PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 114


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Loly bukan-nya menjauh dari keluarga Akbar, namun malah semakin dekat bahkan hampir setiap hari selalu bersama Sinta setiap saat. Loly juga sering makan malam bersama Sinta, Akbar, juga Fadly. Loly bahkan tidak keberatan membantu Sinta masak didapur sampai rela mencuci piring setelah makan bersama.


Hal itu membuat bibi merasa heran. Loly sangat berbeda semenjak pulang dari luar negeri. Loly bahkan sering menolak saat diajak Sinta untuk kerumah Faza dan Zahra.


Berbeda dengan bibi yang terus bertanya tanya, Fadly justru tidak perduli. Fadly bahkan tidak mau lagi ikut campur tentang keniatan Loly mendekati Faza. Fadly sudah sangat muak jika harus berurusan dengan Loly yang dianggapnya wanita munafik.


“Bagaimana kalau besok kita kerumah Faza sayang? Kamu buatin masakan yang enak buat dia ya... Untuk makanan Zahra biar tante aja yang buat.”


Loly meringis mendengar tawaran Sinta. Loly sebenarnya sudah berubah pikiran tapi belum mengatakan-nya pada Sinta. Loly masih berpikir bisa saja dirinya akan kembali mengejar Faza nanti.


“Eemm.. Besok pagi ya tante? Kayanya Loly nggak bisa deh tante. Ada rapat penting besok pagi dikantor. Lain kali aja ya tante..”


Senyuman dibibir Sinta memudar mendengar penolakan Loly. Wanita itu menatap aneh pada Loly yang selalu saja punya alasan untuk menolak saat Sinta mengajaknya kerumah Faza.


“Kamu lagi nggak bohongin tante kan?” Tanya Sinta menatap curiga pada Loly.


Loly tertawa. Loly tidak bohong. Loly memang mencoba fokus dengan perusahaan orang tuanya akhir akhir ini. Loly ingin membanggakan keduanya dengan memajukan perusahaan tersebut.


“Ya enggaklah tante. Masa iya aku bohong sama tante sih.. Akhir akhir ini itu aku memang sedikit sibuk tante. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku tangani sendiri.” Jawab Loly tersenyum manis pada Sinta.


Sinta menghela napas kemudian menganggukan pelan kepalanya.


“Baiklah, tante percaya. Tapi lain kali kamu luangkanlah waktu buat kerumah Faza. Tante bener bener masih berharap kamu yang menjadi pendamping Faza, bukan Zahra.”


Loly tertawa mendengarnya. Loly tidak tau harus menjawab apa. Hatinya masih bimbang antara meneruskan atau menghentikan niatnya mengejar Faza dan menyingkirkan Zahra dari sisi Faza.


“Ya sudah tante, Loly pulang dulu ya..”


“Ya sayang.. Kamu hati hati ya..” Senyum Sinta memeluk Loly.


“Iya tante.. Aku pulang yah.. Salam buat Fadly..” Balas Loly sambil melepaskan diri dari pelukan Sinta.


“Hah?!”

__ADS_1


Sinta terkejut mendengarnya. Sinta merasa aneh karna tiba tiba Loly menitip salam pada Fadly. Hal yang tidak pernah sekalipun Loly katakan.


“Hehe.. Ya udah ya tante aku pulang..”


Sinta tidak menjawab. Wanita itu masih bingung dengan apa yang Loly katakan. Sinta tidak habis pikir dengan Loly yang tiba tiba menitip salam untuk Fadly.


Loly melambaikan tangan-nya sebelum benar benar berlalu dengan mobilnya meninggalkan Sinta yang masih bertanya tanya.


“Kenapa tiba tiba nitip salam untuk Fadly?” Gumam Sinta sambil terus menatap mobil Loly yang mulai keluar dari pekarangan rumahnya.


Sinta benar benar bingung dan terus berpikir keras. Namun kemudian Sinta mengangguk paham begitu mengingat saat Fadly membawa Loly pulang dengan bertelanjang dada.


“Oke, aku harus berpikir yang baik baik tentang Loly.” Ujar Sinta menghela napas kemudian membalikan tubuhnya dan masuk kedalam rumahnya lagi.


“Lebih baik sekarang aku kerumah Faza.”


 ---------


Hari ini tepat usia kehamilan Zahra yang ke 4 bulan. Zahra berdiri dibalkon kamarnya seorang diri sambil menikmati semilir angin malam yang begitu terasa sangat sejuk menerpa tubuh berisinya. Zahra tersenyum. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Tidak terasa usia kehamilan-nya sudah memasuki bulan ke empat. Itu artinya kurang lebih lima bulan lagi Zahra akan bertemu dengan anaknya.


Zahra ingin protes. Tapi Zahra tidak ingin bertengkar dengan Faza. Tapi diam juga salah karna dengan diam Zahra selalu merasa sakit sendiri.


Zahra menundukan kepalanya menatap perutnya yang sudah mulai terlihat.


“Papah kamu selalu saja sibuk dengan urusan pekerjaan sayang..” Adu Zahra pada janin yang sedang dikandungnya.


Zahra ingin sekali mencurahkan segala rasanya. Tapi Zahra tidak tau harus pada siapa. Jika mencurahkan pada kakaknya Aries, itu hanya akan membuat masalah baru. Pada Tina atau Nadia, itu sangat tidak mungkin. Zahra tidak ingin mengumbar masalah rumah tangganya pada siapapun.


Zahra menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan lewat mulut.


Zahra selalu berusaha untuk tidak perduli. Zahra selalu berusaha untuk mengutamakan kesehatan-nya diatas segalanya. Tapi Zahra juga tidak bisa munafik, Zahra juga butuh perhatian dari orang orang didekatnya. Mungkin dari Faza dan Sinta.


“Kenapa kamu belum tidur Zahra?”

__ADS_1


Zahra tersentak saat mendengar suara Sinta. Buru buru Zahra memutar tubuhnya. Zahra terkejut melihat Sinta yang entah sejak kapan sudah berada dirumahnya.


“Mamah..”


Sinta berdecak melihat raut keterkejutan dari wajah Zahra.


“Bahkan mobil mamah datang saja kamu sampai tidak menyadarinya?” Geleng Sinta tidak menyangka.


Zahra menoleh sebentar kebawah dan melihat mobil Sinta yang sudah berada dihalaman rumahnya.


Zahra mendesis pelan. Karna terlalu asik melamun Zahra bahkan sampai tidak menyadari kedatangan Sinta malam ini.


“Mamah sudah sering bilang sama kamu Zahra, jangan tidur kemaleman. Ini sudah hampir larut dan kamu masih berdiri dibalkon. Kamu tau tidak kalau angin malam itu tidak baik untuk kesehatan kamu.”


“Zahra nungguin mas Faza mah.” Balas Zahra tenang.


Sinta diam. Wanita itu menghela napas kasar. Sinta tau putranya memang sangat sibuk sejak menjadi direktur.


“Kamu tidur saja dulu. Tidak usah nungguin Faza.” Katanya dengan nada memerintah.


Sesaat Zahra diam. Membalas lagi ucapan Sinta hanya akan membuatnya semakin di salahkan.


“Ya mah...” Angguk Zahra mengalah.


Zahra kemudian masuk kembali kedalam kamar. Zahra melangkah menuju ranjang melewati Sinta yang berdiri didepan pintu penghubung balkon.


Setelah Zahra masuk dan naik keatas ranjang, Sinta segera menutup pintu juga jendela yang masih dibuka. Sinta juga menyalakan obat pengusir nyamuk. Terakhir Sinta mengatur suhu AC agar Zahra bisa nyaman dan tidak kepanasan saat tertidur.


Melihat itu Zahra tersenyum. Sinta selalu melakukan hal itu setiap datang malam malam. Sinta memang sangat perhatian tapi Sinta juga selalu menyalahkan-nya.


“Makasih mah..” Kata Zahra pelan menatap Sinta dengan senyuman.


“Ya..” Jawab Sinta kemudian dengan gaya angkuhnya keluar dari kamar Faza dan Zahra.

__ADS_1


Zahra menghela napas pelan kemudian mencoba untuk memejamkan kedua matanya untuk tidur.


__ADS_2