
Setelah Faza masuk ke bandara, Aries segera mengajak Zahra, Nadia, juga putranya untuk pulang kerumah Faza dan Zahra.
Sepanjang perjalanan pulang Zahra tampak melamun. Jauh dari Faza dalam waktu yang belum ditentukan sampai kapan membuat Zahra merasa sedih. Apa lagi Faza mengatakan minimal dirinya akan berada selama seminggu di Amerika.
Nadia dan Aries yang melihat itu hanya bisa diam. Mereka berdua bisa memahami bagaimana perasaan Zahra sekarang.
Saat sampai dirumah Faza, Aries segera bersiap karna akan berangkat bekerja tentunya dengan Nadia yang akan mengantar Arka kesekolah.
“Kak.. Aku boleh ikut nganterin Arka nggak?”
Pertanyaan Zahra membuat Nadia yang sedang memakaikan baju seragam pada Arka langsung menoleh. Nadia menatap Zahra yang terlihat sangat tidak semangat pagi ini.
“Aku pasti bakal kesepian banget kalau dirumah cuma sama mbak Lasmi dan pak satpam.” Tambahnya.
Nadia menghela napas kemudian tersenyum. Nadia menyuruh Arka untuk lebih dulu menghampiri Aries yang sudah menunggu diluar.
“Ra.. Bukan-nya kakak ngelarang kamu buat ikut. Tapi jarak sekolah Arka dari sini lumayan jauh loh.. Kakak nggak mau kalau kamu sampai kelelahan. Lagian kakak juga nanti pulang lagi kok kesini...”
Zahra menundukan kepalanya. Walaupun memang setiap hari Faza sibuk bekerja tapi Zahra tidak pernah merasakan perasaan segalau sekarang.
“Kamu dirumah aja ya.. Ingat apa kata suami kamu tadi. Kamu harus menjaga kondisi kamu agar tetap fit.”
Nadia mengusap lembut bahu Zahra. Nadia tidak bermaksud melarang Zahra untuk ikut serta dengan-nya. Hanya saja Nadia takut sesuatu yang buruk terjadi jika Zahra terlalu kelelahan. Apa lagi usia kandungan Zahra sudah semakin tua.
“Kamu mau dibelikan sesuatu?” Tanya Nadia penuh perhatian dan kasih sayang pada Zahra.
Zahra menggelengkan pelan kepalanya. Zahra berusaha untuk tetap tersenyum meski sebenarnya merasa sangat kecewa karna Nadia melarangnya untuk ikut mengantar Arka kesekolahnya.
“Ya udah kalau gitu. Tapi kalau tiba tiba kamu butuh sesuatu langsung telepon kakak yah..”
“Iya kak...” Angguk Zahra.
“Ya udah kakak pergi dulu yah...”
Nadia mengusap lengan Zahra kemudian meraih tas miliknya dan berlalu dari hadapan Zahra.
Zahra berdecak pelan. Pagi ini benar benar terasa sangat berbeda. Mungkin karna ini kali pertama dirinya harus jauh dari Faza.
__ADS_1
Tidak tau harus melakukan apa Zahra pun memilih untuk kembali kelantai dua ke kamarnya. Saat sedang menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua, tiba tiba Zahra memikirkan tentang Sinta yang sama sekali tidak datang untuk mengantarkan Faza yang akan pergi ke Amerika. Dari situ Zahra yakin Sinta pasti marah karna tau Aries dan Nadia menginap dirumahnya untuk menemani.
Zahra menghela napas pelan. Zahra yakin Sinta pasti akan datang untuk marah marah padanya. Dan saat Sinta datang nanti Zahra berharap tidak sedang ada Aries dirumah agar tidak menimbulkan kesalah pahaman yang pasti akan menyebabkan masalah baru kembali muncul.
Saat sampai dikamarnya Zahra pun naik keatas tempat tidur. Zahra membaringkan tubuhnya disana mengistirahatkan-nya dari rasa lelah setelah menapaki satu persatu anak tangga dimana kamarnya berada.
Deringan ponsel Zahra yang berada diatas nakas samping tempat tidur membuat Zahra menoleh. Zahra meraih benda pipih itu dan mengeryit ketika mendapati nomor baru yang tidak Zahra kenal tertera dilayar ponselnya.
“Nomor baru?” Gumam Zahra bertanya tanya.
Zahra tidak langsung mengangkat telepon tersebut. Zahra menunggu sampai tiga kali ponselnya itu terus saja berdering.
“Apa mungkin ini telepon penting?” Tanya Zahra pada dirinya sendiri.
Dengan ragu Zahra pun mengangkat telepon tersebut. Zahra diam dan tidak langsung menyapa siapapun yang ada diseberang telepon.
“Halo...”
Itu suara Santoso. Zahra kenal betul suara pria itu meskipun sudah lama tidak bertegur sapa dengan-nya.
“Hahaha.. Ya ini saya Zahra. Kamu masih mengenali suaraku rupanya.”
Zahra menelan ludahnya. Entah kenapa Zahra merasa tidak enak pada hatinya sekarang.
“Maaf, ada apa pak Santo menelepon saya. Dan dari mana pak Santo tau nomor telepon saya?” Tanya Zahra hati hati.
“Ah ya.. Saya menelepon hanya memastikan saja apakah nomor kamu masih aktif atau tidak. Dan ternyata masih aktif. Saya sangat senang.”
Zahra mengeryit.
“Sangat senang?” Tanya Zahra mulai curiga.
“Eemm.. Ya... Bukankah itu artinya kita bisa berhubungan lagi seperti dulu? Ya mungkin sebagai teman.”
Zahra diam. Selama ini Zahra selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya agar tidak ada kesalah pahaman antara dirinya dan Faza. Zahra juga ingin menjaga perasaan Faza sebagai pria yang sangat dicintai dan mencintainya.
“Maaf pak.. Saya pikir lebih baik kita tidak berhubungan apapun meskipun itu hanya sebagai teman. Saya tidak mau ada kesalah pahaman nantinya.” Ujar Zahra berusaha untuk tegas.
__ADS_1
“Begitu ya? Tapi Zahra, berteman kan tidak harus bertemu. Mungkin kita bisa berkomunikasi lewat telepon atau pesan singkat saja. Itu tidak akan membuat suami kamu salah paham kan?”
Zahra menghela napas.
“Maaf pak saya tetap tidak bisa. Sudah ya pak, saya tutup dulu.”
Zahra segera memutuskan sambungan telepon tanpa mau mendengar apapun yang dikatakan Santoso padanya. Zahra yakin jika sampai dirinya menyetujui permintaan Santoso untuk berteman, masalah baru pasti akan muncul.
“Hhh.. Aku blokir aja lah nomernya.” Gumam Zahra kemudian segera memblokir nomor Santoso yang baru masuk ke ponselnya.
“Yah.. Lebih baik tidak usah mengenalnya lagi. Itu jauh lebih baik.” Angguk Zahra yakin.
Zahra hendak meletakan kembali ponselnya ketika satu notifikasi pesan masuk. Zahra tersenyum begitu melihat pesan tersebut adalah pesan yang dikirim oleh suaminya, Faza.
Zahra segera membuka pesan singkat yang dikirim suaminya. Pesan itu berisi pesan romantis penuh perhatian untuk dirinya dari Faza.
Zahra tersenyum semakin lebar. Pesan singkat yang dikirim Faza berhasil membuat moodnya kembali bagus.
“Aku juga cinta banget sama kamu mas..” Ujar pelan Zahra sambil mengetik untuk membalas pesan yang dikirim oleh Faza untuknya.
Setelah membalas pesan dari Faza, Zahra pun bangkit dari duduknya. Zahra keluar kembali dari kamarnya. Niatnya ingin berbaring santai diatas ranjang langsung berubah begitu mendapat pesan romantis dari Faza. Zahra kembali merasa semangat.
Langkah Zahra terhenti ketika sampai didepan pintu diluar kamarnya. Zahra menelan ludahnya mendapati Sinta yang sudah berdiri diujung tangga sambil menatapnya.
“Mamah...” Gumam Zahra lirih.
Sinta tersenyum sinis menatap Zahra. Wanita itu kemudian melangkah mendekat pada Zahra yang mematung ditempatnya.
“Hebat ya kamu Zahra.. Mamah nggak nyangka kalau ternyata kamu sepintar ini..”
Zahra mengeryit tidak tau apa yang dimaksud oleh mamah mertuanya itu.
“Apa maksud mamah?” Tanya Zahra pelan.
“Jangan pura pura bodoh kamu Zahra. Mamah tau apa maksud kamu memboyong kakak kamu kesini saat Faza tidak ada dirumah.”
Zahra menggeleng pelan. Zahra sudah menduga Sinta pasti akan mengatakan sesuatu yang tidak tidak padanya.
__ADS_1