PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 243


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang Aries katakan padanya Faza semakin yakin dengan keteguhan hatinya sendiri. Faza yakin pilihan-nya mempertahankan Zahra tidak salah. Meski sampai detik ini mamahnya masih juga belum bisa merestui hubungan-nya dengan Zahra. Tapi Faza yakin Tuhan merestuinya. Memilih Zahra sebagai pendamping hidupnya bukanlah sebuah kesalahan dan Faza tau itu.


“Pak Faza..”


Faza tersentak saat Reyhan mengibaskan tangan didepan wajahnya. Seketika semua pemikiran didalam kepalanya buyar. Tentang istrinya Zahra, juga mamahnya Sinta.


“Maaf kalau saya lancang pak. Tapi saya sudah memanggil pak Faza beberapa kali.” Ujar Reyhan merasa lancang karena sudah berani mengibaskan tangan didepan wajah Faza, atasan-nya.


“Ah ya.. Tidak apa apa. Saya hanya sedang sedikit kepikiran dengan sesuatu.” Senyum Faza tipis.


“Apa anda memerlukan bantuan saya pak?” Tanya Reyhan sopan.


Faza tertawa mendengarnya. Reyhan benar benar sangat sigap dalam hal apapun.


“Tidak tidak. Tidak perlu. Kamu fokus saja dengan persiapan pernikahanmu dengan Tina. Ini hanya masalah kecil.” Tolak Faza pelan.


Reyhan menganggukan kepalanya mengerti.


Reyhan memang sedang menyiapkan pernikahan-nya dengan Tina yang tinggal menghitung hari.


“Saya ingin menyerahkan ini pada pak Faza..”


Reyhan mengeluarkan undangan berwarna coklat gelap dari dalam map yang dibawanya. Pria itu kemudian menyodorkan pada Faza yang tentu langsung diterima oleh Faza.


“Saya sangat berharap anda juga bu Zahra bisa datang dan menyaksikan pernikahan saya dan Tina.” Kata Reyhan kemudian.


Faza menatap undangan yang baru diterimanya dari Reyhan. Faza menganggukan kepala dengan senyuman yang terukir dibibirnya.


“Ini tidak harus dengan pasangan saja kan Rey?”


Reyhan tersenyum.


“Tentu saja tidak pak. Anda bisa mengajak siapa saja yang anda mau.”


“Ya.. Saya berencana membawa Fahri nanti.”


Reyhan mengangguk mengerti. Setelah menyerahkan undangan pernikahan-nya pada Faza, Reyhan kemudian pamit undur diri dan berlalu keluar dari ruangan Faza.

__ADS_1


Faza menghela napas kemudian menyimpan undangan tersebut untuk nanti ditunjukan pada Zahra saat sampai dirumah.


“Oke.. Fokus Faza.. Tidak perlu memikirkan apa yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Lakukan saja apa yang menurutmu baik.” Gumam Faza kemudian mulai larut kembali dengan pekerjaan-nya.


Faza tidak bisa menuntut mamahnya untuk menerima Zahra. Begitu juga sebaliknya. Mamahnya tidak bisa menuntut Faza untuk meninggalkan Zahra. Karena Zahra adalah wanita yang memang sejak dulu sudah menjadi pilihan hati Faza. Zahra juga adalah amanah dari sang pencipta untuk Faza jaga dan lindungi dengan segenap jiwa dan raganya. Dan Faza tidak akan sekalipun mengingkari itu.


Sibuk dengan pekerjaan juga bertemu dengan client membuat waktu terasa begitu singkat namun cukup melelahkan untuk Faza. Namun rasa lelah itu selalu terobati bahkan hilang begitu saja jika Faza sudah menatap istri juga anaknya.


Keduanya bak penawar dari segala lelah juga sakit yang Faza rasakan karena sikap mamahnya sekarang. Zahra dan Fahri membuat Faza selalu merasa lengkap.


“Ini undangan dari Reyhan mas?” Tanya Zahra menatap undangan warna coklat itu tanpa menatap pada Faza yang sedang memangku dan menciumi wajah menggemaskan Fahri disofa seberang ranjang.


“Ya sayang.. Reyhan bilang dia sangat mengharapkan kehadiran kita untuk menjadi saksi dalam acara pernikahan-nya dengan Tina.” Jawab Faza menjelaskan apa yang Reyhan katakan padanya siang tadi.


Zahra tersenyum. Tanpa Reyhan mengatakan itupun Zahra pasti akan dengan senang hati datang dan menyaksikan senyum penuh kebahagiaan sahabatnya itu.


“Tapi gaunku sudah tidak ada yang muat mas..” Mendadak ekspresi Zahra berubah sendu. Semua koleksi gaun yang dibelikan Faza memang sudah tidak ada lagi yang muat. Tentu saja karena bentuk bahkan ukuran tubuhnya tidak lagi seramping dulu.


Faza tertawa kemudian mendekat pada Zahra yang sedang duduk ditepi ranjang.


“Nanti kita cari yang baru.. Sekalian cari baju buat Fahri juga. Kita pergi sama sama..” Katanya.


“Ya udah mending sekarang kamu istirahat. Fahri biar sama aku.. Nanti juga dia tidur..”


Zahra menggeleng.


“Nggak mau.. Masa aku tidur kamu urus Fahri sendiri...”


Faza tersenyum.


“Nggak papa sayang.. Kan tadi siang kamu udah capek seharian ngurusin Fahri jadi sekarang gantian. Aku yang ngurusin Fahri terus kamu yang istirahat.”


“Kan kamu juga kerja seharian tadi.”


Faza menghela napas. Rasa lelah dan penat memang selalu dia rasakan. Tapi semua itu langsung sirna jika Faza sudah bersama keduanya.


“Terus kamu maunya gimana?” Tanya Faza dengan lembut.

__ADS_1


“Ya kita istirahat sama sama. Sini biar aku susuin dulu Fahrinya biar bobo..”


“Ya sudah..”


Faza menurut saja dan memberikan Fahri pada Zahra. Pria itu memeluk pinggang Zahra dari samping. Faza menempelkan dagunya dibahu Zahra dengan tatapan yang terarah pada Fahri yang begitu semangat menyusu pada Zahra.


Perlahan lahan Fahri pun memejamkan kedua matanya bahkan dalam waktu kurang dari 10 menit. Sepertinya bayi tampan itu memang sudah mengantuk sejak tadi saat bermain dengan Faza.


“Kamu tau nggak sayang. Kadang aku berpikir semua ini seperti mimpi. Terasa singkat tapi begitu sangat nyata. Dulu aku hanya bisa mengagumi kamu diam diam. Aku bahkan seperti orang bodoh yang rela bolak balik ke toilet dengan berbohong pada pak Sam hanya untuk melihat kamu yang sedang berada didalam kelas saat jam pelajaran berlangsung.”


Zahra tertawa mendengarnya. Faza memang sangat konyol dulu. Bahkan Zahra pernah menilai Faza adalah kakak kelasnya yang paling lebay.


“Tapi aku beruntung karena ternyata Fadly kenal kamu.. Ya.. Meskipun dulu aku sempat cemburu dan mengira Fadly juga menyukai kamu.”


“Ya... Itulah kamu. Selalu memandang segala sesuatu semaunya sendiri. Aku sama Fadly hanya teman sekelas. Tapi jujur, dulu Fadly sangat mengagumkan.”


Faza berdecak.


“Tapi kamu kok sukanya sama aku jadinya?”


“Ya karena memang Tuhan menjodohkan aku sama kamu mas.. Buktinya kita sampai ketahap ini kan?”


Faza tersenyum dan menganggukan kepalanya. Pria itu membelai lembut kening putranya. Bayi itu sangat mirip dengan-nya. Ukuran tubuhnya pun begitu panjang yang jelas mengikuti postur tubuhnya yang tinggi. Tidak seperti Zahra yang begitu mungil.


“Ya.. Dan aku bersyukur dengan apa yang Tuhan takdirkan sama aku.. Aku bersyukur karena kamu mau terus bertahan denganku dengan segala kekurangan yang aku miliki.. Dengan sikap mamah yang sampai sekarang tetap saja seperti itu sama kamu sayang...” Lirih Faza.


Zahra tersenyum.


“Kita sama sama bertahan selama ini mas.. Dan kita harus menikmati semua ini. Aku juga banyak kekurangan yang mungkin sering membuat kamu jengah. Dan kekurangan aku itu mungkin juga yang membuat mamah sampai sekarang belum bisa nerima aku. Tapi nggak papa... Aku yakin suatu saat mamah akan mau nerima aku mas.. Mamah akan sayang sama aku seperti mamah menyayangi anaknya sendiri..”


Faza menghela napas kemudian menganggukkan lagi kepalanya.


“Ya sayang.. Pegang janjiku. Aku akan tetap menjaga dan melindungi kamu juga anak kita bahkan meskipun raga ini sudah tidak ada lagi disamping kamu..”


Zahra menggeleng. Zahra meraih tangan Faza dan menggenggamnya erat.


“Jangan berkata seperti itu mas.. Kita akan selalu bersama.”

__ADS_1


Faza tertawa pelan.


“Ya sayang..” Balasnya kemudian mencium kening Zahra penuh cinta.


__ADS_2