
“Ya tuan.. Tadi mobil saya mogok dan Nona Loly mengantar saya pulang. Saat akan pulang kerumah hujan lebat tiba tiba turun sehingga membuat Nona tidak berani mengendarai mobilnya sendirian makan-nya sekarang nona menginap dirumah saya.”
Mona terpaksa harus berbohong pada orang tua Loly. Karna rasanya tidak mungkin jika Mona mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tua Loly. Mereka berdua pasti akan sangat khawatir atau bahkan sebaliknya. Mereka akan marah jika tau Loly dalam keadaan lemah hanya karna Fadly.
“Begitu ya? Ya sudah kalau begitu Mona. Saya percayakan Loly sam kamu..” Saut daddy Loly dari seberang telepon.
“Baik tuan. Terimakasih atas kepercayaan anda pada saya..”
“Ya...” Balas daddy Loly singkat kemudian memutuskan sambungan telepon-nya.
Mona menghela napas. Mona benar benar tidak pernah menyangka Loly akan sehancur ini hanya karna seorang Fadly. Padahal Loly yang Mona kenal adalah wanita angkuh yang tidak kenal dengan rasa sakit. Meskipun sebenarnya memang Loly adalah orang baik dari dulu tapi sering kali Loly bersikap angkuh pada orang yang tidak dia sukai.
Mona menoleh menatap Loly yang sudah terlelap diatas ranjang miliknya. Mona sengaja membubuhkan obat tidur didalam coklat panas yang dia buat untuk Loly. Semua itu Mona lakukan supaya Loly bisa istirahat dengan tenang.
Pelan pelan Mona melangkah mendekat pada Loly. Mona kemudian ikut naik keatas ranjang dan berbaring tepat disamping Loly.
Menatap langit langit kamarnya. Tiba tiba denyutan ngilu terasa dikepala Mona. Tidak ingin jatuh sakit, Mona kembali bangkit dari berbaringnya kemudian turun dari ranjang untuk mengambil obat pereda rasa nyeri dikepalanya.
Mona tidak mau jika dirinya sampai tumbang. Mona ingin mendampingi Loly menemui Fadly besok. Karena Mona tidak mungkin tega membiarkan Loly pergi sendiri ke bandung untuk menuntut kejelasan hubungan-nya dengan Fadly besok.
----------
Faza tidak bisa memejamkan kedua matanya sampai malam larut. Pikiran-nya terus tertuju pada Fadly yang pergi secara mendadak keluar kota pagi ini.
Faza menghela napas. Yang Faza tau Fadly adalah adiknya yang paling baik. Faza bahkan sangat bangga pada Fadly karna kebaikan dan kepintaran-nya. Tapi hari ini sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan sikap Fadly begitu nyata Faza rasakan.
Fadly dengan begitu tidak perduli mengatakan tidak ada yang perlu dibahas antara dirinya dan Loly.
“Ssshhh...”
Desisan pelan Zahra membuat Faza menoleh dengan cepat. Faza mengeryit melihat pergerakan pelan tangan istrinya yang kemudian mengusap usap bagian belakang pinggangnya sendiri.
Tidak tega, Faza pun dengan sangat lembut menyingkirkan tangan Zahra kemudian menggantikan-nya mengusap usap pinggang belakang Zahra.
“Sshh.. Lebih keras sedikit mas..” Katanya pelan.
Faza mengeryit. Tidak biasanya Zahra menyadari apa yang Faza lakukan padanya tengah malam.
Penasaran Faza pun bangkit dari berbaringnya. Faza mendudukan dirinya tepat dibelakang punggung Zahra.
__ADS_1
“Sayang.. Apa ada sesuatu yang kamu rasakan?” Tanya Faza lembut.
“Perut aku mas.. Sepertinya aku mengalami kontraksi..” Jawab Zahra sambil sesekali meringis dan mendesis.
“Apa?” Kedua mata Faza membulat. Malam sudah larut dan istrinya mengatakan sedang mengalami kontraksi.
“Awwhh..” Zahra menggigit bibir bawahnya sendiri saat kontraksi itu dia rasakan dibagian bawah perut sampai pinggangnya.
“Sayang.. Ya Tuhan...”
Faza ketar ketir sendiri. Zahra tidak pernah mengeluhkan apapun selama hamil selain lelah dan meminta dipijit. Tapi sekarang Zahra sampai melenguh bahkan meringis seperti sangat kesakitan.
“Mas kayaknya aku mau melahirkan.. Ini sakit banget.. Ya Tuhan..”
Faza gelagapan. Pria itu bingung harus melakukan apa sekarang. Faza tidak pernah mendampingi wanita yang mau melahirkan.
“Ya Tuhan.. Aku harus bagaimana sayang?”
Mendadak tubuh Faza terasa panas dingin. Faza takut, juga khawatir. Melahirkan adalah proses yang menurut Faza sangat menegangkan dimana seorang wanita akan bertaruh nyawa untuk melahirkan bayinya.
“Kita kita kerumah sakit sekarang.. Ayo sayang...”
Zahra menyentuh bahu Faza dan meremasnya pelan sedikit mendorong sebagai tanda penolakan atas apa yang Faza katakan.
“Sayang tapi...”
“Mas.. Tolong..” Lirih Zahra memohon.
Faza menghela napas kemudian turun dari ranjang. Dengan gerakan cepet Faza berlari keluar dari kamarnya.
“Mbak Lasmi !! Mbak Lasmi !!” Teriak Faza membahana disetiap sudut rumah mewahnya.
“Ya Tuhan.. Apa suaraku kurang keras..” Gumam Faza kesal.
“Mbak Lasmi... !!”
“Saya tuan..”
Faza menatap lurus dimana mbak Lasmi sudah berada dibawah tangga.
__ADS_1
“Mbak tolong mbak ke kamar saya sekarang. Zahra kesakitan.” Katanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Ekspresi mbak Lasmi langsung berubah. Wanita itu langsung berlari menaiki satu persatu anak tangga dengan gerakan kilat. Mbak Lasmi langsung dikuasi ke khawatiran begitu mendengar apa yang Faza katakan.
Dalam waktu singkat mbak Lasmi sudah berada dikamar Faza dan Zahra. Buru buru mbak Lasmi mendekat pada Zahra yang berbaring miring ke arah kiri.
“Nyonya...”
Mbak Lasmi meraih tangan Zahra dan menggenggamnya. Mbak Lasmi juga pernah merasakan dalam posisi Zahra.
“Mbak sakit...” Adu Zahra.
Faza memposisikan dirinya disamping tubuh Zahra. Pria itu mengusap usap lembut pinggang bagian belakang Zahra. Seluruh tubuhnya bergetar penuh rasa takut. Zahra akan berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan putra mereka.
“Ya nyonya.. Saya tau.. Sabar ya nyonya..”
Zahra mengangguk. Keringat mulai membasahi kening bahkan seluruh wajahnya. Zahra tidak pernah membayangkan bahwa rasanya akan seluar biasa itu.
“Kamu pasti bisa sayang.. Aku akan selalu ada disamping kamu..” Bisik Faza tepat ditelinga Zahra.
Zahra menganggukan kepalanya. Zahra juga yakin bahwa dirinya bisa melalui proses persalinan-nya dengan baik.
“Tuan.. Saya akan siapkan semua yang diperlukan oleh nyonya. Sebaiknya kita bawa nyonya kerumah sakit supaya nyonya segera mendapat penanganan dari dokter.” Ujar mbak Lasmi.
“Iya mbak.. Saya akan telepon dokter Cindy.”
“Ya tuan...”
Mbak Lasmi dengan sigap menyiapkan apa saja yang diperlukan nanti. Sedangkan Faza, dia mencoba menghubungi dokter Cindy dengan terus berada disamping Zahra yang mengeluh kesakitan.
Setelah semuanya siap dan dokter Cindy pun sudah dihubungi, Faza segera menyiapkan mobil. Pria itu bergerak dengan sangat cepat keluar masuk kedalam rumah.
“Pelan pelan tuan..” Ujar mbak Lasmi saat Faza hendak menggendong Zahra.
“Ya mbak...” Angguk Faza mengerti.
Dengan sangat hati hati Faza membawa Zahra menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah diikuti mbak Lasmi yang membawa tas bermotif beruang ditangan-nya.
“Sakit mas...”
__ADS_1
“Ya sayang.. Aku tau.. Kamu pasti bisa.. Kamu bisa sayang.. Aku yakin itu...” Bisik Faza meyakinkan istrinya.
Zahra memejamkan kedua matanya. Kontraksi dibagian bawah perutnya terasa sangat asing dan menyakitkan. Tapi Zahra tau apa yang dirasakan-nya sekarang adalah konsekuensinya sebagai calon ibu untuk putranya.