PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 282


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.


Sejak Sinta mengusirnya karena membawa serta Zahra datang siang itu Faza tidak pernah lagi menginjakkan kaki dirumah kedua orang tuanya. Zahra pernah beberapa kali menyuruhnya untuk mengunjungi Sinta namun Faza hanya mengiyakan tanpa melakukan-nya.


“Pa pah...”


Faza yang sudah hampir menutup kedua matanya karena mengantuk langsung membuka lebar lebar kedua matanya ketika mendengar celotehan tidak biasa putranya. Saat ini mereka berdua sedang sama sama berbaring dengan posisi tengkurap diatas karpet berbulu didepan ranjang.


“Apa? Coba katakan sekali lagi sayang? Kamu panggil papah?”


Faza sangat antusias bertanya pada Fahri yang malah tertawa. Sekarang usia balita tampan itu sudah hampir memasuki bulan ke 6. Fahri memang sudah pandai berceloteh meski memang belum ada ucapan yang jelas yang keluar dari mulutnya.


“Ayo sayang panggil papah lagi.. Ayo jagoan..”


Mendengar apa yang Faza katakan Fahri malah semakin semangat mengangkat tubuh gempalnya berusaha untuk merangkak.


Balita bertubuh gempal itu bahkan meninggikan suaranya seperti sedang mengatakan pada Faza agar terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan-nya.


Merasa gemas, Faza meraih tubuh Fahri dan mendudukan diatas perutnya dengan posisi Faza yang berbaring terlentang.


“Ayo panggil papah lagi.. Ayo jagoan-nya papah...” Ujar Faza menyuruh Fahri kembali memanggilnya.


Namun bukan-nya menuruti apa yang Faza inginkan, Fahri malah tertawa merasa lucu dengan ekspresi papah tampan-nya itu.


Zahra yang saat itu baru selesai ganti baju dari dalam kamar mandi karena piyamanya yang basah oleh ASI yang merembes ke bajunya saat Fahri menyusu mengeryit mendengar Faza yang terus memaksa agar Fahri memanggilnya dengan sebutan papah.


Penasaran, Zahra pun segera mendekat pada suami juga putranya yang asik tertawa tawa.


“Asik banget main-nya.. Mamah nggak diajak nih?”


Faza menoleh kemudian langsung bangkit dan menggendong Fahri yang masih tertawa tawa karena paksaan-nya.


Faza membawa Fahri mencegat langkah Zahra yang hendak menghampirinya.


“Sayang tadi Fahri panggil aku papah.. Beneran dia panggil papah ke aku sampe ngantuk aku langsung ilang.. Serius..”


Faza memberitahu Zahra dengan sangat serius. Pria itu seperti sangat khawatir Zahra akan tidak mempercayainya.


“Masa sih?” Tanya Zahra pura pura tidak mempercayai apa yang sedang diadukan Faza padanya.

__ADS_1


“Beneran sayang.. Tadi itu Fahri panggil aku papah..”


“Nih denger ya.. Ayo dong jagoan papah yang ganteng panggil papah lagi... Ayo.. Nanti papah beliin mainan baru.. Ayo panggil papah lagi..”


Faza kembali memaksa Fahri agar memanggilnya papah didepan Zahra. Pria itu benar benar sangat bahagia karena untuk pertama kalinya Fahri memanggilnya dengan sebutan papah seperti yang selalu dirinya dan Zahra ajarkan.


“Ma mah..”


Faza merengut. Fahri tidak memanggilnya, tapi malah memanggil Zahra.


“Uuuhh.. Sayangnya mamah.. Sini sini sama mamah.. Mau bobo ya sayang ya?”


Dengan pasrah Faza membiarkan Zahra mengambil alih Fahri yang kemudian membawanya ketempat tidur untuk ditidurkan mengingat sudah waktunya Fahri istirahat malam.


“Mau nen ya sayang ya.. Uuhh.. Pinternya jagoan papah mamah..”


Faza menghela napas. Faza sangat yakin dirinya tidak bermimpi apa lagi salah mendengar. Fahri memanggilnya papah dengan sangat jelas.


Faza melirik pada Zahra yang sedang berusaha menidurkan putra mereka. Perlahan Faza kemudian mendekat dan berbaring disamping kiri Fahri yang sedang menyusu.


Faza meraih tangan Fahri yang langsung menggenggam jari telunjuk Faza dengan sangat erat.


“Kamu gitu banget sih dek sama papah..” Ujar Faza dengan ekspresi sendu.


“Papahnya ngambek tuh dek..” Goda Zahra membuat bibir tipis Faza langsung mencebik.


Fahri yang merasakan kehadiran Faza disampingnya langsung berhenti menyusu pada Zahra. Balita itu menoleh menatap Faza kemudian tertawa.


“Pa pah...” Panggilnya pada Faza dengan suara khas bayinya.


Mendengar itu kedua mata Faza membulat dengan sempurna. Ekspresi sendunya langsung berubah menjadi ekspresi antusias penuh semangat.


“Kan sayang.. Kamu dengarkan tadi? Fahri bisa panggil aku papah?” Tanya Faza pada Zahra dengan sangat semangat.


Zahra tertawa melihat suaminya yang begitu heboh karena Fahri memanggilnya papah. Jelas sekali terlihat pria tampan itu merasa bangga sekaligus bahagia karena mendengar sendiri putranya memanggilnya papah.


“Iya mas.. Aku dengar kok. Sekarang biarkan Fahri tidur dulu. Ini sudah waktunya Fahri istirahat loh..”


“Ah ya ya.. Oke.. Jagoan teruslah panggil papah dengan benar.”

__ADS_1


Zahra hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah heboh suaminya. Dan setelah berkata demikian, Faza pun bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar mereka membiarkan Fahri menyusu kembali pada Zahra agar tertidur dengan tenang.


Faza terus tersenyum karena mendengar dengan jelas Fahri memanggilnya papah. Kebahagiaan-nya bahkan tidak bisa diungkap dengan kata kata sekarang.


“Kak...”


Senyuman dibibir Faza seketika pudar begitu mendengar suara Fadly. Faza mengeryit melihat Fadly yang sudah berdiri dianak tangga pertama dilantai satu rumahnya.


“Fadly..” Gumam Faza kemudian segera menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu dimana Fadly berdiri.


“Kamu datang dari tadi?” Tanya Faza begitu sampai didepan Fadly.


Fadly tersenyum tipis kemudian menganggukan kepalanya.


“Fahri mana kak?” Tanya Fadly kemudian.


“Fahri sudah mau tidur. Eemm.. Kita ngobrol diruang kerjaku saja.”


“Yah...”


Fadly bukan tanpa alasan datang malam malam kerumah Faza. Tentang pertanyaan-nya tadi itu hanya basa basi saja karena Fadly sendiri tau sekarang sudah waktunya untuk balita itu tidur.


“Masalah tentang Loly lagi ya?”


Tanya Faza begitu keduanya sampai diruang kerja Faza. Mereka sudah duduk berhadapan dengan meja kerja Faza yang menjadi pemisah posisi kedua kakak beradik itu.


“Ya kak.. Ternyata nggak enak banget ya cinta nggak direstui itu. Mamah bahkan sekarang juga melarang aku menemui Loly..”


Faza tertawa pelan. Tentang cinta yang tidak direstui Faza merasa sudah kenyang. Apa lagi sampai sekarang juga Sinta masih enggan menerima Zahra sebagai menantunya.


“Lalu bagaimana dengan Loly sendiri?” Tanya Faza yang tidak ingin membuat adiknya semakin terpuruk dengan kisah cintanya.


Mendengar pertanyaan itu Fadly tersenyum. Mereka berdua baru saja menghabiskan waktu bersama meskipun dengan cara sembunyi sembunyi. Baik dari kedua orang tua Loly yang memutuskan menetap di indonesia maupun dari mamahnya, Sinta.


“Loly sudah mulai kembali mau membuka lagi hatinya untukku kak.. Kami bahkan mulai sering bersama lagi.” Jawab Fadly.


“Yah.. Meskipun masih sangat jutek dan ketus.” Lanjut Fadly mengedikkan kedua bahunya.


Faza tertawa mendengarnya. Faza sebenarnya tidak ingin siapapun merasakan apa yang dia rasakan, apa lagi Fadly. Tapi Faza bukan Tuhan yang bisa mengatur segalanya.

__ADS_1


“Selama kalian berdua memang serius menjalani itu, semuanya pasti akan ada jalan keluar.” Kata Faza.


“Yah... Sepertinya aku memang harus berguru padamu kak..”


__ADS_2