
Faza beberapa kali menghela napas karna tidak bisa mengerjakan pekerjaan-nya dengan fokus. Faza bahkan sampai membuat kesalahan yang kemudian langsung dibenarkan oleh Reyhan yang pagi itu baru bisa masuk kerja setelah sakit.
“Pak, apa anda baik baik saja? Sepertinya anda sedikit kurang baik hari ini..”
Faza berhenti membaca berkas laporan yang baru saja diterimanya dari Reyhan. Faza kemudian meletakan berkas tersebut dan menghela napas. Kali ini pikiran-nya benar benar sedang tidak tenang memikirkan anak juga istrinya. Zahra memilih menjauh darinya dengan membawa anaknya. Meskipun Faza tau dimana Zahra bahkan Faza sendiri yang mengantarnya pagi ini namun tetap saja, Faza merasa ada sesuatu yang kurang pada dirinya terutama hatinya.
“Ya... Mungkin karna saya kurang istirahat.” Jawab Faza enggan membuka masalah rumah tangganya pada siapapun.
Reyhan mengangguk pelan. Padahal Reyhan berniat membicarakan tentang hasil pengintaian-nya pada Santoso pagi ini. Tapi melihat Faza yang tampak sedang tidak baik baik saja membuatnya berpikir ulang untuk menceritakan apa yang sudah diketahuinya tentang Santoso pada Faza.
“Apa sebaiknya pak Faza pulang saja? Biar saya antar.” Tawar Reyhan perhatian.
Faza tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan. Jika dirinya dirumah pikiran-nya akan semakin kacau. Apa lagi merasakan ketidak hadiran istrinya secara nyata dirumah pasti akan membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
“Tidak perlu Rey.. Saya baik baik saja..” Tolak Faza.
Reyhan menyipitkan kedua matanya menatap tidak percaya pada Faza. Bohong jika Faza sekarang baik baik saja. Karna buktinya Faza bahkan terus tidak fokus dengan pekerjaan-nya. Namun, memaksa juga tidak mungkin. Faza pasti akan marah padanya.
Faza kembali mengfokuskan pikiran-nya pada berkas yang sedang dibacanya. Tidak lama kemudian Faza mengomentari laporan yang diberikan oleh Reyhan untuk kemudian Reyhan merevisinya.
Setelah mendapat perintah untuk merevisi laporan tersebut, Reyhan segera undur diri dari hadapan Faza. Reyhan tidak tega sebenarnya melihat atasan-nya yang seperti mendadak menjelma menjadi orang bodoh itu. Tapi Reyhan juga tidak mungkin memaksa agar Faza mengikuti saran-nya.
“Sudahlah, lebih baik aku pantau saja dan pastikan pak Faza tetap baik baik saja.” Putus Reyhan.
Jam waktu istirahat tiba.
Reyhan langsung menghentikan aktivitas bekerjanya setelah mendapat telepon dari Tina.
Reyhan menjemput Tina yang sudah menunggunya dirumah. Ya, mereka berdua memang ada janji untuk pergi bersama siang ini guna membeli kado untuk Zahra dan Fahri.
“Menurut kamu bagusan yang mana?” Tanya Tina pada Reyhan sambil menunjukan dua baju bayi dengan warna yang berbeda ditangan kiri dan kanan-nya.
“Eemm.. Dua duanya bagus kok..” Jawab Reyhan setelah menilai nilai.
“Iya sih.. Emang bagus dua duanya. Apa aku beli dua duanya aja ya?” Tanya Tina dengan wajah bingung.
__ADS_1
“Beli dua duanya juga boleh kok..” Senyum Reyhan menatap Tina.
“Begitu ya?” Tanya Tina menatap Reyhan dengan wajah polosnya.
Reyhan menganggukan kepalanya.
“Tentu saja.”
Tina pun akhirnya membeli dua duanya baju bayi tersebut. Setelah membayar semua belanjaan-nya ke kasir, Tina pun mengajak Reyhan untuk makan siang sebelum Reyhan kembali bekerja.
“Jadi kapan kita kerumah Zahra?” Tanya Tina pada Reyhan yang sedang menikmati hidangan makan siangnya.
“Eemm.. Nanti malam saja deh kayanya. Kebetulan setelah ini aku harus gantiin pak Faza meeting sama client?”
Tina mengeryit mendengarnya.
“Memangnya ada apa dengan pak Faza?” Tanya Tina penasaran.
Reyhan menghela napas.
Tina terdiam. Sudah bisa di pastikan, Faza dan Zahra pasti sedang ada masalah sekarang. Karena dulu Faza dan Zahra juga sempat terkena masalah yang tanpa sengaja Tina menjadi perantara keduanya kembali berbaikan.
“Ya sudah ayo dihabisin dulu makanan-nya. Kamu tuh harus banyak makan biar sedikit berisi Na..” Canda Reyhan diakhir katanya.
Tina mendelik mendengarnya.
“Jadi maksud kamu aku kurus begitu?” Sungut Tina sebal.
“Oow.. Aku nggak ngomong begitu. Tapi kalau kamu merasa ya bagus.”
Tina berdecak kesal. Reyhan kadang kadang sedikit menyebalkan menurutnya.
“Nyebelin banget sih kamu Rey..”
Reyhan tertawa melihat ekspresi kesal Tina. Pria tampan itu kemudian melepaskan sendok yang sedang dipegangnya. Reyhan mengusap lembut ujung bibir Tina yang sukses membuat Tina seperti terhipnotis. Tina terdiam menatap Reyhan yang juga sedang menatapnya. Tentunya dengan tatapan lembut penuh cinta.
__ADS_1
“Kalau makan yang rapi dong..” Ujar Reyhan lembut.
Tina langsung salah tingkah. Dengan pipi merona Tina melengos malu karna sikap lembut Reyhan padanya.
Reyhan yang melihat itu tersenyum geli. Reyhan tidak bisa munafik. Tina memang sangat manis jika sedang malu malu seperti sekarang.
------
Dirumah kakaknya Zahra benar benar merasa sangat kewalahan karna Fahri yang terus saja menangis. Fahri bahkan tidak mau tidur dan terus saja menggeliat dalam gendongan-nya. Asi yang Zahra sodorkan pun di tolak oleh Fahri.
Hal itu membuat Zahra ikut menangis. Biasanya saat Fahri sedang rewel ada Faza yang langsung bisa membuat putranya itu diam. Zahra sendiri tidak tau kenapa. Tapi Fahri memang sangat lengket dengan Faza.
“Apa mungkin dia pup Ra?” Tanya Nadia pada Zahra.
“Enggak kak.. Tadi baru aja aku cek kok.. Nggak ada ruam juga.. Aku juga udah cek tubuh Fahri takut nya dia di gigit serangga atau yang lain-nya. Tapi semuanya aman..” Jawab Zahra sambil menangis.
Nadia menghela napas. Dulu juga saat Arka kecil Nadia pernah mengalaminya saat Arka menangis tiba tiba. Namun Arka pasti akan diam jika sudah diberi Asi atau diayun dengan lembut olehnya. Sedang Fahri, Bayi itu terus saja menangis menjerit bahkan seperti menolak berada dalam gendongan Zahra. Saat Nadia mencoba menggendong dan mengayun-nya pun Fahri tetap saja menangis.
“Apa mungkin Fahri kangen sama Faza Ra?” Tanya Nadia pelan pelan.
Pasalnya Fahri terus saja menangis meskipun Zahra sudah mengupayakan segala cara untuk menenangkan-nya.
Mendengar pertanyaan pelan Nadia dada Zahra semakin sesak. Bahkan Nadia saja bisa dengan cepat memahami bahwa Fahri memang tidak bisa jika tidak ada Faza disampingnya saat akan tidur malam hari.
“Biar kakak telepon Faza ya Ra.. Kasihan Fahri nangis terus..”
Zahra tidak bisa berkata apa apa sekarang. Zahra hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang Nadia katakan.
Saat Nadia mencoba menghubungi Faza, Faza langsung menjawabnya dengan cepat.
“Halo Faza.. Kamu dimana? Fahri nangis terus dan nggak mau diem.. Kamu bisa kesini sekarang tidak?” Tanya Nadia dengan sangat panik.
“Ya Tuhan.. Fahri... Aku ada didepan rumah kakak sekarang..”
Nadia langsung menurunkan ponsel yang menempel ditelinganya. Tanpa berkata apapun pada Zahra yang juga sedang menangis Nadia langsung berlalu keluar dari kamar yang ditempati Zahra untuk mengecek apakah benar Faza memang ada didepan rumahnya atau tidak.
__ADS_1