PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 273


__ADS_3

Fadly terus menatap photo Loly di ponselnya yang dia ambil diam diam saat Loly sedang serius dengan laptopnya. Photo itu memang Fadly ambil dulu saat dirinya sedang bersama Loly yang begitu sangat agresif padanya. Photo lama yang memang tidak pernah berniat Fadly hapus.


Fadly menghela napas dan bangkit dari berbaringnya. Fadly mengambil photo itu dulu saat dirinya masih sangat membenci Loly.


Fadly tertawa sendiri. Entah kenapa tiba tiba rasa bencinya berubah menjadi cinta. Cinta gila yang bahkan Fadly sendiri tidak pernah menyangka akan merasakan-nya.


“Hhh.. Loly.. Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu. Ternyata jatuh cinta itu memang bisa membuat kita menjadi gila. Bodohnya aku dulu menyia nyiakan cinta tulus dari kamu.” Gumam Fadly tersenyum sambil mengusap layar ponselnya dimana photo cantik Loly tertera disana.


---------------


Di kediaman Faza dan Zahra.


“Capek banget kayanya anak papah..”


Faza tersenyum menatap Fahri yang terlelap di gendongan-nya. Saat ini Fahri memang sedang digendong oleh Faza. Sedangkan Zahra, wanita itu sedang membersihkan dirinya didalam kamar mandi.


Faza melangkah menuju ranjang bayi milik Fahri kemudian meletakan tubuh gempal putranya dengan sangat pelan dan hati hati disana.


“Bobo yang nyenyak ya sayang..” Gumam Faza.


Getaran ponsel yang terasa dengan jelas di celana hitam panjangnya membuat Faza segera merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih miliknya itu.


“Mamah..” Gumam Faza tersenyum ketika mendapati kontak sang mamah yang tertera dilayar ponsel miliknya.


Faza segera mengangkat telepon dari mamahnya. Dan tepat saat itu Zahra keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit diatas dadanya.


“Halo mah..”


Faza tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Zahra yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.


“Ya nak.. Kamu lagi apa?” Saut Sinta dan bertanya dengan sangat penuh kelembutan pada Faza.


“Aku baru aja nidurin Fahri dikasur mah. Mamah sendiri lagi apa? Sudah makan?”


Helaan napas begitu jelas terdengar diseberang telepon.


“Mamah lagi duduk sambil nonton tv. Mamah sudah makan kok tadi sama Fadly..”


Faza tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Sesungguhnya Faza sangat merindukan mamahnya. Namun kesibukan selalu menyita waktunya. Kalaupun Faza datang mamahnya selalu saja menjelekan nama Zahra, istrinya. Dan sebagai suami yang baik Faza tentu tidak bisa menerima apa yang mamahnya katakan tentang Zahra. Terlebih apa yang dikatakan mamahnya sangatlah tidak benar.

__ADS_1


“Papah lagi apa mah?” Tanya Faza kemudian.


Zahra tersenyum mendengar suaminya yang sedang berbicara lewat telepon dengan mamahnya. Zahra melangkah menuju lemari dan mengambil baju piyamanya. Setelah mengambil apa yang dibutuhkan-nya, Zahra pun kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengenakan piyamanya. Zahra tidak ingin mengganti baju didepan suaminya karena itu pasti akan membuat suaminya tergoda dan tentu saja memutus obrolan Faza dengan Sinta, mamahnya.


Setelah selesai mengganti bajunya, Zahra masih mendapati suaminya yang masih mengobrol dengan mamahnya namun dengan posisi yang berbeda. Faza sudah duduk santai disofa yang ada diseberang ranjang mereka.


“Ya mah, nanti kalau Faza nggak sibuk Faza bakal ajak Fahri kerumah mamah sama papah..”


Zahra menghela napas. Yang disebut hanya nama putranya, tidak dengan namanya. Itu artinya Sinta hanya mengharapkan Faza datang dengan Fahri dan bukan dengan dirinya juga.


Namun, itu sepertinya sangat mustahil mengingat Fahri yang tidak mungkin diajak pergi tanpa Zahra ikut serta.


“Ya udah mah Faza mau mandi dulu ya.. Mamah jaga kesehatan.”


Telepon disudahi oleh Faza. Pria itu menghela napas kemudian menoleh pada Zahra yang berdiri didepan ranjang dan sudah mengenakan piyama warna maroon nya.


Faza tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. Faza melangkah mendekat pada Zahra.


“Kamu wangi sekali sayang?”


Faza menyipitkan kedua matanya menatap Zahra seolah sedang mencurigai kekasih hatinya itu.


Zahra langsung menciumi aroma tubuhnya sendiri. Dan menurut Zahra aroma yang menguar dari tubuhnya biasa saja karena memang Zahra sama sekali tidak menggunakan wewangian apapun.


“Tapi ini wangi banget loh sayang. Aku serius.”


Zahra berdecak. Faza pasti hanya ingin menggodanya.


“Kamu nggak usah modus deh mas.. Aku nggak sepolos itu.”


Faza tertawa. Kali ini rencananya langsung bisa dibaca oleh istrinya.


“Baiklah, sekarang istriku sudah sangat dewasa. Mamahnya Fahri sudah tidak mempan di modusin ceritanya.” Ujar Faza sambil tertawa.


“Huuu dasar laki laki. Sudah sana mas mandi dulu. Bau tau.”


Bukan-nya melakukan apa yang Zahra katakan, Faza justru semakin memepet tubuh Zahra membuat Zahra mundur dan akhirnya jatuh dengan posisi terlentang keatas tempat tidur.


Faza tersenyum penuh arti kemudian segera mengurung tubuh Zahra yang terlentang dibawahnya.

__ADS_1


“Mas kamu..”


Cup


Sebelum Zahra menyelesaikan apa yang ingin dikatakan-nya Faza sudah lebih menyela dengan mencium bibirnya. Pria itu menciumnya dengan sangat lembut dan penuh cinta yang membuat Zahra tidak bisa menolak. Zahra bahkan membalas ciuman Faza dan mengalungkan kedua tangan-nya dileher Faza.


“Apa kita bisa melakukan-nya sekarang sayang?” Tanya Faza sambil membelai lembut pipi Zahra setelah melepaskan tautan bibirnya.


“Kamu tidak ingin membuatku pingsan karena bau badan kamu bukan mas?” Tanya balik Zahra sambil memainkan ujung hidung mancung Faza.


Mendengar itu Faza langsung bangkit dari atas Zahra. Faza mencium aroma tubuhnya sendiri sambil mengangkat kedua tangan-nya memastikan tubuhnya masih wangi.


“Enggak bau kok sayang..” Ujar Faza setelah memastikan sendiri bahwa dirinya tidak bau.


Zahra tertawa mendengarnya. Suaminya sangat menggemaskan jika sedang seperti itu. Faza terlihat polos seperti anak kecil.


Zahra bangkit dari posisi terlentangnya kemudian berdiri dan melangkah menuju tempat handuknya dan Faza tersampir. Wanita itu meraih handuk warna putih milik Faza kemudian membawanya mendekat lagi pada Faza.


“Mandi sebelum tidur akan membuat kamu nyaman sayang..” Senyum Zahra mengalungkan handuk tersebut keleher Faza.


Faza tersenyum dan menganggukan kepalanya. Faza percaya itu karena memang apa yang istrinya katakan ada benarnya juga. Mandi sebelum tidur akan membuat tubuh terasa sangat rileks.


“Berikan aku satu ciuman sayang.. Setelah itu aku akan mandi.” Senyum Faza membelai pipi chuby istrinya.


Zahra langsung menuruti permintaan suaminya dengan berjinjit memberikan ciuman singkat dikedua pipi tirus Faza.


Namun ciuman itu tidak membuat Faza merasa puas. Faza mengerucutkan bibirnya membuat Zahra mengeryit.


“Kan sudah dicium mas.”


“Masa cuma di pipi sih sayang. Dibibir enggak.” Protes Faza tidak terima.


Zahra terkekeh mendengarnya.


“Yang ini nanti setelah mandi.” Ujar Zahra menyentuh lembut bibir tipis Faza.


Wajah Faza langsung sumringah mendengarnya. Pria itu meraih tangan Zahra dan menciumnya dengan kedua mata terpejam.


“Baiklah. Aku akan memintanya jika sampai kamu lupa tentang ini sayang..” Senyum Faza kemudian melepaskan tangan Zahra dan menjauh melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2