
Zahra bermain dengan Nadeo ditaman tidak jauh dari restoran. Taman yang juga sering menjadi tempat Tina dan Zahra duduk bersama sekedar mengobrol atau bercanda. Bahkan taman itu juga sering menjadi tempat Zahra merenung saat sedang dilanda masalah.
Santoso yang diam diam mengawasi keduanya tersenyum. Rasa terlarang itu masih betah bersemayam dihatinya membuat Santoso lupa akan istrinya yang memang selalu sibuk namun tidak pernah lupa melayaninya dengan baik. Meski kadang mereka bertengkar karna hal yang sepele.
“Kak Zahra tau kenapa ayah jarang memberikan kita waktu untuk bermain seperti ini?” Tanya Nadeo begitu mereka berteduh dibawah pohon rindang.
Zahra tersenyum dan menggelengkan kepala menjawabnya.
“Apa ayah marah sama kak Zahra?”
“Kakak pikir mungkin karna kakak sibuk jadi ayah kamu tidak mengizinkan kita untuk bermain.”
“Iyakah?” Nadeo menatap ragu pada Zahra. Bocah itu merasa ragu dengan apa yang Zahra katakan.
“Deo !!”
Zahra dan Nadeo menoleh mendengar seruan seseorang dari arah kanan mereka. Nadeo tersenyum mendapati sang bunda berada tidak jauh darinya.
“Sepertinya waktu main kita sudah habis Nadeo.” Ujar Zahra tersenyum.
Nadeo menganggukan kepalanya setuju. Bundanya sudah datang untuk menjemputnya pulang.
“Aku akan sering sering membujuk ayah supaya kita bisa bermain bersama kak.” Senyum bocah tampan itu.
Zahra tertawa saja. Entah apa penyebab Santoso selalu melarangnya bersama Nadeo, Zahra sendiri tidak tau.
“Ayo ke bunda mu Nadeo..”
“Oke..”
Zahra menggandeng tangan Nadeo mendekat pada wanita cantik berdress biru tua yang sedang menunggu Nadeo.
“Zahra, terimakasih sudah menjaga Deo ku. Saya akan katakan pada ayah Nadeo untuk memberikan bonus lebih bulan ini padamu.”
Zahra hanya tersenyum saja. Istri dari atasan-nya memang sangat baik hati.
-------------
Ditempat lain tepatnya dikediaman mewah kedua orang tua Faza, Faza baru saja sampai dengan motornya. Faza melepas helmnya kemudian turun dari motornya dan melangkah pelan menuju pintu utama rumah kedua orang tuanya. Faza berharap mamahnya tidak mengatakan apapun lagi tentang Zahra yang tidak baik.
“Bi..”
Asisten rumah tangga yang sudah berumur itu menoleh ketika mendengar suara Faza.
“Eh aden...”
Faza tersenyum saat bibi mendekat padanya.
“Mamah mana bi?” Tanya Faza pelan.
“Ibu ada diatas den. Tadi sih lagi nyulam. Aden mau saya buatin kopi?”
__ADS_1
Faza menggelengkan kepalanya.
“Nanti saja bi. Saya ke mamah dulu ya..”
“Iya den..”
Faza segera berlalu dari hadapan bibi dan naik kelantai dua dimana mamahnya berada. Betul saja, Faza mendapati mamahnya berada diruang keluarga yang ada dilantai dua rumah itu dan sedang menyulam.
Faza melangkah mendekat pada Sinta yang belum menyadari kehadiran-nya.
“Mah..”
Sinta mengalihkan perhatian-nya mendengar suara Faza. Senyumnya mengembang mendapati Faza sudah berdiri disamping sofa yang didudukinya.
“Faza..” Sinta mengesampingkan aktivitas menyulamnya dan meletakan-nya diatas meja kemudian segera bangkit berhambur memeluk putra sulungnya itu.
Faza tersenyum dan segera membalas pelukan sang mamah.
“Mamah kangen banget sama kamu nak..” Ucap Sinta dibalik punggung Faza.
“Ya mah.. Faza juga kangen sama mamah.”
Sinta melepaskan pelukan-nya kemudian memukul pelan bahu Faza.
“Nggak usah bilang kangen sama mamah kalau kamu masih saja lebih memilih perempuan itu dari pada mamah.” Protesnya membuat Faza tersenyum kikuk.
“Fadly mana mah?”
“Fadly lagi ada kerjaan diluar kota. Katanya dia akan berada dibandung selama lima hari.”
“Oh ya? kapan dia berangkat.”
“Pagi tadi dia berangkat.”
Faza menganggukan kepalanya. Adiknya memang sangat rajin juga disiplin. Selain itu Fadly juga sangat kreatif. Tidak heran Fadly bisa menjadi arsitek handal yang selalu berhasil membuat siapapun terpukau dengan karyanya. Bahkan rumah kedua orang tuanya juga Fadly yang mendesain-nya saat masih duduk dibangku sekolah dasar.
“Kamu sudah makan siang nak?” Tanya Sinta perhatian.
“Belum mah.. Faza sengaja cepat cepat datang kesini supaya bisa makan siang bareng sama mamah..”
Sinta tersenyum mendengarnya.
“Mungkin ini yang namanya jodoh.”
Faza mengeryit bingung.
“Maksud mamah?”
“Ah tidak. Ayo kita ke meja makan sekarang. Sebentar lagi akan ada yang datang dan kamu pasti akan sangat terkejut.”
Faza menyipitkan kedua matanya mulai curiga dengan ucapan yang terlontar dari bibir mamahnya.
__ADS_1
“Ayo...”
Sinta bergelayut dilengan Faza dan menarik pelan lengan Faza mengajaknya untuk kembali turun. Wanita itu terlihat sangat sumringah dan bahagia hari ini. Dan itu sukses membuat Faza bertanya tanya.
“Mamah masak apa?” Tanya Faza begitu mereka sampai dimeja makan.
“Duduk sayang. Hari ini mamah nggak masak. Karna sudah ada yang memasak buat kita berdua.” Senyum Sinta.
Faza semakin bingung melihat Sinta yang begitu sumringah siang ini.
“Memangnya bibi masak apa untuk kita mah?”
“Iisshh.. ini bukan bibi yang masak sayang. Tapi...”
“Tante..”
Suara lembut Loly berhasil membuat Faza juga Sinta menoleh. Faza tau sekarang siapa yang dimaksud seseorang itu oleh mamahnya. Saat itu juga Faza menyesal karna sudah menuruti kemauan mamahnya untuk datang siang ini.
“Orang spesialnya sudah datang.” Bisik Sinta tersenyum bahagia pada Faza yang terlihat tidak perduli dengan kedatangan Loly.
“Kita sudah menunggu kedatangan kamu sayang. Kemarilah.”
Loly tersenyum mendengar ucapan Sinta. Loly kemudian melangkah mendekat pada Sinta dan Faza dengan membawa rantang makanan ditangan kanan-nya.
“Maaf sudah membuat tante dan kamu menunggu lama mas.”
Faza hanya diam saja saat Loly meletakan bawaanya diatas meja.
“Kamu tau Loly, ada yang menunda makan siang demi bisa makan bersama kita.”
Sinta menggoda Faza yang malah berdecak merasa sangat kesal.
“Oh ya? Siapa tante?” Tanya Loly tersenyum pura pura tidak tau. Padahal dalam hatinya Loly sangat senang karna tau siapa orang itu.
“Tuh.. yang sudah siap duduk sambil ngadep piring kosong.” Jawab Sinta yang disertai tawa meledeknya.
Loly ikut tertawa. Loly memang sudah lama memendam rasa pada Faza. Dan ketika tau Sinta dan mamahnya berniat menjodohkan-nya dengan Faza, Loly sangat bahagia.
“Maaf mas, tadi jalanan sedikit macet. Aku akan siapkan segera makan siang untuk kamu.” Senyum Loly menatap Faza.
Faza enggan menjawab. Faza ingin sekali bangkit dan berlalu saat itu juga. Malas rasanya jika harus didekat dekatkan dengan Loly.
“Emm.. Tante, saya boleh kedapur kan?”
“Oh tentu saja sayang. Biar tante bantu siapkan.”
Setelah Loly dan Sinta menata hidangan diatas meja, Faza hanya menatapnya saja. Faza sama sekali tidak merasa tergoda dengan hidangan lezat didepan-nya.
“Loh mas, kok kamu cuma makan nasi sama kerupuk doang sih? Kamu nggak pengin cicipin masakan aku?”
Loly menatap bingung pada Faza yang hanya menyantap nasi dan kerupuk saja tanpa berniat mengambil lauk dan sayur yang memang sengaja Loly bawa dari rumah untuk mereka.
__ADS_1
“Aku lagi nggak boleh makan makanan yang berlemak Loly.” Jawab Faza dengan entengnya.