PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 46


__ADS_3

Acara pesta pertunangan Anita berlangsung sangat meriah. Anita menutupi kesakitan dan kekecewaan-nya melihat kebersamaan Faza dan Zahra dengan senyum manis.


Anita yakin keputusan-nya saat ini memang yang terbaik. Baginya lebih baik dirinya yang tersakiti dari pada harus menyakiti orang lain dengan menjadi perusak hubungan harmonis penuh kasih milik orang lain, yaitu Faza dan Zahra.


“Pak Faza...”


Faza yang sedang menikmati hidangan yang disuguhkan langsung menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Begitu juga dengan Zahra.


“Anita...”


Faza diam sesaat. Diam diam Faza melirik Zahra memastikan mood istrinya tidak berubah dengan mendekatnya Anita pada mereka berdua.


“Zahra..” Sapa Anita yang mengenakan gaun warna putih tulang panjang yang membentuk lekuk tubuh langsingnya.


Zahra tersenyum tipis kemudian mengedarkan pandangan kearah lain. Rasa mindernya kembali ketika berhadapan langsung dengan Anita yang langsing dan tinggi semampai. Zahra merasa seperti anak SD sekarang. Begitu pendek sendiri.


“Terimakasih kalian sudah menyempatkan waktu untuk datang ke acara saya.”


Anita menatap Faza dan Zahra bergantian.


“Ya..” Angguk Faza dengan senyuman tipis dibibirnya.


“Ah ya pak Faza, perkenalkan ini tunangan saya. Rasya Attaya Renaldi.”


Pria berpenampilan formal yang berdiri disamping Anita mengulurkan tangan-nya pada Faza yang tentu langsung dijabat oleh Faza.


“Saya tau siapa anda pak Faza. Andai saja anda bukan milik Astra grup saya pasti akan memenjarakan anda diperusahaan saya.” Ujar Rasya dengan candaan-nya.


Anita ikut tertawa mendengarnya. Rasya memang pria yang gampang akrab dengan siapapun.


“Anda terlalu memuji saya Tuan Renaldi.” Tawa Faza.


Zahra menyipitkan kedua matanya. Entah kenapa melihat kedua mata Rasya rasanya Zahra seperti tidak merasa asing.


“Ya sudah, selamat menikmati hidangan yang ada ya pak Faza, Zahra. Kami permisi mau menyapa tamu yang lain.” Kata Anita.


“Oh ya.. Silahkan.”


Anita dan Rasya kemudian berlalu dengan Anita yang melingkarkan tangan-nya dilengan Rasya. Keduanya sungguh terlihat serasi. Anita yang cantik dan terlihat begitu sempurna, dan Rasya yang begitu tampan dengan balutan tuxido hitamnya.


Tidak sampai pesta selesai Zahra sudah mengeluh capek dan mengantuk membuat Faza merasa tidak tega dan akhirnya mengajak Zahra pulang.


“Mas...” Panggil Zahra ketika sudah berada didalam taxi.


“Ya sayang..”


“Aku merasa tidak asing dengan tunangan Anita. Rasanya aku seperti pernah melihatnya.”

__ADS_1


“Ya... Mungkin kamu melihatnya di TV atau dimajalah. Pak Rasya itu adalah pengusaha muda dengan prestasi gemilang. Keluarga Renaldi memang sudah tidak diragukan lagi kemampuan-nya dalam berbisnis. Bahkan negara juga mengakui itu.”


Zahra menganggukan kepalanya.


“Apa sekaya itu keluarga Renaldi?”


“Ya.. Mereka sangat kaya. Tapi mereka juga sangat rendah hati.” Angguk Faza tersenyum menatap istri tercintanya.


“Sayangnya segala sesuatu didunia ini memang tidak akan ada yang sempurna. Pak Renaldi dan istrinya memilih untuk berpisah dan menjalani hidup mereka masing masing.”


Zahra terdiam. Mungkin apa yang dikatakan oleh Faza benar. Zahra pernah melihatnya di TV atau dimajalah.


Tidak lama kemudian taxi yang mereka tumpangi sampai dijalan yang tidak jauh dari kediaman sederhana mereka. Zahra melepaskan sepatu hak tingginya karna merasa tidak mampu untuk melangkah lagi. Ya, Zahra memang tidak biasa mengenakan hills.


“Kok dilepas?” Tanya Faza.


“Pegel mas..” Jawab Zahra dengan wajah sendu.


Faza tersenyum kemudian mengambil alih sepasang hills yang ditenteng Zahra.


“Aku gendong mau?” Tanyanya.


Zahra tersenyum dan segera menganggukan kepala dengan sangat antusias. Jarak rumah mereka memang sudah tidak jauh lagi. Tapi Faza tidak mau jika sampai telapak kaki istrinya terkena batu kecil atau mungkin pecahan beling.


“Ayo...”


Faza berjongkok didepan Zahra yang langsung naik dengan senang hati kepunggung lebar suaminya.


“Enggak kok. Biasa aja.”


“Beneran? Padahal aku makan-nya banyak loh mas.”


“Sebanyak apapun kamu makan, aku tetap bakal kuat gendong kamu sayang..”


“Ah yang bener.. Nanti aku gendut protes kamu mas.” Zahra berkata dengan bibir manyun.


“Enggak dong..”


“Huuuu.. Dasar perayu ulung.”


Faza hanya tertawa saja. Pria itu melangkah pelan menuju halaman rumah mereka yang sudah mulai terlihat. Menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kesederhanaan bersama Zahra adalah fase baru yang Faza rasakan. Fase dimana tidak hanya ada kebahagiaan didalamnya. Tapi juga haru, sedih, bahkan hiasan pertengkaran.


Zahra turun dari gendongan Faza begitu sampai didepan pintu. Zahra merogoh tas dengan warna senada dengan gaun-nya meraih kunci dan segera membuka pintu rumahnya.


“Mas, boleh tidak aku tanya sesuatu?”


Faza mengeryit.

__ADS_1


“Apa?”


“Tentang mamah, boleh aku tau apa saja yang dia suka? Aku berpikir mungkin aku perlu sedikit usaha untuk meluluhkan hati mamah.” Ujar Zahra menatap Faza yang terlihat terkejut dengan penuturan-nya.


“Tapi Ra..”


“Mas.. Kalau aku diam saja tanpa usaha sama saja aku tidak berjuang. Aku ingin mamah merestui hubungan kita. Karna dengan begitu kebahagiaan kita akan semakin terasa lengkap.” Sela Zahra pelan.


Faza diam. Meluluhkan hati mamahnya tidaklah mudah. Apa lagi sekarang mamahnya mulai kembali gencar mendekatkan-nya dengan Loly.


--------


Ditempat lain Tina sedang melamun di balkon kamarnya. Malam ini Tina memang pulang kerumah orang tuanya guna menemani sang kakak yang sudah berada ditempatnya melakukan pesta pertunangan dengan Anita.


Tina memang tidak datang karna kurang menyukai keluarga Anita yang memandang segala sesuatunya dari harta.


Jika saja Tina berani mengemukakan pendapatnya tentang perjodohan kakak nya, Tina pasti akan menolaknya dengan sangat keras. Tapi sayangnya sang bunda tidak menanyakan padanya.


Deringan ponsel dalam saku piyama hitamnya membuat Tina menghela napas. Tina merogoh dan meraih benda pipih itu melihat siapa yang menelpon-nya.


Senyum Tina mengembang saat mendapati kontak sang papah tertera di layar ponsel miliknya. Tanpa berpikir panjang Tina segera mengangkatnya.


“Halo pah..”


“Kamu dimana Tina? Papah mencarimu dari tadi.”


Tina tersenyum. Papahnya pasti mengira dirinya juga datang kepesta pertunangan Rasya dan Anita.


“Aku nggak dateng ke hotel pah..”


“Apa? Kenapa?”


Tina menghela napas. Bunda nya saja memaklumi ketidak datangan-nya begitu juga dengan Rasya, kakak satu satunya.


“Hanya sedikit malas.”


“Malas? Hanya itu?”


Tina tertawa pelan. Tidak enak sekali rasanya jika Tina jujur dan mengatakan tidak menyukai tunangan sang kakak.


“Sekarang kamu dimana? Biar papah jemput kamu. Kita jalan jalan sebentar.”


Senyum Tina langsung mengembang. Papahnya memang selalu mengerti dirinya akhir akhir ini.


“Aku dirumah bunda pah..”


“Oke, papah akan sampai dalam waktu 10 menit.”

__ADS_1


“Aku tunggu.” Senyum Tina sebelum sambungan telepon itu berakhir.


Tina segera bersiap. Tina meraih cardigan rajut dan mengenakan-nya kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah rumah berlantai dua itu untuk menunggu sang papah yang akan datang untuk mengajaknya jalan jalan.


__ADS_2