PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 101


__ADS_3

“Tante tenang aja. Aku ngerti kok bagaimana perasaan tante sekarang. Aku nggak maksa tante buat ngelakuin sesuatu yang nggak baik pada Zahra. Apa lagi Zahra kan juga sedang hamil sekarang. Bagaimanapun dan siapapun perempuan yang hamil anaknya mas Faza dia harus kuat dan Sehat.”


“Loly kamu benar benar perempuan idaman. Kamu cantik, pintar, punya segalanya. Tante nggak rela kalau sampai yang menjadi suami kamu bukan anak tante..”


Loly tertawa mendengarnya.


“Tante itu memang paling bisa buat aku terbang dengan pujian pujian yang tidak nyata itu.”


Sinta tersenyum sambil melangkah masuk kedalam rumah Zahra dan Faza ketika mengingat obrolan-nya dengan Loly kemarin. Sedikitpun Sinta tidak merasa apa yang dilakukan-nya sekarang salah. Tidak ada racun ataupun obat obatan yang akan membuat kandungan Zahra berada dalam bahaya yang terkandung didalam makanan dan buah yang dibawanya. Semua itu murni alami dan tidak ada campuran apapun.


“Demi cucu kamu Sinta. Lakukan yang terbaik.” Batin Sinta.


Ketika sampai dimeja makan, Sinta mendapati mbak Lasmi yang sedang menata sarapan diatas meja. Sinta tersenyum penuh arti kemudian mendekat pada mbak Lasmi yang belum menyadari kehadiran-nya.


“Lasmi..” Panggil Sinta pelan.


Mbak Lasmi tersentak bahkan hampir saja menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya. Lasmi benar benar terkejut dengan panggilan Sinta. Apa lagi sekarang tidak hanya ada Sinta yang berada didepan-nya. Tapi juga Akbar dan Fadly.


“Tuan, nyonya.. Selamat pagi..” Angguk pelan Sinta merasa gugup.


“Ya.. Pagi juga.” Saut Sinta sambil meletakan semua yang dibawanya diatas meja. Sinta bahkan sedikit menggeser nasi goreng yang baru saja selesai dimasak oleh mbak Lasmi.


“Saya sudah bawakan banyak sarapan untuk Faza dan Zahra. Jadi saya pikir lebih baik kamu bawa masuk lagi nasi goreng dan telor ceplok ini Lasmi. Atau kamu bisa memakan-nya sendiri dengan pak Satpam kalau dia mau.” Ujar Sinta dengan nada angkuhnya.


Akbar menggelengkan kepalanya. Sinta memang sering kali meremehkan orang orang disekitarnya.


“Baik nyonya..” Angguk Lasmi menurut saja.


Lasmi segera mengambil nasi goreng dan telor ceplok buatan-nya kemudian membawanya masuk kembali kedalam dapur.


Sinta yang melihat itu tersenyum merasa sangat puas. Sinta kemudian membuka satu persatu box makanan yang dibawanya dan menatanya diatas meja dengan bantuan Fadly dan Akbar.


“Mah.. Lain kali kamu jangan gitu dong..” Ujar Akbar menatap Sinta sendu.


“Hah? gitu gimana maksud papah?” Tanya Sinta tanpa menatap Akbar yang berada disampingnya.


“Itu tadi mamah ngomongnya begitu banget sama mbak Lasmi. Kan dia juga sudah capek masak bahkan bangun pagi pagi banget buat nyiapin sarapan.”


Sinta menghela napas kemudian menoleh pada suaminya. Sinta tersenyum.

__ADS_1


“Papah tolong jangan berlebihan oke? Itu hanya nasi goreng dan telor ceplok. Mamah juga biasa membuatnya. Nggak sampe 10 menit jadi kok. Jadi please.. Papah nggak usah melebih lebihkan segala hal supaya mamah terlihat salah. Oke?”


“Mah maksud papah..”


“Papah. Mamah sedang nggak mau debat. Kita kesini mau sarapan sama sama dengan Zahra juga Faza. Ya.. Untuk menyambut baik calon cucu kita.” Sela Sinta tersenyum.


Akbar menghela napas. Pria itu mengangguk pelan kemudian mendudukan dirinya dikursi. Sedangkan Fadly, pria itu masuk kedalam dapur menyusul mbak Lasmi untuk meminta nasi goreng dan telor ceplok buatan mbak Lasmi. Fadly melakukan itu agar mbak Lasmi tidak merasa diremehkan.


“Ya udah kalau begitu mamah keatas dulu untuk memanggil Faza dan Zahra. Sebentar pah..”


Sinta mengusap pelan bahu Akbar sebelum berlalu.


“Pah..”


Fadly yang muncul dengan membawa sepiring nasi goreng dengan telor ceplok segera mendekat pada papahnya dan duduk tepat disamping Akbar.


“Kenapa Ly?” Tanya Akbar menatap Fadly.


Fadly diam sesaat. Fadly bukan berprasangka buruk pada mamahnya sendiri. Tapi mengingat bagaimana sikap Sinta pada Zahra, Fadly jadi merasa sangat penasaran bahkan sedikit tidak percaya.


“Pah.. Tentang perubahan mendadak sikap mamah, jujur aku sedikit ragu pah..” Ujar Fadly pelan.


Akbar diam sesaat kemudian menganggukan kepalanya.


“Jadi apa yang harus kita lakukan pah?” Tanya Fadly sambil menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


“Eemm.. Papah minta demi kebaikan semuanya, tolong kamu selidiki ya Ly. Papah yakin perubahan mamah juga ada hubungan-nya dengan Loly.”


Fadly menganggukan kepalanya. Pemikiran-nya benar benar sama dengan papahnya kali ini.


“Oke, nggak masalah pah.”


---------


“Sebenarnya apa yang kamu pakai sekarang itu tidak ada yang spesial mas. Kamu tetap ganteng dari dulu. Tapi nggak tau kenapa aku merasa hari ini sangat berbeda dari hari hari sebelumnya.” Ujar Zahra sambil membantu Faza mengikat dasi di kerah kemeja biru muda yang dikenakan pria tampan itu.


Faza tertawa pelan. Pria itu mengecup kening Zahra sekilas.


“Mungkin karna sekarang sudah ada anak kita disini sayang..” Lirih Faza mengusap lembut perut rata Zahra.

__ADS_1


Zahra ikut tertawa dan menganggukan kepalanya setuju.


“Mungkin mas. Aku tidak sabar mendengar tangisan-nya membahana diseluruh sudut rumah kita..”


Faza tersenyum. Pria itu kemudian bersimpuh didepan Zahra membuat wajah tampan-nya sejajar dengan perut Zahra.


Faza meraih pinggang Zahra dengan kedua tangan besarnya menariknya lembut membuat wajahnya berada tepat didepan perut Zahra.


“Sayangnya papah.. Jangan nakal yah.. Jagain mamah..” Bisiknya kemudian mencium perut Zahra lama.


Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra tidak pernah sedikitpun membayangkan jika kehamilan-nya akan membuat hari harinya semakin terasa indah.


Suara ketukan pintu membuat Zahra dan Faza menoleh. Mereka berdua saling menatap kemudian sama sama tertawa.


“Itu pasti mbak Lasmi..” Kata Zahra.


Faza mengangguk dan mencium sekali lagi perut Zahra kemudian bangkit berdiri. Faza kemudian meraih tas kerjanya yang berada di atas nakas.


“Ayo kita turun..” Ajak Faza merangkul bahu Zahra.


Zahra tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua kemudian melangkah menuju pintu.


Senyuman dibibir Zahra dan Faza pudar seketika begitu pintu mereka buka. Didepan-nya kini berdiri sosok Sinta yang tersenyum begitu lembut pada mereka.


“Mamah..” Lirih Faza.


Dalam pikiran-nya Faza mengira Sinta pasti datang bersama Loly seperti biasanya.


“Papah dan Fadly sudah menunggu dibawah. Ayo kita sarapan sama sama..” Ujar Sinta dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


Faza mengeryit. Sikap Sinta terasa aneh menurutnya.


“Papah dan Fadly?” Tanya Faza bingung.


“Ya.. Kita bertiga sengaja datang kesini biar kita bisa sarapan sama sama. Mamah juga sudah masakin banyak makanan bergizi untuk Zahra. Ada buah juga yang bagus buat Zahra. Ayoo..”


Faza dan Zahra saling menatap. Mereka benar benar tidak percaya dengan sosok Sinta yang begitu murah senyum dan baik padanya.


“Bukan-nya mamah datang sama Loly?”

__ADS_1


“Enggak dong.. Mamah datang sama papah dan Fadly.. Udah ayo kita sarapan. Anggap saja sarapan bersama kita ini adalah perayaan buat kamu yang naik jabatan juga buat kamu Zahra yang sekarang sedang hamil cucu pertama mamah sama papah.” Senyum Sinta.


Faza dan Zahra benar benar bingung sekarang. Sinta terlihat aneh secara tiba tiba.


__ADS_2