
Zahra dan Faza dibuat geleng geleng melihat hidangan yang tertata rapi diatas meja makan. Bi Tatik dan mbak Lasmi sepertinya benar benar mengabsen semua jenis makanan. Keduanya memasak berbagai menu masakan dari berbagai bahan seperti daging, ayam, juga ikan yang benar benar sangat menggugah selera.
“Ya ampun.. Niat banget kayanya bi Tatik sama mbak Lasmi bikin kita gendut sayang..” Tawa Faza merasa sangat lucu dengan tingkah kedua pekerjanya.
Zahra yang sedang menggendong Fahri ikut tertawa. Sepertinya keniatan bi Tatik menyambut kedatangan-nya dan Faza memang sangat serius.
“Permisi nyonya..”
Panjang umur. Orang yang membuat Faza dan Zahra geleng geleng kepala juga tertawa muncul dari arah belakang rumah.
Bi Tatik mendekat pada Zahra dengan kepala sedikit menunduk.
“Bi.. Ini banyak banget loh masaknya.. Bibi sama mamang terus mbak Lasmi udah makan? Atau kita makan sama sama saja sekalian?” Zahra bertanya menatap bi Tatik.
“Terimakasih nyonya. Tapi kami bertiga sudah makan. Saya kesini mau minta izin buat gendong tuan muda supaya nyonya sama tuan bisa makan dengan tenang.”
Faza tersenyum. Faza tidak menyangka jika sepasang suami istri yang bekerja padanya adalah orang yang sangat baik, telaten, juga ramah.
Sedang Zahra, dia menatap pada Faza mendengar bi Tatik yang meminta izin untuk menggendong Fahri. Zahra sangat mengerti keniatan bi Tatik baik. Tapi Zahra juga merasa harus mendapat izin dari Faza jika ada orang yang akan menyentuh putranya.
“Enggak papa.. Bi Tatik itu cucunya udah lima loh sayang.. Jadi bi Tatik pasti sudah sangat berpengalaman menggendong bayi.” Ujar Faza yang sebelumnya memang sudah mencari tau tentang bi Tatik dan mang Dadang.
Zahra tertawa mendengarnya. Bi Tatik memang sudah tidak muda lagi. Tidak heran jika wanita baya itu bahkan sudah mempunyai cucu.
“Tuan bisa saja. Itu bukan cucu saya tuan. Tapi cucu dari adik saya..” Ujar bi Tatik tersenyum malu malu.
“Ya sudah kalau begitu tolong jagain Fahri sebentar ya bi.. Saya mau menemani suami tercinta saya makan dulu.” Canda Zahra membuat bi Tatik tersenyum.
Zahra kemudian menyerahkan Fahri pada bi Tatik. Dan setelah itu bi Tatik kembali meminta izin pada Zahra juga Faza untuk mengajak Fahri kedepan bersamanya.
__ADS_1
“Mas..”
Panggil Zahra setelah bi Tatik berlalu dari hadapan-nya juga Faza di dapur dimana meja makan juga ada disana.
“Ya sayang..” Saut Faza menatap penuh perhatian pada Zahra yang sedang menyendok nasi untuknya.
“Kamu kenal bi Tatik sama mang Dadang dimana? Kok kamu juga sampai tau mang Dadang sama bi Tatik punya cucu lima?”
Faza tersenyum mendengarnya. Awal pertemuan-nya dengan mang Dadang sangatlah tidak mengenakan. Saat itu mang Dadang sedang menarik gerobak berisi sampahnya, dan Faza hampir saja menabraknya. Namun saat itu Faza juga tidak langsung percaya begitu saja pada mang Dadang. Hingga Faza beberapa kali melihat mang Dadang lagi dijalan.
“Awalnya aku cuma kenal mang Dadang sampe akhirnya aku diperkenalkan sama bi Tatik oleh mang Dadang. Dan yah.. Mereka orang baik dan akhirnya aku percayakan rumah ini untuk mereka berdua yang urus.”
Zahra mengangguk anggukan kepalanya mengerti.
“Tapi sayang, mereka orang orang baik yang kurang beruntung.”
Zahra mengeryit sambil meletakan piring berisi nasi juga lauk yang sudah Zahra ambilkan didepan Faza.
Faza menghela napas. Pria itu kemudian menceritakan bagaimana perlakuan saudara dekat mang Dadang dan bi Tatik yang begitu semena mena. Mereka bahkan tidak segan menghina pasangan suami istri yang memang tidak dikaruniai anak itu dengan sangat tidak berperasaan.
“Ya Tuhan... Kasihan sekali mereka mas..” Ujar Zahra merasa kasihan pada keduanya setelah mendengar cerita Faza tentang mang Dadang dan bi Tatik.
“Ya sayang. Kita patut bersyukur karena mempunyai apa yang kita mau. Kita bisa membeli apa yang kita mau. Kita juga bisa memberi pada orang yang membutuhkan. Karena diluar sana bahkan banyak orang orang yang berkekurangan. Banyak orang orang yang menderita dengan segala beban perekonomian.”
Zahra menyuapkan sesendok nasi lengkap dengan lauk pauknya kedalam mulutnya. Zahra tidak bisa berkata apa apa mendengar apa yang dikatakan suaminya. Mendadak Zahra merasa sangat bersalah pada Faza.
Zahra menghela napas. Saat sedang hamil, Zahra sering sekali membatin seolah dirinya sangat menderita karena tidak diperhatikan oleh Faza. Zahra juga sering merenung karena Faza yang selalu sibuk dengan pekerjaan-nya. Sementara Zahra sendiri tau beban Zahra sebagai direktur tidak sama seperti saat Faza menjadi manager. Ya, tentu saja. Faza tidak bisa bersantai karena beban dipundaknya yang semakin berat.
“Hey.. Kenapa bengong?”
__ADS_1
Zahra tersentak saat Faza menyentuh lembut tangan-nya.
“Eh mas...” Zahra tersenyum tipis dan mengunyah pelan makanan dalam mulutnya.
Saat dirinya hamil Fahri perasaan-nya memang gampang sekali berubah ubah. Zahra gampang merasa sedih karena kesepian. Zahra bahkan kadang merasa menderita sendiri tanpa seorang pun tau.
“Kenapa sayang?” Tanya Faza pelan dan penuh perhatian.
Zahra menggelengkan kepalanya. Zahra tau jika dirinya menceritakan semua yang dia rasakan Faza pasti akan merasa bersalah padanya.
“Enggak mas. Enggak papa. Aku cuma nggak bisa bayangin aja bagaimana rasanya menjadi mang Dadang dan bi Tatik.”
Faza tertawa mendengarnya. Faza tidak bisa dibohongi jika ekspresi Zahra saja jelas jelas terlihat sangat sendu seperti sedang memikirkan sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri tadi. Tapi Faza tidak ingin memaksa jika memang Zahra tidak siap untuk bercerita padanya.
“Ya sayang.. Makanya aku suruh saja mereka tinggal disini. Ya sekalian mereka mengurus rumah kamu.. Dan ya.. Rumah ini begitu bersih dan sangat terawat. Masih sama seperti saat kita tinggali dulu. Tidak ada barang yang rusak karena rayap ataupun tanaman yang mati karena tidak disiram.” Senyum Faza sambil mengusap lembut punggung tangan istrinya.
Usapan lembut itu tentu saja Faza maksudkan untuk memberikan ketenangan pada istrinya jika memang Zahra sedang merasakan beban pikiran yang berat.
“Ya mas.. Aku makasih banget sama kamu ya... Kamu bahkan begitu perduli dengan peninggalan ayah sama ibu..”
“Sudah sudah.. Kan udah dibilang nggak ada kata terimakasih untuk semua yang aku lakukan untuk kamu.. Aku hanya melakukan kewajiban aku sebagai suami. Yah.. Meskipun aku memang tidak sempurna, setidaknya aku berusaha membuat kamu bahagia. Bukan begitu sayangku?”
Zahra berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak menetes. Namun itu tidak berhasil. Air matanya tetap saja menetes dan membasahi kedua pipinya.
“Loh sayang kok kamu...”
Zahra bangkit dari duduknya kemudian berhambur memeluk Faza yang hanya bisa menghela napas. Faza tidak bermaksud membuat istrinya itu menangis.
“Udah yah sayang.. Aku minta maaf kalau apa yang aku katakan membuat kamu sedih..”
__ADS_1
Faza membalas pelukan Zahra. Pria itu mendudukan Zahra dipangkuan-nya, mengusap punggung Zahra yang memeluknya begitu erat sambil terus menangis terisak dibalik punggungnya.