PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 179


__ADS_3

Setelah menemui Santoso, Faza langsung pulang kerumah. Dan sesampainya dirumah Faza mendapatkan sambutan hangat dan manja dari istri tercintanya. Faza bahkan juga mendapat ciuman dan pelukan dari Zahra, istrinya.


Meskipun saat berbicara tadi Santoso tetap kukuh dengan pengakuan bahwa dirinya menganggap Zahra sebagai teman, Tapi Faza yakin Santoso pasti tetap akan berusaha mendekati Zahra. Tapi Faza tidak khawatir. Walaupun Santoso menyinggung tentang Siska. Faza akan mengatakan yang sejujurnya pada Zahra jika Santoso sampai mengatakan tentang Siska pada Zahra nanti.


“Mas tumben pulang cepet lagi hari ini...”


Faza tersenyum sambil membalas pelukan Zahra dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya pekerjaan-nya masih banyak. Namun pikiran-nya setelah bertemu dengan Santoso menjadi tidak karuan. Dan satu satunya yang bisa membuat pikiran tenang adalah bertemu dan bercanda bersama istrinya menurut Faza.


“Ya sayang.. Aku kangen sama kamu..” Bisik Faza mesra.


Zahra ikut tersenyum mendengarnya. Wanita itu kemudian melepaskan pelukan-nya dan mendongak menatap Faza yang juga sedang menatapnya.


“I Love you..” Ungkap Faza.


“I Love you to..” Balas Zahra.


Keduanya kemudian sama sama tertawa sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk naik ke lantai dua dimana kamar mereka berada.


Begitu berada didalam kamarnya, Faza segera membersihkan dirinya sebelum bersantai dibalkon sembari menikmati udara segar sore itu dibalkon kamarnya bersama Zahra.


“Sayang...” Panggil Faza yang sedang memeluk mesra Zahra dari belakang.


“Ya mas...” Saut Zahra.


Zahra memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan lembut tangan besar suaminya diperut besarnya.


“Aku sudah menemukan nama yang menurut aku cocok untuk putra kita.” Ujar Faza membuat Zahra langsung membuka kedua matanya.


Zahra memutar pelan tubuhnya menghadap pada Faza. Kedua matanya langsung mengarah tepat pada kedua mata Faza yang begitu lembut menatapnya.


“Oh ya? siapa namanya mas?” Tanya Zahra penasaran.


“Namanya... Fahriza putra akbar. Bagaimana? Apa kamu suka?”

__ADS_1


“He'em...” Senyum Zahra menganggukan kepalanya antusias.


“Apa artinya mas?”


Sesaat Faza terdiam. Fahriza berarti jujur, baik, rendah hati, juga bijaksana. Faza menamai anaknya dengan nama Fahriza adalah agar setiap seorang menyebut nama putranya itu bisa menjadi do'a agar putranya senantiasa menjadi orang yang jujur. Paling tidak putranya tidak mengikuti sikapnya juga papahnya yang pernah berkhianat dengan kata cinta yang selalu didewakan.


“Fahriza itu artinya jujur sayang.. Aku ingin putra kita menjadi pribadi yang baik dan selalu jujur.” Jawab Faza pelan.


Senyuman Zahra semakin lebar mendengar arti dari nama yang hendak diberikan pada putranya setelah lahir nanti.


“Arti nama yang bagus. Semoga nama itu bisa menjadi do'a ya mas..” Katanya.


“Ya..” Angguk Faza setuju.


Zahra kemudian kembali berhambur memeluk Faza erat. Meskipun hubungan mereka sampai saat ini masih belum mendapat restu dari Sinta, namun Zahra tetap sabar menanti. Yang terpenting adalah Faza yang selalu ada disampingnya dan setia dengan kisah cinta yang sudah sangat lama mereka rajut bersama.


Sedangkan Faza, pria itu memejamkan kedua matanya berharap tidak ada satupun sikap buruknya yang menurun pada putranya. Mulai dari sikap malasnya, egoisnya, bahkan ketidak jujuran-nya. Faza bukan menuntut kesempurnaan pada putranya. Faza hanya berusaha meminta pada sang pencipta agar putranya menjadi pribadi yang baik. Dan lewat Zahra, Faza percaya. Zahra pasti akan bisa dengan baik mendidik putranya nanti.


“Ah ya mas.. Aku mau cerita sama kamu.”


“Apa?”


“Ini tentang Tina dan Reyhan.”


Faza semakin merasa penasaran. Yang Faza tau Tina dan Reyhan tidak saling tau satu sama lain.


“Memangnya kenapa dengan mereka berdua?”


Zahra tersenyum kemudian mengajak untuk Faza duduk dikursi dengan Zahra yang beringsut masuk kedalam dekapan hangat Faza. Dan Zahra mulai menceritakan semuanya dengan Faza yang begitu penuh perhatian mendengar setiap apa yang keluar dari mulut istri tercintanya itu.


Faza juga terkejut dan tidak menyangka Reyhan dan Tina sudah saling mengenal bahkan jauh sebelum Reyhan menjadi asisten sekaligus sekretarisnya.


“Kenapa semuanya terasa begitu sangat kebetulan ya mas..”

__ADS_1


Faza tertawa pelan. Satu kecupan Faza daratkan dipuncak kepala Zahra.


“Tidak ada yang kebetulan didunia ini sayang.. Semuanya sudah rencana Tuhan.”


Zahra menganggukan kepala setuju. Apa yang Faza katakan memang benar. Rencana Tuhan selalu paling indah dari rencana apapun yang manusia rangkai. Begitu juga dengan pemikiran Zahra tentang hubungan-nya dengan Faza yang tidak kunjung mendapat restu dari Sinta. Zahra memang sempat hampir putus asa, namun kemudian Zahra kembali yakin karna Zahra percaya Tuhan menyayanginya. Tuhan pasti sudah merancang rencana yang jauh lebih indah dari rencana yang Zahra dan Faza pikirkan.


 -----------


Setelah mengirimkan nomor Mona pada Fadly, Loly merasa tidak tenang. Pikiran pikiran buruk bahkan sering membuatnya mempunyai prasangka tidak baik pada Mona, sekretarisnya sendiri.


“Nona, apa ada yang salah dengan saya?” Tanya Mona pada Loly yang sedari tadi terus mencuri curi pandang kearahnya.


Loly menelan ludahnya. Loly sebenarnya ingin menanyakan pada Mona apakah Fadly menghubunginya atau tidak. Tapi Loly merasa tidak enak. Loly tidak mau Mona menganggapnya yang tidak tidak.


“Tidak, tidak ada.” Jawab Loly dengan tatapan yang terus tertuju pada laptopnya enggan menatap Mona yang berdiri didepan meja kerjanya.


Ya, Mona memang sedang menanti berkas yang harus ditanda tangani oleh Loly.


Mona merasa ada yang aneh dengan Loly hari ini. Karena sejak pagi Loly selalu menatapnya dengan tatapan curiga padanya.


Loly mulai tidak konsen dengan pekerjaan-nya sekarang. Apa lagi dengan keberadaan Mona didepan-nya sekarang. Loly kemudian meraih map berisi berkas yang sedang ditunggu oleh Mona dan segera menandatanganinya.


“Ini, kamu boleh keluar dan kembali bekerja.” Ujar Loly sambil menyodorkan map merasa berisi berkas yang baru saja dia tanda tangani.


“Terimakasih Nona. Kalau begitu saya permisi.” Mona tersenyum kemudian segera melangkah berlalu keluar dari ruangan Loly.


Loly menghela napas gusar setelah Mona keluar dari ruangan-nya. Loly benar benar tidak mengerti dengan apa yang sedang dirasakan-nya sekarang. Loly menjadi tidak percaya pada Mona, sekretarisnya sendiri hanya karena Fadly yang meminta nomor Mona secara langsung padanya.


“Ya Tuhan.. Tolong hilangkan prasangka buruk ini dari hatiku..” Gumam Loly sambil mencengkram rambut tergerainya sendiri.


Loly mulai merasa tidak waras sekarang. Fadly selalu berhasil mengacaukan hati juga pikiran-nya. Pria itu membuat Loly bahagia saat bersama namun juga bisa membuat Loly curiga setiap saat jika sehari saja Fadly tidak membalas pesan singkat yang Loly kirimkan.


Loly merasa sangat tidak biasa dengan semua itu. Perasaan-nya sekarang benar benar asing. Loly pernah beberapa kali menjalin cinta tapi tidak pernah se-over thingking seperti sekarang pada Fadly. Saat jatuh hati pada Faza saja Loly tidak pernah merasakan hal seperti sekarang.

__ADS_1


“Apa memang aku yang terlalu berharap pada hubungan tidak jelas ini...” Gumam Loly dengan helaan napas pelan.


__ADS_2