
“Bagaimana Fadly?”
Fadly menundukan kepalanya. Fadly benar benar bingung harus menjawab apa sekarang. Arsitek adalah profesi yang dengan susah payah Fadly capai. Selain itu profesi itu adalah kebanggaan baginya juga kedua orang tuanya.
“Saya tidak ingin menunggu lama. Kamu harus menjawab sekarang juga Fadly. Dengan begitu saya bisa percaya sama kamu bahwa Loly memang benar benar perempuan yang sangat kamu cintai.”
Fadly menelan lagi ludahnya. Jika dirinya meninggalkan profesi tersebut, itu sama saja seperti Fadly meninggalkan separuh jiwanya. Fadly tidak akan bisa lagi membanggakan dirinya nanti.
“Kamu hanya tinggal menjawab sanggup atau tidak sanggup Fadly.” Senyum Ricard menatap Fadly yang sedang merasa bimbang didepan-nya.
“Daddy enggak perlu menekan Fadly seperti itu.”
Suara lantang Loly berhasil membuat Fadly menegakkan kepalanya. Fadly menatap Loly yang baru saja keluar dari rumah mewah itu dan berlari menghampiri Ricard.
“Menjadi Arsitek adalah impian Fadly dari kecil dad.. Daddy enggak berhak menyuruh Fadly untuk memilih. Kalaupun memang Daddy sama mommy enggak bisa restuin aku sama Fadly, aku nggak papa. Aku rela mundur asal Fadly tidak kehilangan apa yang menjadi kebanggaan dalam hidupnya.” Ujar Loly setelah sampai disamping Ricard.
Ricard tersenyum miring mendengar nada suara bergetar dari putri tunggal kesayangan-nya.
“Apa kamu yakin sayang? Kamu nggak takut kehilangan kekasih hati kamu ini hem?”
Loly menelan ludah dan menatap Fadly yang hanya diam didepan-nya dan Ricard.
“Aku yakin dad.. Aku nggak mau membuat Fadly kehilangan gelar kebanggaan yang sudah susah payah dia capai.” Jawab Loly meneteskan air mata kesedihan-nya.
Loly langsung mengusap pipinya yang basah. Loly berpikir jika memang mereka tidak bisa bersama Loly akan mencoba untuk mengikhlaskan segalanya. Loly tidak ingin Fadly kehilangan apa yang sudah dia impian sejak kecil. Loly tau menjadi seperti sekarang bukanlah hal yang mudah dan dengan instan Fadly raih.
Ricard melirik Fadly yang masih tetap diam dengan tatapan terus mengarah pada Loly. Pria itu yakin Fadly pasti akan memilih putrinya dari pada profesinya.
“Dan kamu Fadly. Mendingan sekarang kamu pulang. Lupakan semua tentang kita. Aku nggak mau kamu buang buang waktu disini. Aku juga yakin diluar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dari aku dan pastinya bisa membuat kamu bahagia.”
__ADS_1
Air mata Loly kembali menetes saat mengatakan-nya. Meskipun hatinya sangat sakit dan tidak rela tapi Loly tidak mungkin mengorbankan profesi Fadly sebagai Arsitek demi ke egoisan-nya sendiri.
Loly kemudian memutar tubuhnya. Detik itu juga air mata Loly menetes deras dari kedua matanya membasahi kedua pipinya. Loly sebenarnya sangat tidak rela jika harus berpisah dengan Fadly. Tapi Loly juga tidak ingin egois. Loly tau bagaimana tekun-nya Fadly menggeluti dunianya itu. Selain itu nama Fadly sebagai seorang Arsitek juga sudah banyak dikenal yang pasti akan sangat disayangkan jika Fadly meninggalkan-nya begitu saja hanya untuk memilih bersama dengan-nya.
“Saya sanggup om.” Tegas Fadly dengan sangat lantang.
Loly mematung ditempatnya berdiri mendengar apa yang Fadly katakan dengan tegas. Loly tidak menyangka Fadly rela meninggalkan profesinya hanya untuk bisa bersama dengan-nya.
“Saya sedikitpun tidak merasa keberatan jika harus meninggalkan profesi saya sekarang om. Asalkan om dan tante mengizinkan saya untuk bersama dengan Loly.”
Ricard bertepuk tangan mendengar keputusan Fadly. Pria itu tersenyum menatap Fadly yang begitu yakin dengan keputusan yang diambilnya.
“Jangan senang dulu Fadly. Bukan hanya itu yang saya mau.”
“Apapun itu saya pasti akan melakukan-nya om. Sekarang saya pinjam Loly nya sebentar ya om..” Senyum Fadly kemudian meraih tangan Loly dan menuntun-nya melangkah menuju mobilnya.
“Saya kasih kalian waktu 30 menit dan tidak boleh lebih sedetikpun.” Ujar Ricard.
Fadly membawa Loly pergi secara terang terangan didepan Ricard tanpa sedikitpun larangan. Ricard justru tersenyum dan menggeleng menyaksikan semua itu.
“Kamu gila ya? Kamu rela ninggalin profesi kamu cuma buat sama aku? Aku bener bener nggak tau apa yang didalam kepala kamu itu Fadly.”
Loly melipat kedua tangan-nya dibawah dada merasa kesal pada Fadly yang menurutnya sudah bertindak sangat ceroboh.
“Hhh.. Dasar bawel. Bukan-nya seneng aku berkorban buat kamu, ini malah di omelin. Nggak berterimakasih banget jadi perempuan.”
Loly melirik kesal pada Fadly. Wanita itu bukan marah, hanya merasa tidak habis pikir saja dengan apa yang Fadly lakukan.
“Fadly.. Harusnya kamu tau aku nggak se-berharga itu. Aku itu jahat, egois. Harusnya kamu tetap pilih apa yang sudah menjadi bagian dari dunia kamu dan hidup kamu tanpa memikirkan aku lagi..” Ujar Loly dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
Fadly tersenyum mendengarnya. Fadly sendiri juga tidak tau kenapa dirinya bisa senekat itu sampai mengorbankan sesuatu yang sudah setengah mati dia perjuangkan.
“Udah nggak usah bawel. Yang penting kan sekarang aku sama kamu bisa sama sama. Dan untuk yang lain-nya semua itu serahin saja sama aku. Aku jamin semuanya akan baik baik saja.”
Loly hanya bisa menghela napas. Fadly sudah terlanjur mengatakan sanggup pada daddy nya. Padahal Loly yakin kemauan daddy nya pasti bukan hanya itu saja.
Fadly menghentikan mobilnya saat sampai didepan taman pusat kota. Fadly kemudian mengajak Loly turun dari mobilnya.
“Kita ngapain disini malem malem?” Tanya Loly sambil menatap ke sekitar.
Fadly melepaskan jas yang dikenakan-nya kemudian menaruhnya dengan sembarangan di bagian mobilnya. Setelah itu Fadly meraih tangan Loly dan mengajaknya untuk masuk kedalam taman tersebut.
“Fadly lepasin.. Kita ngapain sih kesini malem malem. Ngeri tau nggak sih.”
Loly melepaskan cekalan tangan Fadly dilengan-nya begitu mereka sampai tepat didepan kursi panjang bercat putih.
Fadly menghela napas melihat ekspresi kesal kekasihnya. Pria itu kemudian duduk dikursi tersebut.
“Udah sini duduk dulu. Waktu kita enggak lama loh cuma 30 menit. Itu juga udah dipotong perjalanan kita kesini kan tadi.”
Loly berdecak pelan namun tetap menuruti kemauan Fadly. Loly masih tidak habis pikir dengan apa yang Fadly lakukan dengan menyanggupi kemauan Ricard untuk meninggalkan profesinya sebagai seorang arsitek.
“Lihat deh.. Bintangnya bagus banget yah.. Mereka sepertinya tau apa yang sekarang sedang aku rasakan.”
Loly mengeryit kemudian menoleh menatap pada Fadly yang duduk disampingnya.
“Memangnya apa yang sedang kamu rasakan?” Tanya Loly.
“Hhhh.. Punya pacar nggak peka banget. Nasib nasib..” Geleng Fadly mengeluh membuat Loly langsung mengerucutkan bibirnya merasa semakin kesal.
__ADS_1
“Memangnya aku dukun apa yang bisa tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang?”
Fadly hanya mengedikkan bahunya tidak perduli dengan kemarahan kekasihnya. Fadly kembali menatap langit penuh bintang itu. Fadly akan mencoba tidak perduli dengan apapun sekarang. Karena yang terpenting adalah sekarang dirinya dan Loly bisa bersama.