
Zahra tidak bisa berlama marah dan mendiamkan suaminya. Setelah Faza meminta maaf padanya Zahra pun akhirnya luluh. Meskipun Zahra sebelumnya meminta agar Faza lebih menjaga perasaan-nya untuk kedepan.
“Ini apa?” Tanya Zahra saat meraih bingkisan diatas tempat tidur mereka.
Faza tersenyum dan memeluk mesra pinggang Zahra.
“Buka dong...”
Meski sempat ragu namun akhirnya Zahra membuka bingkisan itu. Didalam bingkisan itu ada kotak pink manis yang membuat Zahra semakin merasa penasaran.
Sedang Faza, pria itu tentu saja sedang bersiap menerima protesan Zahra serta mencoba memikirkan alasan yang tepat agar Zahra bisa mengerti dan mau mengenakan apa yang Faza belikan untuknya.
Zahra perlahan membuka kotak pink itu. Kedua matanya melihat apa yang berada didalam kotak pink tersebut.
“Aku tau kamu nggak bakalan suka. Tapi paling enggak sekali saja kamu pakai itu didepan aku sayang..”
Zahra menoleh pelan pada Faza, menatapnya tidak percaya pada Faza yang tiba tiba membelikan-nya baju sexy warna merah menyala dengan belahan dada yang sangat rendah. Zahra bisa memastikan dadanya pasti akan menyembul keluar jika mengenakan baju itu.
“Mas.. Ini nggak aku banget..” Lirih Zahra.
“Ayolah sayang.. Pake ya... Lagian kan kamu pakenya cuma didepan aku.”
Zahra menatap lagi pada baju itu kemudian meraih dan mengangkatnya menatap tidak mungkin pada model baju itu. Bahan lembut namun terlihat sangat kecil dengan belahan dada rendah serta panjang baju yang membuat Zahra sendiri merasa ngeri membayangkan-nya.
“Mas bagaimana mungkin aku bisa mengenakan baju seperti ini?”
Zahra bingung. Menolak juga tidak enak karena Faza sudah membelikan-nya. Namun mengenakan-nya juga tidak mungkin. Bagian tubuhnya yang harus dia tutupi akan terlihat jika mengenakan-nya.
“Please sayang...” Mohon Faza menempelkan bibirnya pada bahu Zahra.
Zahra menelan ludahnya.
“Kamu nggak suruh aku untuk mengenakan-nya diluar kan?”
“Tentu saja tidak. Aku juga tidak akan rela jika ada orang lain melihat tubuh kamu sayang. Hanya didepan aku kok. Mau kan?”
Zahra menarik napas panjang dengan kedua mata terpejam.
“Oke Zahra. Hanya didepan mas Faza saja.” Batin Zahra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Pake ya sayang...”
__ADS_1
Zahra menoleh lagi menatap pada Faza yang menyenderkan dagunya dibahu Zahra.
“Aku coba ya mas...” Katanya.
“Oke.. Terimakasih sayang..”
Faza melepaskan rangkulan-nya dipinggang Zahra membuat Zahra segera bergegas bangkit berdiri.
“Mas balik badan dong.. Masa liatin aku ganti baju. Kan aku malu.” Rengek Zahra malu malu.
Faza tertawa. Gemas sekali rasanya melihat ekspresi istrinya. Padahal Faza sendiri sudah melihat secara keseluruhan setiap inci tubuh istri tercintanya.
“Oke oke...” Angguk Faza kemudian segera mengubah posisinya menjadi tengkurap dan membenamkan wajahnya kebantal.
Zahra menghela napas pelan kemudian mulai membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan-nya. Meski ragu namun Zahra tetap mengenakan-nya untuk memenuhi permintaan suaminya.
Saat dress pendek warna merah menyala itu melekat dengan pas ditubuhnya Zahra meringis. Dress itu begitu mengekspos bentuk tubuhnya melihat tubuh Zahra terlihat sedikit ramping.
Zahra tidak bisa bohong, warna mencolok dress itu begitu kontras dengan warna kulitnya. Ditambah dengan bagian dadanya yang begitu rendah dan sedikit ketat membuat dadanya terlihat penuh dan besar.
“Ya Tuhan...” Lirih Zahra menunduk menatap belahan dipahanya yang begitu tinggi membuat Zahra merasa risih sendiri.
“Udah belum sayang?”
“Mas...” Panggil Zahra pelan.
Faza mulai mengangkat kepalanya yang dia benamkan dibantal. Begitu pandangan-nya tertuju pada Zahra, Faza langsung terperangah. Faza sudah yakin sebelumnya bahwa istrinya memang lebih segalanya dari Anita maupun wanita lain diluar sana. Istrinya jauh lebih indah dan sempurna. Istrinya jauh lebih menggoda dan tubuhnya yang begitu sexy dan mulus.
“Mas jangan natap aku begitu... Aku malu..” Zahra menundukan wajahnya merasa malu pada Faza yang terus menatapnya hingga sentuhan tangan Faza di pinggangnya membuat Zahra tersentak.
Zahra benar benar kaget karna tiba tiba Faza ada didepan-nya. Mungkin karna Zahra yang fokus sendiri dengan rasa malunya hingga Zahra tidak menyadari Faza yang melangkah mendekat padanya.
“Mas...”
“Kamu cantik sayang.. Aku tidak salah pilihin baju ini untuk kamu.”
Zahra mendongak menatap wajah Faza yang sedikit menunduk menatapnya. Tatapan Faza begitu dalam seperti sangat terpesona dengan apa yang dikenakan oleh Zahra.
Faza mengusap lembut pinggang Zahra dan perlahan tangan-nya naik ke punggung Zahra membuat Zahra memejamkan kedua matanya merasakan sensasi yang selalu membuatnya terbuai kemudian terlena.
Faza tersenyum. Sekarang dirinya semakin yakin bahwa istrinya jauh lebih cantik dari wanita diluaran sana, termasuk Anita juga Rosa.
__ADS_1
“Kamu segalanya buat aku sayang.. Kamu jauh lebih sempurna dari siapapun.. Jangan lagi ragu dengan diri kamu sendiri.” Bisik Faza perlahan mendekatkan wajahnya pada Zahra.
Zahra tersenyum perlahan mendengar apa yang Faza katakan. Bahagia bahkan terasa melayang di udara saat Faza melontarkan pujian padanya.
“Mas...”
Zahra memejamkan kedua matanya ketika merasakan ciuman Faza di bibirnya. Zahra tidak bisa munafik, sentuhan Faza membuatnya selalu pasrah.
“Kamu hanya milikku sayang...” Bisik Faza melepaskan sejenak ciuman-nya kemudian kembali mencium Zahra lebih dalam lagi.
Dan malam itu keduanya memadu cinta dengan sangat romantis. Guyuran hujan yang mendadak turun membuat suasana semakin panas dan romantis untuk keduanya.
----------
Paginya.
“Iya mah.. Nanti aku kesana.”
“Nggak perlu ngajak istri kamu itu. Mamah males. Bikin ribet.”
Faza menatap Zahra yang sedang membuat roti panggang untuk mereka sarapan bersama. Terkadang Faza bingung bahkan hampir putus asa jika mengingat sikap mamahnya yang sampai detik ini belum juga bisa merestui hubungan-nya dengan Zahra.
“Ya mah..”
“Ya sudah kalau begitu. Mamah mau bikin sarapan untuk papah dan adik kamu. Ingat, jangan bawa istri kamu kesini. Mamah nggak suka.”
“Eemm.. Ya mah.”
Faza hanya bisa menghela napas pelan. Istrinya begitu baik dan sopan jika bersikap pada orang yang jauh lebih tua darinya. Tapi heran-nya kedua orang tuanya tetap saja tidak suka padahal keduanya juga belum mengenal dekat bagaimana Zahra yang sebenarnya.
“Waktunya sarapan...”
Zahra menaruh dua piring diatas meja dimana diatas piring itu ada roti panggang dengan telur orak arik sebagai isian-nya.
Faza tersenyum.
“Makasih sayangku..”
“Sama sama suamiku..” Balas Zahra tersenyum manis.
Zahra sebenarnya tau Faza baru saja selesai berbicara dengan mamahnya lewat sambungan telpon. Dan Zahra yakin mamah mertuanya pasti sedang menyuruh Faza untuk datang lagi kerumahnya. Tapi Zahra akan berpura pura tidak tau dan bersikap seperti biasa saja. Zahra tidak mau membuat suaminya semakin merasa pusing karna memikirkan hubungan tidak baik Zahra dengan mamahnya.
__ADS_1
“Tetap tenang Zahra. Kamu bisa.”