
Loly merasa sangat kesal karna pertengkaran dengan Fadly dirumah Faza dan Zahra tadi. Loly benar benar tidak habis pikir dengan Fadly yang bisa begitu picik berpikir tentangnya.
Loly menghela napas kasar. Entah kenapa dengan segala apa yang sudah Fadly ucapkan tentangnya Loly masih saja memendam rasa cinta itu untuk Fadly. Padahal sudah jelas Fadly sangat kasar dan membencinya.
“Nona.. Apa anda baik baik saja?” Tanya Mona pada Loly yang tampak tidak fokus saat mengerjakan pekerjaan-nya.
Loly melirik Mona kemudian menghela napas lagi. Loly meletakan berkas laporan dari Mona yang sedang dibacanya.
“Mona, kamu pernah tidak ngerasain yang namanya jatuh cinta?”
Pertanyaan Loly membuat Mona menahan tawa. Mona tau arah pertanyaan yang dimaksud oleh atasan-nya itu.
“Saya belum merasakan-nya nona..” Jawab Mona jujur.
Mona tidak bohong. Mona memang tidak terlalu memikirkan tentang cinta. Yang Mona pikirkan hanya bagaimana caranya dirinya bisa banyak menghasilkan uang untuk membantu perekonomian keluarganya dikampung. Salah satunya adalah menyekolahkan adik adiknya yang masih kecil.
Loly menghela napas. Cintanya pada Fadly benar benar membuatnya gila.
“Maaf nona, berkasnya harus segera anda tanda tangani.” Senyum Mona berkata dengan pelan.
“Ah ya.. Oke oke..”
Loly kemudian kembali membaca berkas yang sempat dia letakan didepan-nya. Loly tidak ingin membuat Mona terlalu terbebani dengan pekerjaan-nya.
Selesai membaca berkas tersebut, Loly kemudian segera membubuhkan tanda tangan-nya. Setelah itu Loly memberikan-nya pada Mona yang sedang menunggunya.
“Terimakasih nona.. Kalau begitu saya permisi..”
“Oke..” Angguk Loly tersenyum manis.
Loly menghela napas menatap punggung Mona. Mona benar benar sangat baik padanya. Mona selalu ada disampingnya saat dirinya sedang hancur karna Fadly. Mona selalu ada untuk menyemangati dan menjadi sandaran disaat kedua orang tuanya bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Tentu saja tidak tau karna Loly yang sengaja menutupinya dan tidak ingin keduanya tau apapun yang terjadi antara dirinya dan Fadly.
__ADS_1
Deringan ponsel membuat Loly tersentak. Loly segera meraih ponselnya dan mengeryit ketika mendapati nama Fadly tertera disana. Padahal Fadly sudah memblokir nomornya. Tapi tiba tiba Fadly menelepon-nya setelah apa yang terjadi pagi tadi dirumah Faza. Itu artinya Fadly sudah membuka blokiran-nya.
Tanpa berpikir negatif, Loly pun mengangkat telepon dari Fadly.
“Heh perempuan bodoh. Urusan kita belum selesai.”
Loly hendak membuka mulutnya untuk membalas apa yang Fadly katakan namun Fadly langsung memutuskan sambungan telepon-nya begitu saja.
“Ck. Jadi dia meneleponku hanya untuk mengataiku bodoh begitu?” Tanya Loly kesal pada dirinya sendiri.
“Huh, dasar laki laki pengecut. Beraninya sama perempuan.” Gerutu Loly kesal.
-----------
Dirumah Zahra sedang mengayun putranya dengan penuh kasih sayang. Zahra bahkan bersenandung kecil agar putranya itu bisa kembali terlelap tidur dengan tenang.
Zahra tersenyum.
“Nyonya...”
Zahra mengalihkan perhatian-nya dari wajah tampan menggemaskan putranya pada mbak Lasmi yang memanggilnya dengan suara yang sangat dipelankan.
“Ya mbak.. Ada apa?” Saut Zahra bertanya dengan suara berbisik. Zahra tidak ingin mengusik putranya yang sedang asik menyusu dan baru terlelap kembali setelah menangis.
“Didepan ada pak Santoso..”
Zahra mendesis kesal. Entah kenapa pria itu tidak bosan bosan datang dan mencari masalah dengan-nya.
Zahra diam tampak berpikir. Zahra sedang mencoba mencari cara agar Santoso tidak lagi datang kerumahnya.
Setelah merasa menemukan cara untuk mengusir Santoso, Zahra pun dengan pelan melangkah menghampiri mbak Lasmi yang berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
“Mbak, titip Fahri sebentar yah.. Biar saya temui laki laki tua tidak tau diri itu.”
“Oh iya nyonya..”
Mbak Lasmi menerima Fahri yang diberikan oleh Zahra padanya. Setelah itu dengan langkah lebar dan perasaan penuh kesal Zahra pun melangkah berlalu dari ruang keluarga keluar dari rumahnya bermaksud untuk menemui Susanto yang pasti tidak diperbolehkan masuk oleh pak Satpam.
“Tolong buka pintunya.. Saya ini teman-nya Zahra pak. Saya hanya ingin bertemu dengan Zahra..” Pinta Susanto pada Satpam yang enggan membuka pintu gerbang untuknya.
“Maaf pak... Saya tidak bisa. Tuan Faza memberi amanat pada saya untuk tidak memperbolehkan anda masuk.” Jawab tegas pak Satpam.
“Tapi kan saya ini teman-nya Zahra pak.. Saya tidak ada maksud apa apa. Kedatangan saya kesini bermaksud baik. Saya ingin bertemu dengan teman saya..”
Zahra yang sudah ada diteras rumahnya menggeleng tidak menyangka pada Susanto yang terlihat sedang memohon pada pak Satpam untuk dibukakan pintu gerbang. Zahra benar benar tidak menyangka jika Susanto bahkan sekeras kepala itu. Susanto tidak perduli dengan apapun agar tujuan-nya tercapai.
“Dasar tua bangka.” Gerutu Zahra kemudian melangkah lebar menuju gerbang.
Susanto yang melihat Zahra melangkah mendekat kearahnya tersenyum senang. Pria itu mengira Zahra datang untuk menyuruh pak Satpam membukakan gerbang untuknya.
“Zahra.. Akhirnya kamu keluar juga. Satpam kamu tidak mau membukakan gerbang untukku saya Zahra. Dia beralasan suami kamu yang melarangnya membukakan gerbang saat saya datang.” Ujar Susanto mengadu pada Zahra.
“Nyonya...” Pak Satpam menunduk hormat saat Zahra berdiri disampingnya. Pria itu menahan ke khawatiran akan kemarahan Zahra karna tidak mengizinkan Santoso yang katanya adalah teman Zahra untuk masuk.
Zahra menatap Santoso kemudian tersenyum sinis.
“Pak Santoso yang terhormat. Saya tidak pernah menganggap anda sebagai teman saya. Mungkin dulu saya memang karyawan anda. Tapi sejak saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan anda, saya merasa saya tidak perlu lagi mengenal anda. Jadi saya pikir semuanya sudah jelas. Kita bukan teman. Anda mantan bos saya. Sekarang dengan tegas saya meminta pada anda untuk pergi dan tidak lagi datang kesini karena saya dan suami saya merasa tidak nyaman dengan kedatangan anda.” Tegas Zahra dengan sangat berani.
Santoso diam. Santoso merasa dipermalukan sekarang didepan Satpam oleh Zahra.
“Saya tau sesuatu tentang suami kamu Zahra.” Katanya pelan.
“Tapi saya lebih tau segalanya tentang suami saya pak. Anda tidak perlu mencoba mengadu domba saya dengan suami saya. Lebih baik sekarang anda pergi dari sini dan jangan datang lagi.” Balas Zahra masih dengan sangat tegas.
__ADS_1
“Baik. Baik saya akan pergi. Tapi perlu kamu tau Zahra, suami kamu punya hubungan dengan Siska. Sekretarisnya.” Ujar Santoso dengan lantang.