
Diperusahaan tempat Faza bekerja.
Faza baru saja menutup laptopnya ketika ponsel miliknya berdering. Faza meraih benda pipih itu dan tersenyum mendapati nama kontak istrinya yang tertera disana. Faza segera mengangkat telpon tersebut dan berbicara dengan sangat lembut juga mesra membuat Anita yang masih berada didalam ruangan itu meliriknya.
Anita menghela napas. Melupakan Faza tidak segampang saat dirinya mengatakan Ya untuk bertunangan dengan anak sulung dari keluarga Renaldi.
Tidak ingin mendengar percakapan yang membuatnya sedih itu, Anita pun segera bergegas membereskan berkas berkas diatas meja kerjanya kemudian bangkit dari duduknya dan meraih tas jinjingnya.
“Saya duluan pak Faza.” Senyum Anita kemudian berlalu keluar dari ruangan-nya yang sama dengan Faza.
Faza mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya mempersilahkan untuk Anita keluar dari ruangan mereka lebih dulu.
“Aku sudah siap mas.. Kamu kapan pulangnya?” Tanya Zahra dengan nada merengek.
“Ini aku udah mau jalan pulang kok sayang. Kamu nggak usah bilang siapa siapa ya kalau kita mau pergi. Sama Fadly sekalipun.”
“Iya iya aku tau kok. Kamu hati hati ya dijalan. Aku nunggu didepan gerbang aja biar nggak pada nanya.”
“Oke. Aku jalan sekarang.”
Faza menyudahi telepon-nya kemudian segera bergegas bangkit dari duduknya dan meraih tas, jas, serta kunci motornya. Faza keluar dari ruangan-nya dengan menenteng tas serta jas hitamnya. Sapaan ramah Faza dapatkan dari beberapa karyawan serta OB/OG yang berpapasan dengan-nya.
Ketika sampai diparkiran, Faza melihat Anita dan Rasya yang sedang mengobrol sebelum akhirnya keduanya masuk kedalam mobil mewah Rasya. Faza tidak tau bahwa didalam mobil Rasya juga ada Tina yang tidak lain adalah sahabat dekat istrinya, Zahra.
“Mereka memang cocok.” Senyum Faza kemudian mengenakan helm dan menaiki motornya berlalu dari parkiran dengan kecepatan sedang.
Anita yang duduk dikursi samping kemudi menatap Faza yang berlalu dengan motor gedenya. Perasaan itu belum hilang bahkan tidak berkurang sedikitpun untuk Faza meski kini sudah ada Rasya sebagai tunangan-nya. Anita masih mencintai Faza dalam diamnya.
“Apa kamu mau langsung pulang Anita?” Tanya Rasya pada Anita yang masih menatap Faza yang semakin jauh darinya.
Tidak kunjung mendapat sautan dari Anita, Rasya pun menyentuh lembut tangan Anita membuat Anita menoleh padanya.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu sekarang hem?” tanya Rasya dengan senyuman dibibirnya.
Tina yang duduk dikursi belakang dan tengah asik memainkan ponselnya berdecak pelan. Tina menatap malas pada Anita yang duduk dsamping sang kakak. Tina sungguh belum bisa menerima perjodohan kakaknya dengan Anita. Tapi apalah daya jika kakaknya saja tampak bahagia bersama dengan Anita.
“Oh enggak, enggak ada. Kamu bilang apa tadi?”
Rasya tersenyum kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
“Kamu langsung pulang atau mau jalan dulu?” Tanya Rasya mengulang.
Anita tersenyum dan melirik pada calon adik iparnya yang begitu cuek dan seperti tidak perduli dengan kehadiran-nya.
“Eem.. Kita kerumah kamu saja dulu Sya. Aku pengin ketemu sama tante.” Senyum Anita menjawab.
“Oke kalau begitu.” Angguk Rasya kemudian mulai melajukan mobilnya berlalu dari parkiran.
“Oh sampai lupa sama adikku yang paling cantik dan super mandiri ini. Kamu mau langsung pulang ke kosan atau kerumah bunda dulu hem?” Tanya Rasya pada Tina dengan senyuman lebar dibibirnya.
“Kosan? Kamu ngekos Tina?”
Anita menatap Tina dengan sebelah alis terangkat. Anita pikir Tina selama ini tinggal bersama papahnya.
“Ya, aku ngekos biar nggak dikatain manja.” Jawab Tina cuek.
“Kak, kayanya aku langsung ke kosan aja. Salam aja ya buat bunda.”
“Oh oke kalau begitu, kakak antar kamu ke kosan dulu deh. Nggak papa kan? Anita?”
Anita menatap Rasya kemudian menganggukan kepalanya.
“Iya, nggak papa kok.” Senyum Anita tipis.
--------------
“Kamu mau kemana?”
Zahra baru saja menginjakan kakinya dilantai satu saat pertanyaan itu terlontar dari mulut mamah mertuanya, Sinta.
Zahra tersenyum membalas tatapan sinis Sinta padanya. Padahal Zahra sudah melakukan semua yang Sinta mau namun tetap saja Sinta bersikap sinis padanya. Zahra sudah melakukan pekerjaan rumah bersama bibi yang selalu siap membantunya.
“Mamah.. Zahra mau keluar sebentar mah..”
Sinta berdecak.
“Heran mamah sama kamu Zahra. Perasaan setiap Faza lagi kerja kamu selalu saja keluar rumah tanpa sepengetahuan dia. Kemarin kemarin juga kamu pergi dari pagi sampai sore. Sebenarnya kamu pergi itu sama siapa? Sama selingkuhan kamu?”
“Kan kemarin Zahra pergi buat beliin mamah vas bunga. Zahra pergi juga sama temen perempuan mah.. Namanya Tina.”
__ADS_1
“Memangnya mamah minta sama kamu buat dibeliin vas bunga murahan itu hah?!”
Zahra menghela napas. Apapun yang dia lakukan selalu saja salah dimata Sinta. Tapi Zahra tidak akan menyerah. Zahra yakin suatu saat Sinta akan menyukainya dan berbalik membenci Loly yang hanya pura pura baik didepan Sinta.
“Tapi sekarang Zahra mau pergi sama mas Faza mah..”
“Kamu mau menghambur hamburkan uang anak mamah yah? Kamu mau hidup boros dan menghabiskan semua pemasukan Faza?”
Bibir Zahra terbuka namun tidak tau harus berkata apa lagi. Semua yang keluar dari mulutnya selalu saja bisa menjadi celah kesalahan untuknya sendiri dimata Sinta.
“Ya udah kalau mamah nggak percaya, Zahra akan telpon mas Faza.”
Zahra meraih ponselnya dan segera menghubungi Faza yang langsung mengangkat telpon darinya. Zahra juga me-laudspecker volumenya agar Sinta bisa mendengar sendiri percakapan-nya dengan Faza.
“Halo mas...”
“Ya sayang.. Aku sudah deket dari kompleks. Kamu udah siap siap?”
Sinta mendesis kesal mendengarnya. Ternyata Zahra memang akan pergi dengan Faza.
“Sudah mas.. Aku tunggu didepan gerbang ya..”
“Oke.”
Zahra menyudahi telpon-nya kemudian tersenyum manis pada Sinta.
“Sekarang mamah percayakan? Kalau begitu Zahra pergi ya mah..”
Ketika Zahra hendak mendekat untuk menyaliminya, Sinta berlalu begitu saja dengan begitu cuek dan angkuh.
Zahra yang melihat itu terkikik geli. Zahra merasa sangat puas karna berhasil membuat mamah mertuanya diam dengan kejujuran-nya.
“Mamah mamah..” Geleng Zahra kemudian berlalu.
Dengan riang Zahra melangkah keluar dari rumah berlantai dua itu. Zahra bahkan tidak segan menyapa bibi yang sedang menyirami bunga sore itu juga pak satpam yang membukakan pintu gerbang untuknya.
Tidak lama Faza muncul dan Zahra segera menyaliminya kemudian naik keboncengan Faza.
“Pergi dulu ya pak..” Senyum Zahra pada pak Umar.
__ADS_1
“Oh ya non, den, ati ati..”
“Ya pak..” Jawab Zahra sebelum Faza kembali melajukan motor gedenya berlalu dari depan gerbang.