PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 23


__ADS_3

Pukul 8 malam Faza menjemput Zahra. Ketika sampai didepan kediaman Aris dan Nadia, Faza menelpon Zahra memberitahukan bahwa Faza sudah ada didepan rumah Aris.


“Siapa?” Tanya Aris begitu Zahra menyudahi telepon-nya dengan Faza.


“Mas Faza kak, dia bilang dia sudah ada didepan.” Senyum Zahra menjawab.


Aris hanya ber oh saja. Pria itu terlihat tidak perduli meskipun tau Faza ada didepan rumahnya.


“Kenapa nggak disuruh masuk aja sih Ra?”


Zahra hanya bisa tersenyum tanpa mampu menjawab pertanyaan kakak iparnya, Nadia. Zahra mengerti Aris masih belum bisa memaafkan suaminya. Dan Zahra tidak semakin memperkeruh hubungan suami dan kakak nya jika sampai menyuruh Faza masuk.


“Aku pulang ya kak.. Dede, tante pulang dulu yah.. Nanti kapan kapan kita main lagi..”


“Ya tante.. Hati hati ya.. Cium dulu sini..”


Zahra tertawa merasa geli dengan keponakan tampan-nya itu. Zahra kemudian meraih tubuh kecil Arka yang merentangkan kedua tangan-nya bermaksud memeluk dan menciumnya.


Dua kecupan mantap Arka daratkan dipipi kanan dan kiri Zahra. Balita berusia empat setengah tahun itu memang sangat lengket dengan Zahra.


“Alka sayang banget sama tante..” Katanya.


“Iyaa.. Tante Ara juga sangat sayang sama Arka.” Senyum Zahra.


“Kalau kesini lagi jangan lupa ajak om Faza ya tante. Alka juga pengin main bola sama om Faza.”


Zahra melirik pada Aris yang terlihat tidak perduli dengan apa yang Arka katakan.


“Iya.. Nanti tante ajak om Faza kesini. Ya udah tante pulang yah.. Udah malem.”


“Oke tante..” Angguk Arka kemudian menyalimi Zahra.


Zahra tersenyum kemudian meraih tas slempangnya yang berada disofa belakang tempatnya duduk diatas karpet berbulu bersama Arka.


Zahra bangkit dari duduknya dan menghampiri Aris yang sedang asik dengan laptopnya.


“Kak, aku pulang ya..” Pamit Zahra menyalimi Aris.


“Ya, hati hati.” Balas Aris dengan wajah datar.


Nadia yang melihat ekspresi suaminya hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya. Nadia sudah sering mengingatkan Aris, tapi dasarnya Aris memang keras kepala sehingga tidak mudah untuk memaafkan orang lain.


“Ayo kakak antar sampai depan.” Senyum Nadia.


Zahra mengangguk. Keduanya kemudian melangkah beriringan keluar dari rumah.

__ADS_1


“Kamu yang sabar ya Ra.. Kakak sudah berkali kali mengingatkan kakak kamu. Tapi ya.. Kamu tau sendirilah bagaimana mas Aris.”


Zahra tersenyum.


“Ya kak.. Makasih banget ya kak udah ngertiin aku sama mas Faza..”


“Iya.. Yang penting kalian berdua tetap semangat. Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kekuatan yang dimiliki hambanya. Kakak yakin kamu dan Faza bisa meyakinkan tante Sinta juga mas Aris.”


Air mata Zahra menetes mendengar apa yang Nadia katakan. Ujian diawal pernikahan-nya dengan Faza memang tidaklah mudah.


“Udah jangan nangis. Kamu kuat. Kamu hebat. Kakak yakin dan percaya itu. Sana pulang, Faza sudah nungguin tuh.”


Nadia menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Zahra. Nadia tau bahkan bisa merasakan bagaimana perasaan Zahra sekarang.


“Ya kak... Aku pulang yah..”


“Iyaa..”


Zahra menyalimi Nadia kemudian menjauh dan mendekat pada Faza yang menunggunya dalam diam. Faza bahkan sama sekali tidak turun dari motor gedenya.


“Kak, kami pulang ya..” Senyum Faza pada Nadia.


Nadia mengacungkan dua jempol tangan-nya pada Faza. Nadia juga melambaikan tangan-nya saat motor Faza mulai melaju berlalu dari pekarangan rumahnya.


Nadia menghela napas. Nadia merasa sangat kasihan pada pada Faza juga Zahra. Cobaan itu datang diawal pernikahan apa lagi usia keduanya yang masih sangat muda. Dimana keegoisan masih sangat kuat dalam hati keduanya.


Nadia kembali masuk kedalam rumahnya. Nadia memahami bagaimana perasaan suaminya sekarang. Nadia tidak bisa memaksa Aris untuk bisa menerima semuanya.


-----------


Sesampainya dirumah, Zahra langsung membersihkan dirinya. Sedang Faza, pria itu memilih untuk menonton TV sembari menunggu Zahra selesai membersihkan dirinya.


“Mas mau kopi?” Tanya Zahra muncul dari arah dapur.


Faza tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Pria itu menepuk pelan tempat disampingnya memberi kode agar Zahra duduk disampingnya.


Zahra ikut tersenyum kemudian langsung mendekat dan duduk disamping Faza.


“Kamu udah makan?” Tanya Zahra lagi.


“Udah.. Kamu sendiri?”


Zahra menganggukan kepala menjawabnya.


“Ah ya sayang aku bawa donat kentang dari rumah mamah. Ini buatan mamah loh. Kamu cobain deh..”

__ADS_1


Faza meraih kotak Tupperware berukuran cukup besar yang ada diatas meja kaca didepan-nya. Faza membuka tutupnya dan menunjukan banyak donat yang sengaja dibawanya pulang pada Zahra.


“Ayo cobain. Ini enak banget loh. Aku aja sampe nggak makan nasi karna makan banyak donat ini.”


Zahra menatap donat dengan topping yang berbeda beda itu. Senyum Zahra mengembang. Zahra menggeleng pelan.


“Aku enggak deh. Buat kamu aja.” Tolaknya halus.


Senyuman dibibir Faza langsung memudar. Pria itu menghela napas kemudian meletakan kotak tupperware itu kembali diatas meja.


“Kenapa?” Tanya Faza pelan.


Zahra tidak bisa menjawab. Zahra tau bagaimana tidak sukanya Sinta padanya. Sinta pasti tidak ikhlas jika sampai Zahra mengambil satu donat kentang buatan-nya untuk Zahra makan.


“Aku udah kenyang mas. Aku tadi udah makan dirumah kak Aris.”


Suara Zahra sedikit bergetar. Mengingat bagaimana bencinya Sinta padanya membuat hati Zahra mendadak rapuh. Sinta sudah menjadi mamah mertuanya namun masih belum mau menerimanya.


“Aku suapin ya sayang.. Kamu harus cobain sayang. Ini enak banget beneran.”


Tidak mau mendengar penolakan Zahra, Faza pun meraih kembali tupperware tersebut.


“Kamu mau yang rasa apa sayang? Coklat, Green tea, atau yang lain-nya?” Tanya Faza bingung memilih donat donat dengan topping yang berbeda beda.


“Mas aku beneran udah kenyang..”


“Ah kamu kan suka coklat. Aku ambilin yang coklat yah..”


Faza mengambil satu donat dengan topping coklat kemudian menyodorkan-nya tepat didepan bibir Zahra yang mulai bergetar.


“Mas..”


“Mamah bilang kamu boleh makan ini kok sayang..” Sela Faza menatap lembut Zahra.


“Tapi..”


“Please...” Mohon Faza penuh harap.


Zahra tidak bisa menolak. Zahra membuka mulutnya dan menggigit sedikit donat yang disodorkan oleh suaminya. Bersamaan dengan itu air mata Zahra menetes. Zahra tidak bisa memungkiri bahwa donat kentang buatan mamah mertuanya memang sangat enak dan empuk. Apa lagi topping yang memang selalu dibuat dengan bahan bahan yang berkualitas membuat cita rasa donat itu sangat mahal dan berbeda dengan donat yang dijual ditoko toko.


“Enak kan?” Tanya Faza sambil menyeka air mata Zahra. Faza ikut merasakan sakit melihat istrinya menangis. Tapi Faza tidak berdaya. Mamahnya juga Zahra sama sama wanita yang sangat dia cintai. Keduanya memiliki kedudukan sendiri dihati Faza.


Zahra menganggukan kepalanya kemudian berhambur memeluk Faza erat. Tangisnya pecah saat itu juga.


“Ssstt.. Jangan cengeng dong istrinya aku..” Bisik Faza sambil mengusap lembut punggung Zahra berusaha untuk menenangkan-nya.

__ADS_1


------


Adakah yang suka dengan donat kentang selain mas Faza disini?


__ADS_2