
Berbeda dengan Reyhan dan Tina yang bisa tidur dengan lelap menikmati kebersamaan-nya, Zahra justru tidak bisa memejamkan kedua matanya sama sekali.
Zahra beberapa kali menghela napas. Tubuhnya terasa sangat pegal dan lelah. Namun pikiran-nya terus berpetualang kemana mana membuat rasa kantuk bahkan sama sekali tidak menyapanya.
Zahra terus terjaga bahkan meski malam sudah larut.
Zahra menatap suaminya yang begitu tenang terlelap disampingnya. Zahra tersenyum. Suaminya tampak sangat polos jika kedua matanya terpejam.
Sekali lagi Zahra menghela napas. Mengenai masalah yang sedang dihadapi kedua mertuanya Zahra yakin namanya juga ikut terseret. Tapi Zahra bukan wanita bodoh. Zahra tidak akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sedang terjadi. Karena Zahra tau pilihan-nya bersama dengan Faza bukanlah suatu pilihan yang salah.
Zahra membelai lembut pipi tirus Faza membuat si empunya terusik dari tidur lelapnya.
“Emmhh.. Sayang, kamu belum tidur?” Tanya Faza dengan lenguhan pelan serta kedua mata yang sedikit terbuka.
“Hem aku nggak bisa tidur mas..” Jawab Zahra pelan.
Faza tersenyum kemudian meraih tubuh Zahra, mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa? Apa mau dipijitin dulu?” Tanya Faza dengan kedua mata yang kembali terpejam. Rasa lelah membuat kantuk terus menguasainya.
“Enggak usah mas. Aku hanya mengalami insomnia biasa.” Jawab Zahra.
Hening.
Tidak ada lagi sautan dari Faza. Perlahan dekapan-nya juga melemah.
Ya, Faza kembali terlelap.
Zahra mengangkat kepalanya mendongak menatap Faza yang kembali terlelap dalam tidurnya.
Zahra tersenyum geli. Wanita itu tau suaminya pasti sangat kelelahan hingga tidak bisa menahan kantuknya. Tidak ingin mengganggu suaminya, Zahra pun memilih untuk ikut memejamkan kedua matanya. Meskipun sampai detik ini rasa kantuk belum juga menyapanya tapi Zahra tidak ingin mengambil resiko dirinya lemas karena mengantuk esok harinya saat sedang menjaga putra kesayangan-nya. Apa lagi besok Faza juga akan segera menyusul Akbar ke Amerika.
Baru saja Zahra mulai merasakan kantuknya, tiba tiba Fahri menangis. Zahra yang panik segera bangkit dari berbaringnya. Zahra turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Fahri yang menangis bahkan sampai menjerit diranjang bayinya.
“Cup cup cup sayangnya mamah.. Sshh.. Nen ya sayang ya...”
Dengan rasa kantuk yang masih menguasainya, Zahra meraih tubuh Fahri dan mengangkatnya. Zahra menggendong Fahri sembari menyusui bayi itu yang begitu semangat menyedot ASI Zahra.
__ADS_1
“Baaa.. Laper ya sayang yah? Laper ya...”
Zahra tersenyum menatap Fahri yang menyusu sambil menatapnya. Kedua mata beningnya terbuka begitu lebar membuat Zahra yakin bahwa setelah ini bayi tampan itu pasti tidak akan tertidur lagi. Fahri pasti akan terjaga dan baru akan tidur lagi saat pagi menjelang.
“Anak papah jam segini laper ya?”
Zahra menoleh menatap Faza yang sudah terduduk diatas ranjang. Kedua mata pria itu masih setengah terbuka meski seulas senyum terukir dibibirnya.
“Mas tidur lagi aja. Nanti juga Fahri bobo lagi..” Ujar Zahra pelan.
Faza menggelengkan kepalanya. Faza tau bagaimana putranya. Fahri memang sering sekali terjaga saat tengah malam dan baru akan terlelap kembali beberapa jam kemudian.
“Sebentar sayang aku cuci muka dulu..”
Dengan kedua mata setengah tertutup Faza turun dari tempat tidur kemudian melangkah menuju kamar mandi. Pria itu tidak mau istrinya mengurus Fahri sendiri apa lagi dirinya sedang ada dirumah dan sedang tidak melakukan apapun. Faza tau bagaimana susahnya mengurus bayi meski memang Faza jarang bisa selalu ada dirumah selama 24 jam.
Setelah membasuh wajah tampan-nya seketika kantuk itu hilang. Faza menghela napas dan tersenyum menatap bayangan-nya sendiri dicermin didepan-nya. Setelah itu Faza keluar dari kamar mandi dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Mengurus anak memang bukan pekerjaan yang mudah dan Faza tau itu.
“Aku bikinin teh anget ya sayang..” Ujar Faza pada Zahra yang sedang menyusui Fahri. Zahra sudah duduk bersender di sofa dan sesekali menguap karena kantuknya.
“Ya mas.. Makasih yah..” Angguk Zahra menurut saja.
Zahra menghela napas. Tanganya meraih tangan kecil Fahri yang memegangi sumber makanan-nya saat ini. Zahra tersenyum. Fahri terus menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Kenapa sayang? Mau ngomong apa sama mamah hem?”
Pertanyaan Zahra membuat Fahri berhenti menyusu. Bayi itu mengeluarkan suara pelan seperti sedang mengajak Zahra mengobrol. Hal itu membuat Zahra merasa sangat bahagia. Bayinya yang masih berusia dua bulan sudah bisa mengerti apa yang dikatakan-nya.
“Sayang banget ya sama mamah sama papah?” Tanya Zahra kemudian.
Fahri kembali menyaut dengan suara bayinya yang membuat Zahra semakin merasa gemas. Seketika kantuk Zahra sirna karena komunikasinya dengan Fahri.
Faza yang baru kembali masuk kekamarnya dengan secangkir teh hangat ditangan-nya tersenyum mendengar komunikasi antara istri dan anaknya. Komunikasi yang Faza sendiri tidak bisa mengartikan-nya saat Fahri bersuara.
Faza melangkah mendekat pada Zahra dan memposisikan dirinya duduk tepat disamping istrinya yang sedang asik mengobrol dengan putranya.
“Minum tehnya dulu sayang..” Ujar Faza menyodorkan secangkir teh hangat tersebut pada Zahra.
__ADS_1
Zahra menoleh dan tersenyum. Zahra menerima bantuan Faza yang meminumkan teh hangat itu padanya.
“Gimana sayang? Kemanisan nggak?” Tanya Faza penasaran.
“Hem enggak mas. Manisnya pas.” Senyum Zahra menjawab.
Faza menganggukan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Pria itu kemudian mengusap lembut kaki kecil putranya setelah meletakan cangkir berisi teh hangat buatan-nya.
“Kamu kalau ngantuk tidur lagi aja mas. Lagian besok kan kamu harus berangkat pagi pagi banget ke bandara.”
Faza beralih menatap kembali pada Zahra dan tersenyum lagi.
“Aku udah nggak ngantuk sayang.. Aku mau nemenin kamu sama Fahri aja.” Balas Faza.
“Tapi kan...”
Cup
Ucapan Zahra tersela karena Faza yang tiba tiba mencium bibirnya.
“Jangan bawel ya sayang.. Soalnya kalau kamu bawel aku jadi gemas. Dan kalau aku gemas kamu tau kan apa yang akan terjadi? Fahri lagi nggak tidur loh sayang..”
Wajah Zahra langsung memerah mendengarnya.
“Apaan sih kamu mas..” Senyum Zahra malu malu.
Faza ikut tersenyum melihatnya. Pria itu kemudian mencium sekali lagi Zahra. Namun kali ini bukan dibibir melainkan di pipi chuby Zahra.
“Aku nggak tau harus bagaimana mengungkapkan perasaan aku sama kamu sayang. Mungkin ungkapan cinta saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaan aku sama kamu.”
Zahra hanya diam dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Zahra percaya Faza mencintainya. Zahra juga percaya apa yang Faza ungkapkan bukan hanya sekedar ucapan dimana didalamnya ada dusta.
“Aku minta maaf ya sayang kalau selama menikah aku belum bisa membuat kamu bahagia.” Lirih Faza menatap Zahra dalam.
“Kalau kamu berpikir aku nggak bahagia dengan pernikahan kita, kamu salah besar mas. Aku bahagia, bahkan sangat bahagia mas. Aku tidak perduli dengan apapun yang terjadi. Aku yakin dengan kita selalu bersama semuanya akan baik baik saja. Kita bisa melewati semuanya bersama sama.” Senyum Zahra menatap Faza tulus.
Faza menganggukan kepala dengan senyuman yang kembali menghiasi bibirnya.
__ADS_1
“Ya.. Kita akan selalu bersama sayang..” Balas Faza.
Zahra kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Faza. Dan ditengah sunyinya malam mereka berdua bercengkrama bersama mengajak putranya berkomunikasi dengan penuh cinta dan kehangatan.