
Meski sampai detik ini hubungan-nya dan kedua orang tua Faza belum baik, Namun Zahra tetap bertekad akan mengambil hati keduanya mulai dari sekarang. Zahra yakin tidak akan ada usaha yang mengkhianati hasil. Kedua mertuanya adalah orang baik. Mereka hanya belum benar benar mengenalnya saja, begitu pikir positif Zahra pada keduanya.
“Sampai..” Ujar Faza menyadarkan Zahra dari lamunan-nya.
Zahra melepaskan pelukan-nya pada Faza kemudian turun dari boncengan Faza.
“Eemm.. Nanti mungkin aku pulang sedikit telat. Nggak papa kan?”
Zahra diam. Faza tidak mengatakan dengan jujur bahwa dirinya akan pergi kerumah kedua orang tuanya. Tapi Zahra tidak ingin berprasangka buruk. Zahra mencoba untuk terus berpikir positif.
“Iya mas. Nanti aku bisa pulang bareng Tina.” Senyum Zahra menutupi kegundahan hatinya pada Faza.
“Ya sudah. Hati hati pulangnya. Bilang sama Tina untuk tidak ngebut saat membawa kamu.”
“Eemmm.. Ya, mas.”
Zahra menyalimi Faza kemudian berlalu dari hadapan Faza. Ketika hendak masuk kedalam restoran Zahra kembali menolehkan kepalanya pada Faza yang tersenyum manis padanya. Zahra kemudian menghela napas. Zahra terus berusaha menampik pikiran buruknya tentang Sinta, mamah mertuanya.
Zahra masuk kedalam restoran untuk memulai aktivitas sehari harinya seperti biasa.
Sedangkan Faza, pria itu kembali mengenakan helm-nya dan melesat dengan cepat dari depan restoran menuju perusahaan.
“Selamat pagi pak..”
Zahra menyapa Santoso yang pagi itu sedang mengecek kondisi restoran yang masih sepi itu.
Mendengar sapaan Faza Santoso menoleh. Santoso berdecak pelan, enggan menjawab sapaan karyawan-nya itu.
Melihat Santoso yang begitu dingin dan cuek padanya, Zahra pun memutuskan untuk masuk kedalam dan langsung menuju ruang ganti.
Sesaat Zahra diam. Zahra merasa aneh karna Tina belum juga datang padahal jam kerja mereka sebentar lagi akan dimulai.
Satu notifikasi masuk ke ponsel Zahra dan Zahra langsung membuka pesan yang ternyata adalah pesan dari Tina.
“Apa? Dia cuti hari ini buat liburan sama papahnya?”
Zahra terkejut. Selama ini Tina tidak pernah sekalipun libur kerja. Tina selalu disiplin dan enggan mengesampingkan pekerjaan-nya jika bukan karna hal yang penting.
__ADS_1
Zahra menghela napas. Meski tidak tau dengan jelas tapi Zahra tau bagaimana kondisi keluarga Tina yang memang harus terpecah karna perceraian kedua orang tuanya.
“Hem.. Semoga kamu selalu bahagia Tina. Kamu teman yang sangat baik.” Senyum Zahra menatap lagi pesan singkat yang dikirim Tina padanya.
“Oke, saat nya bekerja Zahra. Semangat. Nggak ada Tina bukan berarti kamu sendiri.” Senyum Zahra membatin.
Saat Zahra memasukan ponsel miliknya kedalam tas, rekan kerjanya yang lain masuk. Mereka menyapa Zahra dengan ramah sebelum kemudian mengganti bajunya dengan seragam pegawai restoran itu dan mulai bekerja dengan kompak.
“Ra, nanti anaknya pak Santo mau dateng. Seperti biasa ya.. Kamu yang ajak dia main biar nanti kerjaan kamu aku yang handel.” Ujar siska teman kerja Zahra selain Tina.
Zahra diam. Sejak dirinya menikah Santoso tidak pernah lagi menyuruhnya untuk mengajak putranya main saat datang ke restoran. Santoso bahkan melarang putranya mendekat pada Zahra beberapa saat lalu.
“Tapi...”
“Ra, kan kamu tau sendiri pak Santo selalu mempercayakan Nadeo sama kamu. Dan Nadeo juga sepertinya sangat nyaman kalau sama kamu. Takutnya kalau sama aku nanti dia nangis dan pak Santo pasti akan sangat marah.”
Zahra berdecak dan menghela napas. Nadeo memang sangat pintar, baik, juga menggemaskan. Bocah tampan yang masih duduk bangku Taman Kanak Kanak itu juga sangat penurut dan tidak banyak tingkah.
“Ya udah kalau gitu.” Senyum Zahra akhirnya.
“Oke kalau begitu. Lebih baik kamu makan siang dulu Ra. Mumpung Nadeo belum dateng dan Restoran juga tidak terlalu ramai pengunjung.”
Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Ah ya Ra, si master abis bikin menu baru. Dan kita semua disuruh cobain menu barunya. Tapi usahakan jangan sampai pak boss tau ya..” Beritahu Siska.
Zahra mengeryit namun akhirnya tertawa.
“Oke oke...”
Zahra kemudian pergi kedapur untuk menemui Anton sang master chef yang memang selalu menjadi kebanggaan Santoso sebagai chef handal kepercayaan-nya.
“Master, mana bagian ku?” Tanya Zahra begitu berada didepan Anton yang sedang sibuk melihat buku menu ciptaan-nya.
“Ah ya... Aku sudah menyisakan-nya khusus untukmu.”
Anton meraih sepiring ikan tuna yang diolah sedemikian lezatnya sebagai menu baru yang dia ciptakan kemudian menyodorkan-nya pada Zahra.
__ADS_1
“Ini. Jangan lupa berikan kritik dan saran-nya sebelum aku masukan kedalam buku ini..” Ujar Anton sambil menunjukan buku yang sedang dipegangnya.
“Tidak masalah. Terimakasih. Kalau begitu aku makan dulu.”
“Oke.” Angguk Anton.
Zahra kemudian berlalu dari hadapan Anton untuk memakan makan siang dengan menu baru yang diciptakan oleh Anton.
Tidak lama setelah Zahra makan siang, Nadeo datang dengan supir pribadinya. Bocah yang masih berusia lima tahun itu langsung menanyakan keberadaan Zahra pada Santoso yang saat itu menyambut dengan hangat kedatangan-nya.
“Mana kak Zahra ayah?”
Senyuman dibibir Santoso langsung memudar mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh putra bungsunya.
“Emm.. Nadeo, kamu main diruangan ayah saja. Kak Zahra sedang sibuk bekerja. Jadi kamu jangan ganggu dia. Oke?”
Nadeo mengeryit. Bocah itu terlihat kebingungan. Pasalnya beberapa bulan belakangan ayahnya selalu saja mempunyai alasan menghalanginya bertemu dan bermain dengan Zahra.
“Apa ayah sedang marah pada kak Zahra? Kenapa selalu menghalangi Nadeo untuk bermain dengan kak Zahra?”
Santoso tergagap. Putranya memang sangat pintar membaca gerak gerik ataupun ekspresi seseorang. Nadeo juga bisa dengan mudah menebak jika Santoso sedang bertengkar dengan istrinya.
“Eem... Bukan, bukan begitu.”
“Kalau begitu tolong izinkan Nadeo bermain dengan kak Zahra ayah.. Nadeo kangen sama kak Zahra. Kami sudah lama tidak main bersama.”
Santoso menghela napas. Jika terlalu keras melarang Santoso takut Nadeo akan menceritakan sikapnya pada sang istri yang pasti akan memicu pertengkaran.
“Bagaimana Ayah? Di izinkan tidak?” Tanya Nadeo menuntut.
Santoso tersenyum. Kecerdasan putranya benar benar diatas rata rata teman sebayanya. Nadeo juga bisa bersikap layaknya remaja yang memiliki sikap dewasa dan bijak dalam menghadapi masalah. Hal yang memang sering membuat Santoso bingung sendiri.
“Baiklah. Tapi jangan lama lama ya.. Ingat untuk belajar dan mengerjakan PR mu.”
“Ayah tenang saja. Nadeo sudah mengerjakan PR tadi saat dalam perjalanan kesini. Dan juga Nadeo sudah membaca ulang mata pelajaran yang diberikan miss Dora.” Senyum Nadeo menjawab.
Santoso tersenyum. Dirinya sudah tidak punya lagi alasan untuk melarang putranya bermain terlalu lama dengan Zahra.
__ADS_1