
Faza mengeryit saat mendapati istrinya merenung diatas brankarnya. Zahra tampak sangat tidak semangat setelah menyusui buah hatinya.
Merasa penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Zahra, Faza pun perlahan mendekat. Namun sebelum benar benar memposisikan dirinya disamping Zahra, Faza lebih dulu meletakan tubuh putra kecilnya itu didalam box bayi.
“Hey...”
Faza menepuk pelan pundak Zahra membuat segala apa yang sedang mengganggu pikiran Zahra hilang begitu saja karna Zahra yang terkejut.
Zahra berdecak kesal karna apa yang dilakukan suaminya.
“Mas ngagetin aku tau nggak.” Sungutnya dengan wajah tidak bersahabat.
Faza tersenyum geli. Istrinya terlihat semakin menggemaskan jika sedang merajuk padanya.
“Ya deh maaf maaf... Lagian dari tadi aku lihat kamu ngelamun terus.. Makan-nya aku tegur kamu sayang.. Nggak baik loh mamah muda ngelamun sendirian.” Ujar Faza dengan candaan ringan diakhir kalimatnya.
“Ya terus aku kalau mau ngelamun harus izin atau bahkan aku ngajak kamu buat ngelamun bareng begitu?”
Faza mengeryit. Zahra tidak menanggapi dengan santai candaan-nya. Nada bicaranya bahkan sedikit meninggi yang membuatnya begitu jelas. Zahra marah.
“Oke oke...” Angguk Faza mencoba untuk memahami istrinya.
“Sekarang coba kamu kasih tau aku kenapa kamu ngelamun hem?” Tanya lembut Faza sambil membelai lembut pipi chuby Zahra.
Zahra menghela napas. Zahra tidak menyangka jika suaminya bahkan tidak peka dan tidak dapat merasakan apa yang sedang Zahra rasakan.
“Mas nggak peka banget sih..”
Tiba tiba saja dada Zahra terasa sangat sesak. Hatinya berdenyut ngilu hingga akhirnya tangis Zahra begitu saja. Zahra merasa sangat terabaikan sekarang. Faza tidak peka dengan sikap Sinta yang begitu cuek dan dingin padanya.
Melihat itu Faza hanya bisa menghela napas pelan. Faza kemudian menarik Zahra kedalam dekapan hangatnya. Faza mengusap usap lembut punggung Zahra yang bergetar karna tangisan-nya.
__ADS_1
“Maafin aku ya sayang.. Aku salah..”
Sebenarnya Faza tidak tau dimana letak masalah juga kesalahan-nya. Faza merasa hari ini baik baik saja. Bahkan kedua orang tuanya sudah datang untuk melihat cucu pertama mereka.
Zahra semakin terisak mendengar kata maaf yang dilontarkan suaminya. Kepalanya menggeleng dengan tubuhnya yang semakin terguncang karna isak tangisnya.
“Kamu jahat mas..” Ucap Zahra dengan tersendat sendat karna isakan-nya.
Faza hanya diam dan terus mengusap punggung Zahra mencoba menenangkan istrinya lewat sentuhan dan pelukan hangatnya.
“Kamu nggak peka.. Huhuhu..”
Bukan-nya tenang dan berhenti menangis, tangisan Zahra justru semakin hebat dan kencang. Beruntung putra mereka sudah kenyang dan begitu lelap dalam box bayinya sehingga tidak terganggu dengan suara isak tangis Zahra.
Faza mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya. Tangisan Zahra menggambarkan tentang kesakitan yang amat sangat. Faza bisa merasakan kesedihan istrinya lewat isakan memilukan tersebut.
Hampir setengah jam menangis, Zahra pun akhirnya tenang dalam dekapan hangat Faza. Kini Faza bahkan sudah berbaring setengah duduk bersama Zahra diatas brankar.
“Sayang...” Panggil Faza lembut.
Faza melepaskan dekapan hangatnya kemudian menangkup kedua pipi chuby Zahra. Faza menundukan kepalanya menatap tepat pada kedua mata sembab istrinya.
“Aku minta maaf kalau hari ini aku buat kamu sedih.. Tapi sayang, aku minta sama kamu untuk selalu mengatakan apapun beban dihati kamu sama aku.. Kamu baru saja melahirkan sayang.. Aku nggak mau kamu setres dengan apa yang mengganggu pikiran kamu. Aku akui aku memang tidak peka. Jadi aku mohon.. Katakan apapun yang mengganggu hati dan pikiran kamu jika aku tidak tanggap..” Ujar Faza lirih.
Zahra menelan ludah membalas tatapan dalam Faza padanya. Dari tatapan itu Zahra bisa melihat betapa suaminya sangat takut akan reaksinya yang menangis secara tiba tiba tadi.
“Mamah..”
Faza mengeryit.
“Kenapa dengan mamah hem?” Tanya Faza penuh dengan perhatian pada Zahra.
__ADS_1
Air mata Zahra kembali menetes namun dengan lembut segera di seka oleh Faza menggunakan jempol tangan-nya.
“Mamah nggak menganggap aku mas.. Mamah bahkan tidak menanyakan apapun padaku..” Lirih Zahra dengan suara bergetar penuh kesakitan.
Faza mendesis. Sekarang Faza tau penyebabnya. Mamahnya memang saat datang sama sekali tidak menanyakan apapun tentang Zahra. Mamahnya hanya fokus dengan putra mereka.
“Aku nggak tau salah aku dimana.. Aku selalu berusaha untuk menerima semuanya mas.. Tapi mamah tetap saja seperti itu sama aku.. Padahal mamah ingin cucu laki sudah terlaksana. Anak kita lahir tanpa kurang satu apapun kan? Dia sehat, dia tampan. Bahkan mamah mengakui itu. Lalu dimana lagi kurangnya? Dimana kesalahan-nya sehingga mamah bahkan untuk menatap aku saja nggak sudi.”
Zahra kembali menangis terisak saat mengeluarkan unek unek dalam hatinya. Mendapat perlakuan tidak baik sejak menikah dengan Faza dari Sinta membuat Zahra merasa sangat tertekan. Meski sering kali Zahra merasa optimis bahwa semuanya pasti akan indah pada waktu yang sudah Tuhan tentukan, tapi bagaimanapun keyakinan-nya itu Zahra tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan rasa sakit.
Faza mengangguk anggukan kepalanya dengan kedua mata berkaca kaca. Faza mengerti. Faza memahami bagaimana perasaan istrinya. Faza juga tau menjadi seorang Zahra tidaklah mudah. Apa lagi Zahra juga harus sangat sabar menghadapinya yang kadang sangat egois itu.
“Kamu nggak salah sayang.. Kamu nggak salah.. Aku tau aku nggak bisa lagi mengatakan kamu untuk sabar.. Tapi aku mohon demi anak kita.. Tetaplah bertahan disampingku.. Jangan pedulikan yang lain.. Aku mencintai kamu dan akan terus mencintai kamu sampai napas ini berhenti..”
Pada akhirnya keduanya sama sama menangis dan kembali berpelukan. Awal kisah mereka menjalin hubungan memang sudah mendapat tentangan dari Sinta. Tapi keteguhan hati mereka berdua membuat mereka sepakat dan nekat untuk terus menjalin hubungan meskipun Sinta tidak pernah merestuinya. Apa lagi saat keduanya mendapat dukungan penuh dari Fadly, Aries juga Nadia. Itu membuat keduanya semakin bahwa kisah cinta mereka akan terus terjalin indah. Sedikitpun mereka berdua tidak pernah membayangkan Sinta akan terus menentang hubungan-nya bahkan sampai Zahra melahirkan cucu pertama untuknya.
“Kita sama sama bertahan ya sayang.. Aku yakin kita pasti bisa.. Kita pasti bisa melalui semua ini.. Suatu saat mamah pasti akan menyadari bahwa kamu adalah menantu yang terbaik.” Bisik Faza kemudian mengecup lama puncak kepala Zahra dengan kedua mata terpejam.
Sakit itu bukan hanya Zahra yang merasakan kali ini. Tapi juga Faza. Karna bagaimanapun hubungan mereka tercipta karna rasa cinta yang sama sama tumbuh dihati mereka berdua. Cinta yang seiring berjalan-nya waktu semakin besar hingga akhirnya membuat mereka sepakat untuk menikah meskipun tanpa restu dari Sinta.
“Sudah jangan nangis lagi yah.. Kamu harus selalu tersenyum.. Sekarang ada Fahri. Kita harus bisa menjadi contoh yang baik untuk anak kita..”
Faza melepaskan pelukan-nya kemudian mengusap dengan lembut air mata yang membasahi kedua pipi chuby Zahra.
“Iya mas..” Angguk Zahra menurut.
“Senyum dong..” Pinta Faza.
Zahra tertawa kemudian mengangkat tangan-nya. Zahra menyeka air mata yang juga membasahi pipi suaminya.
“Kamu juga jangan nangis lagi ya mas..” Ledeknya.
__ADS_1