
Pagi ini Zahra dibuat bertanya tanya karena saat dirinya bangun untuk membantu mbak Lasmi menyiapkan sarapan pagi sudah ada Fadly yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya diruang tengah. Zahra penasaran mengapa adik iparnya itu pagi pagi sekali sudah ada dirumahnya. Zahra ingin bertanya tapi merasa segan.
“Mbak...” Panggil Zahra pada mbak Lasmi yang sedang mencuci beras untuk dimasak.
“Eh iya nyonya.. Selamat pagi nyonya..” Saut mbak Lasmi kemudian menyapa Zahra dengan ramah.
“Pagi juga mbak.. Oh iya mbak, tumben banget Fadly pagi pagi sudah disini..”
“Tuan Fadly datang semalam nyonya.. Tuan Fadly menginap disini bahkan minta makan semalam.”
Zahra mengeryit. Tidak biasanya Fadly mau menginap dirumahnya.
“Memangnya tuan belum ngasih tau ke nyonya?” Tanya mbak Lasmi kemudian.
Zahra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Mas Faza belum keluar kamar mandi tadi mbak.” Jawab Zahra.
Mbak Lasmi mengangguk pelan kemudian kembali dengan aktivitasnya mencuci beras yang akan dimasaknya.
Sedang Zahra, dia benar benar merasa sangat penasaran. Fadly tidak pernah menginap dirumahnya. Kalaupun datang meskipun malam sudah larut Fadly pasti tetap bersikeras untuk pulang.
Zahra menghela napas. Entah kenapa Zahra merasa semua itu ada hubungan-nya dengan Loly.
“Sudahlah.. Nggak boleh terlalu ingin tau masalah yang bukan urusanku..” Batin Zahra kemudian membuka kulkas dan mulai mengambil bahan bahan makanan yang akan diolahnya untuk sarapan bersama.
“Zahra...”
Baru saja Zahra mengeluarkan bahan bahan makanan, suara Fadly sudah terdengar menyebut namanya.
Zahra menolehkan kepalanya pada Fadly yang sudah berdiri diambang pintu dapur.
“Boleh tidak aku pinjam handphone kamu sebentar?”
Zahra mengeryit mendengar pertanyaan itu. Fadly hendak meminjam ponselnya? Untuk apa? begitu kira kira pertanyaan yang bersarang dibenak Zahra.
“Atau kalau nggak boleh, pinjem handphone nya kak Faza deh..” Ujar Fadly kemudian.
“Buat apa sih Ly? Kamu kehabisan pulsa? Kan ada wifi..”
__ADS_1
Fadly memutar tubuhnya. Faza sudah berdiri dibelakangnya dengan Fahri yang berada digendongan-nya.
Zahra ikut mengalihkan perhatian-nya pada suami juga putranya. Zahra tersenyum. Faza sudah rapi dengan setelan jas warna abu abunya.
“Ini bukan tentang pulsa habis ataupun wifi, oke?” Ujar Fadly.
Faza berdecak pelan. Faza tau semua itu pasti ada hubungan-nya dengan Loly.
“Pake handphone ku saja.” Kata Faza.
Fadly tersenyum lebar kemudian melangkah mendekat pada Faza untuk mengambil handphone Faza yang hendak dia pinjam.
Zahra tertawa pelan melihat tingkah kedua kakak beradik itu. Faza dan Fadly memang selalu saling perduli satu sama lain.
Zahra menggelengkan kepalanya kemudian kembali pada niat awalnya, yaitu menyiapkan sarapan pagi bersama mbak Lasmi.
“Seneng ya nyonya kalau liat tuan Faza sama tuan Fadly. Mereka sangat kompak dan akrab.”
Zahra tersenyum dan mengangguk setuju mendengar apa yang mbak Lasmi katakan. Dari dulu memang Faza dan Fadly sangat kompak. Mereka selalu bersama dan saling perduli satu sama lain. Zahra bahkan tidak bisa melupakan kebaikan Fadly yang sudah membantu menyatukan-nya dengan Faza dulu. Fadly memang berperan penting saat Faza menembak Zahra.
“Ya mbak.. Mereka memang dari dulu sangat kompak.”
Zahra hanya bisa tersenyum. Dirinya memang sangat beruntung. Tapi menurut Zahra dirinya akan jauh lebih beruntung jika Sinta bisa menerima keberadaan-nya ditengah tengah keluarga Akbar.
Diruang tengah Fadly sedang mencoba menghubungi Loly menggunakan ponsel Faza. Tapi sayang Fadly juga tidak bisa menghubungi Loly meskipun sudah menggunakan ponsel milik kakaknya itu. Tentu saja karena Loly juga memblokir nomor Faza.
“Kak...”
Faza berhenti mengajak putranya berceloteh dan melirik pada Fadly yang sudah memasang wajah memelasnya.
“Kenapa lagi?” Tanya Faza malas.
“Kayanya Loly juga memblokir nomor kakak deh..” Ujar Fadly dengan helaan napas.
Faza menggelengkan kepala disertai decakan pelan. Sekitar dua bulan yang lalu Fadly begitu enggan mengakui kedekatan-nya dengan Loly. Fadly juga bersikap begitu seenaknya pada Loly yang selalu mengejarnya. Fadly bahkan menyakiti Loly dengan sadar dan sangat sengaja. Tapi sekarang hanya karena tidak bisa menghubungi Loly saja Fadly sudah kebakaran jenggot.
“Apa kamu sedang terkena karma sekarang Fadly?”
Fadly mendelik sebal. Pria itu meletakan ponsel Faza diatas meja kemudian menggeser duduknya mendekat pada meja kecil dimana ada telepon rumah diatasnya disamping sofa yang didudukinya.
__ADS_1
“Tidak ada kata karma dalam kamusku kak.. Mungkin lebih tepatnya aku baru sadar kalau aku juga membutuhkan Loly.”
Faza tertawa sinis. Karena rasa benci Fadly bahkan bisa menjadi pria yang begitu sangat brengsek.
“Ya Tuhan kak.. Sudah tanggal berapa ini? Kakak bahkan belum membayar tagihan telepon.” Ujar Fadly kesal.
Faza meringis. Faza melupakan hal itu.
“Benarkah? Aku akan membayarnya nanti.”
Fadly berdecak kesal. Sekarang dirinya benar benar tidak bisa menghubungi Loly. Padahal Fadly sangat ingin sekali mendengar suara Loly pagi ini.
“Ya sudahlah. Aku pulang aja.”
Dengan perasaan kesal Fadly bangkit dari duduknya kemudian berlalu begitu saja dari ruang tengah meninggalkan Faza yang hanya bisa menertawakan-nya.
Karma itu benar benar sedang menimpa Fadly sekarang. Dan Faza yakin apa yang Fadly rasakan sekarang sama persis dengan apa yang Loly rasakan saat Loly mengejar ngejar Fadly.
Tidak lama kemudian Zahra menghampiri Faza yang sedang asik bersama Fahri yang berada dipangkuan-nya. Zahra celingukan mencari keberadaan Fadly.
“Loh Fadly mana mas?” Tanya Zahra mendudukan dirinya disamping Faza.
“Dia pulang sayang. Marah dia gara gara nggak bisa nelepon Loly. Katanya nomorku juga di blokir sama Loly. Mau pake telepon rumah eh ternyata aku malah belum bayar tagihan-nya. Hahah..” Jawab Faza disertai tawa pelan-nya.
Zahra ikut tertawa. Fadly benar benar sedang sangat tergila gila pada Loly sekarang.
“Ya udah mending sekarang kita sarapan yuk? Aku udah masakin sarapan spesial buat kamu mas..” Ajak Zahra dengan senyuman manis menatap Faza.
“Oh ya? Ya udah yuk..”
Keduanya kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah beriringan berlalu dari ruang tengah dengan Faza yang terus menggendong Fahri.
Saat hendak menyantap sarapan paginya, Zahra lebih dulu menitipkan Fahri pada mbak Lasmi yang memang sengaja Zahra suruh sarapan lebih dulu agar bisa bergantian menjaga Fahri.
“Eemm.. Sayang nanti malam kita pergi cari gaun sama baju buat Fahri ya.. Acara pernikahan Reyhan dan Tina kan besok malam.”
Zahra meringis. Hampir saja Zahra melupakan hari penting sahabatnya itu.
“Ya ampun mas.. Aku hampir aja melupakan itu loh..”
__ADS_1
Faza tersenyum. Faza maklum jika Zahra hampir melupakan-nya. Mungkin karena kesibukan-nya mengurus Fahri setiap hari sehingga Zahra sampai tidak ingat dengan tanggal pernikahan sahabatnya sendiri.