
“Pokonya kamu urus saja semuanya ya Rey. Saya percaya sepenuhnya sama kamu..” Ujar Faza saat sedang membicarakan tentang pekerjaan dengan Reyhan, Asisten merangkap sekretarisnya.
Faza tidak menyangka jika memiliki rekan sekretaris pria akan semakin mempermudah pekerjaan-nya. Apa lagi Reyhan juga cukup pintar dalam segala hal sehingga Faza tidak merasa ragu sedikitpun saat melimpahkan tugasnya pada Reyhan.
“Ya pak. Terimakasih atas kepercayaan pak Faza. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tugas ini.” Angguk Reyhan balas tersenyum.
“Ya..” Tepuk pelan Faza dibahu Reyhan.
“Ya sudah kalau begitu saya pulang ya Rey.. Kamu juga tidak perlu memaksakan diri harus selesai malam ini. Oke?”
“Ya pak, siap.” Angguk Reyhan lagi.
Faza kemudian bangkit dari duduknya disofa. Faza melangkah menuju meja kerjanya, meraih tasnya kemudian berlalu keluar dari ruangan-nya meninggalkan Reyhan yang mulai fokus dengan berkas dan laptop yang ada didepan-nya.
Ketika baru menutup pintu ruangan-nya ponsel dalam saku jasnya berdering. Faza segera merogoh ponsel dalam saku jasnya. Pria tampan itu tersenyum ketika mendapati kontak istrinya yang tertera dilayar ponselnya.
Faza segera mengangkat telepon dari Zahra tanpa menunggu lama.
“Ya sayang...”
“Mas masih dikantor?” Tanya Zahra pelan.
“Ya sayang.. Tapi ini sudah mau jalan pulang. Ada apa sayang?”
“Eemm.. Jadi gini mas, kan hari ini mas pulang cepet. Mas coba deh tengokin mamah dulu. Udah lama mamah nggak dateng kerumah.”
Faza menghela napas. Sebenarnya Faza merasa lebih lega jika mamahnya tidak terlalu sering datang. Karna itu juga bisa sedikit mengurangi beban hati istrinya. Sinta pasti akan membuat masalah jika datang. Sinta akan banyak menuduh yang tidak tidak pada Zahra yang akhirnya akan membuat Zahra kepikiran kemudian sedih.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan segera pulang setelah melihat keadaan mamah.”
“Tidak perlu buru buru mas. Mamah pasti sangat merindukan kamu. Temani mamah sejenak yah..”
Faza tersenyum. Istrinya benar benar wanita dengan hati yang baik.
“Ya sayang.. Kamu mau aku beliin sesuatu saat aku pulang nanti?”
__ADS_1
“Eemm.. Boleh. Beliin aku burger yah.. Yang kejunya super melimpah tapi. Hahaha..” Ujar Zahra yang diakhiri dengan gelak tawa.
Faza ikut tertawa mendengarnya.
“Oke oke.. Aku akan belikan yang spesial untuk kamu sayang..”
“Makasih ya mas...”
“Iya sama sama.. Yasudah kalau begitu aku jalan sekarang yah..”
“Ya mas.. Hati hati..”
Telepon pun disudahi oleh Zahra. Faza menarik napas panjang kemudian menghelanya perlahan. Sejak dirinya dari Amerika Sinta memang sudah tidak lagi datang. Sinta bahkan tidak menghubunginya.
“Mungkin memang aku harus kesana dulu..” Gumam Faza kemudian kembali melanjutkan langkah menuju lift.
Seperti biasanya, Faza selalu mendapat sapaan ramah dari beberapa karyawan yang berpapasan dengan-nya. Terakhir Faza juga sempat melihat Siska yang hendak dibonceng pulang oleh kekasihnya. Faza tersenyum. Semuanya benar benar sudah berubah sekarang. Perasaan-nya kembali tertuju hanya pada istrinya, Zahra.
Faza memasuki mobilnya kemudian melajukan-nya dengan kecepatan sedang berlalu dari parkiran depan gedung perusahaan yang di pimpin-nya. Tidak bisa bohong, Faza juga sebenarnya sangat merindukan mamahnya. Tapi Faza selalu saja sibuk dan tidak ada waktu untuk menemui wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya itu. Beruntung Zahra mengingatkan bahkan menyuruhnya untuk menjenguk mamahnya dulu sebelum pulang kerumah sore ini.
Setengah jam perjalanan, Faza pun sampai dengan pak Umar yang membukakan pintu gerbang untuknya. Pak Umar juga menyapanya dengan ramah yang tentu dibalas oleh Faza dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Bibi yang saat itu sedang mengelap pernak pernik diruang tamu langsung menoleh mendengar suara Faza. Bibi bergegas bangkit dari duduknya dan menghadap Faza dengan kepala sedikit menunduk.
“Eh, den..”
Faza yang melihat itu tertawa.
“Bibi kaya sama siapa aja ke saya. Oh ya bi, mamah mana? dirumahkan?”
“Iya den. Nyonya dirumah. Kayanya ada ditaman samping rumah.”
“Oh begitu ya..” Angguk Faza paham.
“Ya sudah kalau begitu saya ke mamah ya bi..”
__ADS_1
“Iya den, silahkan.” Angguk bibi.
Faza kemudian segera melangkah berlalu dari ruang tamu menuju taman samping rumahnya. Pria itu tidak sabar ingin menemui dan memeluk mamahnya.
Begitu sampai ditaman samping rumah, Faza mendapati mamahnya sedang duduk merenung sendiri dan duduk dikursi panjang bercat putih.
Faza menghela napas. Tidak biasanya sang mamah diam seperti itu. Dan Faza langsung bisa memahami mungkin mamahnya sedang mempunyai masalah.
Faza melangkah mendekat dan langsung mendudukan diri disamping Sinta.
“Mah..” Panggil Faza pelan.
Sinta menoleh perlahan. Wanita itu tersenyum tipis dan segera memberikan tangan-nya pada Faza yang hendak menyaliminya.
“Kamu masih ingat sama mamah nak..” Katanya pelan.
Faza tersenyum tipis. Terlihat sekali mamahnya sedang ditimpa rasa galau sekarang.
“Mamah ini.. Ya aku selalu inget mamah dong. Aku nggak kesini karna aku sibuk mah..”
Sinta tersenyum kecut. Entah kenapa Sinta sedang merasa gagal menjadi seorang ibu. Sinta gagal menyatukan Faza dengan Loly. Dan sekarang Loly malah dekat dengan Fadly. Padahal Sinta juga sudah menemukan calon istri yang menurutnya tepat untuk Fadly.
“Bukan-nya kalian senang kalau mamah nggak ada? Kalian senang hidup tanpa aturan dari mamah?” Tanya Sinta dengan tatapan lurus kedepan. Hatinya sudah benar benar patah sekarang dan itu karna Fadly dan Faza yang tidak mau mendengarkan dan mengikuti aturan-nya. Ditambah lagi Akbar yang juga tidak mendukung kemauan-nya.
“Mamah ngomong apa sih? Nggak begitu mah..”
“Dari kamu dan Fadly kecil mamah sangat bangga sama kamu. Kalian begitu manis begitu penurut. Kalian nggak pernah sekalipun membantah mamah. Tapi sekarang kalian bahkan sepertinya sudah malas mendengarkan ucapan mamah. Kalian melakukan apapun semau dan sesuka hati kalian sendiri. Kalian bahkan lupa kalau ada mamah yang selalu membanggakan dan melakukan yang terbaik untuk kalian.”
Faza menelan ludah mendengarnya. Faza tidak pernah berniat melukai hati mamahnya. Faza hanya ingin mencari kebahagiaan-nya sendiri. Faza ingin memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri.
“Kamu dan Fadly berhasil mematahkan hati mamah. Kamu lebih memilih bersama Zahra dari pada mengikuti aturan mamah. Dan sekarang Fadly dekat dengan Loly. Padahal jelas jelas kedua orang tua Loly juga melarang mereka berdua dekat. Itu karna mereka juga tau kamu yang terbaik untuk Loly nak..”
Faza berdecak pelan. Faza benar benar malas jika mamahnya sudah mengungkit tentang perjodohan-nya dengan Loly dulu.
“Sudahlah mah.. Semua itu sudah berlalu. Aku mencintai Zahra mah.. Dan kalau memang Fadly dekat dengan Loly itu sah sah aja. Fadly masih sendiri begitu juga dengan Loly. Menurut aku mereka juga cocok. Tolonglah mamah juga mengerti dengan apa yang aku dan Fadly mau..” Ujar Faza menatap memelas pada mamahnya.
__ADS_1
Sinta tertawa pelan.
“Kalian berdua juga papah kalian sama saja.”