PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 92


__ADS_3

Zahra tidak henti hentinya memekik kesenengan menatap menara tinggi yang sejak dulu sangat ingin dilihatnya secara langsung. Zahra benar benar bahagia karna akhirnya bisa berada disana bersama Faza.


“Mas photoin aku ya..”


Zahra memberikan ponselnya pada Faza kemudian menyuruh Faza untuk sedikit mundur agar Faza bisa mengambil gambarnya dengan Eiffel yang begitu tepat dibelakangnya.


Faza tertawa melihat tingkah heboh istrinya. Meskipun kehebohan itu mengundang perhatian para wisatawan lain namun Faza tidak perduli. Faza tetap melakukan apa yang di inginkan istrinya mengambil gambar dengan ponsel milik istrinya. Zahra bahkan beberapa kali berganti gaya saat Faza mengambil gambarnya.


Setelah merasa puas, Zahra menghampiri suaminya. Zahra mengambil ponsel miliknya dan tertawa melihat jepretan demi jepretan dari Faza.


“Ya Tuhan.. Sumpah mas ini konyol banget.. Hahaha..” Tawa Zahra tanpa sedikitpun merasa malu.


Faza ikut tertawa. Faza merasa sangat senang karna bisa membuat istrinya tertawa begitu lebar. Zahra terlihat sangat bahagia saat itu.


“Sekarang.. Kita photo bersama..” Ujar Faza meraih kembali ponsel milik Zahra. Faza memeluk dengan mesra pinggang Zahra dengan mengarahkan kamera kepadanya dan Zahra.


Beberapa photo mesra mereka ambil. Terakhir Faza mencium lembut bibir Zahra yang membuat Zahra terkejut dan itu sukses tertangkap oleh kamera ponsel Zahra.


“Mas..”


“Enggak papa.. Disini bukan hal asing kalau ada pasangan yang berciuman.” Senyum Faza menyela.


Zahra menggelengkan kepalanya. Faza memang lumayan mesum menurutnya.


Setelah puas berphoto photo, Faza pun mengajak Zahra untuk menjajah kuliner disana dari yang murah sampai yang paling mahal. Beruntungnya Zahra tidak sensitif dengan berbagai makanan dan bisa menyantapnya dengan aman.


“Gimana? Enak kan?” Tanya Faza menatap Zahra yang sedang asik menyantap makanan-nya.


Zahra menganggukan kepalanya dengan mulut penuh makanan. Wanita begitu sangat lahap menyantap setiap hidangan yang ada didepan-nya.


Tidak mau istrinya kelelahan, Faza pun mengajak untuk Zahra kembali ke hotel sebelum hari mulai gelap.


“Makasih banget ya mas, kamu udah bawa aku jalan jalan terus beliin aku banyak makanan enak. Aku seneng banget. Dan aku yakin anak kita juga senang.” Ujar Zahra sembari melangkahkan kakinya disamping Faza menuju lift.

__ADS_1


“Nggak perlu terimakasih sayang.. Membuat kamu bahagia adalah kewajiban aku. Aku bahagia kalau kamu bahagia.” Balas Faza tersenyum menatap Zahra.


Zahra tertawa pelan. Rasanya kebahagiaan yang sekarang dia rasakan begitu berlipat lipat. Zahra sudah berhasil datang ke negara impian-nya dengan pria yang sangat dia cintai. Dan sekarang Zahra juga tengah hamil anaknya bersama Faza. Zahra tidak menyangka Tuhan begitu banyak memberikan kebahagiaan untuknya bulan ini.


“Kamu langsung bersih bersih terus ganti baju ya sayang..”


Zahra mengangguk sambil masuk kedalam kamar mereka. Faza mulai over protektif padanya tapi Zahra tau semua itu demi kebaikan-nya juga janin dalam kandungan-nya.


“Besok kita jalan jalan lagi kan mas?” Tanya Zahra sambil membuka jaket yang dikenakan-nya.


Faza menoleh menatap Zahra yang terlihat begitu semangat. Faza sedikit berubah pikiran sekarang. Zahra sedang hamil dan tidak boleh terlalu memforsir tenaganya. Itu artinya Faza juga tidak bisa mengajak Zahra terlalu sering jalan jalan selama mereka berada di Paris. Tapi menolak keinginan Zahra sekarang juga pasti akan membuat Zahra kembali menangis.


“Mas? Kok diem?” Zahra menoleh menatap bingung pada Faza yang sedang menatapnya dalam diam.


“Ah enggak. Nggak papa kok. Kita lihat besok ya sayang..”


Zahra menghela napas dengan kedua bola mata memutar merasa jengah. Zahra kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


“Huft.. Kenapa aku jadi bimbang dan merasa dilema seperti ini sekarang..” Gumam Faza mengusap kasar wajah tampan-nya menggunakan kedua tangan-nya.


Faza menyenderkan punggungnya disandaran sofa. Kebahagiaan Zahra adalah segalanya untuk Faza. Tapi kesehatan janin dalam kandungan Zahra juga Zahra juga prioritas utama untuknya sekarang. Sedangkan Zahra selalu antusias jika mengatakan tentang jalan jalan.


-----------


Di lain tempat, tepatnya dikediaman keluarga Loly, Sinta sedang sibuk didapur membuat kue untuk menyambut kepulangan Loly. Kebetulan juga kedua orang tua Loly sedang berada diluar negeri untuk urusan bisnisnya sehingga Sinta bisa menginap tanpa merasa canggung disana.


“Tante...”


Sinta menoleh mendengar suara lembut Loly. Wanita itu tersenyum menatap Loly yang perlahan mendekat padanya.


“Ya Tuhan.. Tante salah perkiraan kali ini. Tante pikir kamu akan pulang malam sayang..” Ujar Sinta mematikan mikser yang sedang digunakan-nya untuk membuat adonan kue.


Loly tertawa pelan.

__ADS_1


“Ya.. Aku sengaja pulang cepat supaya bisa ngobrol banyak sama tante.”


“Oh ya? Itu artinya keberadaan tante disini membuat kamu merasa tertekan sayang?” Sinta kembali menatap Loly. Kali ini ekspresinya terlihat sendu menunggu jawaban dari Loly.


“Oh enggak tante. Sama sekali enggak. Aku malah seneng ada tante disini. Rasanya seperti sedang bersama mamah sendiri. Aku bahagia ada tante disini.” Senyum Loly menolak ucapan Sinta.


“Benarkah? Tante sangat senang mendengarnya Loly. Tante semakin tidak sabar ingin Faza menceraikan Zahra lalu menikah dengan kamu. Saat itu kamu akan memanggil tante dengan sebutan mamah. Ah pasti akan sangat membahagiakan mempunyai menantu seperti kamu sayang..”


Loly tertawa pelan mendengarnya. Tingkah Sinta terlalu berlebihan menurut Loly. Tapi Loly tidak perduli. Karena yang paling penting adalah Sinta menyetujui jika Loly yang menjadi pendamping Faza, bukan Zahra.


“Permisi nona, nyonya. Maaf saya mengganggu. Didepan ada tuan Akbar. Beliau mencari nyonya Sinta.”


Sinta dan Loly menatap asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Loly sesaat kemudian saling menatap satu sama lain.


“Eemm.. Aku pikir sebaiknya tante menemui om dulu. Aku akan lanjutkan membuat kue nya. Bagaimana?”


Sinta menghela napas. Sinta masih sangat kesal pada suaminya yang tidak memberitahunya tentang keberangkatan Faza dan Zahra ke Paris.


“Tante sebenarnya malas bertemu dengan papahnya Faza. Tapi.. oke, tante akan menemuinya sekarang. Tolong lanjutkan membuat kue nya ya sayang. Nanti kita bisa makan sama sama.”


Sinta tersenyum diakhir katanya kemudian berlalu dari dapur untuk menemui suaminya yang sudah menunggu didepan.


Setelah Sinta berlalu Loly berdecak pelan. Loly kemudian menoleh menatap pada adonan kue yang belum selesai dibuat oleh Sinta.


“Males banget kalau harus mengotori tanganku untuk membuat kue itu.” Gumam Loly pelan.


Loly melirik pada asisten rumah tangganya.


“Kamu, tolong lanjutkan membuat adonan itu.” Perintah Loly.


“Baik nona..” Angguk asisten rumah tangga tersebut dan segera melakukan apa yang Loly perintahkan padanya.


“Untung aja aku cinta sama mas Faza. Kalau enggak malas sekali aku harus berhubungan dengan tante tante mata duitan itu.” Gumam Loly pelan.

__ADS_1


__ADS_2