PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 239


__ADS_3

Esok paginya.


“Papah sama Fadly mau kemana? Kenapa rapi sekali? Ini kan hari minggu? Bukan-nya kalian berdua libur?”


Fadly dan Akbar saling menatap sesaat ketika mendengar sederet pertanyaan yang dilontarkan oleh Sinta. Keduanya memang sudah janjian kompak untuk sama sama pergi kerumah Zahra dan Faza. Mereka berniat mengucapkan selamat ulang tahun pada Zahra sekaligus memberikan kado yang semalam mereka berdua beli.


“Eemm.. Jadi begini mah, kemarin kan Zahra ulang tahun. Jadi papah sama Fadly berniat untuk kesana. Kami berdua juga sudah membeli kado untuk diberikan pada Zahra.”


Ekspresi Sinta langsung berubah datar mendengarnya. Wanita itu memang masih belum bisa menerima keberadaan Zahra dalam lingkup keluarganya.


“Ya sekalian lah papah pengin main sama cucu mah. Udah lama juga papah nggak kesana.” Senyum Akbar menambahi.


“Apa keterlambatan pulang kalian semalam juga karna mencari kado untuk dia?” Tanya Sinta yang berhasil membuat suami dan putranya salah tingkah.


Ya, mereka ketahuan berbohong begitu cepat oleh Sinta.


“Mah.. Zahra kan istrinya Faza. Menantu kita. Sudah seharusnya kita memperlakukan dia dengan baik. Memberi kado di ulang tahun-nya bukan hal yang buruk. Ya.. Meskipun memang terlambat. Tapi papah yakin Zahra pasti akan sangat menghargai itu.” Kata Akbar menjelaskan maksud baiknya.


Sinta hanya diam saja. Zahra memang adalah wanita yang mungkin sangat dicintai putra sulungnya. Zahra juga adalah wanita yang sudah mengandung dan melahirkan cucunya. Tapi Sinta merasa hatinya tetap tidak bisa menerima Zahra. Rasa bencinya begitu besar pada Zahra sehingga ego selalu berhasil mengalahkan nuraninya.


Fadly diam diam melirik mamahnya. Fadly yakin mamahnya pasti sangat marah sebenarnya sekarang.


“Tunggu mamah nanti sebentar. Mamah ikut.”


Mendengar itu wajah Akbar langsung sumringah. Akbar merasa sangat bahagia dan berpikir bahwa Sinta berniat mengucapkan ulang tahun juga untuk Zahra.


“Ya mah. Papah dan Fadly akan dengan senang hati menunggu. Jangan kan sebentar, lama juga tidak apa apa.” Antusias Akbar yang berharap istrinya mau menerima Zahra sebagai bagian dari keluarganya.


Tidak hanya Akbar, Fadly juga ikut merasa senang. Fadly juga berharap mamahnya mau menerima kenyataan bahwa Zahra memang adalah wanita yang menjadi pilihan hati Faza, kakaknya.


Selesai sarapan Sinta langsung bersiap. Sedangkan Akbar dan Fadly, mereka tentu dengan setia menunggu Sinta yang sedang bersiap dikamarnya.

__ADS_1


“Semoga saja ini awal dari hubungan yang baik untuk mamah dan Zahra ya Ly.. Papah kasihan sama Zahra karena selalu dipandang sebelah mata sama mamah.” Ujar Akbar saat sedang menunggu Sinta bersama Fadly diruang tamu.


“Ya pah.. Fadly juga berharap begitu.” Balas Fadly yang juga memiliki harapan yang sama seperti papahnya.


Sekitar 20 menit menunggu Sinta pun muncul dengan mengenakan dress, sepatu, juga tas dengan warna senada. Yaitu hitam. Wanita itu tampak semakin terlihat angkuh dengan setelan serba hitamnya. Wajahnya yang masih cantik terus saja ber ekspresi datar tanpa sedikitpun tersenyum pada suami juga putranya.


“Udah mah?” Tanya Akbar bangkit dari duduknya yang di ikuti Fadly.


“Ya.. Ayo kita pergi sekarang.” Jawabnya kemudian melangkah keluar dari rumah lebih dulu dari Akbar dan Fadly.


Akbar menghela napas. Entah kenapa perasaan-nya mulai terasa tidak enak. Ekspresi datar istrinya seolah menggambarkan rasa benci yang begitu kuat pada Zahra.


“Ayo pah..” Ajak Fadly yang di angguki oleh Akbar.


Keduanya kemudian keluar menyusul Sinta yang sudah lebih dulu keluar dari rumah mendahului keduanya.


----------


“Sayang.. Kalau abis melayani suami itu nggak boleh cemberut gitu. Nanti pahalanya dihapus loh sama Tuhan..” Kata Faza sambil menyisir rambutnya yang sudah mulai memanjang didepan cermin.


Zahra yang sedang menyusui Fahri melirik penuh rasa kesal pada suaminya. Pria itu benar benar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Tuhan juga pasti nggak suka lah sama suami yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.” Balas Zahra ketus.


Faza tertawa mendengarnya. Faza memang sengaja melakukan itu. Faza berpikir itu sebagai bonus untuknya karena dirinya sudah menahan hasrat hampir dua bulan lamanya. Dan karena Zahra tidak memberikan-nya, Faza dengan senang hati mengambilnya sendiri.


“Ayolah sayangku yang cantik, imut, walaupun buntek. Aku itu cuma ngambil bonus aku.. Nggak papa dong. Toh Fahri anteng ini..” Faza berusaha membela diri.


Zahra melengos. Malas rasanya jika harus berdebat dengan suaminya yang mempunyai seribu alasan itu.


“Tau ah. Pokonya aku marah sama kamu.” Sungut Zahra.

__ADS_1


Faza menghela napas dengan gelengan kepala pelan. Istrinya memang gampang sekali marah.


Faza melangkah pelan menghampiri Zahra yang duduk ditepi ranjang sambil memangku Fahri yang sedang asik menyusu. Faza kemudian memposisikan dirinya duduk disamping Zahra.


“Sayang.. Kalau kamu keseringan ngambek nanti keriput di wajah cantik dan imut kamu bertambah. Terus nanti tiba tiba kamu jadi tua. Memangnya kamu mau apa baru punya anak satu tapi udah jadi nenek nenek. Kan nggak lucu. Apa kata orang nanti coba. Terus ntar kamu..”


“Stop !! Jangan diteruskan.”


Zahra menutup mulut Faza menggunakan tangan-nya. Zahra tidak mau mendengar apapun yang Faza katakan sekarang. Zahra masih tetap marah karena menganggap Faza sengaja mengerjainya.


Faza tersenyum dibalik bekapan tangan istrinya. Dengan lembut Faza meraih tangan Zahra menurunkan dan menggenggamnya dengan lembut.


“Ya udah iya.. Aku minta maaf ya sayangku.. Aku cuma nggak bisa nahan diri aku tadi.. Kamu kan tau aku tuh cinta banget sama kamu.. Jadi aku nggak bisa melihat kamu polos kaya tadi pagi..”


Mendengar kata “Polos” yang dikatakan Faza membuat wajah Zahra mendadak memanas. Zahra tidak bermaksud menggoda suaminya. Zahra lupa membawa handuk saat mandi dan ketika keluar tanpa sehelai benang pun Zahra mengira suaminya itu masih terlelap. Tapi ternyata Faza sudah bangun dan langsung mendekat saat mendapati Zahra polos tanpa kain apapun. Meskipun memang Faza tetap memperlakukan-nya dengan lembut.


“Lagian bukan-nya kamu juga menikmatinya tadi hem?”


Faza kembali menggoda Zahra sambil mengusap usap punggung tangan Zahra yang tampak sangat kecil dalam genggaman-nya.


“Iiihh.. Kan kamu mah nggak tulus minta maaf nya..” Zahra pura pura merajuk untuk menutupi rasa malunya.


Faza memang benar. Zahra menikmati sentuhan Faza pagi tadi. Zahra bahkan mengerang begitu nikmat tanpa memikirkan putranya yang bisa saja terbangun karena suaranya.


Faza tertawa mendengarnya. Dengan gemas Faza kemudian memeluk tubuh Zahra dari samping. Faza juga mencium gemas pipi chuby Zahra yang membuat Zahra tidak bisa terlalu lama marah padanya.


“Maaf ya sayang...” Ujar Faza pelan.


“Ya udah tapi jangan diulangi lagi ya..” Balas Zahra sambil menyenderkan kepalanya di bahu tegap Faza.


“Hem.. Nggak janji ya sayang..”

__ADS_1


Zahra berdecak namun diam diam tersenyum tanpa sepengetahuan suaminya.


__ADS_2