
Kebahagiaan Faza dan Zahra terasa semakin lengkap setelah kehamilan Zahra. Faza semakin bersikap lembut dan penuh perhatian bahkan sangat memanjakan istrinya itu.
“Gimana perutnya sayang? Masih sakit?” Tanya Faza sambil mengusap usap lembut perut rata Zahra yang sedang berbaring diatas ranjang.
“Udah enggak mas. Oya mas kita jadi kan jalan jalan-nya?”
Ekspresi Faza langsung berubah. Mendadak Faza merasa ragu untuk mengajak Zahra jalan jalan apa lagi mengingat sekarang istrinya sedang hamil muda yang pastinya tidak boleh terlalu lelah dalam ber aktivitas.
“Eemmm... Jadi gini sayang.. Kamu kan sedang hamil sekarang.. Kamu juga pasti nggak boleh kelelahan kan? jadi aku pikir mungkin kita bisa menunda jalan jalan-nya besok. Aku nggak mau perut kamu sakit lagi..”
Ucapan Faza berhasil melenyapkan senyuman manis yang menghiasi bibir Zahra.
“Tapi aku nggak papa kok mas. Perut aku juga sudah nggak sakit lagi. Aku kuat kok kalau cuma buat jalan jalan. Apa lagi Eiffel nya kan juga deket dari sini mas..” Zahra masih bersikeras berusaha meyakinkan suaminya bahwa keadaan-nya sudah membaik. Zahra tidak ingin menyia nyiakan waktunya di Paris. Zahra ingin melihat secara langsung menara Eiffel dari jarak dekat. Zahra juga ingin berphoto disana dengan Faza.
“Sayang...” Faza meraih tangan Zahra menggenggamnya dengan lembut.
“Aku bukan nggak mau ngajak kamu kesana.. Tapi kan sekarang kamu sedang hamil. Kan nggak baik juga buat kamu dan anak kita kalau kamu sampai kelelahan.” Faza menatap Zahra dengan wajah sendu.
Zahra menelan ludahnya. Kecewa sekali rasanya karna Faza tidak mau mengajaknya jalan jalan siang ini. Tanpa sadar Zahra meneteskan air matanya namun dengan cepat Zahra menyekanya. Entah kenapa Zahra cengeng sekali hari ini.
“Hey.. Jangan menangis. Kita masih bisa jalan jalan besok sayang...” Faza menyeka air mata Zahra yang masih membekas di pipinya dengan lembut. Pria itu tidak bermaksud membuat istrinya sedih.
“Tapi aku maunya sekarang mas. Mas ngertiin aku dong.. Aku tuh nggak pernah kesini.” Suara Zahra begitu pelan, mencicit seperti burung yang baru menetas dari cangkang telurnya.
Faza tersenyum.
“Sayang dengarkan aku.. Mulai sekarang sampai kedepan-nya aku janji sama kamu. Aku bakal ajak kamu kemanapun kamu mau.”
Zahra melengos. Apa yang Faza ucapkan tetap saja tidak bisa menyurutkan keinginan-nya untuk jalan jalan siang ini.
“Pokonya aku mau jalan jalan.” Katanya dengan wajah kesal.
Faza menghela napas. Zahra mulai keras kepala lagi.
“Ya udah iya.. Nanti kita jalan jalan. Tapi nanti ya setelah kamu istirahat siang. Mending sekarang kamu istirahat dulu. Aku akan cari dokter untuk memeriksakan keadaan kamu.”
Zahra kembali menatap Faza dengan wajah berbinar.
__ADS_1
“Beneran? Mas nggak bohong kan?” Tanya Zahra antusias.
“Iyah.. Aku nggak bohong. Sekarang lebih baik kamu istirahat kumpulin tenaga buat nanti sore kita jalan jalan. Oke?”
Zahra menganggukan kepalanya begitu antusias seperti balita yang baru saja mendapatkan mainan yang sangat di inginkan.
Dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya Zahra perlahan memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Faza, pria itu bangkit dari duduknya. Faza meraih ponsel miliknya dan menghubungi sang papah untuk menanyakan kenalan dokter papahnya yang Faza tau juga ada di paris. Dokter yang juga berasal dari indonesia.
Setelah mendapatkan nomor dokter itu dari sang papah, Faza langsung menghubunginya dan memintanya untuk datang kehotel tempat Zahra dan dirinya menginap.
Sekitar 30 menit menunggu dokter tersebut datang. Dokter pria dengan paras bule yang Faza perkirakan seumuran dengan papahnya.
Faza sempat merutuk dalam hati karna dokter tersebut adalah seorang pria. Tapi Faza tidak punya pilihan lain. Faza ingin segera tau bagaimana kondisi istrinya.
“Bagaimana dokter?” Tanya Faza setelah dokter Frans mengecek keadaan Zahra yang terus terlelap damai dalam tidurnya.
Dokter tersebut tersenyum.
Faza mengeryit.
“Maksudnya bagaimana?”
Dokter itu tertawa.
“Maksud saya kalau istri anda tidak sedang tidur saya bisa menanyakan kapan terakhir dia mendapat tamu bulanan-nya dan apa saja keluhan yang dia rasakan.” Jawab dokter berpostur tinggi tegap dengan rambut ke emasan itu.
Faza mengangguk mengerti.
“Tapi istri saya sempat mengeluhkan sakit diperutnya dok.” Ujar Faza.
Dokter itu tetap tersenyum menatap Faza yang terlihat begitu berwibawa namun juga polos.
“Apa ini anak pertama anda pak Faza?” Tanya dokter itu kemudian.
“Eemmm.. Ya dok.” Jawab Faza sedikit merasa malu.
__ADS_1
Dokter itu mengangguk anggukan kepalanya lagi.
“Eemm.. Biasanya itu terjadi karna terlalu kelelahan dalam beraktivitas pak Faza.”
Mendadak wajah Faza memanas. Faza langsung melengos menghindari tatapan dokter Frans. Entah kenapa Faza merasa sangat sensitif dengan ucapan dokter didepan-nya.
“Saya sarankan untuk istri anda mengurangi aktivitas yang menguras tenaga untuk menjaga kondisi tubuhnya juga janin dalam kandungan-nya pak Faza.” Lanjut dokter Frans yang entah kenapa semakin membuat Faza merasa malu.
“Ah ya dok. Baik.”
Dokter Frans tersenyum geli melihat reaksi Faza. Tidak ingin membuat Faza semakin mati kutu karna rasa malunya, dokter Frans pun pamit pergi setelah memberikan resep obat dan vitamin yang harus dibeli oleh Faza di apotek.
Setelah kepergian dokter Frans, Faza menghela napas. Ucapan dokter Frans tentang aktivitas yang menguras tenaga benar benar seperti sindiran bagi Faza. Pasalnya beberapa hari ini Faza hampir setiap malam memonopoli Zahra diatas tempat tidur.
--------
“Bagaimana? Di angkat tidak?” Tanya Akbar pada putranya Fadly.
Fadly menurunkan ponsel yang menempel ditelinganya kemudian menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
“Sekarang nomor mamah nggak aktif pah..” Katanya pelan.
Akbar berdecak. Sikap Sinta benar benar sangat kekanak kanakan kali ini. Hanya karna dirinya dan Fadly tau tentang rencana bulan madu Faza ke Paris dan tidak mengatakan padanya saja Sinta sampai merajuk dan pergi dari rumah diam diam. Parahnya lagi Sinta tidak mau mengangkat telpon darinya dan Fadly bahkan sekarang tidak bisa dihubungi.
“Sudahlah pah biarkan saja.. Nanti juga mamah pulang kalau sudah nggak marah lagi sama kita.” Ujar Fadly menatap papahnya yang duduk disofa diseberang tempat dirinya duduk.
Akbar memijit pelan keningnya. Entah apa yang di inginkan oleh istrinya sebenarnya. Faza sudah menikah dengan wanita yang baik tapi masih saja tidak direstui. Sinta juga tetap kukuh mau menjodohkan Faza dengan Loly.
“Lebih baik sekarang papah istirahat. Papah nggak usah terlalu mikirin mamah. Fadly yakin kok mamah nggak bakal pergi jauh jauh. Paling juga dirumahnya Loly.”
Akbar menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Meskipun Fadly terus mencoba menenangkan-nya namun tetap saja Akbar merasa khawatir dengan keberadaan istrinya sekarang yang entah berada dimana.
“Ya sudah kalau begitu papah tidur duluan ya..”
“Ya pah..” Angguk Fadly.
Fadly menatap kasihan pada papahnya yang baru saja pulang mencari mamahnya. Fadly yakin papahnya pasti sangat kelelahan karna seharian terus mencari mamahnya yang pergi sejak kemarin malam dari rumah.
__ADS_1