PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 293


__ADS_3

Faza memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada Zahra tentang apa yang diucapkan oleh sang papah tentang mamahnya. Faza berpikir mungkin akan lebih baik jika masalah masa lalu mamahnya cukup dirinya, Fadly, juga papahnya saja yang tau. Karena sebenarnya masalah itu juga tidak seharusnya di ungkit lagi ke permukaan.


Namun tidak dengan Sinta yang merasa sangat tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


“Apa maksud kamu mengungkit kembali tentang masa lalu kita pah?” Tanya Sinta pada Akbar yang malam itu baru selesai membersihkan dirinya.


Ya, setelah Fadly pergi, Sinta langsung bergegas menemui suaminya kembali. Yang lebih membuat Sinta semakin kesal lagi adalah tingkah Akbar yang begitu santai seolah sedang tidak terjadi apa apa.


Akbar menghela napas. Decakan pelan keluar dari bibirnya. Akbar masih tidak habis pikir dengan apa yang ada dikepala istrinya.


“Jadi kamu masih tidak berpikir tentang semua kesalahan kamu Sinta? Apa perlu aku jabarkan semuanya dengan sedetail detailnya?”


Kedua tangan Sinta mengepal erat mendengarnya. Sinta merasa sangat direndahkan oleh pria yang adalah suaminya sendiri.


“Aku selalu menuruti apa mau kamu Sinta. Aku menjauh dari kedua orang tuaku. Aku bahkan sampai tidak menemani mamahku sampai diakhir hembusan napasnya karena kamu. Aku memang sangat bodoh. Aku bahkan mau saja menuruti mau kamu untuk tidak berkunjung ke makam kedua orang tuaku di Amerika. Aku diam meskipun kamu sangat egois Sinta. Semua itu karena aku sangat mencintai kamu. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lagi menahan-nya. Aku tidak bisa lagi sesabar dulu Sinta. Aku manusia biasa. Aku punya batas kesabaran.”


Sinta menggeleng dengan senyuman sinisnya. Semua yang Akbar katakan memang benar. Tapi Sinta tetap merasa apa yang dilakukan-nya memang sudah benar.


“Kamu juga harus tau mas. Aku melakukan semua itu juga karena kedua orang tua kamu yang tidak pernah mau mengerti aku. Mereka selalu bertingkah semaunya dan mengaturku untuk melakukan ini itu. Aku bukan boneka dan aku tidak suka di atur.” Ujar Sinta dengan nada tegas.


Akbar tertawa mendengarnya. Sinta masih tetap merasa semua yang dilakukan-nya adalah suatu kebenaran.


“Ternyata aku salah mencintai kamu Sinta. Aku sadar sekarang. Aku sudah sangat berdosa pada kedua orang tuaku sendiri. Kamu selalu ingin benar dan menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kamu sudah menghancurkan perasaan aku juga hatiku. Dan sekarang kamu mau menghancurkan perasaan anak anakku juga? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Sinta. Aku akan melindungi mereka berdua dari ke egoisan kamu.”


Napas Sinta mulai memburu. Wanita itu benar benar tidak terima dengan vonis dirinya yang begitu jahat dimata Akbar, suaminya sendiri.


“Apa aku sejahat itu dimata kamu mas? Apa kamu lupa dengan semua yang sudah aku lakukan untuk kamu untuk anak anak kita?”


“Sinta dengar. Kamu tidak perlu bertanya padaku atau pada kedua putraku. Kalau memang kamu masih punya hati nurani, kamu pasti bisa menyadari kesalahan kamu sendiri setelah apa yang aku katakan. Dan maaf, untuk sekarang aku merasa semuanya sudah cukup. Aku tidak bisa membimbing kamu menjadi istri yang baik. Terimakasih untuk semua yang sudah kamu berikan untuk aku juga untuk kedua anakku. Kedepan-nya tolong jangan lagi mengekang mereka berdua. Biarkan mereka memilih jalan mereka masing masing. Selama itu adalah yang terbaik untuk kehidupan mereka.”


Setelah berkata panjang lebar, Akbar pun keluar dari kamar mereka dan tidak lagi kembali bahkan sampai malam larut bahkan pagi menjelang.

__ADS_1


Sedang Sinta, wanita itu menangis sendiri dikamarnya semalaman. Sinta bahkan sampai tidak memejamkan kedua matanya barang se-menitpun. Ucapan Akbar seperti sinyal bahwa pria itu memang sudah tidak lagi sanggup hidup bersamanya.


Saat pagi tiba, Sinta mencoba menghubungi Faza. Beberapa kali menelepon tapi tidak di angkat membuat Sinta merasa sangat frustasi. Akbar selalu menyalahkan-nya. Dan Sinta tidak mau kedua putranya juga akan menyalahkan-nya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Sinta menolehkan kepalanya. Sinta segera menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya kemudian melangkah cepat menuju pintu untuk membukanya.


Begitu pintu dibuka, Sinta mendapati Fadly yang sudah berdiri didepan-nya. Fadly terkejut melihat mata sembab mamahnya namun tetap tenang dalam diamnya.


“Dibawah ada kakak sama Loly mah.. Papah juga sudah disana menunggu mamah.” Ujar Fadly pelan.


“Fadly kamu tidak menyalahkan mamah kan?”


Fadly menghela napas mendengar pertanyaan sang mamah. Fadly memang tidak menyalahkan mamahnya. Tapi Fadly juga tidak bisa membenarkan apa yang mamahnya lakukan.


“Ayo mah..” Ajak Fadly memilih untuk mengabaikan pertanyaan mamahnya.


Sinta melangkah melewati Fadly yang hanya bisa menghela napas dengan tingkah sang mamah. Sampai pada titik ini Sinta masih belum juga menyadari kesalahan-nya.


Fadly kemudian melangkah pelan menyusul mamahnya yang memang sudah di tunggu dilantai bawah. Fadly sendiri tidak tau apa yang akan dibicarakan sang papah sehingga papahnya itu meminta Faza juga untuk datang.


Begitu sampai diruang tengah, Sinta diam menatap Akbar juga Faza dan Loly yang ada disana.


“Eemm.. Om, aku ke dapur yah buat bantu bibi..” Senyum Loly yang memilih berlalu karena tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga Akbar dan Sinta.


Loly tersenyum pada Sinta yang berdiri diambang pintu. Wanita itu diam dengan ekspresi datarnya meskipun Loly sudah menyapanya dengan ramah dan lembut.


Setelah Loly berlalu, Sinta pun melangkah mendekat pada Akbar dan Faza yang hanya diam tanpa menatapnya.


“Faza, mamah yakin kamu menyikapi semua ini dengan bijak.” Ujar Sinta yang berhasil membuat Faza menatapnya.

__ADS_1


“Mamah tau kamu adalah anak kebanggaan mamah yang baik.” Senyum Sinta penuh harap.


“Ini bukan waktunya untuk mencari kebenaran Sinta. Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan.”


Sinta melengos saat Akbar bersuara. Sedang Faza, dia hanya bisa diam karena sudah tidak tau lagi harus bagaimana menyikapi sang mamah.


“Kita sudah bersama hampir 30 tahun Sinta. Kamu sudah banyak melakukan hal baik untuk ku juga kedua putraku. Aku sangat berterimakasih untuk semua itu.”


“Baguslah kalau kamu memang menyadari hal itu mas.”


Faza melirik kedua orang tuanya. Bahkan keduanya sudah tidak lagi menggunakan panggilan mamah dan papah.


Akbar tersenyum tipis.


“Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang sudah aku perbuat sama kamu selama ini Sinta. Aku berpikir mungkin hubungan kita cukup sampai disini saja. Aku akan mengurus semuanya ke pengadilan hari ini juga.”


Faza dan Fadly yang mendengar itu hanya bisa memejamkan kedua matanya. Kesabaran papahnya sudah benar benar habis. Dan terlepas dari semua yang sudah mereka berdua ketahui, keduanya tidak akan protes dan akan menerima apapun keputusan papahnya.


“Kamu mau kita bercerai?” Tanya Sinta dengan napas memburu.


“Maaf Sinta.. Tapi mungkin memang ini yang terbaik.”


Sinta menelan ludahnya membasahi kerongkongan-nya yang kering dan perih. Kepalanya menggeleng tidak menyangka jika semuanya akan berakhir dengan sangat menyedihkan.


Sinta menatap bergantian pada kedua putranya yang berada di posisi yang berbeda. Faza yang duduk disofa, sedang Fadly yang berdiri didepan pintu masuk ruangan tersebut. Kedua putranya bahkan hanya diam tanpa berniat mencegah apa yang akan dilakukan oleh papahnya.


“Baik kalau begitu. Aku terima semua ini mas.” Ujar Sinta dengan suara bergetar serta kedua mata berkaca kaca.


Sinta kemudian bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari ruang tengah meninggalkan suami juga kedua putranya yang tetap diam ditempatnya.


“Papah minta maaf..” Lirih Akbar menundukan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2