
Fadly melangkah dengan santai memasuki rumah kedua orang tuanya. Ketika hendak menaiki anak tangga, suara Sinta berhasil menghentikan langkahnya.
“Mamah..” Senyum Fadly langsung menyalimi Sinta yang menatap penuh curiga padanya.
“Kamu kok nggak bilang sama mamah pulang hari ini?” Tanya Sinta dengan tatapan menginterogasi.
“Oh iya mah.. Aku sengaja nggak bilang sama mamah sama papah. Buat kejutan.. Hehehee..” Ujar Fadly diakhiri tawa.
Sinta terus menatap dengan tatapan menuntut penjelasan. Tidak biasanya Fadly seperti itu. Fadly selalu bilang jika sudah dalam perjalanan pulang dari luar kota.
“Kamu pulang sama siapa? Kenapa nggak minta jemput mamah atau papah?”
Fadly tersenyum. Permainan yang dia ciptakan akan segera dimulai.
“Ya.. Loly yang jemput aku mah. Ya udah ya mah aku keatas dulu. Capek banget mau istirahat..”
Fadly kemudian berlalu dari hadapan Sinta. Fadly menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Saat ini menghilangkan kepercayaan Sinta terhadap Sinta adalah rencana awalnya. Fadly tau Sinta pasti akan sangat marah jika tau Fadly dan Loly dekat. Tentu saja karna yang Sinta inginkan adalah Faza bersama Loly.
“Maafin aku mah.. Tapi mamah harus tau bagaimana Loly yang sebenarnya..” Gumam Fadly dalam hati.
Sementara Sinta, dia terus menatap punggung Fadly yang semakin jauh darinya. Sinta benar benar tidak paham kenapa bisa Loly yang menjemput Fadly dibandara bukan dirinya atau suaminya.
“Aku harus kasih tau ini ke papah..” Gumam Sinta pelan.
Sinta berlalu dari depan tangga untuk mencari ponselnya dan menghubungi suaminya. Sinta benar benar tidak bisa membiarkan Fadly dan Loly dekat apa lagi jika sampai mempunyai hubungan khusus. Bagi Sinta yang pantas bersama Loly adalah Faza. Sedangkan Fadly, tentu saja Sinta akan mencarikan yang lain yang pantas dengan-nya.
--------
Disisi lain Faza baru saja sampai dihotel tempatnya akan menginap. Pria itu menghela napas saat memasuki kamarnya. Ruangan itu sangat mewah dan luas. Fasilitasnya juga sangat memadai dengan sambutan yang begitu baik.
Tiba tiba Faza teringat pada Zahra. Faza yakin Zahra pasti akan sangat senang sekali jika bersamanya sekarang. Sayangnya Faza tidak bisa mengajak Zahra karna dirinya datang bukan untuk berlibur, tapi untuk bekerja. Faza tidak mau Zahra sampai merasa terabaikan karna dirinya yang akan sangat sibuk dengan pekerjaan-nya nanti.
Faza mendudukan dirinya ditepi ranjang. Pria itu mengeluarkan ponsel dalam saku celananya berniat menghubungi istrinya. Namun ketika ponselnya sudah berada ditangan-nya benda pipih tersebut langsung berdering. Siska menelepon-nya.
__ADS_1
Faza menghela napas lagi disertai decakan pelan. Jika Sinta sudah menghubunginya pastilah itu tentang pekerjaan.
“Halo...” Dengan malas Faza mengangkat telepon tersebut. Berharap apa yang akan Siska katakan bukanlah tentang jadwal pekerjaan-nya selama berada di Amerika.
“Halo pak.. Maaf mengganggu. Tapi sejak dipesawat anda sama sekali memakan apa apa. Apa saya perlu membelikan anda makanan?”
Faza memijit keningnya pelan. Faza memang sama sekali tidak nafsu makan. Pikiran-nya terus tertuju pada Zahra yang dia tinggalkan dirumah bersama Nadia dan Aries.
“Nanti saja. Sekarang saya mau istirahat.”
“Baik kalau begitu pak. Kalau anda perlu apa apa anda bisa menelepon saya. Saya ada dikamar disamping kamar anda.”
“Hem.. Ya...”
Faza langsung memutuskan sambungan telepon-nya. Siska adalah sekretaris yang sangat baik juga perhatian. Selain itu Siska juga cantik. Tidak jarang Faza bahkan terpesona dengan kecantikan dan kebaikan-nya. Namun Faza tidak ingin kebablasan. Faza sudah mempunyai Zahra yang sangat dicintainya. Faza juga selalu meyakini bahwa kekaguman-nya pada sosok Siska hanya kerikil kecil yang sedang mencoba menggoyahkan jalan lurusnya dengan Zahra.
Faza merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk berseprei putih itu. Godaan dari Anita bahkan Loly tidak mampu menggoyahkan cintanya pada Zahra. Tapi Siska, hanya karna kebaikan dan perhatian-nya saja Faza bisa mengaguminya.
Faza sadar apa yang dirasakan-nya adalah salah. Dan tidak sepantasnya Faza terus memupuk kegaguman-nya pada Siska yang begitu baik dan apa adanya. Apa lagi jika sedikit saja Zahra sampai tau, semuanya pasti akan berubah begitu saja.
Selama ini banyak wanita wanita cantik disekeliling Faza. Namun mereka semua tidak pernah sedikitpun membuat Faza merasakan apa yang Faza rasakan pada Siska. Satu satunya wanita yang mampu melakukan-nya hanya Zahra saat itu. Tapi sekarang muncul Siska yang bisa begitu mudah membuat hati Faza bergetar dengan kesederhanaan-nya.
“Mending sekarang aku telepon Zahra aja.”
Faza bangkit kembali dari rebahan-nya kemudian kembali melanjutkan niat awalnya untuk menelepon Zahra, istri tercintanya.
----------
“Kamu sudah pulang?”
Fadly yang sedang fokus dengan laptopnya langsung menoleh begitu mendengar suara Akbar, papahnya. Fadly tersenyum kemudian mengesampingkan laptopnya dan langsung menghampiri Akbar untuk menyaliminya.
“Ya pah.. Aku pulang mendadak. Pekerjaanku selesai lebih awal dari yang aku perkirakan.” Senyum Fadly.
__ADS_1
Akbar mengangguk anggukan kepalanya kemudian masuk kedalam kamar putra bungsunya.
“Mamah kamu bilang kamu pulang dianter sama Loly. Apa itu benar?”
Fadly terdiam sesaat. Sinta langsung mengadukan-nya pada Akbar.
“Ya pah.. Loly yang jemput aku dibandara.” Jawab Fadly jujur.
“Kenapa enggak telepon papah saja atau mamah kamu untuk menjemput?”
Fadly diam. Fadly tidak mungkin mengatakan dengan jujur niatnya pada Loly. Akbar pasti akan sangat marah dan melarang Fadly melakukan-nya.
“Aku hanya tidak mau mengganggu pekerjaan papah. Aku juga nggak mau membuat mamah lelah. Jarak dari rumah kita ke bandara lumayan memakan waktu pah..” Ujar Fadly beralasan.
“Oke oke.. papah paham. Tapi sepertinya mamah kamu mengartikan lain itu semua. Mamah kamu mengira kamu sedang menjalin hubungan khusus dengan Loly..”
Fadly tersenyum. Tentu saja mamahnya curiga. Fadly tau yang di inginkan mamahnya adalan Faza yang bersama dengan Loly.
“Papah sih nggak keberatan kamu sama Loly. Karna sejak terus mendekati kamu papah melihat Loly berubah menjadi lebih baik. Apa lagi kalian juga sama sama single. Dari pada Loly terus ngejar ngejar Faza kan?”
“Pah.. Loly itu bukan tipe aku.. Lagian aku juga nggak mungkin kali mau sama perempuan yang penuh dengan sandiwara seperti Loly. Ya meskipun aku juga nggak bakalan biarin Loly merusak rumah tangga kakak dan Zahra..”
Akbar tertawa pelan. Pria itu mendekat pada Fadly yang berdiri didekat pintu kamarnya. Akbar menepuk pelan bahu tegap putra bungsunya.
“Cinta kadang datang karena terbiasa Fadly.”
“Ya pah.. Tapi itu nggak akan berlaku untuk aku pada Loly.” Balas Fadly yakin.
“Baiklah.. Lebih baik sekarang kita makan. Mamah sudah menunggu dimeja makan.” Senyum Akbar menatap putranya.
“Oke pah...” Angguk Fadly.
Keduanya melangkah keluar dari kamar Fadly untuk makan malam bersama karna Sinta yang sudah menunggu dimeja makan.
__ADS_1