PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 287


__ADS_3

Faza mengusap usap lengan Zahra yang berada didalam dekapan-nya. Setelah mandi bersama, keduanya menikmati waktu sorenya dengan berbaring diatas tempat tidur dengan Faza yang mendekap mesra tubuh Zahra.


“Mas pulang cepat lagi, Apa pekerjaan mas tidak begitu banyak?”


Pertanyaan Zahra membuat Faza mengeryit. Pria tampan berkaos putih polos itu kemudian berdecak dan mendesis pelan. Faza melupakan niatnya pulang cepat karena terbuai dengan kebersamaan dan kemesraan-nya bersama Zahra tadi. Namun itulah Faza, pria itu bisa melupakan apa saja jika sudah bersama dengan istri dan anaknya.


“Ya Tuhan.. Aku sampai lupa sayang..”


Zahra bangkit dari dekapan suaminya menatap penuh tanda tanya pada Faza. Zahra tau jika Faza pulang lebih awal pasti karena ada sesuatu. Faza memang tidak pernah pulang telat atau larut lagi sejak ada Fahri. Namun pulang lebih awal juga tidak terlalu sering. Faza hanya akan pulang lebih awal jika mereka berdua mempunyai rencana.


“Memangnya ada apa mas?” Tanya Zahra penasaran.


Faza menghela napas. Ekspresinya langsung berubah sendu.


Zahra yang melihat ekspresi suaminya itu semakin merasa ingin tau.


“Ini tentang mamah sayang..” Ujar Faza lirih.


Zahra langsung mendudukan dirinya dengan benar dengan tatapan terus tertuju pada suaminya. Zahra ingin sekali tau bagaimana keadaan Sinta yang sudah lama tidak ia temui.


“Mamah kenapa? Mamah baik baik aja kan mas?”


Faza tersenyum tipis. Faza ikut bangkit dan duduk menghadap pada Zahra yang terus menatapnya dengan tatapan penuh ke khawatiran.


“Mamah.. Mamah nggak bisa dibilang baik baik saja sayang.”


Zahra mengeryit bingung.


“Maksud kamu apa mas? Mamah kenapa?” Zahra mulai tidak sabar.


Faza menghela napas. Dengan lembut Faza membelai pipi Zahra mencoba untuk menenangkan istri tercintanya itu.


“Papah tadi siang nemuin aku.. Papah cerita sama aku tentang keadaan mamah. Aku juga bingung harus bagaimana menceritakan-nya sama kamu sayang. Tapi yang pasti keadaan mamah sekarang sedang enggak baik baik saja.”


Zahra menggelengkan kepalanya. Ucapan Faza terlalu berputar putar menurutnya.


“Mamah sakit mas?” Tanya Zahra lagi.

__ADS_1


Faza menggeleng.


“Lebih tepatnya kondisi psikis mamah yang sedang tidak baik baik saja sayang. Dan itu karena tante Erika memutuskan hubungan pertemanan dan bilang secara langsung sama mamah.”


“Ya Tuhan....” Zahra menurut mulutnya mendengar apa yang Faza katakan.


Faza menghela napas. Fadly memang sering bercerita tentang mamahnya yang melarang Fadly bersama Loly. Fadly juga bercerita kedua orang tua Loly selalu menentang hubungan-nya dengan Loly. Tapi Fadly tidak pernah menceritakan bagaimana keadaan sang mamah padanya. Faza kesal sebenarnya, tapi Faza juga tidak bisa menegur Fadly semaunya sendiri. Fadly pasti punya alasan kenapa tidak menceritakan tentang kondisi mamahnya sekarang.


“Kita harus kesana mas. Kita harus lihat keadaan mamah.”


Faza tersenyum lagi kemudian menggeleng pelan. Faza tidak ingin Zahra bertemu dengan mamahnya karena Faza tau mamahnya pasti akan mengatakan sesuatu yang tidak baik pada istrinya. Faza tidak rela jika Zahra sampai terluka lagi karena sikap sang mamah.


“Bukan kita sayang. Aku saja yang kesana. Kamu cukup dirumah. Oke?”


“Mas tapi...”


“Sayang.. Aku nggak mau kamu kenapa napa. Aku nggak akan bisa maafin diri aku sendiri kalau kamu sampai terluka karena mamah..” Sela Faza dengan sangat pelan.


Zahra diam. Zahra tau sampai sekarang Sinta memang masih belum mau memberinya restu. Dan Zahra yakin apa yang suaminya katakan juga demi kebaikan-nya.


“Ya sudah kalau begitu mas. Mending sekarang kamu jenguk mamah yah..” Angguk Zahra tersenyum tipis.


Faza melepaskan pelukan-nya kemudian mencium lama kening Zahra. Tidak banyak harapan Faza pada Sinta untuk bisa memberikan restu pada Zahra. Yang terpenting bagi Faza sekarang adalah dirinya bisa membuat Zahra bahagia dengan kemampuan-nya sendiri.


“Aku kerumah papah sama mamah dulu ya sayang..” Senyum Faza setelah mencium kening Zahra.


“Ya mas..” Angguk Zahra tersenyum tipis.


Faza kemudian segera bersiap dengan dibantu oleh Zahra. Pria itu merasa tidak tenang jika tidak melihat sendiri bagaimana keadaan Sinta sekarang.


“Mas hati hati ya.. Nggak usah ngebut..” Titah Zahra lembut saat mengantar Faza sampai teras depan rumah.


“Ya sayang.. Aku akan pulang sebelum waktu makan malam.” Senyum Faza.


Zahra menyalimi Faza sebelum Faza masuk kedalam mobilnya. Meskipun Zahra tidak bisa ikut untuk menjenguk Sinta, tapi Zahra berharap semoga keadaan Sinta baik baik saja.


“Ya Tuhan.. Tolong jaga dan lindungi mamah dari segala ketidak baikan..” Lirih Zahra menatap mobil mewah suaminya yang mulai keluar dari pekarangan luas rumahnya.

__ADS_1


Zahra menghela napas. Sinta memang belum bisa menerimanya sampai sekarang. Tapi itu bukan berarti membuat Zahra merasa dendam karena sikap tidak baik Sinta padanya. Zahra selalu berusaha bersikap baik pada Sinta meskipun pada kenyataan-nya sekalipun Sinta tidak pernah menanggapinya dengan baik.


Setelah mobil suaminya sudah tidak lagi terlihat, Zahra pun masuk kembali kedalam rumah.


Sedangkan Faza, pria itu tetap berusaha tenang mengemudikan mobilnya meskipun sebenarnya perasaan-nya sedang sangat tidak karuan karena memikirkan keadaan mamahnya sekarang.


Berkali kali Faza menghela napas. Untuk pertama kalinya Faza merasakan jarak dari rumahnya kerumah kedua orang tuanya sangat jauh. Padahal biasanya Faza tidak pernah merasakan hal tersebut. Mungkin karena sekarang Faza sedang sangat tidak sabar. Selain tidak sabar, Faza juga sangat merindukan sosok mamah tercintanya itu.


Faza menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai dikediaman kedua orang tuanya. Hingga akhirnya setengah jam kemudian Faza sampai tepat didepan halaman kediaman kedua orang tuanya.


Faza tidak langsung turun dari mobilnya. Pria itu diam menatap rumah yang mempunyai banyak kenangan masa kecilnya. Faza masih sangat mengingat semua itu.


Faza menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Setelah itu Faza mematikan mesin mobilnya dan turun. Faza melangkah pelan masuk kedalam kediaman kedua orang tuanya. Tiga bulan lamanya Faza tidak menginjakan kaki dirumah itu membuat Faza merasa sedikit asing.


“Ya Tuhan.. Aden..”


Faza berhenti melangkah ketika mendengar suara bibi. Faza menoleh dan mendapati bibi yang sedang melangkah tergopoh gopoh kearahnya dari arah dapur.


Faza tersenyum. Bahkan bibi saja sampai terharu melihat kedatangan-nya.


“Bibi..” Senyum Faza. Faza benar benar merindukan semua yang ada dirumah kedua orang tuanya, termasuk bibi dan pak Umar.


“Akhirnya aden datang juga...”


Faza bisa melihat dengan jelas kedua mata bibi berkaca kaca melihatnya.


“Ya bi.. Bibi apa kabar?”


“Kabar saya baik den.. Aden sendiri bagaimana kabarnya? Bagaimana kabar nona sama den Fahri juga?”


Faza tertawa pelan mendengar suara serak bibi. Bahkan seorang bibi yang bukan keluarga yang sebenarnya saja sampai menahan tangis saat menanyakan kabarnya dan Zahra juga Fahri.


“Baik bi.. Baik semuanya. Oh ya bi mamah mana ya?”


“Nyonya ada dikamarnya den..”


“Ya udah deh kalau begitu saya langsung ke mamah ya bi..”

__ADS_1


“Oh iya den, silahkan.”


Faza tersenyum kemudian berlalu dari hadapan bibi untuk langsung menemui mamahnya.


__ADS_2