
Setelah Loly pulang, Zahra segera mengajak suaminya untuk makan malam. Zahra merasa sangat bersalah pada suaminya karna tidak menyadari bahwa suaminya sedang sangat kelaparan saat menemani Loly menangis tadi.
“Aku minta maaf banget mas.. Tadi aku terlalu fokus sama Loly. Aku kasihan banget sama dia..”
Faza tersenyum dengan mulut mengunyah makanan. Faza memaklumi jika memang istrinya sampai tidak menyadari hal tersebut. Karna sejujurnya Faza juga merasa ikut bertanggung jawab kalau memang benar Loly menangis karena Fadly, adiknya.
“Iya.. Nggak papa sayang.. Lagian juga masa kita tinggalin Loly makan pas dia lagi nangis begitu. Kan Loly juga pasti akan menolak kita ajak makan pas lagi nangis tadi.” Senyum Faza memahami maksud Zahra.
“Tapi kamu tadi...”
“Sshhtt... Aku nggak papa sayang..” Faza menyela dengan lembut. Faza tidak ingin Zahra merasa bersalah terus terusan padanya. Faza juga nggak mau jika sampai Zahra mengungkit tentang dirinya yang terpaksa melahap bolu kentang yang masih panas demi mengganjal perut untuk menghilangkan rasa laparnya. Itu cukup memalukan menurut Faza.
Zahra tersenyum. Untung Faza bisa sabar dan mengerti dirinya.
“Tapi mas.. Aku nggak nyangka kalau memang Fadly berbuat demikian pada Loly..” Ujar Zahra mulai membicarakan tentang masalah Loly dan Fadly.
Faza menghela napas. Pria itu menelan sisa makanan dalam mulutnya kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.
“Fadly pergi keluar kota hari ini..”
“Ya mas.. Loly juga cerita tentang itu. Dan lucunya kata Loly Fadly datang menemui Mona sekretarisnya semalam hanya untuk mengatakan tentang kepergian-nya hari ini. Tapi sama Loly, dia nggak bilang apa apa. Dihubungi juga tidak ada respon. Mengirim pesan pun hanya dibaca tanpa ada balasan.”
Kedua mata Faza sedikit melebar. Faza tau siapa Mona. Loly memang sangat dekat dengan wanita itu.
“Fadly mendatangi Mona semalam?” Tanya Faza tidak percaya.
“Ya.. Loly bilang begitu sambil menangis tadi sebelum kamu sampai mas..” Jawab Zahra menganggukan kepalanya.
Faza tampak berpikir. Padahal Faza berpikir selama ini Fadly benar benar serius mendekati Loly.
“Yang membuat aku sedikit ragu adalah ucapan Loly yang katanya Fadly hanya memberikan harapan padanya tanpa status yang jelas mas..”
Faza menelan ludahnya. Aneh rasanya jika Fadly melakukan itu tanpa alasan. Tapi jika dilihat dari kedekatan keduanya Faza bisa merasakan bahwa Fadly mempunyai rasa yang tulus pada Loly.
“Sudahlah sayang, kamu nggak perlu mikirin apapun tentang Fadly dan Loly.. Yang kamu harus pikirin itu adalah kesehatan kamu dan anak kita. Untuk urusan Fadly aku akan membereskan-nya nanti.” Senyum Faza.
Zahra ikut tersenyum. Masalah hubungan Fadly dan Loly memang Zahra tidak perlu ikut campur. Namun sebagai sesama wanita Zahra tidak mungkin tidak merasakan apa yang Loly rasakan.
__ADS_1
“Sudah, makan lagi sayang..” Perintah Faza lembut.
Zahra menganggukan kepalanya kemudian kembali melahap makanan yang ada didepan-nya. Meskipun sebenarnya pikiran Zahra masih tertuju pada hubungan Loly dan Fadly.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Faza pun membersihkan dirinya. Sedangkan Zahra, dia memilih untuk bersantai sendirian di balkon kamarnya sembari menunggu Faza yang sedang membersihkan dirinya.
Zahra mendongak menatap bintang yang bertaburan dilangit gelap malam ini. Perlahan seulas senyum terukir dibibir Zahra.
Ketika Zahra hendak memejamkan kedua matanya tiba tiba ponsel miliknya berdering. Zahra menolehkan kepalanya dan meraih ponsel tersebut.
Zahra mengeryit ketika mendapati nomor baru yang tertera dilayar ponselnya. Sesaat Zahra diam. Entah kenapa Zahra tiba tiba berpikir mungkin yang menelepon-nya sekarang adalah Santoso.
“Kok nggak di angkat sayang telepon-nya?”
Suara Faza membuat Zahra tersentak. Zahra menatap Faza yang tampak sangat tampan dan terlihat fresh setelah membersihkan dirinya.
“Aku nggak tau ini nomor siapa mas...” Ujar Zahra pelan.
Faza mendudukan dirinya disamping Zahra kemudian mengambil alih ponsel itu dari tangan Zahra. Nomor itu memang tanpa nama dilayar ponsel istrinya.
“Biar aku yang angkat yah..” Katanya meminta izin pada Zahra.
Faza kemudian segera mengangkat telepon tersebut. Namun Faza tidak langsung bersuara. Faza ingin tau siapa yang berada diseberang telepon.
“Halo Zahra...”
Faza mengeryit. Itu suara Aries. Tidak mau membuat kakak iparnya salah mengartikan maksudnya Faza pun kembali menyerahkan ponsel itu pada Zahra.
“Kenapa mas?” Tanya Zahra pelan.
“Ssshhhtt.. ini kak Aries..” Bisik Faza sepelan mungkin.
Zahra menganggukan kepalanya mengerti. Zahra kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya dan mulai menyapa Aries kemudian mengobrol hangat.
Sementara Faza, pria itu fokus dengan perut besar Zahra. Faza mengusapnya dengan lembut dan tertawa sendiri saat merasakan tendangan yang begitu keras ditangan-nya.
----------
__ADS_1
Ditempat lain tepatnya dihotel tempat Fadly menginap dikota bandung, Fadly berdiri menatap langit mendung malam ini. Langit itu tampak gelap tanpa cahaya bintang ataupun bulan yang menghiasi langit.
Fadly menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan. Entah kenapa sejak sampai dibandung bahkan sejak masih dibandara Fadly terus memikirkan Loly. Fadly juga sampai tidak fokus saat bekerja siang tadi karna bayangan Loly yang tersenyum begitu nyata dipandangan-nya.
“Apa ini? Apa aku benar benar menyukai Loly?”
Terkadang rasa bimbang memang menggoyahkan keyakinan Fadly untuk menghancurkan Loly. Apa lagi jika sudah mengingat bagaimana Loly yang begitu sangat lucu saat merajuk. Rasanya Fadly merasa rindu.
“Enggak enggak.. Aku nggak boleh suka sama Loly.. Aku nggak boleh bodoh.. Loly bukan perempuan yang baik. Loly sudah menghancurkan kepercayaan mamah ke aku..” Gumam Fadly meyakinkan hatinya untuk tetap meneruskan niat awalnya.
“Huft.. Lebih baik sekarang aku tidur.”
Fadly kemudian berlalu dari balkon dan masuk kedalam kamar hotel tempatnya menginap.
Saat hendak membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, tiba tiba ponsel miliknya berdering. Fadly berdecak kemudian meraih benda pipih itu.
Fadly mengeryit ketika mendapati kontak Mona yang tertera dilayar ponselnya. Fadly merasa aneh karna tiba tiba Mona menelepon-nya. Padahal saat Fadly datang kemarin malam Mona sepertinya begitu enggan dekat dekat dengan-nya.
Fadly tersenyum miring. Itu pasti Loly yang menghubunginya menggunakan nomor Mona.
“Baik baik.. Sepertinya ini akan lebih menyenangkan..” Senyum Fadly kemudian mengangkat telepon tersebut.
“Halo.. Mona...”
Fadly berusaha berbicara selembut mungkin saat menyapa Mona. Fadly sangat yakin yang akan dia dengar bukan suara Mona, melainkan suara Loly.
“Fadly.. ini aku.. Bukan Mona..”
Fadly menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Dugaan-nya sama sekali tidak meleset. Yang terdengar benar benar suara Loly, bukan suara Mona.
“Oh.. Kamu...”
“Ya.. Kenapa tidak mengangkat teleponku? Kenapa tidak bilang kalau hari ini kamu pergi ke bandung? Kenapa juga kamu lebih memilih menemui Mona dari pada aku kemarin malam?”
Fadly tertawa mendapat serentet pertanyaan penuh tuntutan dar Loly. Pria itu benar benar tidak menyangka Loly bisa begitu gampang dia tipu.
“Loly.. Aku merasa tidak perlu menjawab satupun pertanyaan kamu.. Dan sekarang aku capek, mau istirahat.”
__ADS_1
Fadly langsung memutuskan sambungan telepon-nya setelah berkata. Dan ponsel miliknya kembali berdering beberapa kali namun tidak Fadly hiraukan.
“Haha.. Dasar perempuan tidak tau malu.”