PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 254


__ADS_3

Setelah makan siang, Fadly langsung menemui Faza. Kali ini Fadly mengesampingkan perasaan-nya sendiri yang ingin kembali menemui Loly. Fadly datang langsung menemui Faza yang saat itu sedang berada didalam ruang meeting.


“Silahkan anda menunggu sebentar pak Fadly. Ah ya.. Anda mau minum apa?”


Fadly menatap Reyhan yang begitu ramah padanya. Fadly kemudian tertawa. Fadly tau Reyhan akan menikah sebentar lagi bahkan acara pernikahan itu akan dilaksanakan besok malam.


“Hey Reyhan.. Apa kamu tidak dipingit?” Tanya Fadly membuat Reyhan tertawa.


“Yang terpenting kan saya tidak bertemu dengan calon istri saya pak. Untuk pekerjaan, saya tidak bisa lalai begitu saja dengan tanggung jawab saya.”


Fadly ikut tertawa sembari menganggukan kepalanya. Reyhan tidak jauh berbeda dengan Faza. Keduanya sama sama tekun dan rajin.


“Baiklah baiklah..”


“Jadi anda mau minum apa? Saya akan meminta office boy membuatkan apa yang anda mau pak.”


Fadly melirik lemari pendingin dimana banyak berbagai minuman disana. Ruangan kakaknya memang sangat lengkap fasilitasnya.


“Tidak perlu repot repot. Saya bisa mengambil minuman disana kalau haus nanti.” Balas Fadly.


Reyhan tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Baiklah. Kalau begitu saya permisi mau kembali bekerja pak.” Pamit Reyhan.


“Ah ya... Silahkan Rey. Ingat untuk tidak terlalu capek bekerja. Besok kamu harus menyiapkan mental didepan penghulu.”


Reyhan tertawa lagi mendengarnya. Reyhan hanya menganggukan kepalanya kemudian berlalu dari ruangan Faza membiarkan Fadly menunggu Faza sampai Faza selesai dengan meetingnya.


Setelah Reyhan keluar dari ruangan Faza, Fadly pun menyenderkan punggungnya disenderan sofa panjang yang di dudukinya. Fadly mendongakkan kepalanya menatap langit langit diruangan luas itu.


Fadly tidak bermaksud menambah beban Faza. Tapi menurutnya permasalahan kedua orang tuanya Faza juga harus tau. Apa lagi Faza adalah anak pertama yang artinya Faza juga memegang kendali dalam kluarga jika Akbar sudah menyerah.


Fadly memejamkan kedua matanya. Pikiran-nya mulai kacau sekarang. Mendekati Loly saja belum mendapat lampu hijau dan sekarang dirinya harus menghadapi masalah kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Tuhan.. Hamba tau hanya padamu hamba bisa meminta. Maka dari itu hamba meminta dengan sangat padamu Tuhan.. Jernihkan pikiran juga hati kedua orang tua hamba dalam menghadapi segala permasalahan.” Batin Fadly dengan kedua mata terpejam.


Sekitar 20 menit menunggu Faza akhirnya masuk kedalam ruangan-nya. Faza sudah tau Fadly sedang menunggunya didalam ruangan-nya karena Reyhan yang memberitahu.


“Fadly...” Panggil Faza sambil mendekat pada Fadly yang sedang membaringkan tubuhnya diatas sofa panjang yang ada diseberang meja kerja Faza.


Fadly langsung bangkit dan duduk begitu Faza sudah berdiri disamping sofa tempat dirinya berada.


“Sudah lama?” Tanya Faza mendudukan dirinya disamping Fadly.


Fadly meraih sebotol air mineral yang diambilnya dari lemari pendingin dan meminumnya sedikit.


Fadly menghela napas kemudian menoleh pada Faza yang juga sedang menatapnya.


“Kak.. Papah pergi..”


Faza mengeryit bingung.


“Pergi? Pergi bagaimana maksudnya?” Tanya Faza tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh adiknya.


Faza terkejut mendengarnya. Papahnya pergi ke Amerika tanpa lebih dulu mengatakan padanya. Itu benar benar sangat tidak biasa mengingat papahnya selalu menitipkan mamahnya jika akan pergi kemanapun.


“Mamah bahkan nangis kak dan menolak untuk sarapan. Aku yakin papah sama mamah sedang dalam masalah.”


“Apa perlu aku susul papah ke Amerika?” Tanya Faza kemudian.


Fadly tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Fadly tidak mungkin mengajak kakaknya untuk menyusul papahnya ke Amerika. Fadly tau bagaimana Fahri yang tidak bisa jauh dari Faza.


“Nggak usah kak.. Biar aku saja yang nyusul papah ke Amerika besok..” Jawab Fadly tersenyum tipis.


“Enggak Ly.. Masalah papah sama mamah masalah kita berdua juga. Biar aku yang nyusul papah.. Kamu tetap dirumah. Jagain mamah yah..”


“Tapi kak.. Bagaimana dengan Zahra dan Fahri?”

__ADS_1


“Aku akan ajak Zahra dan Fahri juga. Tapi mungkin nggak bisa besok. Setidaknya biarkan untuk sementara papah tenang dulu.”


Fadly terdiam sebentar kemudian menganggukan kepalanya.


Faza menepuk pelan bahu adiknya.


“Titip mamah ya Ly.. Jagain mamah dengan baik. Kamu hibur mamah yah.. Kamu tau sendirikan aku nggak bisa selalu ada buat mamah sekarang..”


Fadly tertawa pelan. Fadly tentu saja memahami maksud kakaknya itu. Sinta memang tidak pernah bisa mengerti posisi Faza sebagai figur suami dan ayah yang selalu dibutuhkan oleh istri dan anaknya.


“Kakak tenang aja. Aku pasti akan jagain mamah dengan baik.”


“Yah.. Aku percaya sama kamu..” Senyum Faza.


“Bagaimana kalau sekarang kita makan siang dulu?” Tawar Faza yang langsung di angguki oleh Fadly.


Mereka berdua kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah beriringan keluar dari ruangan Faza untuk sama sama makan siang.


Faza sebenarnya merasa sangat bersalah pada kedua orang tuanya. Mereka berdua sering kali bertengkar karenanya. Faza juga yakin masalah yang sekarang sedang melanda hubungan kedua orang tuanya pasti penyebabnya adalah perdebatan pemberian restu Sinta pada Zahra.


Padahal Faza sendiri sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Faza sudah dewasa bahkan sudah menjadi sosok ayah. Faza sudah bisa memilih apa yang menurutnya baik. Baginya asal cintanya pada Zahra tidak membuat Faza menjadi anak yang durhaka itu bukanlah suatu kesalahan. Dan tentang restu Sinta, Faza yakin jika Tuhan sudah membuka pintu hati mamahnya restu itu pasti akan diberikan oleh Sinta.


Faza dan Fadly makan siang bersama direstoran yang tidak jauh dari perusahaan yang Faza pimpin. Dan saat makan siang bersama itu sedang berlangsung tiba tiba Fadly teringat kembali dengan sosok Loly.


Perlahan seulas senyum terukir dibibir Fadly. Fadly tau mamahnya sangat senang jika ada Loly. Dan tiba tiba Fadly berpikir dirinya akan mengajak mamahnya jalan jalan dengan Loly juga yang ikut serta.


Faza yang melihat adiknya senyum senyum sendiri mengeryit bingung. Pria itu mengangkat sebelah alisnya merasa aneh dengan ekspresi Fadly yang seperti orang gila itu.


“Kak.. Aku udah ya makan-nya. Ada urusan.”


Faza hanya diam dengan tatapan tidak mengerti. Fadly tiba tiba tersenyum sendiri kemudian buru buru bangkit pamit kemudian meninggalkan-nya begitu saja.


Fadly bahkan melangkah dengan sangat semangat keluar dari restoran tanpa lagi menoleh sekalipun pada Faza.

__ADS_1


Faza menghela napas. Jika Fadly sudah seperti itu pasti urusan-nya tidak jauh jauh dari Loly. Ya, Fadly pasti akan kembali berusaha berjuang mendekati Loly.


Faza menggelengkan kepalanya kemudian kembali menyantap makan siangnya. Faza berniat pulang lebih awal sore ini karena Faza juga sudah berjanji pada Zahra bahwa mereka akan mencari gaun juga baju untuk Fahri yang akan dikenakan saat menghadiri acara Reyhan dan Tina besok sore.


__ADS_2