
Loly menatap datar pada Fadly yang sedang melahap makan siangnya. Pada akhirnya Loly harus menyerah dan menerima ajakan Fadly untuk makan siang bersama. Loly tidak mau mengambil resiko gedung perusahaan-nya berantakan karena tingkah ajaib Fadly.
“Fadly, kamu bisa tidak sih enggak usah ngaku ngaku kalau kamu itu calon suami aku. Aku nggak mau nanti orang orang salah paham.”
Fadly berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya mendengar apa yang Loly katakan. Sesaat Fadly menatap Loly dengan sangat serius membuat Loly sedikit menyesal mengatakan-nya.
Fadly menghela napas kemudian tersenyum lebar.
“Kata orang orang ucapan itu adalah do'a. Jadi aku mau mengucapkan sesuatu yang baik baik saja untuk hubungan kita ini.” Ujar Fadly dengan santainya.
Ekspresi Loly langsung berubah. Loly menyipitkan kedua matanya menatap kesal pada Fadly yang sepertinya tidak perduli dengan ucapan ketus yang selalu Loly lontarkan padanya.
“Fadly. Aku benci sama kamu.” Ujar Loly dengan penuh penekanan.
Fadly kembali berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Pria itu menghela napas sekali lagi. Kalaupun memang Loly membencinya Fadly bisa memakluminya. Tentu saja, apa yang pernah Fadly lakukan dimasa lalu pada Loly sangatlah jahat.
“Aku juga pernah membenci kamu. Bahkan sangat. Tapi sekarang aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu malah.”
Loly melengos. Berbicara pada Fadly hanya akan membuatnya kesal sendiri.
“Loly.. Kamu tau kenapa aku masih nekat mendekati kamu?”
Loly tetap membuang muka enggan menjawab apa yang Fadly pertanyakan. Loly sendiri juga tidak tau dengan perasaan-nya. Kadang Loly merasa kesal karena Fadly terus mengejarnya. Tapi Loly juga terkadang takut membayangkan Fadly yang akan berhenti mengejarnya kemudian menyerah dan meninggalkan-nya. Namun meskipun begitu Loly juga tidak ingin luluh begitu saja. Selain Loly ingin tau seberapa kuatnya Fadly berusaha mendapatkan hatinya, Loly juga tidak mau begitu saja tertipu oleh Fadly yang mungkin saja tidak benar benar serius dengan niatnya.
“Tentu saja karena aku yakin bahwa kamu memang jodoh yang Tuhan kirimkan buat aku.” Senyum Fadly melanjutkan ucapan-nya.
Loly menghela napas. Ucapan Fadly benar benar sangat manis.
“Jadi kamu mau makan sendiri atau aku suapin dengan bibir aku?”
Kedua mata Loly membulat sempurna mendengar apa yang Fadly pertanyakan. Entah kenapa Fadly sepertinya memang senang sekali menggodanya.
__ADS_1
“Apaan sih? Nggak lucu tau nggak.” Ketus Loly kemudian meraih sendok dan garpu yang ada disamping kanan dan kiri piring berisi makan siangnya.
“Nggak lucu memang. Tapi romantiskan? kamu juga sepertinya menikmati ciuman aku waktu di hmp..”
Sebelum Fadly menyelesaikan ucapan-nya Loly sudah lebih dulu menyumpal mulut Fadly dengan lalapan yang ada dipiringnya. Dan ekspresi Fadly berhasil membuat Loly tertawa.
Fadly yang melihat Loly tertawa merasa sangat senang. Selama dirinya mengejar Loly, ini kali pertama Fadly berhasil membuat Loly tertawa karena tingkahnya. Dan itu karena selada yang masuk kedalam mulutnya.
“Dasar idiot.” Ejek Loly pada Fadly.
“Tapi kamu suka kan?” Goda Fadly mengedipkan sebelah matanya pada Loly.
“Iihh.. Dasar GR.” Cibir Loly membuat Fadly terkekeh pelan.
Fadly tidak perduli dengan apapun yang Loly katakan. Baginya selama Loly masih sendiri Fadly tidak akan menyerah. Bahkan meskipun kedua orang tua Loly tidak menyetujui dirinya bersama Loly, Fadly akan menghadapinya dengan tenang. Bila perlu Fadly akan bersujud di kaki keduanya untuk meminta maaf atas apa yang sudah Fadly lakukan pada Loly beberapa bulan yang lalu.
Setelah makan siang selesai, Fadly mengantar Loly sampai depan perusahaan. Awalnya Loly menolak. Namun bukan Fadly namanya jika tidak bisa memaksa Loly. Fadly bahkan mengancam akan mencium Loly didepan orang banyak jika Loly tidak masuk kedalam mobilnya.
“Nanti pulangnya aku jemput lagi ya.. Kita kerumah kak Faza. Kamu kangen nggak sama Fahri?”
“Fadly denger ya, kalaupun aku mau bertemu dengan Fahri aku bisa kesana sendiri. Nggak perlu aku nebeng sama kamu. Aku punya mobil sendiri. Dan aku bisa kesana kapanpun aku mau.” Ketus Loly membuat Fadly terkekeh.
Fadly mengangguk anggukan kepalanya. Hubungan Loly dan Zahra memang cukup dekat sekarang. Mereka bahkan sudah seperti sahabat yang sangat dekat meskipun memang Loly jarang ada waktu untuk bermain kerumah Faza dan Zahra.
Perlahan Fadly mendekatkan tubuhnya pada Loly membuat Loly dengan sigap langsung waspada. Loly memundurkan wajahnya saat wajah tampan Fadly bahkan hampir menyundul wajahnya.
“Mau apa kamu? Jangan macem macem ya kamu Fadly.”
Loly menatap penuh waspada pada Fadly malah tersenyum menatapnya.
Cup
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun, Fadly mencium kening Loly dengan sangat lembut. Setelah itu Fadly kembali duduk dengan benar dikursi kemudinya.
“Kamu..”
“Aku tau kamu cuma cinta sama aku Loly. Aku juga yakin sekaya dan sehebat apapun banyaknya laki laki yang mendekat sama kamu, hati kamu akan tetap menuntun kamu ke aku.” Sela Fadly tersenyum begitu tulus pada Loly.
Loly menghela napas kasar. Enggan menyauti apa yang Fadly katakan, Loly segera melepaskan seatbelt dan turun dari mobil Fadly.
Namun tanpa sepengetahuan Fadly, Loly mengulum bibirnya tidak kuasa menahan senyuman karena apa yang Fadly katakan.
Loly kemudian berlalu begitu saja tanpa menyadari tas jinjingnya yang tertinggal di mobil Fadly.
Sementara Fadly yang melihat tas Loly, tertawa pelan. Pria itu meraih tas Loly kemudian turun dari mobilnya bermaksud memberikan tas yang pasti sangat penting untuk Loly.
Saat Fadly sampai di Loby, Fadly melihat Loly yang baru saja masuk kedalam lift. Fadly tersenyum penuh arti kemudian berlari menuju tangga darurat. Fadly bermaksud mencegat Loly tepat didepan pintu lift dilantai dimana ruangan Loly berada.
Fadly begitu semangat berlari menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dimana ruangan Loly berada. Pria itu bahkan sepertinya tidak merasakan capek sedikitpun saking semangatnya.
Begitu Fadly sampai tepat didepan lift, saat itu juga pintu lift terbuka.
Loly yang hendak keluar dari lift terkejut melihat Fadly yang sudah berdiri didepan pintu lift dengan keringat yang menetes dari keningnya. Napas pria itu juga tersengal namun bibirnya terus melengkung memperlihatkan senyuman pada Loly.
“Kamu ngapain disini?” Tanya Loly ditengah keterkejutan-nya karena Fadly yang tiba tiba berdiri didepan lift.
“Ada yang ketinggalan.” Senyum Fadly memperlihatkan tas kecil warna salem milik Loly.
Fadly kemudian menyodorkan tas tersebut. Namun saat Loly hendak menerimanya, Fadly justru menjauhkan tas itu dari jangkauan tangan Loly dan malah menarik tangan Loly membuat tubuh Loly masuk kedalam pelukan-nya.
“Fadly kamu apa apaan sih?” Loly mencoba memberontak dalam pelukan Fadly namun Fadly terus menahan-nya. Fadly bahkan mengecup bahu terbuka Loly dengan sangat lembut dan penuh cinta.
“Sampai nanti ya...” Bisik Fadly kemudian melepaskan Loly.
__ADS_1
Loly menghela napas kasar dan mengambil tasnya dari tangan Fadly. Setelah itu Loly berlalu cepat dari hadapan Fadly menuju ruangan-nya tanpa mengatakan terimakasih lebih dulu.
Fadly tersenyum menatap punggung Loly yang menjauh darinya. Fadly benar benar tidak bisa jauh dari Loly sekarang. Rasanya pria itu ingin selalu berada didekat Loly setiap saat.