
“Kamu mau kemana?”
Fadly menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan Sinta. Fadly memutar tubuhnya dan tersenyum kemudian menghampiri mamahnya itu.
“Eh mamah.. Aku mau keluar sebentar mah.. Mau kerumah kakak..”
“Ngapain kesana? Faza lagi nggak ada. Dia diamerika.” Kata Sinta ketus.
“Yaa.. Aku tau kakak lagi ada kerjaan diamerika. Kakak juga telepon aku dan kasih tau aku.”
“Lalu ngapain kamu kesana? Kamu mau nengokin kakak ipar kurang ajar kamu itu?”
Fadly mengeryit.
“Maksud mamah?” Tanya Fadly bingung.
“Mamah males ngomongnya. Paling juga kamu nggak akan percaya. Kamu kan sama kaya kakak kamu. Kamu selalu bilang Zahra baik Zahra ini Zahra itu. Males mamah.”
Fadly menghela napas kemudian mendekat pada mamahnya yang sedang duduk disofa diruang tamu. Fadly tersenyum begitu sudah memposisikan dirinya disamping sang mamah.
“Mah... Apa yang Fadly dan kak Faza bilang itu bener. Zahra memang baik. Fadly bahkan kenal sejak kami berdua masih sama sama duduk dibangku SMA mah. Kami selalu sekelas. Zahra juga anak yang...”
“Stop. Kamu nggak perlu ngomong apa apa lagi tentang Zahra. Mamah males, bosan, pusing.” Sela Sinta tidak mau tau apapun tentang Zahra.
Fadly menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Mamahnya memang sudah terlanjur membenci Zahra sehingga apapun yang Faza, Fadly, dan papahnya katakan sama sekali tidak bisa mengubah pemikiran-nya pada Zahra.
“Ya sudah kalau begitu Fadly pergi dulu mah...”
“Enggak boleh.”
Fadly menatap mamahnya tidak mengerti.
“Kenapa?” Tanya Fadly bingung.
“Pokonya kamu nggak boleh kesana. Mamah nggak mau kamu juga ikut ikutan terlalu ngebelain Zahra..” Jawab Sinta jutek.
“Kok mamah gitu? Fadly disuruh kakak loh ini..”
“Pokonya kamu nggak boleh kesana. Titik.” Ujar Sinta tidak mau dibantah.
__ADS_1
Fadly menghela napas. Kesal sekali sebenarnya. Tapi Fadly tidak mungkin melawan mamahnya.
“Tante...”
Fadly dan Sinta kompak menoleh saat mendengar suara Loly. Saat itu juga mood Sinta langsung kembali baik. Sinta langsung bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada Loly.
“Loly.. Kamu dari tadi?” Tanya Sinta tersenyum manis pada Loly.
Loly melirik pada Fadly yang sedang duduk disofa sekilas kemudian tersenyum membalas tatapan Sinta.
“Enggak kok tante. Aku baru aja datang.” Senyum Loly menjawab.
“Eemm.. Baru pulang kerja ya sayang? Kamu langsung kesini?”
“Iya tante..”
“Kamu sudah makan belum sayang?”
“Belum tante...” Jawab Loly menggelengkan kepalanya.
“Ya ampun.. ini udah sore loh sayang.. Kalau kamu telat makan nanti kamu sakit. Ayo ayo tante siapin makan buat kamu..”
“Eh tapi tante aku...”
Kesempatan itu tidak disia siakan oleh Fadly. Fadly segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar dari kediaman kedua orang tuanya untuk menengok keadaan Zahra. Fadly sebenarnya tau Zahra tidak sendiri dirumah. Tentu saja karna Faza yang mengatakan padanya.
Saat Fadly hendak membuka pintu mobilnya tiba tiba ponselnya berdering. Satu notifikasi masuk ke ponselnya. Dan itu adalah pesan singkat dari Loly.
Fadly tersenyum melihat pesan dari Loly kemudian segera membukanya.
Fadly menggeleng tidak menyangka Loly bisa begitu gampang terpedaya olehnya. Enggan membalas pesan singkat yang dikirim Loly padanya, Fadly pun segera membuka pintu mobil dan masuk kedalam kendaraan beroda empat itu. Fadly segera berlalu sebelum Sinta kembali melarangnya untuk menemui Zahra.
Sementara itu dimeja makan Loly merasa sangat tidak tenang. Tujuan-nya datang adalah supaya bisa bertemu dengan Fadly. Namun tadi Loly melihat Fadly pergi dengan mobilnya lewat jendela kaca yang mengarah kehalaman depan rumah keluarga Akbar.
Loly sangat penasaran akan kemana pujaan hatinya itu. Loly bahkan sengaja tidak makan siang agar Fadly khawatir padanya kemudian mengajaknya untuk makan berdua.
“Lain kali jangan begini lagi ya sayang.. Tante nggak mau loh kalau kamu sampai sakit gara gara telat makan.”
Loly hanya tersenyum tipis menatap Sinta yang begitu sibuk menyiapkan hidangan diatas meja makan untuknya.
__ADS_1
“Tante tau pekerjaan itu memang sangat penting untuk kamu sayang.. Tante juga tau tanggung jawab kamu pada perusahaan memang besar. Tapi nggak baik juga dong kalau sampai kamu telat makan begini..”
Loly bimbang sekarang. Loly ingin mengejar Fadly tapi tidak mungkin. Fadly pasti sudah jauh. Sedangkan Sinta, wanita itu sudah repot repot menyiapkan hidangan untuknya.
“Ya Tuhan.. Kenapa Fadly nggak bales pesan dari aku sih..” Loly menggerutu dalam hati. Bukan tidak tau terimakasih. Hanya saja niat Loly datang memang untuk Fadly.
“Sekarang kamu makan yang banyak yah...” Ujar Sinta sambil mengambilkan nasi serta lauk pauk juga sayur untuk Loly.
“Eemm.. Tante aku...”
“Loly...” Sela Sinta dengan sangat pelan.
“Kamu makan dulu oke?” Katanya.
“Tapi tante aku..”
“Aku apa? Pokonya kamu harus makan dulu. Tante tau kamu pasti kesini mau ngajakin tante kerumah Faza kan? Faza lagi nggak dirumah tau. Dia lagi di Amerika.”
Loly meringis. Loly benar benar tidak ingin tau apapun lagi tentang Faza.
“Hebat banget kan anak tante? Dia sampai mendapat kepercayaan dari pemilik perusahaan untuk mewakili bertemu dengan rekan bisnisnya di Amerika. Tante jamin kamu bakal bahagia banget jadi istrinya Faza sayang. Kamu juga bisa mempercayakan perusahaan kamu sama Faza. Tante jamin perusahaan kamu akan semakin maju dengan pesat.”
“Udah makan dulu.” Sinta menaruh piring berisi nasi, sayur, dan ayam goreng tepat didepan Loly.
Loly menghela napas. Menolak juga rasanya tidak mungkin. Sinta sudah repot repot menyiapkan makan untuknya. Rasanya akan sangat tidak menghargai jika Loly tidak memakan-nya.
“Ya tante, makasih yah..” Senyum Loly tipis kemudian mulai menyantap makanan dipiring yang ada didepan-nya.
“Sama sama sayang...”
Sepanjang Loly menyantap makanan yang disediakan Sinta, Sinta terus saja mengajak Loly mengobrol tentang pekerjaan, tentang fashion, bahkan sampai harga harga barang mewah yang Sinta ketahui lewat media online.
Setelah selesai menghabiskan makanan-nya, Sinta mengajak Loly untuk bersantai sejenak diteras samping rumahnya. Sinta juga kembali mengajak Loly mengobrol. Sinta bahkan tidak memperdulikan Loly yang tampak tidak nyaman dengan obrolan tersebut.
“Eemmm.. Tante, udah hampir malem nih. Aku pulang dulu yah...” Senyum Loly menatap Sinta yang ada didepan-nya.
“Hhh.. Nggak kerasa banget ya udah mau malem aja. Padahal tante masih pengen ngobrol banyak loh sama kamu..”
Loly hanya tertawa menanggapinya. Tubuhnya memang berada didepan Sinta. Namun pikiran-nya terus saja tertuju pada Fadly yang tidak tau berada dimana sekarang.
__ADS_1
“Ya udah tante, aku pulang yah..” Ujar Loly tersenyum.
“Biar tante antar sampai depan.” Senyum Sinta yang mendapat anggukan dari Loly.