
Tidak lama kemudian Fadly muncul. Pria itu baru pulang dari bekerjanya dan langsung terlihat sumringah ketika mendapati sang kakak duduk dengan anteng di meja makan sambil menikmati secangkir teh buatan bibi dengan Akbar, papahnya.
“Kak...”
Fadly langsung menghampiri keduanya dan bergabung.
“Eh Ly.. Baru pulang kamu?” Tanya Faza tersenyum menatap adik satu satunya itu.
“Iya nih kak.. Dari tadi sebenarnya. Tapi yah.. Jalanan agak macet hari ini.” Jawab Fadly disertai senyuman.
Faza menganggukan kepalanya mengerti. Faza sendiri tau dan sering mengalaminya. Terjebak ditengah padatnya kendaraan saat berada dijalan pulang memang lumayan menguji kesabaran.
“Fahri sama Zahra mana kak?” Tanya Fadly kemudian.
Faza dan Akbar saling menatap sebentar. Sebenarnya mereka berdua baru saja mendapat omelan dari Sinta karna selalu kompak membela Zahra. Dan meskipun Akbar sudah dengan tegas membela diri bahwa apa yang dilakukan-nya adalah benar Sinta masih saja tetap keras kepala.
“Mereka berdua dirumah Ly. Aku pulang dari kantor langsung kesini tadi.” Jawab Faza pelan.
Fadly mengeryit. Kakaknya terlihat sangat tidak semangat. Tidak seperti biasanya.
Fadly kemudian melirik papahnya. Dan ekspresi keduanya sama. Akbar bahkan hanya menghela napas dengan menggeleng pelan.
“Eh, anak ganteng mamah satu lagi udah pulang.. Kebetulan kalau begitu jadi kita bisa makan malam sama sama. Mamah kangen banget loh kumpul kumpul makan begini.” Senyum Sinta yang muncul dari dapur dengan membawa hasil masakan-nya.
Semuanya diam dengan ekspresi yang berbeda beda. Ketiga pria itu bahkan tidak ada satupun yang tersenyum membalasnya. Tapi Sinta tidak mempermasalahkan itu. Baginya yang terpenting sekarang keluarganya kembali berkumpul. Suami juga dua putra kesayangan-nya ada didepan-nya.
“Sebentar yah mamah siapin dulu makanan-nya..”
Sinta benar benar sangat bahagia sekarang. Tapi sayang wanita itu sama sekali tidak bisa mengerti keadaan. Sinta tetap terlihat sumringah meski suami dan putranya tampak sangat tidak semangat didepan-nya. Jelas sekali bahwa ego wanita itu sangat lah tinggi.
Dalam waktu singkat semua hidangan sudah tertata rapi diatas meja makan. Dan semua itu adalah masakan yang dibuat sendiri oleh Sinta tanpa campur tangan dari bibi atau asisten rumah tangga yang lain-nya.
“Sering sering kaya gini dong.. Kan mamah jadi seneng. Kamu juga Za.. Kamu sering kesini dong buat mamah.. Emang nya kamu nggak kangen suasana kebersamaan kita yang seperti sekarang ini?”
“Hem.. Iya mah..”
__ADS_1
Faza hanya bisa mengangguk dengan senyuman tipis dibibirnya. Pria itu benar benar merasa sangat galau sekarang. Faza ingin istrinya juga berada disampingnya dan menikmati kebersamaan dengan keluarganya yang utuh.
“Papah mau nambah lagi sayur asemnya?” Tanya Sinta perhatian pada Akbar yang sejak tadi hanya diam saja.
“Eemm.. boleh mah.. Sama sambelnya juga yah..” Jawab Akbar tersenyum.
“Oke oke.. Sini mangkoknya sayang..”
Selagi Sinta melayani Akbar, Fadly melirik Faza yang hanya fokus dengan makanan-nya. Fadly paham dan Fadly juga mengerti dengan apa yang saat itu sedang dirasakan oleh kakaknya.
“Oh iya Ly, bagaimana kamu dengan Loly? sudah akur lagi kan? Sudah nggak marahan lagi kan? Ajak dia kesini dong Ly. Mamah kangen banget loh sama Loly..”
Faza menelan sisa makanan dalam mulutnya. Bahkan pada Zahra yang adalah menantunya saja Sinta tidak pernah bersikap sehangat itu. Tapi pada Loly yang bukan siapa siapa Sinta begitu sangat lembut dan penuh perhatian.
Fadly menghela napas kemudian berdecak. Pria itu benar benar malas jika harus ada nama Loly yang disebut dalam suasana apapun.
“Mamah.. Harusnya yang mamah tanyakan sekarang itu Zahra sama Fahri, keponakan aku. Bukan malah Loly. Dia itu bukan siapa siapa mah.. Dan aku sama Loly. Kami sudah tidak dekat.” Jawab Fadly dengan berani.
Bukan-nya marah Sinta justru malah tertawa mendengar apa yang dikatakan putra bungsunya itu.
“Hahah.. Iya deh iya.. Yang masih nggak mau baikan. Udah.. Mamah paham kok. Dulu juga mamah begitu sama papah. Ya kan pah?”
“Apa yang Fadly bilang bener mah.. Zahra itu bagian dari keluarga kita juga. Dia itu adalah perempuan yang melahirkan cucu kita Fahri. Harusnya mamah perhatian ke Zahra, bukan ke Loly..” Ujar Akbar menambahi. Akbar tidak mau Faza sampai merasa disepelekan oleh mamahnya sendiri.
“Mamah cobalah terima semuanya. Zahra itu baik loh mah.. Dia itu lembut dan penuh dengan kasih sayang.. Percaya sama papah..” Ujar Akbar lagi.
“Wow wow.. Oke oke.. Cukup pembahasan-nya. Mamah lagi nggak mau diet sekarang pah. Dan untuk kamu Fadly jangan lupa ajak Loly kesini kapan kapan ya sayang..”
Faza memejamkan kedua matanya. Ingin sekali dia berlari keluar dari rumah kedua orang tuanya sekarang juga. Mamahnya sudah sangat keterlaluan.
“Terserah mamah saja. Fadly kenyang.” Ketus Fadly kemudian bangkit berdiri dari duduknya dan berlalu begitu saja dari meja makan karena kesal dengan apa yang Sinta katakan.
Faza menghela napas pelan. Pria itu berusaha untuk menahan emosinya. Bagaimanapun buruknya sikap Sinta pada istrinya, Faza tidak ingin membentak mamahnya. Faza yakin Tuhan akan membuka pintu hati mamahnya suatu saat nanti.
“Hahaha.. Lucu banget kan pah anak kita kalau lagi jatuh cinta?” Tanya Sinta pada Akbar dengan tawa pelan-nya.
__ADS_1
“Kamu keterlaluan mah..” Ujar Akbar kemudian ikut bangkit berdiri dan berlalu dari meja makan.
Sinta tersenyum. Wanita itu merasa anak dan suaminya mendadak sangat sensitif.
“Kamu mau nambah lagi sayang ayam nya?” Tanya Sinta kemudian menoleh pada Faza.
Faza menggeleng pelan.
“Enggak mah.. Faza pulang yah. Udah malem. Kasihan Zahra udah nungguin aku dirumah.”
“Hemm.. Ya.. Istri kamu memang manja.” Angguk Sinta.
“Ya.. Faza suka dengan kemanjaan Zahra mah. Karena itu artinya Zahra membutuhkan dan mengandalkan Faza.” Balas Faza tenang.
“Ya ya.. Terserah apa pemikiran kamu Faza. Hati hati dijalan ya..”
“Ya mah.. Faza pulang yah..”
Faza bangkit dari duduknya kemudian menyalimi Sinta dan berlalu dari meja makan.
Begitu Faza sampai diteras Faza bertemu dengan Akbar, papahnya. Pria itu sepertinya memang sengaja menunggunya.
“Papah.. Faza pulang yah..” Pamit Faza menyalimi sang papah.
Akbar menghela napas dan terus menjabat erat tangan Faza. Pria itu benar benar merasa sangat iba pada putranya sendiri. Istrinya selalu menghalangi kebahagiaan putra mereka sendiri.
“Jangan terlalu memikirkan apa yang tadi mamah katakan ya nak..” Ujar Akbar pelan.
Faza tersenyum tipis kemudian menganggukan pelan kepalanya. Bohong jika dia tidak memikirkan apa yang mamahnya katakan. Karena apa yang Sinta tanyakan pada Fadly tentang Loly sudah berhasil menciptakan luka dihati Faza sebagai seorang anak juga suami dari Zahra.
“Ya pah.. Faza jalan yah..”
“Kamu hati hati. Salam untuk Zahra dan cucu papah..”
“Iya pah..”
__ADS_1
Setelah Akbar melepaskan jabatan tangan-nya Faza pun melangkah menuju mobilnya. Diam diam Faza meneteskan air matanya begitu membuka pintu mobil dan masuk kedalam nya. Karena tidak ingin papahnya tau dirinya menangis, Faza pun langsung melajukan mobilnya dengan klakson pelan yang dia bunyikan.
Akbar melambaikan tangan-nya. Pria itu tau apa yang dirasakan oleh putranya. Karena sebenarnya Akbar juga pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang dan ditentang oleh orang tuanya.