. Meski sempat terdiam dengan keterkejutan-nya, Tapi Zahra bisa langsung menguasai keadaan dengan tetap bersikap tenang.
“Kita lihat Zahra.. Apa yang akan tante Sinta lakukan sama kamu.” Senyum sinis Loly.
Zahra ikut tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
“Oke, siapa takut.” Balas Zahra santai.
Mendengar suara keras benda jatuh dan pecah, Sinta pun bergegas menuju sumber suara. Dan begitu Sinta muncul Zahra segera berjongkok berniat membersihkan pecahan vas bunga itu yang membuat Loly terbelalak tidak percaya dengan apa yang Zahra lakukan.
“Kamu...”
“Ada apa ini?!”
Ucapan Loly tersela oleh pertanyaan bernada tinggi Sinta yang mendekat pada Loly dan Zahra yang sudah siap berakting didepan Sinta.
Zahra sedikit melukai telapak tangan-nya membuat Faza dan Fadly yang melihat juga ikut terkejut. Faza hampir saja berlari untuk menghentikan aksi nekat istrinya jika saja Fadly tidak menahan-nya.
“Fadly jangan halangi kakak.. Ini sudah tidak benar.”
“Kakak tenang dulu. Kita lihat saja dari sini. Percaya sama Zahra kak..” Fadly menahan Faza yang hendak mendekat untuk mencegah Zahra melukai telapak tangan-nya sendiri.
__ADS_1
“Ly tapi...”
“Aku yang akan menjamin kak. Zahra akan baik baik saja.”
Sementara itu, Sinta terkejut melihat vas bunga kesayangan-nya sudah pecah berkeping keping dilantai.
“Ya Tuhan.. Vas bunga mamah..” Sinta menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tante tadi itu...”
“Loly tidak sengaja menjatuhkan vas bunganya mah. Mamah jangan marah ya.. Zahra akan segera membersihkan-nya.”
Zahra menyela apa yang ingin dikatakan oleh Loly sambil memperlihatkan telapak tangan-nya yang terluka pada Sinta.
Sinta diam dan menatap ngeri pada telapak tangan Zahra yang berdarah. Sinta juga merasa sangat kesal karna vas kesayangan-nya pecah karna kecerobohan Loly.
Loly yang mendengar itu menggeleng tidak percaya. Zahra ternyata lebih licik darinya. Zahra bahkan rela melukai tangan-nya sendiri demi bisa membuat Sinta percaya padanya.
“Tante tapi...”
“Ini vas bunga kesayangan tante Loly. Papah Faza yang memberikan-nya sebagai hadiah ulang tahun tante beberapa tahun lalu.” Lirih Sinta merasa sangat kecewa.
Zahra tersenyum diam diam mendengarnya. Aktingnya berhasil.
“Tante tapi aku...”
“Sudahlah.” Sela Sinta tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Loly.
“Bibi !!”
Sinta berseru memanggil bibi yang sedang berkutat didapur. Begitu bibi datang menghampiri, Sinta langsung menyuruh bibi untuk membersihkan pecahan vas bunga tersebut.
“Zahra obati luka kamu. Mamah nggak mau kalau Faza sampai menyalahkan mamah karna tangan kamu terluka.” Ujar Sinta sebelum berlalu meninggalkan Zahra, Loly, juga bibi.
“Iya mah..” Angguk Zahra menurut saja.
Loly mengepalkan kedua tangan-nya dengan rahang mengeras. Loly tidak menyangka Zahra bisa begitu bagus berakting didepan Sinta.
“Jadi sekarang siapa yang harusnya tidak macam macam Loly?” Tanya Zahra dengan senyuman sinis dibibirnya.
Bibi yang berada diantara mereka terlihat kebingungan.
“Awas kamu Zahra. Aku akan balas perbuatan kamu.” Kesal Loly kemudian berlalu.
Zahra tertawa merasa menang dari Loly. Zahra sudah bertekad untuk berjuang mendapat restu kedua orang tuanya. Dan siapapun yang menghalangi tekad bulatnya akan Zahra tangani dengan caranya sendiri.
“Sekarang kakak bisa lihatkan bagaimana rubah betina kalau sudah dibangunkan dari tidurnya?” Senyum Fadly bertanya pada Faza yang diam disampingnya.
__ADS_1
Faza menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya. Zahra bisa membuat Loly tidak berdaya dengan caranya sendiri.