
Pukul 7 malam tepat Faza sampai dirumahnya. Faza langsung membersihkan dirinya sebelum akhirnya makan malam bersama Zahra yang memang sudah menunggu kepulangan-nya. Faza juga tidak lupa membawakan pesanan Zahra yaitu burger dengan keju melimpah yang langsung disantap dengan semangat oleh Zahra.
“Bagaimana kabar mamah mas?” Tanya Zahra disela mereka berdua sedang menikmati hidangan makan malam didepan-nya.
Faza menelan makanan yang sedang dia kunyah. Pria tampan itu terdiam sesaat kemudian menghela napas dan tersenyum manis membalas tatapan Zahra.
“Mamah baik baik aja sayang..” Jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu mas. Mungkin mulai sekarang mas harus lebih memperhatikan mamah lagi. Jujur aku khawatir sejak mamah tidak lagi bolak balik datang kesini mas.”
Masih dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya Faza mengangguk paham. Faza tau Zahra sangat menghormati dan menyayangi mamahnya.
“Iya sayang.. Makasih ya udah ngingetin aku..”
“Sama sama mas.. Kan kita memang harus selalu saling mengingatkan. Aku ngingetin kamu, kamu ngingetin aku..” Senyum Zahra lebar.
Faza menganggukan kepalanya setuju. Sampai sekarang Faza masih tidak habis pikir dengan mamahnya. Zahra adalah wanita yang rajin juga baik. Tapi entah kenapa mamahnya belum juga bisa menerima pernikahan mereka yang sudah memasuki lebih dari satu tahun bersama. Dan lagi, mamahnya juga masih saja mengungkit tentang perjodohan-nya dengan Loly yang tidak berjalan mulus.
“Ah ya mas.. Bagaimana hubungan Loly dan Fadly sekarang ya? Loly sekarang sudah nggak pernah lagi kesini.. Fadly juga jarang datang kesini.”
Faza tampak berpikir. Sinta mengatakan Fadly dan Loly sekarang dekat. Itu artinya hubungan keduanya ada kemajuan.
“Aku juga nggak tau sayang.. Kenapa nggak kamu tanya langsung saja pada Fadly saat Fadly datang kesini nanti?”
“Eemm.. Aku tidak mau Fadly menganggap aku selalu ingin tau urusan-nya dengan Loly.”
Faza tertawa mendengarnya.
“Kamu kenal Fadly sudah lama dan sekarang Fadly adalah adik kamu. Menanyakan tentang bagaimana kemajuan hubungan Fadly dengan Loly bukan bentuk selalu ingin tahu sayang. Tapi lebih ke bentuk perhatian. Dan itu artinya kamu menyayangi Fadly sebagai adik kamu.”
Zahra tersenyum tipis. Dari dulu Fadly memang sangat baik. Zahra bahkan sempat menaruh rasa kagum sebelum akhirnya bertemu dengan Faza.
“Mas.. Boleh aku jujur? ini tentang masa lalu.”
Faza mengeryit. Entah kenapa tiba tiba pemikiran-nya tertuju pada Santoso.
“Tentu saja.” Jawabnya pelan dengan jantung berdetak cepat.
Zahra menarik napas kemudian menghembuskan-nya kasar.
__ADS_1
“Saat aku masih menjadi murid baru di SMA aku sempat mengagumi sosok Fadly. Tapi itu hanya sekedar kagum karna Fadly memang baik dan ramah. Dan aku nggak nyangka sekarang Fadly menjadi adik aku.. Aku dipertemukan dengan kamu sebagai jodoh aku, kakaknya Fadly.”
“Oh..” Faza langsung salah tingkah. Pemikiran-nya salah.
“Ya memang dulu Fadly banyak yang naksir. Dia baik, ramah, bahkan pintar. Aku sendiri juga bangga punya adik kaya Fadly.”
Zahra menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang Faza katakan. Zahra yakin kedua orang tua Faza dan Fadly juga sangat bangga memiliki putra yang tampan, cerdas, juga baik hati.
“Tapi mas.. Kamu juga nggak kalah pintarnya kok. Kamu juga baik, kamu tampan dan aku beruntung mempunyai suami seperti kamu..”
Faza hanya tersenyum saja. Pikiran-nya kembali mengingatkan atas kesalahan-nya yang hampir saja membagi hati pada wanita lain.
“Jangan terlalu memuji aku sayang.. Aku hanya laki laki biasa. Aku punya banyak kesalahan. Aku bahkan sering membuat kamu marah.”
“Apapun kesalahan kamu aku akan memaafkan mas..”
Faza menatap Zahra tidak percaya. Zahra berkata dengan sangat enteng dan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
“Asal kamu tidak membagi hati dan cinta kamu pada perempuan lain. Aku bisa memakluminya.” lanjut Zahra masih dengan senyuman dibibirnya.
Faza langsung mengalihkan perhatian-nya dari Zahra. Faza tidak ingin Zahra bisa membaca ketakutan dari tatapan kedua matanya.
“Ya mas.. Aku percaya sama kamu.” Angguk Zahra pelan.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan diantara mereka sampai akhirnya makan malam mereka selesai.
Faza mengajak Zahra untuk bersantai ditaman belakang rumahnya. Mereka berdua duduk dikursi panjang dengan Faza yang memeluk Zahra dari belakang.
“Sayang...” Panggil Faza sambil membelai lembut perut besar istrinya penuh kasih sayang.
“Hem..” Saut Zahra yang sedang asik menatap perut besarnya karna pergerakan calon putranya yang begitu aktif karna belaian tangan Faza.
“Aku belum memberitahu kamu tentang Reyhan ya?”
Zahra mengeryit.
“Reyhan siapa?” Tanya Zahra bingung.
“Yang kemarin datang kesini aku suruh untuk mengambil berkas diruangan kerja aku..” Jawab Faza.
__ADS_1
Zahra tampak berpikir sebelum akhirnya menganggukan kepala. Zahra ingat dengan apa yang mbak Lasmi katakan tentang seorang pria tampan yang datang dan mengaku sebagai asisten Faza menyuruh mbak Lasmi untuk menemaninya mengambil berkas diruangan Faza.
“Ya.. Aku tidak melihatnya tapi mbak Lasmi cerita sama aku tentang laki laki tampan yang meminta mbak Lasmi untuk menemaninya keruangan kamu.”
Faza tertawa.
“Ya, dia memang tampan. Dia juga pintar.”
“Emm.. Tapi kamu tetap yang paling tampan dan pintar dimata aku mas..” Senyum Zahra menumpukan tangan-nya diatas punggung tangan Faza.
“Haha.. Sejak kapan kamu pintar menggombal sayang?” Tawa Faza bertanya.
“Hey... Aku jujur tau. Aku nggak menggombal.” Protes Zahra.
“Oke oke.. Aku percaya.. Jadi begini sayang.. Reyhan itu adalah sekretaris sekaligus asisten aku. Aku sengaja mengganti Siska dengan Reyhan karna menurut aku akan lebih nyaman kalau aku berkontak intens dengan sesama laki laki.”
Zahra mengangguk paham.
“Ya mas.. Aku juga setuju dengan itu. Lagian Siska itu terlalu cantik. Aku takut nanti kamu kepincut sama dia terus lupa sama aku.” Kata Zahra mengerucutkan bibirnya.
Faza menelan ludahnya. Ketakutan Zahra sebenarnya sudah terjadi. Untungnya Faza bisa menahan hawa nafsunya sendiri.
“Oh ya mas.. Aku juga mau cerita sama kamu. Pak Santo, dia datang lagi tadi siang loh. Dia bahkan bawa banyak makanan.” Adu Zahra tentang Santoso yang memang siang tadi datang lagi.
Faza tersenyum tipis. Entah kenapa Faza merasa kehadiran Santoso yang tiba tiba itu seperti sebuah peringatan untuknya agar tetap bisa menjaga hatinya untuk Zahra. Faza sebenarnya ingin sekali mendaratkan bogem mentahnya pada wajah duda itu. Namun Faza tidak mau gegabah. Santoso tau tentang Siska, dan Faza tidak mau Santoso mengatakan yang tidak tidak pada Zahra tentang Siska dan dirinya. Karna pada dasarnya Faza sangat yakin tidak seorang pun tau tentang kekaguman terpendamnya pada sosok Siska.
“Tapi aku nggak nemuin dia. Mbak Lasmi yang aku suruh buat nemuin dia dan aku suruh berbohong tentang aku. aku juga nggak makan apa yang dia bawa kok. Aku kasih semua ke mbak Lasmi dan sepertinya mbak Lasmi memberikan makanan itu pada pak satpam.” Lanjut Zahra.
Faza menghela napas. Faza tau Zahra sangat berjuang keras menjaga martabatnya sebagai seorang istri. Apa lagi setelah Zahra tau Santoso memiliki rasa atas dirinya sejak dulu.
“Aku akan menemuinya nanti dan meminta secara langsung agar tidak lagi mengganggu milikku.” Bisik Faza sambil mencium rambut Zahra.
Zahra mengangguk pelan. Zahra berpikir untung saja Faza tidak mudah salah paham seperti dulu lagi.
“Mas aku ngantuk..” Keluh Zahra sambil menguap.
“Ya sudah kita masuk dan istirahat ya sayang..”
Faza melepaskan pelukan-nya kemudian bangkit dan menggendong Zahra ala bridal style, membawanya melangkah berlalu dari taman masuk kedalam rumah.
__ADS_1