PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 185


__ADS_3

Loly sangat marah bahkan sampai melempar ponsel milik Mona ke sembarang arah hingga benda pipih itu hancur.


Mona yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Mona sudah menduga dari awal kedekatan Fadly dan Loly bahwa semua itu pasti akan merugikan Loly. Dan sekarang terbukti, Loly marah bahkan sampai menangis karna Fadly yang tidak memperdulikan-nya.


“Brengsek kamu Fadly !!” Teriak Loly kesal.


Mona tidak tau harus bagaimana sekarang. Loly terlihat sangat kalut sekarang.


“Nona saya...”


“Diam !!” Bentak Loly menatap tajam pada Mona.


“Kamu sama saja. Kamu penghianat Mona !!”


Mona menggelengkan kepalanya. Mona benar benar tidak tau apa apa. Bahkan yang memberikan nomornya pada Fadly adalah Loly sendiri.


“Nona saya tidak tau apa apa tentang ini... Saya..”


“Kamu saya pecat. Keluar kamu dari ruangan saya..” Sela Loly dengan penuh penekanan.


Mona menghela napas. Tidak ingin membuat Loly semakin marah padanya, Mona pun menuruti kemauan Loly keluar dari ruangan Loly.


“Hhh.. Sudah aku duga, pak Fadly hanya mempermainkan Nona Loly saja.” Gumam Mona kemudian mendudukan dirinya dikursi kerjanya.


Mona sebenarnya sudah merasakan firasat itu sejak pertama melihat Fadly dan Loly bersama. Selain karna Loly yang terlalu memperbudak dirinya sendiri, Fadly juga terlalu menuntut agar Loly selalu mengikuti kemauan-nya dengan cara halusnya yang tentu di artikan lain oleh Loly.


Mona ingin mengingatkan Loly tapi tidak berani hingga akhirnya perusahaan yang sering Loly abaikan mengalami krisis dan membuat Mona harus mengadukan semuanya pada kedua orang tua Loly.


Tidak lama setelah Mona mendudukan dirinya dikursi pintu ruangan Loly terbuka memunculkan Loly yang melangkah dengan cepat melewati Mona begitu saja.


Melihat itu Mona langsung bangkit dan mengejar langkah Loly yang begitu cepat.


Dalam waktu singkat Mona sudah kehilangan jejak Loly. Mona masuk kedalam lift untuk menyusul Loly. Dan begitu sampai dilantai dasar gedung perusahaan itu Mona melihat Loly yang keluar melewati pintu kaca utama dari gedung tersebut.


“Nona.. Aku mohon jangan berbuat sesuatu yang tidak tidak...” Mona membatin sembari terus melangkah bahkan sedikit berlari mengejar Loly.

__ADS_1


Langkah Mona mengundang perhatian dari para karyawan lain-nya. Mereka semua bertanya tanya melihat Mona yang mengejar Loly.


Mona berdiri merentangkan kedua tangan-nya didepan mobil Loly. Ya, Loly sudah bersiap hendak melaju untuk menyusul Fadly ke bandung.


Kesal dengan apa yang Mona lakukan, Loly pun kembali keluar dari mobilnya.


“Minggir atau aku tabrak kamu Mona.” Tekan-nya menatap Mona tajam.


“Tidak Nona.. Saya tidak akan menyingkir. Nona harus tenang.. Kita bisa hadapi semuanya bersama. Saya akan selalu ada disamping Nona..” Ujar Mona dengan tatapan sendu pada Loly.


Loly tertawa mendengar apa yang Mona katakan. Saat itu juga hujan turun menyamarkan air mata Loly yang bercucuran keluar dari kedua matanya dan menetes membasahi pipinya.


“Aku tidak butuh kamu Mona.. Kamu penghianat. Kamu dan Fadly..”


Loly menggelengkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu, tenggorokan-nya terasa serat sampai ngilu tidak kuasa mengucapkan kata apapun sekarang.


“Nona.. Nona salah paham.. Apa yang terjadi tidak seperti apa yang ada dipikiran Nona.. Saya dan pak Fadly tidak ada apa apa..” Mona berusaha untuk menjelaskan.


“Bohong !! Kamu bohong Mona.. Kamu sama saja seperti Fadly.. Kamu jahat !!” Teriak Loly ditengah derasnya guyuran hujan.


“Saya berani sumpah demi Tuhan Nona.. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan pak Fadly.. Bukankah Nona sendiri yang memberikan nomor saya pada pak Fadly..?”


Loly menggeleng. Dirinya memang bodoh karna mencintai pria yang salah. Padahal sudah beberapa kali Loly kecewa karna sikap Fadly yang selalu menggantung statusnya.


Perlahan tubuh Loly meluruh ketanah. Loly lemas karna tidak kuat menahan rasa sakit yang menyayat hatinya. Loly merasa sangat tidak berdaya karna perasaan-nya pada Fadly. Dan Loly, dia terduduk ditanah dengan tubuh bergetar didepan Mona.


Tidak tega melihat itu Mona pun membantu Loly bangkit berdiri. Loly sempat menolak dengan menggelengkan kepalanya bahkan memberontak, namun dengan sabar Mona terus membujuk Loly hingga akhirnya Loly mau.


Mona mengajak Loly kembali masuk kedalam mobil dan membantunya duduk dikursi samping kemudi. Mona juga memakaikan seatbelt pada Loly. Setelah itu Mona menutup pintu mobil dan berlari mengitari bagian depan mobil Loly. Mona memposisikan dirinya dikursi kemudi dan mulai melajukan mobil Loly dibawah guyuran hujan lebat berlalu dari depan gedung perusahaan milik keluarga Loly.


Apa yang terjadi pada Loly meninggalkan banyak tanda tanya dibenak para karyawan yang menyaksikan perdebatan berujung tangisan Loly.


“Apa mungkin Nona dan mbak Mona bertengkar karna laki laki?” Begitulah pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh salah satu karyawan yang melihat Loly menangis.


Mona mengendarai mobil Loly dengan kecepatan sedang. Tangisan Loly yang duduk disampingnya membuat Mona ikut menangis tanpa sadar. Loly terlihat sangat rapuh sekarang. Tangisan-nya terdengar sangat memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


“Sakit.. Ini sangat sakit.. Hiks hiks hiks..” Isak Loly memukul mukul dadanya sendiri berharap pukulan itu dapat meredakan rasa sesak yang sedang di alaminya.


Mona melirik Loly yang terus saja menangis. Rasa menggigil mulai Mona rasakan karna tubuhnya yang basah kuyup. Dan Mona yakin Loly juga merasakan-nya karna mereka berdua sama sama basah akibat hujan hujanan tadi.


“Kita pulang kerumah saya saja Nona.. Tuan dan nyonya pasti akan sangat marah jika melihat anda seperti ini..” Ujar Mona yang tidak di perdulikan oleh Loly.


Mona menambah kecepatan laju mobil Loly. Mona tidak ingin Loly kenapa napa jika terus dalam keadaan basah kuyup seperti sekarang.


Tidak lama hujan pun reda. Saat itu juga mereka berdua sampai didepan kediaman Mona yang cukup sederhana.


Mona membantu Loly turun dari mobil dengan memapahnya kemudian mengajak Loly masuk kedalam rumahnya.


“Nona, sebaiknya anda segera membersihkan diri dulu. Saya akan siapkan coklat panas..” Kata Mona sambil memapah Loly menuju kamarnya.


Loly terus saja menangis terisak. Fadly benar benar berhasil menghancurkan hati dan perasaan-nya.


“Tapi Fadly...”


“Nona anda tidak perlu lagi memikirkan pak Fadly.. Yang harus anda pikirkan sekarang adalah diri anda.. Anda harus kuat.. Anda tidak boleh lemah..” Sela Mona pelan.


Loly menggeleng. Semuanya tidak semudah seperti apa yang Mona katakan. Hatinya sudah terisi penuh oleh Fadly dan Loly merasa tidak akan bisa lagi berdiri tanpa Fadly disampingnya.


“Percaya sama saya Nona.. Anda pasti bisa melupakan pak Fadly...”


“Enggak Mona.. Aku harus menemui Fadly.. Aku harus menjelaskan semuanya pada Fadly.. Aku yakin Fadly pasti akan mengerti perasaan aku..”


Mona menelan ludah. Cinta Loly untuk Fadly benar benar sangat besar.


“Kamu mau kan menemani aku menemui Fadly Mona?” Tanya Loly dengan wajah memerah menatap Mona. Kedua mata Loly sampai sembab dan sedikit bengkak karna terlalu lama menangis.


“Mona.. Aku mohon..”


Mona menghela napas kasar. Mungkin memang Loly harus bertemu dengan Fadly secara langsung untuk memperjelas semuanya.


“Baik Nona.. Saya akan menemani Nona..” Angguk Mona kemudian.

__ADS_1


__ADS_2