
“Pokonya aku nggak suka ya cara kamu kali ini Zahra..”
Zahra mencebikkan bibirnya mendapat omelan dari suaminya yang sedang mengobati luka ditelapak tangan-nya. Luka yang memang Zahra buat sendiri demi bisa membuat Loly terlihat bersalah dimata Sinta.
“Awhhh.. Pelan pelan dong mas.. Ini perih banget...”
“Tadi saat kamu sayat sendiri tangan kamu pake pecahan vas bunga itu nggak perih kan? Kenapa sekarang baru ngrasain sakit?”
Zahra tidak bisa menjawab. Zahra pikir tadi tidak ada siapa siapa yang melihat apa yang dilakukan-nya selain Loly. Tapi ternyata Faza juga melihatnya dan sekarang Faza mengomel seperti emak emak yang kehilangan sapu ijuk kesayangan-nya.
“Udah. Besok nggak usah ngerjain apa apa dulu. Setidaknya sampai luka itu sembuh.” Ujar Faza sambil membereskan obat obat yang baru saja digunakan-nya untuk mengobati luka ditelapak tangan Zahra dan memasukan-nya kedalam kotak P3K.
Zahra menatap balutan rapi perban ditelapak tangan-nya. Zahra tau Faza marah karna mengkhawatirkan-nya.
“Mas...” Panggil Zahra menatap Faza yang sibuk membereskan kotak P3K.
“Hemm...”
Zahra tersenyum. Suaminya memang sangat tampan. Tidak heran banyak yang menyukainya termasuk Loly yang terlalu berharap bisa menarik perhatian Faza.
“Aku cinta banget sama kamu. Makasih yah, udah mau obatin luka ditangan aku.”
Faza tersenyum mendengarnya. Pria itu menutup kotak P3K yang baru saja digunakan-nya kemudian meletakan-nya diatas kasur disampingnya duduk.
“Sekarang saatnya kamu membalas apa yang baru saja aku lakukan.”
Zahra mengeryit.
“Jadi mas nggak ikhlas nolongin aku tadi?” Tanyanya dengan ekspresi yang mulai terlihat kesal.
“Well didunia ini tidak ada yang gratis sayang. Aku hanya meminta jatahku sebagai laki laki yang katanya sangat kamu cintai ini.”
Faza meraih kedua bahu Zahra dan mendorongnya dengan lembut hingga akhirnya Zahra berbaring diatas tempat tidur.
Faza tersenyum menatap Zahra yang hanya diam saja dibawahnya. Dari dulu menyentuh Zahra adalah sesuatu yang sangat Faza tahan juga nantikan. Dan sekarang Zahra berada dibawahnya dan Faza bisa dengan leluasa menyentuh Zahra tanpa takut berdosa.
“Mas aku...”
“Sshhhttt...”
__ADS_1
Faza menempelkan jari telunjuknya dibibir Zahra menyuruh agar istrinya diam saja.
“Jangan menolakku sayang...” Bisik Faza.
Perlahan Faza mulai menurunkan wajahnya mendekat pada wajah Zahra yang begitu pasrah dibawah kungkungan tubuh kekarnya. Faza tidak bisa mengelak. Menyentuh setiap inci tubuh Zahra sudah menjadi candu untuknya yang jika satu malam saja terlewat Faza merasa kurang bisa menikmati istirahat malamnya.
“Aku mencintai kamu Zahra... Hanya kamu dan akan selalu kamu yang berada didalam hidupku sampai nanti bahkan mungkin sampai aku mati.”
Faza kembali membisikan kata romantis yang berhasil membuat Zahra seperti tersihir sebelum akhirnya bibir mereka menyatu.
--------
Di pagi menjelang siang ini Sinta tampak sangat tidak semangat. Sinta bahkan memarahi bibi yang sempat salah membuatkan sarapan untuknya yang memang sedang menjalani program diet.
Wanita berkemeja hitam dengan rok pendek selutut itu benar benar sangat menyayangkan vas bunga kesayangan-nya yang pecah karna Loly.
“Ini telur sama ladanya mah..”
Sinta menoleh mendengar suara Zahra. Wanita itu berdecak. Jika bukan karna Zahra dan Loly mungkin vas bunga kesayangan-nya masih ada didepan-nya sekarang.
Tapi Sinta juga tidak bisa menyalahkan Zahra karna Zahra juga terluka saat membersihkan vas bunga kesayangan-nya yang katanya tidak sengaja dipecahkan oleh Loly.
“Udah sana kamu kerjakan yang lain.” Usir Sinta pada Zahra.
“Kalau mamah butuh apa apa mamah bisa panggil Zahra.” Kata Zahra sebelum berlalu meninggalkan Sinta yang memang sengaja sarapan dipagi yang hampir menjelang siang.
Zahra menghampiri bibi yang sedang mengelap pernak pernik diruang tamu. Hari ini Zahra tidak mengerjakan apapun karna tidak mau mendapat omelan dari suaminya, Faza. Meskipun sebenarnya Sinta menyuruhnya untuk ini dan itu namun ada bibi yang dengan senang hati membantunya mengerjakan semua yang Sinta suruh pada Zahra secara diam diam.
“Bi...” Panggil Zahra mendekat pada bibi.
“Eh iya non.. Ada yang bisa bibi bantu?”
Zahra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Saya cuma mau tau tentang vas bunga kesayangan mamah yang pecah semalam itu.”
Bibi menganggukan kepalanya mengerti kemudian mulai menceritakan sejarah tentang vas bunga kesayangan majikan-nya itu.
Zahra mendengarkan-nya dengan seksama sampai akhirnya muncul sebuah ide diotak cantiknya.
__ADS_1
“Makasih ya bi untuk cerita panjang lebar tentang vas bunga kesayangan-nya mamah itu. Kalau begitu saya pergi dulu.”
Zahra berlalu dari hadapan bibi dengan senyuman yang terukir dibibirnya. Zahra merasa mulai menemukan titik bagaimana cara meluluhkan hati mamah mertuanya itu.
Zahra berlari menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya tanpa memperdulikan Sinta yang sempat marah melihat tingkah kekanak kanakan-nya.
Begitu sampai dikamar, Zahra langsung menghubungi Tina untuk meminta bantuan pada sahabatnya itu. Zahra juga tidak lupa menelepon Faza guna meminta izin keluar sebentar bersama Tina yang memang selalu siap untuk membantunya.
“Kita ngapain kesini Ra?”
Tina merasa bingung setelah mereka sampai ditempat yang dimaksud oleh Zahra. Tina mengedarkan pandangan-nya keseluruh sudut ruangan toko yang dipenuhi dengan berbagai macam bentuk vas bunga itu.
Zahra tersenyum menatap Tina.
“Udah.. Bantuin aku buat cari vas bunga yang paling bagus ditoko ini oke? Kali ini aku bawa ATM mas Faza. Jadi nggak bakal takut kurang uangnya.” Ujar Zahra sambil menunjukan ATM milik Faza yang dipegangnya.
“Oke oke.. Yang suaminya pak manager teladan.”
Zahra tertawa mendengarnya. Mereka berdua kemudian mulai melihat lihat semua ragam bentuk vas bunga ditoko itu sampai akhirnya keduanya sepakat memilih vas bunga berukuran sedang dengan bentuk klasik yang terlihat begitu mewah dan berkilau seperti berlian.
Zahra sangat berharap mamah mertuanya mau menerima vas bunga pemberian-nya sebagai ganti dari vas bunga kesayangan Sinta yang dengan sengaja dibanting oleh Loly.
“Kita ngapain dulu nih Ra? Jangan langsung pulang ya.. Aku masih kangen nih sama kamu.”
“Iya kita nggak langsung pulang deh... Kita makan ice cream aja yuk?”
“Ide bagus tuh. Yuk?”
Zahra dan Tina memilih untuk menikmati ice cream dikedai pinggir jalan. Mereka mengobrol ringan yang disertai dengan candaan.
“Jadi sekarang kamu ikut mas Faza kamu tinggal bareng kedua orang tua dan adiknya?” Tanya Tina.
Zahra menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Tina. Saat sedang menyuapkan sesendok ice cream kedalam mulutnya, pandangan Zahra tidak sengaja mengarah pada seseorang yang sangat tidak asing bagi Zahra.
“Papah..” Gumam Zahra yang juga didengar oleh Tina.
Tina ikut mengarahkan pandangan-nya kearah Zahra memandang dimana sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang.
“Papah? Papah siapa Ra?” Tanya Tina penasaran.
__ADS_1
Zahra menggelengkan kepalanya. Zahra berpikir mungkin dirinya salah lihat.
“Enggak kok Tin.. Enggak papa.” Senyum Zahra.