
Karna tidak tahan dengan rasa lelah yang mendera tubuhnya, Faza pun terpaksa membawa pulang semua pekerjaan-nya. Faza bahkan meminta tolong pada salah satu karyawan agar menyupirinya pulang.
Sinta yang sore itu masih ada disana terlihat panik begitu melihat putranya yang tampak pucat dan berjalan sedikit sempoyongan memasuki rumah.
“Ya Tuhan.. Faza kamu kenapa nak?”
Sinta yang sedang duduk santai diruang tamu langsung bangkit dan berlari menghampiri Faza. Wanita itu langsung memapah Faza dan menuntun-nya untuk duduk disofa.
“Aku nggak papa kok mah...” Senyum Faza tidak ingin membuat mamahnya khawatir.
“Nggak papa gimana. Kamu pucat begini. Badan kamu juga panas nak..”
Kedua mata Sinta langsung berkaca kaca melihat putra sulung tampak sangat lemah. Apa lagi badan Faza juga terasa sangat panas. Ya, Faza demam.
“Aku cuma lelah aja mah.. Aku beneran nggak papa..”
“Sudah sudah.. Kamu nggak usah banyak bicara dulu. Ayo mamah bantu kamu ke kamar.”
Sinta bangkit dan kembali membantu Faza berdiri dari duduknya. Wanita itu benar benar sangat khawatir sekarang. Faza tidak pernah lagi seperti itu seingatnya. Kalaupun sakit juga Faza tidak pernah sampai terlihat selemah sekarang.
“Zahra mana mah?” Tanya Faza pelan.
“Sudah nak. Kamu tidak perlu memikirkan apapun dulu. Kamu itu sedang sakit. Pikirkan diri kamu sendiri saja.”
Faza tersenyum. Sinta meskipun terkadang bawel dan selalu menuntut agar kemauan-nya terpenuhi kini terlihat sangat ketar ketir hanya karna Faza kelelahan. Dari situ Faza kembali sadar bahwa bagaimanapun mamahnya bersikap, mamahnya tetap sangat menyayanginya.
Dengan pelan Sinta membantu Faza menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Begitu sampai dikamar Sinta langsung merebahkan tubuh Faza diatas tempat tidur. Sinta juga membantu melepaskan sepatu yang dikenakan Faza.
“Sebentar, mamah ambil kompres dulu.” Katanya kemudian berlalu.
Faza mengangguk pelan. Sosok yang sangat ingin dilihatnya adalah Zahra karna Faza tidak berpikir mamahnya ada dirumahnya sekarang. Namun begitu masuk kedalam rumah Zahra sama sekali tidak terlihat.
“Apa mungkin Zahra ada ditaman belakang rumah.” Lirih Faza.
Faza meringis. Kepalanya mulai berdenyut ngilu. Perutnya terasa mual dan kedua matanya terasa panas.
Tidak tahan dengan apa yang sedang mendera tubuhnya, Faza pun memilih untuk memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
--------
“Nyonya.. Nyonya..”
Zahra mengeryit ketika mendapati mbak Lasmi yang berlari tergopoh gopoh kearahnya. Seketika rasa khawatir melanda hatinya. Tidak mungkin tidak terjadi apa apa jika mbak Lasmi saja bahkan sampai berlarian menghampirinya.
“Ada apa mbak?” Tanya Zahra begitu mbak Lasmi sampai didepan-nya.
“Itu nyonya.. Tuan.. Tuan nyonya..” Jawab mbak Lasmi dengan napas tersendat sendat.
Kedua mata Zahra langsung membulat. Pikiran pikiran buruk langsung menguasainya.
Zahra bangkit dari duduknya mencampakkan majalah begitu saja majalah yang sedang dibacanya.
“Kenapa dengan mas Faza?” Tanya Zahra. Dadanya mulai bergemuruh. Rasa takut langsung menguasai hati juga pikiran-nya.
“Tuan.. Tuan sudah pulang nyonya.. Tapi..” Mbak Lasmi kembali memotong ucapan-nya karna napasnya yang belum normal setelah berlarian dari halaman rumah sampai ketaman belakang.
“Tapi apa mbak? Mas Faza baik baik aja kan?” Tanya Zahra tidak sabaran.
“Tuan.. Tuan terlihat tidak baik baik saja nyonya.. Dan nyonya Sinta membawanya keatas. Mungkin ke kamar.”
Begitu sampai didepan anak tangga pertama Zahra sudah ngos ngosan. Sejak memasuki usia tujuh bulan kandungan-nya, Zahra memang gampang sekali kelelahan.
“Ya Tuhan.. Mas..”
Seolah tidak perduli dengan keadaan-nya sendiri, Zahra pun mulai menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan Faza berada. Mbak Lasmi bilang Faza dibawa kelantai dua oleh Sinta. Dan Zahra ingin melihat bagaimana keadaan suaminya sekarang. Zahra takut sesuatu yang tidak di inginkan menimpa suaminya.
“Apa apaan kamu Zahra?!”
Zahra terkejut ketika tiba tiba dirinya berpapasan dengan Sinta. Zahra menatap Sinta yang terlihat seperti baru saja menangis.
“Mamah.. Bagaimana mas Faza mah.. Mas Faza mana?”
Bukan-nya menjawab pertanyaan Zahra, Sinta justru terlihat marah. Wanita itu menatap tajam pada Zahra yang ngos ngosan menatapnya.
“Kamu mau membahayakan cucuku Zahra?” Tanya nya penuh penekanan.
__ADS_1
Zahra menggelengkan kepalanya. Sinta salah mengartikan maksud tindakan-nya lagi.
“Mah mbak Lasmi bilang mas Faza sudah pulang dan terlihat nggak baik baik aja. Zahra cuma mau lihat bagaimana keadaan mas Faza sekarang. Tolong mamah mengerti.”
Sinta berdecak. Kondisi Faza memang sangat lemah sekarang.
“Tapi tidak harus berlarian menaiki tangga begini Zahra. Harusnya kamu sadar. Kamu sedang hamil besar. Tindakan kamu ini bisa membahayakan cucu mamah.” Marah Sinta.
“Ya mah.. Zahra minta maaf.”
Sinta menghela napas kemudian merangkul bahu Zahra.
“Lain kali kalau cari asisten rumah tangga yang sigap. Jangan yang klemar klemer kaya si Lasmi itu.” Ujar Sinta pedas sambil membantu Zahra menaiki satu persatu anak tangga dengan pelan.
“Makasih ya mah.. Maaf Zahra selalu merepotkan mamah.”
“Bagus kalau kamu menyadari hal itu.”
Zahra memilih diam dan tidak lagi menyauti ucapan Sinta. Begitu sampai di anak tangga terakhir, Sinta kembali mengingatkan untuk Zahra pelan pelan melangkah menuju kamarnya kemudian turun kelantai bawah untuk mengambil kompres.
Zahra melangkah dengan masuk ke dalam kamarnya. Zahra mengabaikan apa yang dikatakan Sinta karna merasa sangat khawatir akan kondisi suaminya sekarang.
Tangis Zahra pecah begitu melihat Faza yang sedang berbaring diatas tempat tidur dengan kedua mata terpejam. Zahra segera melangkah mendekat pada Faza.
“Mas...”
Mendengar suara lirih bergetar istrinya Faza pun perlahan membuka kedua matanya. Bibir pucat Faza melengkung kebelakang membentuk sebuah senyuman saat menatap Zahra yang berdiri disamping tempatnya berbaring.
“Sayang...” Lirih Faza sambil merentangkan kedua tanganya memberi kode pada Zahra agar segera memeluknya.
Zahra menggeleng dengan cucuran air mata yang membasahi kedua pipinya. Wanita itu segera memeluk tubuh kekar Faza. Panas langsung dapat Zahra rasakan begitu Faza membalas pelukan eratnya.
“Jangan menangis sayang.. Aku hanya sedikit lelah..” Bisik Faza mengusap lembut punggung Zahra.
Zahra mulai terisak. Suaminya kelelahan karna bekerja mencari nafkah untuknya. Faza bahkan sampai rela kurang istirahat demi bisa memenuhi segala kebutuhan mereka dari sekarang dan mungkin untuk kedepan-nya dimasa mendatang.
Zahra melepaskan diri dari pelukan Faza kemudian mengecek suhu tubuh Faza dengan menempelkan punggung tangan-nya dikening dan leher Faza.
__ADS_1
“Kamu demam mas...” Lirih Zahra dengan suara bergetar.
“Ya.. Mungkin karna aku terlalu merindukan kamu sayang..” Faza terus mengembangkan senyuman dibibirnya agar tidak membuat Zahra semakin khawatir padanya.