PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 288


__ADS_3

Faza berhenti melangkah begitu sampai didepan kamar kedua orang tuanya. Faza sudah mengangkat tangan bermaksud mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya namun merasa ragu.


Faza memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan mencoba mengusir keraguan yang sedang merayapi hatinya. Faza yakin saat ini mamahnya juga pasti sedang sangat membutuhkan dirinya.


Setelah merasa yakin, Faza pun mengetuk pintu kamar sang mamah.


Tidak ada sautan apapun dari dalam membuat Faza akhirnya memberanikan diri meraih handle pintu dan memutarnya perlahan membuka pintu bercat coklat tersebut.


Saat Faza membuka pintu kamar itu, Faza tidak menemukan siapapun disana. Kamar itu kosong dan hening.


“Mah.. mamah..” Panggil Faza pelan.


Faza melangkah masuk kedalam kamar kedua orang tuanya mencari keberadaan sang mamah. Namun disana tidak ada siapa siapa bahkan saat Faza mengecek kedalam kamar mandi.


“Mamah kemana ya?” Gumam Faza bertanya tanya.


Pria tampan dengan jaket rajut berwarna navy itu kemudian melangkah keluar dari kamar berniat mencari sang mamah yang mungkin saja sedang berada ditempat lain didalam rumah berlantai dua itu.


Benar saja, setelah mencari sekitar beberapa menit, Faza menekan sang mamah yang sedang duduk dikursi seorang diri di atap balkon lantai dua rumah tersebut.


Faza tersenyum dan menghela napas lega mendapati sang mamah dalam keadaan baik baik saja.


Pelan pelan Faza mendekat. Tiga bulan tidak bertemu dan tidak berkomunikasi dengan sang mamah membuatnya ingin sekali menangis sekarang. Mereka masih berada dikota yang sama tapi selama tiga bulan tidak bertemu karena memang Faza yang sengaja menghindar dari sang mamah demi kebaikan istri juga mamahnya sendiri.


Faza menelan ludahnya. Faza akan menerima jika sang mamah murka padanya kali ini. Faza akui dirinya juga salah karena tidak memberi kabar apapun selama tiga bulan ini.


“Mamah...” Panggil Faza dengan suara tercekat.


Sinta yang sore itu sedang melamun sembari menikmati semilir angin sore yang menerpa tubuhnya mengeryit mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar. Namun kemudian Sinta tertawa sendiri. Terlalu merindukan putra sulungnya membuat dirinya sering berhalusinasi sendiri.


“Faza lebih memilih istrinya. Dia mungkin sudah melupakan kamu sebagai mamahnya Sinta.” Batin Sinta menggelengkan kepalanya dengan senyuman miris.

__ADS_1


Sinta tidak pernah sedikitpun membayangkan keluarganya akan berantakan seperti sekarang. Padahal dulu mereka berempat selalu kompak meski memang semua Sinta yang mengatur. Tapi sejak Faza menikah diam diam dengan Zahra, Sinta merasakan semuanya mulai berubah. Apa lagi semenjak suaminya juga menyetujui pernikahan keduanya.


“Mamah...”


Suara itu kembali terdengar membuat Sinta kembali mengeryit. Wanita itu kemudian mencoba menajamkan indra pendengaran-nya menanti kembali panggilan mamah dari suara yang amat sangat dia rindukan itu.


“Ini Faza mah..”


Kedua mata Sinta sedikit melebar. Kali ini Sinta yakin dirinya tidak sedang berhalusinasi. Sinta bangkit dari duduknya kemudian berbalik.


Saat itulah tatapan Sinta langsung bertemu dengan tatapan Faza. Keduanya terdiam dan sama sama mematung ditempatnya.


Faza sangat terkejut melihat perbedaan mencolok dari mamahnya. Lingkaran hitam disekitar mata yang menandakan bahwa wanita itu kurang istirahat. Ditambah lagi dengan wajah pucat dan tubuh Sinta yang terlihat sangat kurus.


“Ya Tuhan..”


Hati Faza terasa berdenyut ngilu melihat keadaan mamahnya sekarang. Faza tidak sedikitpun membayangkan jika keadaan sang mamah akan sangat berbeda dari terakhir mereka bertemu, yaitu tiga bulan yang lalu.


“Faza...” Sinta tersenyum kemudian segera berlari mendekat dan langsung berhambur memeluk tubuh Faza yang masih mematung ditempatnya berdiri.


Faza meneteskan air mata mendengar pertanyaan mamahnya. Pria itu benar benar tidak tau apa saja yang terjadi pada mamahnya sehingga fisik mamahnya bahkan bisa begitu berubah drastis.


“Mamah kangen banget sama kamu Za..” Tangis Sinta sesenggukan.


Faza menghela napas berat. Tangisan mamahnya terdengar sangat memilukan.


Perlahan Faza membalas pelukan Sinta. Rasa bersalah langsung merayapi hatinya. Faza tidak bermaksud tidak perduli pada mamahnya. Faza hanya sedang berusaha menjaga dengan baik apa yang memang sudah Tuhan amanahkan kepadanya yaitu Zahra, istrinya.


“Faza juga kangen sama mamah..” Balas Faza lirih.


Faza hanya bisa mengucap kata maaf itu dalam hati tanpa berniat melontarkan langsung dengan kata kata. Faza tau jika dirinya meminta maaf pada sang mamah secara terang terangan permintaan tidak baik pasti akan terlontar dari mulut mamahnya.

__ADS_1


Setelah berpelukan cukup lama, Sinta akhirnya melepaskan pelukan-nya. Sinta tersenyum haru kemudian langsung menciumi seluruh wajah tampan putra sulungnya dengan air mata berlinang di pipinya. Wanita itu benar benar tidak bisa mengungkapkan perasaan-nya dengan kata kata. Sinta sangat bahagia karena akhirnya Faza datang menemuinya setelah tiga bulan sama sekali tidak ada kabar.


“Ayo.. Mamah akan buatkan donat kentang kesukaan kamu nak..”


Faza hanya diam saja saat Sinta menuntun-nya untuk masuk kedalam rumah. Meski sebenarnya hati Faza terasa teriris melihat sang mamah begitu antusias mengajaknya masuk kembali kedalam rumah dan mengatakan akan membuat camilan kesukaan-nya yaitu donat kentang.


“Duduk sayang.. Mamah akan buatkan camilan kesukaan kamu oke?”


Setelah mendudukkan Faza dikursi, Sinta dengan semangat mengambil kentang di keranjang yang terbuat dari rotan kemudian mengupasnya dan langsung merebusnya tentunya setelah dicuci dengan bersih.


“Tunggu sebentar.. Ini tidak akan lama. Kamu nginep disini kan sayang? Atau paling enggak kamu makan malam disini dong.. Memangnya kamu nggak kangen sama mamah? sama masakan mamah?”


Faza menghela napas pelan. Terlalu bersikap lembut dan mengalah pada mamahnya hanya akan membuat mamahnya terus besar kepala.


“Aku cuma sebentar disini mah. Mamah nggak usah repot repot bikin camilan buat aku. Dirumah ada Zahra dan Fahri yang menunggu kepulangan aku..”


Wajah Sinta yang semula sumringah langsung berubah kembali datar tanpa ekspresi.


“Kalau mamah dan Zahra sama sama ada di tepi jurang siapa dulu yang akan kamu tolong Faza? Zahra? kamu mau biarin mamah mati begitu saja?”


Faza berdecak. Mamahnya selalu saja mengartikan salah maksudnya.


“Memangnya apa yang sudah Zahra lakukan untuk kamu selama ini nak? Dia hanya beban buat kamu. Dia enggak bisa apa apa. Dia hanya tau meminta saja.” Kesal Sinta berkata dengan nada yang mulai meninggi.


“Mamah cukup. Faza datang kesini bukan untuk dengerin mamah menjelekkan perempuan yang sangat Faza cintai. Faza datang kesini karena Faza ingin melihat keadaan mamah. Dan itu juga karena dorongan dari istri Faza.” Faza mulai kalap dan tidak menahan dirinya karena mamahnya tetap saja tidak berubah dan terus memandang Zahra sebelah mata.


“Ya Tuhan.. Faza, sampai seperti ini kamu sama mamah hanya demi perempuan kampung itu?” Sinta menggeleng tidak percaya menatap Faza yang berani melawan-nya.


“Mamah masih ingat dengan Tuhan bukan? apa mamah pikir cara mamah menilai Zahra itu akan dibenarkan oleh Tuhan? Seharusnya setelah apa yang terjadi mamah sadar. Bisa saja apa yang menimpa mamah sekarang itu adalah akibat dari ke egoisan mamah selama ini. Mungkin papah bisa sabar menghadapi mamah. Tapi tidak dengan Faza mah.. Faza tidak sama seperti papah yang bisa diam saja menghadapi ke egoisan mamah.” Ujar Faza dengan berani.


Sinta tidak bisa berkata kata. Ini kali pertamanya Faza berbicara begitu sangat berani dan diluar batas menurutnya.

__ADS_1


“Ya Tuhan Faza kamu..”


“Faza enggak mau mah jadi anak durhaka. Tapi Faza juga nggak mau jadi suami yang lalai dengan tanggung jawab Faza. Karena Zahra adalah amanah dari Tuhan yang harus benar benar Faza jaga sekuat dan semampu Faza. Faza akan menghadapi siapapun yang berniat menyakiti istri Faza, sekalipun itu mamah.” Tegas Faza kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Sinta yang menangis mendengar ucapan tegasnya.


__ADS_2