PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 110


__ADS_3

Sorenya Tina datang dengan Rasya juga Anita yang mengantar. Anita sempat terkejut karna teman yang dimaksud oleh calon adik iparnya adalah Zahra. Wanita yang pernah Anita anggap saingan memperebutkan hati Faza.


“Sya..” Panggil Anita pada Rasya.


“Ya Anita.. Kenapa?”


Anita menghela napas pelan. Anita tidak pernah tau kalau ternyata Zahra dan Tina bersahabat dekat.


“Sejak kapan Tina berteman dengan Zahra?” Tanya Anita dengan suara pelan bahkan hampir seperti bisikan.


Rasya ikut menatap pada Zahra dan Tina yang sedang mengobrol. Pria itu tersenyum. Tina juga tidak pernah mengatakan tentang persahabatan-nya dengan Zahra padanya. Tina hanya mengatakan mempunyai sahabat baik yang tidak memandangnya dari segi materi. Dan Rasya tebak mungkin itu adalah Zahra.


“Aku juga tidak tau sejak kapan mereka bersahabat. Tapi aku tebak mungkin mereka sudah lama saling mengenal.”


Anita mengangguk pelan. Dulu Anita pernah berniat merebut Faza dari Zahra. Anita bahkan pernah menggunakan cara yang tidak baik namun akhirnya sadar karna kemarahan Faza padanya. Sejak saat itu Anita sadar Faza hanya mencintai Zahra dan tidak mungkin bisa mencintainya. Itu juga yang membuat Anita memutuskan untuk menyerah dan menerima perjodohan-nya dengan Rasya.


“Kamu kenal Zahra?” Tanya Rasya pelan dan lembut.


Anita tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Tentu saja. Aku lama bekerja sama dengan Faza. Aku bahkan mengenalnya jauh sebelum mereka berdua menikah.” Jawab Anita.


“Oh ya? Apa kalian dekat juga?”


Anita menggeleng pelan.


“Tidak. Kami hanya sekedar kenal saja.” Jawab Anita.


“Oohh.. Begitu..”


“Ya...” Angguk Anita lagi.


Tidak lama Faza datang. Pria itu terkejut mendapati ruang rawat istrinya begitu ramai karna kehadiran Anita, Rasya, juga Tina. Pria itu sesaat terdiam sebelum akhirnya menghela napas dan tersenyum paksa. Padahal Faza sudah ingin sekali memeluk istrinya untuk menghilangkan penat, tapi sepertinya itu tidak mungkin bisa sekarang Faza lakukan. Faza harus bersabar sampai mereka bertiga keluar dari ruang rawat istrinya.


“Mas...” Zahra tersenyum lebar. Wanita itu segera menyalimi Faza yang mendekat padanya.


“Sudah makan?” Tanya Faza pada Zahra perhatian.


“Sudah tadi.. Tina sama kakaknya bawain pizza. Aku makan banyak banget.” Ujar Zahra menatap suaminya dengan binar kebahagiaan.


Faza tertawa pelan. Pria itu mengusap penuh cinta puncak kepala istrinya.

__ADS_1


“Aku ke pak Rasya ya..” Katanya.


“Oke...” Angguk Zahra.


Tina tersenyum ikut merasa bahagia melihat langsung bagaimana harmonis dan manisnya hubungan Zahra dan Faza. Tina juga berharap dirinya bisa mendapatkan cinta dari pria yang dia cintai seperti Zahra.


Faza mendekat pada Anita dan Rasya. Pria itu kemudian duduk diseberang sofa tempat Rasya dan Anita duduk.


“Pak..” Angguk Anita sedikit menganggukkan kepalanya.


“Ya...” Balas Faza tersenyum tipis.


Faza dan Rasya mengobrol dengan hangat dan sedikit candaan yang membuat keduanya kemudian tertawa bersama. Anita yang berada diantara mereka hanya bisa tersenyum. Faza memang pria yang pandai bergaul dengan siapapun. Faza bahkan juga bisa begitu dekat dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Menjelang malam Tina, Anita, juga Rasya memutuskan untuk pulang dan Faza hanya mengantar sampai depan pintu. Setelah itu Faza kembali masuk ke ruang rawat Zahra.


Faza tersenyum. Sekarang hanya ada dirinya dan Zahra diruangan itu. Dan sekarang Faza sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk memeluk tubuh berisi istrinya itu.


“Sayang...” Panggil Faza sembari mendekat.


Zahra tersenyum dan segera berhambur memeluk Faza erat dengan posisinya yang tetap berada diatas brankar. Zahra menghirup aroma parfum suaminya yang begitu menenangkan saat masuk ke indra penciuman-nya.


Faza langsung melepaskan pelukan-nya kemudian menangkup kedua pipi chuby Zahra.


“Aku bosan disini mas.. Aku udah baik baik aja. Aku udah kuat, sehat, dan nggak sakit lagi..” Ujar Zahra dengan tatapan memelas pada Faza.


Faza yang melihat itu tertawa. Istrinya sangat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu.


“Apa itu artinya kamu sudah bisa melayaniku hem?” Tanya Faza tepat didepan bibir Zahra.


Wajah Zahra langsung memerah. Meskipun sudah terbiasa melakukan itu dengan Faza, namun Zahra tetap merasa malu jika Faza mulai menggodanya.


“Mas mah.. Pikiran-nya itu mulu..” Zahra mengerucutkan bibirnya menatap Faza yang malah tersenyum geli menatapnya.


“Hahaha.. Oke oke.. Aku hanya bercanda sayang. Ya sudah nanti aku coba tanyain sama dokter Cindy yah.. Kalau memang keadaan kamu sudah pulih seperti sedia kala dan boleh pulang, kita pulang besok.”


“Beneran mas?” Tanya Zahra dengan tatapan berbinar.


“Iya sayang...” Gemas Faza sedikit memencet kedua pipi Zahra membuat bibir Zahra menjadi mengerucut lucu.


Faza tertawa. Sebenarnya Zahra ingin sekali menceritakan apa yang Sinta katakan padanya siang tadi. Tapi Zahra berpikir lagi. Zahra tidak mau Faza menganggapnya seperti tukang mengadu. Toh Zahra juga tidak akan perduli. Mau laki laki ataupun perempuan anak yang akan dilahirkan-nya nanti, Zahra akan tetap bahagia. Bahkan jika Sinta tidak mau mengakui anaknya sebagai cucu, Zahra juga tidak perduli.

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuat Zahra dan Faza menoleh. Disana muncul sosok cantik dokter Cindy dengan kacamata min yang bertengger diatas hidung mancungnya.


“Selamat malam nyonya dan tuan Akbar..” Sapa dokter Cindy ramah.


“Selamat malam dokter...” Balas Faza dan Zahra kompak dan tersenyum membalas tatapan dokter Cindy.


“Sebelum nyonya Zahra istirahat, Saya akan mengecek keadaan-nya lebih dulu.” Ujar dokter Sinta.


“Oh ya dok.. Silahkan.” Senyum Faza mempersilahkan dokter Cindy untuk mengecek keadaan istrinya. Faza sedikit menyingkir memberi tempat pada dokter Cindy mendekat pada istrinya.


Dokter Cindy kemudian segera mengecek keadaan Zahra. Wanita itu mengecek tensi Zahra juga kandungan Zahra. Dokter Cindy juga menanyakan apa saja keluhan Zahra sejak siang tadi.


“Bagaimana dokter?” Tanya Faza pada dokter Cindy.


“Keadaan nyonya Zahra sudah pulih seperti sedia kala tuan.” Jawab dokter Sinta.


“Apa itu artinya istri saya sudah boleh pulang dokter?” Tanya Faza lagi.


“Ya.. Kalau tidak ada perubahan pada kondisi nyonya Zahra, besok sudah bisa pulang.” Jawab dokter Cindy.


Faza tersenyum merasa sangat senang karna akhirnya istrinya sudah sehat dan bugar seperti sedia kala.


“Ah ya tuan.. Maaf sebelumnya kalau saya lancang. Tapi untuk meng antisipasi, jika kalian berhubungan harap jangan sampai membuat nyonya Zahra terlalu kelelahan. Karna disamping usia kandungan yang masih sangat rentan, Kondisi tubuh juga harus tetap dijaga.” Ujar dokter Cindy tersenyum dengan ramah.


Faza langsung salah tingkah. Faza memang sering tidak mengingat hal itu jika sudah menyentuh Zahra. Tapi untungnya setelah mengetahui Zahra hamil Faza bisa sedikit menahan diri dan melakukan-nya menggunakan batasan.


“Ya dok.. Saya mengerti.” Jawab Faza kikuk.


“Ya sudah kalau begitu saya permisi. Selamat malam dan selamat ber istirahat.”


“Selamat malam juga dokter.” Balas Faza.


Dokter Cindy kemudian berlalu keluar dari ruang rawat Zahra. Wanita berkacamata itu menggelengkan pelan kepalanya mengingat ekspresi malu malu Faza tadi saat dirinya menyinggung tentang urusan ranjang mereka.


Faza menghela napas. Pria itu kemudian mendekat lagi pada Zahra yang berbaring dibrankarnya.


“Dokter Cindy bilang apa tadi?” Tanya Zahra yang memang tidak bisa terlalu jelas mendengar apa yang dokter Cindy katakan pada suaminya karna jarak dokter Cindy dan Faza yang lumayan jauh dari brankarnya saat mengobrol.


“Bukan apa apa. Hanya menyarankan untuk sedikit menahan diri saja saat sedang ditempat tidur.” Jawab Faza apa adanya.


Zahra tertawa mendengarnya. Akhir akhir ini justru Zahralah yang sering tidak bisa menahan-nya dengan sering meminta lebih dulu pada Faza.

__ADS_1


__ADS_2