PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 294


__ADS_3

Keputusan Akbar benar benar tidak bisa di ganggu gugat. Apa lagi Fadly dan Faza juga hanya diam dan mempercayai bahwa apa yang dilakukan oleh sang papah adalah yang terbaik mengingat sikap sang mamah yang sedikitpun tidak bisa diajak kearah yang lebih baik.


Zahra dan Loly sebagai pasangan kakak beradik itu sangat terkejut mendengarnya. Namun mereka berdua juga tidak berani bertanya jika Fadly dan Faza saja diam dan tidak mengatakan apapun pada keduanya tentang penyebab perceraian kedua orang tuanya.


Proses perceraian Akbar dan Sinta berjalan tanpa hambatan meskipun Sinta enggan menghadiri setiap prosesnya. Sinta juga langsung pulang ke kediaman kedua orang tuanya setelah Akbar memberitahunya pagi itu.


“Kamu yakin bisa lakuin ini?” Tanya Loly pada Fadly yang duduk disampingnya.


Fadly menoleh kemudian tersenyum. Entah kenapa Fadly merasa kepalanya begitu ringan setelah kedua orang tuanya berpisah.


“Kamu sedang mengkhawatirkan aku atau sedang meragukan kepintaran aku?” Tanya balik Fadly yang berhasil membuat Loly berdecak kesal.


Entah kenapa Loly merasa sejak mereka memutuskan untuk menjalani hubungan Fadly semakin menyebalkan. Fadly sering kali bertanya balik padanya dengan nada meledek dan penuh percaya dirinya.


“Aku itu beneran khawatir sama kamu Fadly. Serius dong.. Aku nggak mau kalau sampai kamu enggak bisa melakukan apa yang daddy inginkan. Menjadi pengusaha itu nggak mudah tau. Apa lagi kamu sama sekali nggak pernah berada dibidang itu.”


“Hey hey hey.. Kok jadi nyolot sih? Kamu nggak perlu khawatir kali. Aku punya papah dan kakak yang hebat. Dan mereka itu adalah pengusaha sukses. Aku bisa minta bantuan sama mereka buat bimbing aku.”


Loly menghela napas.


“Masalahnya Daddy mau nempatin kamu di amerika. Dan Daddy nggak akan izinin kamu nikahi aku sebelum kamu bisa membuat perusahaan Daddy di Amerika itu semakin maju.”


“Apa? Kok kamu nggak bilang dari awal sih Loly?”


Loly melipat kedua tangan-nya didepan dada. Loly memang baru memberitahu Fadly sekarang karena Loly tidak ingin membuat Fadly semakin pusing dengan berbagai permasalahan. Apa lagi Loly juga tau dan menyaksikan sendiri proses perceraian antara Sinta dan Akbar, orang tua Fadly.


“Maaf.. Aku pengin ngomong dari kemarin kemarin sebenarnya. Tapi aku nggak mau membuat kamu semakin pusing. Apa lagi kan tante sama om..”


Loly enggan melanjutkan ucapan-nya. Sebagai seorang anak, Loly tau bagaimana rasanya jika kedua orang tua yang sangat dihormati dan di cintai memutuskan untuk berpisah. Meskipun memang mereka berpisah dengan cara baik baik.


“Jangan bahas itu ya.. Aku nggak mau terpuruk lagi. Aku juga kak Faza sebenarnya juga tidak ingin semua ini terjadi. Tapi semua ini demi kebaikan bersama.” Senyum Fadly tipis.


Loly hanya menganggukan kepala menjawabnya.

__ADS_1


“Ekhem !!”


Deheman Ricard membuat Loly dan Fadly terkejut. Keduanya menoleh dan dengan cepat berdiri dari duduknya dikursi panjang taman samping rumah mewah Ricard dan Loly.


“Om..” Senyum Fadly mengangguk pelan.


Ricard menatap Fadly dari atas sampai bawah. Pria itu merasa lega karena sejak dirinya mengizinkan Loly kembali dekat dengan Fadly, Loly terlihat semangat dan ceria saat menjalani hari harinya.


“Waktu kamu tinggal satu minggu lagi Fadly. Apa kamu sudah siap?” Tanya Ricard.


Fadly menoleh pada Loly yang juga menatapnya kemudian menelan ludah. Sejujurnya Fadly belum siap sama sekali. Tapi Fadly tidak mungkin mengatakan-nya dengan jujur. Ricard pasti akan marah jika tau Fadly selama ini menyepelekan menjadi seorang pengusaha.


“Eemm.. Ya om.. Saya siap.” Jawab Fadly pelan.


Loly menelan ludah. Menjadi pengusaha bukanlah suatu hal yang mudah. Apa lagi Ricard akan langsung mempercayakan perusahaan-nya yang ada di Amerika pada Fadly. Dan sudah bisa dipastikan jika Fadly tidak bisa mengelolanya dengan baik, perusahaan itu pasti akan mengalami krisis bahkan kerugian.


“Bagus kalau begitu. Saya harap kamu tidak mengecewakan saya Fadly. Tunjukan pada saya kalau kamu memang pantas bersanding dengan anak saya, Loly.”


“Ya om..” Angguk Fadly menjawab.


Fadly tersenyum tipis. Perceraian kedua orang tuanya memang menjadi berita panas mengingat siapa Akbar. Bahkan Fadly yakin berita itu juga tidak hanya sampai ke telinga kedua orang tua kekasihnya, tapi juga ketelinga seluruh masyarakat yang mengenal dan tau sosok papahnya.


“Ya om.. Terimakasih. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya om..”


“Oh oke..” Angguk Ricard tersenyum tipis.


Fadly menatap sebentar pada Loly yang hanya diam ditempatnya berdiri. Seulas senyum Fadly ukir untuk Loly sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Loly dan Ricard yang terus menatap punggungnya.


-----------


“Apa? Ajari cara jadi pengusaha?”


Faza menatap tidak mengerti pada Fadly yang tiba tiba datang dan memintanya untuk di ajari menjadi seorang pengusaha sama seperti dirinya. Padahal yang Faza tau adiknya itu sama sekali tidak berminat dalam bidang tersebut.

__ADS_1


“Please banget kak.. Daddy Loly minta aku buat handle perusahaan-nya yang ada di amerika. Kakak tau sendiri aku sama sekali nggak tau tentang dunia bisnis kan?”


Faza mengeryit bingung.


“Terus bagaimana dengan kerjaan kamu?” Tanya Faza.


Fadly menghela napas. Fadly memang belum memberitahu siapapun tentang niatnya meninggalkan profesinya.


“Aku udah nggak menekuni profesiku lagi kak.. Aku lakuin semua ini demi hubungan aku sama Loly. Bukan-nya cinta butuh pengorbanan?”


Faza menggeleng tidak menyangka. Fadly selalu mengutarakan ketidak minatan-nya pada dunia pengusaha namun sekarang hanya karena Loly Fadly bahkan sampai rela meninggalkan profesi yang dia tekuni berawal dari hobi itu.


“Kakak mau kan bantuin aku?”


Faza mengerjapkan kedua matanya saat Fadly kembali bertanya. Faza kemudian menghela napas.


“Sesuatu yang dilakukan karena keterpaksaan itu akan sangat sulit dijalani Fadly..” Ujar Faza pelan.


Fadly berdecak.


“Kak, aku nggak terpaksa sama sekali. Aku melakukan ini semua demi Loly kak.. Aku anggap semua ini adalah pengorbanan. Bukankah orang bijak pernah berkata jika kita menginginkan sesuatu maka kita juga harus rela kehilangan sesuatu.”


Faza menggelengkan kepalanya. Fadly benar benar sudah sangat tergila gila pada Loly yang dulu sangat dibencinya.


“Ayolah kak.. Kakak tau kan aku nggak mungkin minta tolong papah.”


“Apa mamah sama papah sudah tau tentang keputusan kamu ini?” Tanya Faza pelan.


Fadly menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.


“Belum kak.. Tapi aku akan kasih tau nanti sebelum aku berangkat ke Amerika.” Jawabnya.


Faza tersenyum kecil. Pria itu menepuk pelan bahu tegap adik satu satunya itu.

__ADS_1


“Lebih baik kamu katakan sekarang Ly.. Setelah itu besok datang ke kantor ya..”


Fadly langsung tersenyum mendengarnya. Dengan yakin Fadly menganggukan kepalanya kemudian bergegas bangkit meninggalkan Faza yang hanya tersenyum karena tingkahnya.


__ADS_2