
Zahra menatap bingung pada Faza yang terus saja menguap dan mengucek kedua matanya yang sedikit memerah. Faza bahkan sudah beberapa kali bolak balik kamar mandi hanya untuk membasuh wajahnya.
“Mas, kamu masih ngantuk ya?” Tanya Zahra penasaran.
Faza terkekeh pelan kemudian menganggukan kepalanya.
“Ya.. Semalam aku tidak bisa tidur dengan tenang.” Jawabnya jujur.
“Kenapa? Apa ada masalah?” Tanya Zahra lagi.
Faza menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika Faza mengatakan yang sebenarnya tentang kekhawatiran-nya terhadap Santoso dan Zahra.
“Tidak.. Aku insomnia semalam sayang..” Jawab Faza pelan dan penuh kelembutan.
Zahra menyipitkan kedua matanya menatap tidak percaya pada Faza.
“Kamu serius? Nggak lagi bohong kan?” Tatap Zahra penuh selidik.
Faza tertawa pelan. Untuk saat ini mungkin menyembunyikan segalanya adalah yang terbaik untuk Faza.
“Tentu saja...” Jawab Faza mantap.
Zahra menghela napas kemudian. Wanita itu meraih handuk basah yang tadi digunakan Faza saat mandi. Kebiasaan buruk Faza kembali terulang kali ini, yaitu meletakan handuk basah diatas tempat tidur.
Melihat itu Faza meringis. Dulu Zahra sering sekali mengomel panjang lebar jika melihat handuk basah terletak diatas tempat tidur. Tapi kali ini Zahra tidak marah. Zahra hanya mengambil handuk putih itu kemudian menyampirkan dengan rapi ditempatnya.
“Tumben nggak marah sayang...”
Zahra berdecak kemudian mendekat kembali pada Faza yang berdiri disamping tempat tidur mereka.
“Kalau kamu kaya dulu tiap hari naruh handuk basah diatas kasur ya aku pasti bakal ngomel terus kaya dulu.”
Faza tertawa geli. Dulu Zahra memang sering sekali ngomel karna kebiasaan buruknya yang baru Zahra ketahui setelah mereka menikah.
“Ya udah deh iya maaf.. Nggak ngulangin lagi yang kaya dulu deh.” Senyum Faza menatap Zahra.
“Iya deh.. Percaya..” Balas Zahra.
“Cium dong..” Pinta Faza menunjuk bibirnya sendiri.
__ADS_1
Zahra mencebikkan bibirnya. Zahra tau apa maksud suaminya itu. Faza jika sudah menciumnya akan sangat sulit dibujuk untuk melepaskan.
“Eemm.. Mas ciumnya nanti saja dibawah. Mending sekarang kita sarapan. Aku udah laper banget ini.” Ujar Zahra beralasan.
Faza mengerucutkan bibirnya menatap Zahra. Dengan sangat terpaksa Faza menyetujui ajakan istrinya untuk turun dan sarapan.
Selesai sarapan, Zahra mengantar Faza sampai depan rumahnya. Zahra benar benar memberikan ciuman dibibir Faza meskipun hanya sekilas sebelum Faza masuk kedalam mobilnya.
“Hati hati..” Senyum Zahra sambil melambaikan tangan-nya.
“Ya sayang...” Balas Faza kemudian segera melajukan mobilnya berlalu keluar dari pekarangan rumahnya.
Faza kembali menguap saat dalam perjalanan menuju perusahaan tempatnya bekerja. Sebisa mungkin Faza tetap berusaha untuk fokus dan mengalahkan rasa kantuknya hingga akhirnya Faza sampai diparkiran perusahaan meski dalam waktu yang lebih lama dari biasanya.
“Huh.. Semangat Faza. Jangan ngantuk. Semangat buat istri dan anak kamu.” Senyum Faza bergumam menyemangati dirinya sendiri.
“Selamat pagi pak...” Sapa seorang OB yang baru saja memasukan kresek berisi sampah kedalam tempat sampah.
“Ya.. pagi..” Balas Faza tersenyum tipis kemudian masuk kedalam gedung perusahaan-nya.
Beberapa kali Faza mendapat sapaan dari para karyawan yang tentu saja Faza balas dengan ramah. Ketika hendak masuk kedalam lift Faza berpapasan dengan Siska.
Sesaat Faza diam namun akhirnya tersenyum tipis dan bersikap seperti biasanya pada Siska kemudian segera masuk kedalam lift. Kini rasa itu sudah benar benar hilang dari hatinya. Siska tidak lagi terlihat mengagumkan dimatanya.
“Sadar Siska.. Kamu sudah punya pacar. Dan pak Faza, pak Faza sudah punya istri.” Batin Siska dengan helaan napas.
Siska menatap kearah lift. Wanita dengan setelan serba hitam itu kemudian berlalu dari tempatnya berdiri. Siska yakin perasaan-nya pada Faza hanya perasaan semu karna sering bersama. Siska juga yakin, lambat laun perasaan-nya pasti akan berubah. Perasaan-nya untuk Faza pasti akan hilang seiring dengan berjalan-nya waktu.
Berbeda dengan Faza yang tetap tenang saat memasuki ruangan-nya. Faza menghela napas kemudian tersenyum merasa sangat lega. Rasa dihatinya benar benar sudah hilang sekarang untuk Siska. Faza sudah tidak lagi merasakan debaran apapun dalam hatinya saat bertatapan langsung dengan Siska tadi.
Ketika hendak mendudukan dirinya dikursi kerjanya, Faza mengeryit mendapati amplop yang terletak tepat diatas laptopnya.
Penasaran dengan isi dari amplop tersebut, Faza pun segera meraih dan membukanya. Faza terkejut ketika membaca surat pengunduran diri dari Anita. Rasanya sangat aneh dan begitu tiba tiba. Faza memang sudah lama tidak mengobrol langsung dengan Anita. Tentu saja karna Faza yang sibuk dengan pekerjaan-nya sendiri. Sehingga setiap Anita ingin menemuinya Faza selalu sedang dalam pekerjaan yang tidak bisa ditunda dan harus lewat Siska yang saat itu adalah sekretaris Faza.
Tidak terlalu ingin tau alasan Anita mengundurkan diri dari perusahaan itu, Faza pun menaruh surat tersebut diantara tumpukan berkas dan memulai pekerjaan-nya hari ini.
---------
“Fadly sebenarnya perasaan kamu ke aku itu bagaimana? Kenapa kamu nggak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan kamu ke aku?”
__ADS_1
Lagi, Loly menuntut kepastian pada Fadly yang sebenarnya memang tidak pernah benar benar tulus menyukainya.
Fadly mendengus kesal. Geram sebenarnya setiap Loly meminta kepastian akan hubungan mereka yang memang dekat sejak kepulangan Fadly dari surabaya.
“Kamu sayang nggak sih sama aku?”
Fadly menoleh menatap kesal pada Loly yang terus menatapnya menuntut kepastian. Fadly sudah bosan dan muak karna harus terus bersandiwara dengan bersikap manis dan romantis pada Loly.
“Loly dengar, aku sedang sibuk sekarang. Jadi tolong kamu kembali ke perusahaan kamu saja. Memangnya kamu nggak kerja hah?”
Loly berdecak kesal. Bagi Loly pekerjaan-nya tidak terlalu penting. Fadly lah bagian terpenting dalam hidupnya sekarang.
“Aku nggak mau.” Tolak Loly melengos kesal.
“Ya sudah. Terserah.” Ujar Fadly tidak perduli.
Fadly kemudian fokus kembali dengan gambar yang sedang dia teliti. Fadly tidak ingin pekerjaan-nya sampai terganggu hanya karna tuntutan seorang Loly.
“Nyebelin banget sih.” Gerutu Loly dengan bibir mengerucut.
Deringan ponsel dalam tas kecil Loly membuat Fadly melirik sekilas. Fadly menghela napas berusaha untuk mengabaikan Loly yang berada disampingnya.
“Mommy...” Gumam Loly ketika mendapati kontak mommy nya yang tertera dilayar ponselnya.
“Eemm.. Fadly sebentar, aku angkat telepon dulu.” Ujar Loly kemudian bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Fadly yang sama sekali tidak perduli dengan apapun yang Loly katakan.
“Halo mom...”
“Pulang kamu sekarang Loly !!”
Loly terkejut ketika tiba tiba mommy nya berbicara dengan nada tinggi padanya. Loly menoleh pada Fadly sebentar.
“Mom tapi aku..”
“Mommy bilang pulang sekarang.” Selanya dengan penuh penekanan.
Loly tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tidak biasanya mommy nya bersikap seperti itu padanya. Mommy nya selalu bersikap lembut dan penuh dengan perhatian.
“Mommy dan Daddy menunggu kamu dirumah sekarang.”
__ADS_1
Sambungan telepon diputus begitu saja membuat Loly menghela napas disertai decakan pelan.
“Kenapa pake marah marah sih?” Dengus Loly merasa kesal.