
Tidak mau mengganggu waktu berdua Zahra dengan Faza, Nadia memutuskan untuk mengajak Arka pulang.
Nadia sebenarnya ingin membicarakan tentang sikap tidak baik Sinta pada Zahra ke Faza. Tapi Nadia berpikir mungkin itu akan dia bicarakan lain kali saja setelah melihat ekspresi Zahra begitu melihat kepulangan suaminya.
Untuk prosesi memuat kuenya, Nadia memasrahkan-nya pada mbak Lasmi untuk meneruskan.
“Sekali lagi makasih banget yah kakak udah nemenin Zahra bahkan sampai ikut cek kedokter juga.” Ujar Faza saat mengantar Nadia yang hendak naik ke mobilnya.
“Iya sama sama.. Kakak nggak sengaja aja kesini. Berhubung Zahra sama mamah kamu mau ke dokter jadi ya sekalian kakak ikut aja sama Arka.”
Faza tersenyum. Faza yakin mamahnya pasti tetap bersikap keras pada Zahra meskipun berada didepan Nadia.
“Ya sudah kakak pulang yah..”
“Oh iya kak, hati hati..”
Faza membantu Arka naik ke mobil. Pria itu juga menjanjikan pada Arka akan main kerumah Aries bersama Zahra jika ada waktu.
Sampai mobil yang dikemudikan oleh Nadia keluar dari pekarangan rumahnya, Faza masih berdiri ditempatnya. Faza memikirkan apa yang terjadi saat Zahra mengecek kehamilan-nya ke dokter. Faza yakin mamahnya itu pasti mengucapkan sesuatu yang membuat Nadia ataupun Zahra merasa kesal.
Faza menghela napas kemudian membalikan tubuhnya dan masuk kedalam rumah. Sore ini Faza ingin mengajak istrinya jalan jalan guna melepas penat juga rasa rindunya pada Zahra.
“Kamu mau apa hari ini? Aku akan turuti semuanya.”
Zahra tertawa mendengar apa yang diucapkan suaminya. Saat Nadia pamit pulang Zahra sedang berada dikamar mandi sehingga Zahra tidak bisa ikut mengantar kakak iparnya itu sampai depan rumah.
“Kok malah ketawa sih?” Faza mengeryit menatap Zahra yang malah tertawa mendengar tawaran nya.
“Mas....” Zahra meraih pipi suaminya, membelainya dengan sangat lembut.
“Aku nggak pengin apa apa kok. Aku cuma pengin ngobrol banyak sama kamu hari ini tanpa gangguan dari siapapun. Mungkin termasuk mamah.”
Faza diam menatap tepat pada kedua mata Zahra. Pria itu menghela napas dan tersenyum. Faza menganggukan kepalanya mengiyakan kemauan istrinya.
“Baiklah. Kita mengobrol tanpa gangguan hanya berdua sore ini.”
__ADS_1
Zahra tersenyum merasa sangat senang. Akhirnya Faza memiliki waktu untuk hanya berdua dengan-nya hari ini.
“Ya udah kalau gitu aku bersih bersih dulu ya..”
“Eemm.. Oke.” Angguk Zahra.
Faza bangkit dari duduknya ditepi ranjang disamping Zahra. Pria yang masih mengenakan setelan formalnya itu mengecup kening Zahra sekilas sebelum melangkah menuju kamar mandi dan masuk untuk membersihkan dirinya.
Selesai Faza membersihkan dirinya, Mereka berdua duduk berdua diatas tempat tidur dengan Faza yang bersender dipangkal ranjang dan mendekap hangat tubuh Zahra.
“Apa kata dokter Cindy tadi?” Tanya Faza sambil mengusap lembut lengan atas Zahra.
“Eemm.. Semuanya baik.” Jawab Zahra pelan.
“Syukurlah..” Senyum Faza merasa lega.
Zahra menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Tentang sikap Sinta tadi siang didepan Nadia, Zahra berniat menceritakan-nya pada Faza. Bukan bermaksud mengadu. Zahra hanya ingin mencurahkan isi hatinya tanpa berniat mengadukan sikap tidak baik Sinta pada Faza.
“Mas..”
“Tentang mamah.. Aku minta maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud mengadu. Aku hanya ingin mencurahkan segala apa yang aku rasakan saat ini.”
Faza tersenyum tipis. Faza percaya istrinya bukan tipe wanita yang suka mengadu. Buktinya Zahra tidak pernah mengadukan apapun tentang sikap Sinta padanya. Pernah sekali, tapi itu memang benar dan sesuai dengan fakta.
“Aku mengerti sayang.. Katakan semuanya. Aku akan mendengarkan.” Balas Faza mengecup puncak kepala Zahra.
Zahra mulai menceritakan bagaimana sikap Sinta padanya saat didepan Nadia siang tadi. Zahra juga mengatakan dengan jujur tentang Nadia yang hampir saja kalap dan bertengkar dengan mamah mertuanya itu. Terakhir Zahra juga menceritakan saat Sinta ngotot ingin dirinya di USG agar Sinta tau jenis kelamin janin yang sedang dikandungnya sekarang. Beruntungnya dokter Cindy begitu peka dengan mengatakan dirinya tidak bisa melakukan itu tanpa persetujuan dari Faza.
Mendengar semua itu Faza menghela napas. Sikap mamahnya memang tidak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang Sinta memang selalu merasa paling benar. Sinta bahkan menganggap aturan-nya aturan paling baik untuk semua orang yang ada disekitarnya.
“Untuk semuanya aku bener bener minta maaf sama kamu sayang.. Aku tau aku mungkin tidak bisa membuat kamu bahagia selama ini. Aku juga mungkin sering membuat kamu sakit hati tanpa aku sadari. Aku minta maaf..”
Zahra melepaskan diri dari dekapan suaminya. Zahra membenarkan posisi duduknya menatap tepat pada kedua mata suaminya yang terlihat berair.
Dengan lembut Zahra membelai pipi tirus Faza. Zahra sempat merasa tidak diperdulikan. Tapi setelah banyak mengobrol dengan Nadia, Zahra seperti mendapat pencerahan.
__ADS_1
“Nggak ada yang perlu dimaafin. Kamu nggak salah kok mas. Untuk mamah.. Aku memang kadang sedikit merasa kesal. Tapi nggak papa lah. Namanya juga orang tua kan?.” Zahra mengembangkan senyumnya. Zahra tidak ingin merusak moment berdua mereka dengan egonya sendiri. Karna berdua seperti sekarang bersama Faza adalah saat saat yang selalu Zahra nantikan.
“Kamu nggak marah sama aku?” Tanya Faza lirih.
“Eemm.. Sedikit sih. Kamu sibuk mulu sih. Akunya sampe kangen..” Jawab Zahra dengan ekspresi yang membuat Faza akhirnya tertawa.
“Oke oke.. Aku minta maaf karna aku jarang manjain kamu. Aku jarang temenin kamu. Tapi perlu kamu tau sayang, apapun yang aku lakukan itu semua demi kamu juga calon anak kita.” Ujar Faza meraih tangan Zahra yang berada dipipinya kemudian mengecupnya.
“Mungkin aku akan sulit mengerti. Tapi aku akan selalu berusaha untuk mengerti.” Senyum Zahra.
Faza ikut tersenyum. Pria itu kemudian menarik tubuh Zahra pelan, membaringkan-nya dengan sangat lembut dan hati hati.
“Jadi apa kata kangen kamu juga harus aku tuntaskan sekarang?” Tanya Faza pada Zahra yang berada dibawahnya.
Zahra tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Tanpa malu malu Zahra mengalungkan kedua tangan-nya pada leher Faza.
“Bagaimana dengan kamu mas? Apa kamu tidak merasa kangen padaku?” Tanya balik Zahra bermaksud menggoda suaminya.
“Tentu saja.. Aku selalu menunggu saat saat seperti ini sayang...” Bisik Faza sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra.
Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, suara ketukan pintu membuat moment romantis itu seketika buyar.
“Mas...”
“Mungkin itu mamah. Sudah biarkan saja. Aku mau kamu sekarang...” Sela Faza kemudian langsung menyambar bibir Zahra tanpa memperdulikan ketukan pintu dari luar kamarnya.
-----------
Sementara itu didepan pintu kamar Faza dan Zahra, Sinta terus mengetuk pintu dengan tidak sabar. Sinta merasa sangat kesal karna Faza dan Zahra tidak kunjung membukakan pintu padahal sudah hampir lima menit dirinya berdiri dan mengetuk pintu bercat putih tersebut.
“Bagaimana tante?” Tanya Loly mendekat pada Sinta.
“Mereka tidak kunjung membukakan pintu.” Jawab Sinta kesal.
Loly tersenyum.
__ADS_1
“Ya sudah. Mungkin mereka sedang tidak mau di ganggu tante.” Katanya.